Narasya And Her Friends

Narasya And Her Friends
19. Memang Monster



Hari ini adalah hari Minggu, Audrey sedang berada di rumah Narasya seperti biasa. Setiap hari Minggu Audrey memang lebih suka menghabiskan waktu bersama Narasya daripada di rumahnya sendiri.


Ting.


Ponsel Audrey berbunyi menandakan pesan masuk. Pandangan Audrey langsung beralih pada ponselnya, dia melihat nomor tidak dikenal mengirimkan pesan kepadanya.


+628***


P


Ini gue Rulan


Lo bisa gak dateng ke kafe dekat sekolah?


^^^Ngapain?^^^


Gue minta tolong, Lo dateng aja dulu. Tapi Lo dateng sendiri aja.


^^^OTW^^^


Audrey mengerutkan kening bingung, buat apa Rulan memintanya untuk datang ke sana di hari Minggu yang tenang ini? Sejujurnya Audrey sangat malas untuk datang, dia berniat ingin bersama Narasya seharian.


Pandangan Audrey beralih pada Narasya. "Sya, gue pergi bentar ya?" ucapnya.


Narasya yang sedang asik menikmati ice cream pun menghentikan kegiatannya. "Kemana? Aku mau ikut boleh?" tanya Narasya dengan mata berbinar.


"Eh, jangan ya. Gue mau pergi sendiri, ada janji sama temen, katanya gue harus dateng sendiri," ucap Audrey menolak Narasya untuk ikut.


"Yah, jadi aku gak boleh ikut?" Ekspresi Narasya berubah murung, kalau sudah begini Audrey sulit sekali untuk menolaknya.


"Anak ayah kenapa?"


Tiba-tiba saja Bima datang dari arah belakang dan memeluk putrinya itu. Narasya sedikit terkejut. "Ih Ayah, ngagetin aja," ucap Narasya.


"Udrey mau pergi, tapi aku gak boleh ikut," ucap Narasya pada Ayahnya.


"Audreynya ada urusan, yakan Audrey?" Bima menatap Audrey, Audrey tersenyum kikuk lalu mengangguk.


"Iya Om," ucap Audrey.


"Tuh denger, hari ini Rain sama Ayah aja ya? Kita ke kebun binatang, mau nggak?" tanya Bima dengan senyuman. Narasya yang mendengar itu sontak menatap Bima dengan tatapan berbinar.


"Beneran? Bunda ikut?" tanya Narasya.


"Ikut dong, masa Bundanya kita tinggal sendirian, haha." Bima terkekeh kecil melihat reaksi Narasya yang menurutnya sangat menggemaskan itu.


"Yeay, ayo kita ke kebun binatang!" Narasya berteriak senang, dan percayalah, itu sangat menggemaskan. Saking gemasnya Bima sampai ingin mencubit pipi Narasya, tapi Bima tau kalau Narasya paling tidak suka orang lain mencubit pipinya.


Audrey bernafas lega karena Bima datang disaat yang tepat, dia jadi bisa pergi tanpa diikuti Narasya. Bima menatap Audrey dengan tersenyum tipis.


"Ayo, Rain siap-siap dulu." Bima membawa Narasya ke kamarnya.


Audrey menatap kepergian anak dan ayah itu dengan tersenyum tipis. "Tau aja om Bima." Lalu Audrey tanpa banyak bicara lagi segera pergi dari rumah Narasya ke tempat yang dimaksud.


"Tante, Audrey pulang ya," pamit Audrey pada Nata.


"Iya, hati-hati ya kamu."


Audrey menaiki motornya lalu melaju meninggalkan halaman rumah Narasya.


.


.


.


Audrey sudah sampai ke tempat yang dimaksud Rulan, yaitu kafe di dekat sekolah. Kafe itu memang sering dikunjungi para anak muda, terutama murid-murid dari SMK Trisatya.


Terlihat penampilan Arta DKK sudah seperti buronan yang takut kena tangkap polisi. Bagaimana tidak, mereka memakai masker dan topi, juga pakaian yang tertutup. Bisa gawat kalau mereka berada di tempat umum dengan terlalu mengekspos diri.


Arta DKK saling memandang satu sama lain, mereka terlihat ragu untuk menyampaikan sesuatu kepada Audrey. Arta menghela nafas lalu menatap mata Audrey dalam.


"Kita di sini mau bahas Rasya," ucap Arta.


"Rasya?" Audrey bertanya-tanya, apakah mereka sudah mengetahui sesuatu? Pikir Audrey.


"Kita udah tau kenapa sahabat Lo itu takut sama kita," ungkap Izzy. Audrey membulatkan matanya, ternyata sesuai dengan apa yang dia duga, Audrey ingin segera mengetahui alasan itu.


"Apa, cepat kasih tau gue!" Audrey mendesak mereka untuk segera memberitahunya.


Arta mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Audrey. "Lo jangan nyela dulu apapun yang kami ucapkan nanti, setelah kita udah siap menjelaskan semuanya sama Lo, baru Lo bisa lakuin apapun yang mau Lo lakuin," ucap Arta.


Audrey mengerutkan kening, tapi tak ayal dia menganggukkan kepalanya. "Gue gak akan nyela, jelasin aja."


"Kita dulunya adalah pembully," ungkap Rulan. "Setiap harinya kita hanya syuting, sekolah dan belajar, begitu setiap harinya hingga kita bosan dan malah menjadi orang yang jahat," jelas Rulan.


Degh.


Audrey seakan tersentak dengan ucapan Rulan, Audrey berusaha menahan apa yang ingin dia ucapkan. Tangannya tanpa sadar terkepal dan dia menunggu apa yang akan mereka ungkapkan selanjutnya.


"Ya, kita memang jahat, Audrey. Kita bukan orang baik seperti yang media katakan selama ini." Ivy menundukkan kepalanya, perasaan bersalah itu muncul kembali.


"Kita tidak pantas diidolakan, kita hanya kumpulan manusia-manusia brengsek," sambung Izzy.


"Kita ini monster," lanjut Arta.


"Kita membully orang yang tidak memiliki salah apapun. Kita membencinya tanpa sebab, kita terus menyakitinya hanya karena kita tidak suka dia waktu itu." Myesha mengungkap sesuatu yang selalu mereka sembunyikan dari dunia, dadanya terasa sangat sesak ketika menjelaskan itu.


"Dia hanya korban, dia hanya korban dari kebodohan kita ... ," ucap Myesha lirih.


Audrey melebarkan matanya, berharap fakta yang akan dia terima bukanlah seperti apa yang dia pikirkan. Audrey tidak ingin pikirannya menjadi nyata.


"Bahkan, bahkan kita hampir membunuhnya. Itu adalah dosa terbesar yang pernah gue lakukan, gue dan temen-temen gue hampir menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah sedikitpun," sambung Arta, dia tidak berani menatap wajah Audrey.


Bukan, bukan hanya Arta yang tidak berani menatap wajah Audrey, empat lainnya juga tidak berani melakukan itu. Mereka merasa tidak punya muka di hadapan Audrey.


"Dan orang yang kita siksa itu adalah ... Rasya."


Degh.


Tubuh Audrey langsung melemas, pertahanannya runtuh saat itu juga, Audrey meneteskan air matanya. Mendengar pengakuan mereka dan mendengar fakta siapa yang mereka maksud, rasanya hati Audrey sangat sakit, dia tidak sanggup mendengar fakta itu.


"Apa?" Audrey berharap ada yang salah dengan pendengarannga.


"Iya, orang yang dulu hampir kita bunuh adalah Rasya, sahabat Lo, Drey." Ivy menjelaskannya sekali lagi.


"G-gak mungkin kan? Rasya ...." Audrey menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak sanggup mendengar fakta itu.


Sahabatnya? Orang yang selalu dia lindungi, dan tidak akan membiarkannya terluka, ternyata pernah menjadi korban kejahatan orang lain. Saat ini juga Audrey memberikan kelima orang yang ada di depannya ini, masing-masing satu pukulan. Arta DKK tidak membalas sedikitpun, karena mereka merasa pantas untuk mendapatkan itu.


Bugh.


Pengunjung yang lain sedikit terkejut, untung saja Audrey tidak diusir saat itu juga. Audrey berusaha mengontrol emosinya yang sudah meluap-luap.


"Brengsek!" umpat Audrey.


"Pantas saja, pantas saja Rasya ...." Rasanya kata-kata yang ingin Audrey keluarkan seperti tersangkut di tenggorokan. Rasanya sakit sekali.


"Maaf." Hanya itu yang mampu Izzy ucapkan.


"Kita menyesal, Drey. Kita benar-benar menyesal dan kita ingin minta maaf. Cuman Lo harapan satu-satunya yang bisa bikin kita minta maaf ke Rasya," ucap Arta penuh penyesalan.


"Sialan!"


Bersambung....