
"Lo tuh jelek, cupu, bodoh. Orang kayak Lo gak pantas sekolah di sini."
Brak.
Ivy mendorong Narasya hingga terjatuh ke lantai. Orang-orang sekitar bukannya membantunya berdiri, malah menertawakannya.
"Sakit," ucap Narasya lirih.
"Sakit, hm? Itu pantes buat Lo dapetin." Rulan mencengkram rahang Narasya kuat, lalu menghempaskannya. Narasya meringgis karena kesakitan.
Mereka semua semakin menertawakan Narasya tanpa rasa iba sedikitpun melihat Narasya yang dibully oleh Arta DKK. Sebenarnya beberapa dari mereka ingin membantu, tapi mereka tidak berani pada Arta DKK karena orang tua Arta DKK punya kuasa. Terlebih lagi walaupun Arta DKK masih SD, tapi mereka sudah punya banyak fans di mana-mana karena pernah bermain film.
Media tidak akan tau tindakan pembullyan yang dilakukan Arta DKK karena orang tua mereka menutupinya serapih mungkin. Tindakan pembullyan itu hanya diketahui murid-murid SD Al-Azhar.
"Aku salah apa?" tanya Narasya lirih.
"Lo gak salah apa-apa, tapi gue benci banget sama Lo," ucap Izzy dengan tersenyum mengejek.
"Maaf."
"HAHAHA."
Bodohnya Narasya, padahal bukan dirinya yang salah, tapi dirinya yang minta maaf. Narasya memang terlalu polos dan lemah, sehingga banyak sekali orang-orang yang senang menyakitinya.
Narasya terlalu baik kepada orang-orang jahat padanya. Padahal Arta DKK sudah menyakitinya, tapi sedikitpun dia tidak ingin membalasnya.
Byurr.
Rulan dan Arta menyiram Narasya dengan seember air hingga membuat Narasya basah kuyup. Mereka semakin tertawa melihat itu, benar-benar tidak punya hati.
"Ups, sengaja," ucap Rulan dengan tersenyum miring.
"Udah yuk guys, tinggalin, udah puas gue."
Akhirnya mereka meninggalkan Narasya yang terduduk di depan toilet. Orang-orang yang berkumpul tadi pun meninggalkan Narasya sendirian.
"Dia benar-benar baik, Drey. Tapi kita selalu aja gangguin dia dan nyakitin dia dulu, kita membully dia habis-habisan." Arta menceritakan betapa jahatnya.
"Dia sama sekali gak ngelawan, dia cuman diem aja nerima setiap bullyan yang kita kasih ke dia," lanjut Izzy.
Audrey semakin mengepalkan tangannya mendengar cerita dari mereka. Dadanya terasa sangat sesak dan dia menahan diri untuk tidak kelepasan memukul mereka kembali. Dia masih ingin mendengar cerita-cerita dari mereka.
"Kita udah bully dia sejak kelas dua SD sampai kelas lima SD."
Degh.
Audrey kembali membulatkan matanya mendengar pengakuan Rulan. "A-apa?"
"Iya, kita sering memperlakukan dia bagai pembantu, merampas uangnya, dan itu hampir setiap hari terjadi," lanjut Rulan dan ingatannya kembali ke masa lalu.
"Eh Lo, beliin kita makanan kalau mau Lo hidup tenang hari ini." Myesha seenaknya memerintah Narasya yang sedang menikmati makanannya di kelas.
Narasya memang berada satu kelas dengan Arta DKK, maka dari itu mereka sering sekali membully Narasya. Bukan sering lagi, bahkan hampir setiap hari.
"U-uangnya?" tanya Narasya dengan terbata-bata.
"Pake uang Lo lah, berani banget Lo minta uang ke kita," ucap Izzy lalu mendorong bahu Narasya dengan kasar.
Narasya tidak berani menatap mereka. "Ta-tapi aku gak bawa uang hari ini," ucap Narasya pelan.
"Shhtt." Narasya berusaha berdiri, tapi Ivy menahannya dengan cara menekan tubuh Narasya ke tembok.
"Kita gak mau tau, pokoknya dalam waktu lima menit, makanan itu harus ada di hadapan kita ini. Kalau enggak, Lo akan menerima akibatnya," ucap Ivy dingin.
"Kita mau roti dan air putih, kita tunggu di kelas sebelah."
Lalu mereka meninggalkan Narasya yang sudah kesakitan sendirian di dalam kelas. Narasya menangis lalu berusaha mencari uang dari dalam tasnya, dia menemukan uang 10 ribu, yang sebenarnya adalah uang ibunya yang harus dia kembalikan.
"Maaf Bunda, aku pinjam uangnya dulu," ucap Narasya.
Brak.
Audrey menggebrak meja dengan keras, dia tidak ingin lagi mendengar cerita mereka. "Cukup!" sentak Audrey.
"Tapi, Drey, Lo harus dengar semuanya," ucap Ivy.
"Gue bilang cukup, bangsat!" teriak Audrey, mengundang perhatian dari pengunjung lain. Wajah Audrey sudah memerah karena menahan emosi sedari.
"Kalian, benar-benar iblis. Bagaimana mungkin kalian ...." Kata-kata yang ingin Audrey keluarkan serasa tertahan saking sesak perasaannya saat ini.
"Kita mau mengungkapkan semuanya hari ini, Drey. Jadi Lo harus dengar semuanya, kita mohon, Drey." Arta menampilkan raut wajah memohon. Terlihat Audrey menutup matanya untuk menetralkan emosi.
"Pantes aja Rasya sangat pendiam, dulu kata Bundanya, Rasya adalah anak yang ceria. Kalian ... tega sekali merenggut keceriaannya." Audrey berucap begitu lirih pada Arta DKK.
"Gue nyesel karena gue gak dari awal kenal dia, andai aja gue dari awal gue kenal Rasya pasti ... Rasya ...." Audrey menumpahkan air matanya, dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Arta DKK benar-benar membenci diri mereka sendiri. Kenapa dulu dengan bodohnya mereka melakukan hal jahat itu, mereka benar-benar menyesal.
"Maaf, gue bener-bener minta maaf." Arta menundukkan kepalanya menyesal.
"Hanya dengan melihat senyuman Rasya, gue udah merasa sangat senang. Rasya adalah alasan gue untuk tetap bertahan di dunia ini, dia segalanya buat gue," ungkap Audrey.
Arta DKK menyetujui ucapan Audrey. Senyuman Narasya dapat membuat orang lain merasa tenang. Sekali melihat senyuman Narasya, maka akan ingin melihatnya lagi dan lagi. Karena senyuman Narasya itu candu.
Dulunya Arta DKK tidak pernah melihat senyuman itu. Hanya ada tatapan sendu yang menyiratkan penuh luka yang mereka lihat. Tatapan berharap kalau mereka akan berhenti untuk membullynya.
Narasya menatap sendu lima orang di depannya, berharap mereka melepaskannya. Arta DKK menyeretnya ke arah kelas yang kosong lalu mengikatnya di sebuah kursi.
"Jangan begini ... ," ucap Narasya lirih. "Kenapa kalian ikat aku di sini?" tanya Narasya.
"Tolong lepasin aku," lanjutnya.
Bukannya melepaskan Narasya, mereka malah tertawa senang. Mereka senang melihat Narasya yang tidak berdaya seperti itu. Melihat tatapan sendu Narasya, dan Narasya yang tidak bisa berbuat apapun, benar-benar kesenangan tersendiri untuk mereka.
"Ngelepasin Lo? Jangan mimpi!" ucap Myesha dengan senyum miring.
Izzy mendekat lalu membungkam mulut Narasya dengan sapu tangan. Lalu dia tersenyum puas melihatnya. "Lo berharap aja satpam patroli ke sini, kalo gak ya derita Lo lah. Gak akan ada yang ngelepasin Lo," ucap Izzy.
"Haha, udah yuk guys tinggalin."
Arta DKK berjalan keluar dari kelas dan membiarkan pintu itu terbuka lebar. Mereka tidak sekejam itu dengan mengunci pintunya, setidaknya ada seseorang yang dapat menemukan Narasya yang terikat di dalam sana.
Narasya hanya bisa menangis dan berusaha melepaskan diri, tapi dia tak kuasa melakukannya. Sampai dua jam kemudian, seorang pria lewat dan melihat Narasya terikat di kelas itu. Ternyata Tuhan sayang padanya sehingga mengirimkan seseorang untuk menolong Narasya.
Audrey menggeleng tak percaya mendengar cerita mereka. "Sampah! Hewan saja masih punya hati nurani, tapi kalian-" Audrey menunjuk Arta DKK. "Gue mulai mempertanyakan di mana kewarasan kalian waktu itu."
Bersambung....