Narasya And Her Friends

Narasya And Her Friends
21. Masa Lalu 2



"Tapi semua kejahatan yang kita lakuin ke dia itu belum seberapa." Mata Audrey sontak menatap Rulan.


"Maksudnya? A-apa lagi yang kalian lakuin?" Jantung Audrey sudah berdetak kencang, dia belum siap mendengarkan apa yang akan mereka ucapkan selanjutnya.


"Tadi gue bilang kalau kita hampir bunuh dia kan?" tanya Arta, Audrey mengangguk lemas.


"Kita bener-bener selalu nyiksa dia setiap hari, dia juga selalu menjadi bahan bullyan di sekolah. Puncaknya waktu kelas lima SD, dan kita hampir menjadi seorang pembunuh." Ingatan Arta kembali kepada masa lalu yang paling tidak ingin dia ingat dalam hidupnya.


"Mungkin waktu itu, kita sudah dikuasai iblis sepenuhnya."


Narasya sudah terduduk lemas di lantai gudang sekolah. Kali ini Arta DKK membullynya di gudang sekolah, mengunci pintu gudang agar mereka bisa leluasa melakukan apapun pada Narasya.


Izzy mengambil tali yang ada di gudang itu lalu mendekat ke arah Narasya dengan senyuman miring. Narasya menatap Izzy menggeleng, berharap dia tidak akan melakukan itu.


"Ikat dia Zy, sekalian tutup mulut sama matanya, nih." Myesha melemparkan dua sapu tangan ke arah Izzy.


"Aman." Izzy mengacungkan jari jempolnya ke arah Myesha.


"Diem Lo, gak akan ada yang nyelametin Lo." Izzy memaksa Narasya berdiri lalu membawanya ke arah tiang. Dia mengikat kaki dan tangan Narasya, lalu membungkam mulut Narasya dengan sapu tangan, serta menutup Narasya dengan sapu tangan juga.


Izzy tersenyum puas dengan hasil pekerjaannya, Narasya hanya bisa terduduk lemas dengan tubuh yang sudah terikat dan tidak bisa berbuat apapun lagi. Narasya hanya bisa menangis, dan benar-benar pasrah.


Narasya benar-benar tidak bisa melawan ketika Arta DKK menyiksanya. Selain dia kalah tenaga, tubuhnya juga kecil jika dibandingkan dengan mereka.


"Pukulin aja guys, muak gue liat mukanya," ucap Ivy.


Mereka benar-benar melakukan itu, memukuli Narasya tanpa ampun. Mereka memukul, menendang, menjambak, menampar, serta mencambuk Narasya dengan ikat pinggang. Kali ini siksaan yang mereka lakukan benar-benar keterlaluan.


Bugh.


Buagh.


Brak.


Ctash.


Sret.


"Mati aja Lo."


Mereka tak henti-hentinya memberikan siksaan untuk Narasya. Seakan tidak punya hati, mereka menertawakan Narasya yang terluka.


"Gak ada gunanya Lo hidup!"


Bugh.


Buagh.


Bruk.


"Udah guys, mati beneran nanti dia." Rulan menghentikan aksi mereka. Dengan nafas terengah-engah, mereka mendekati Narasya yang penampilannya sudah tidak karuan.


Pakaian Narasya sedikit sobek, dan ada noda darah di pakaiannya. Hidung, pelipis sebelah kanan yang mengeluarkan darah, pipi lebam dan sudut bibir yang juga mengeluarkan darah. Ada rasa sedikit kasihan hinggap di hati Arta DKK, ya, sedikit.


Arta membuka sapu tangan yang ada di mulut Narasya, tapi dia tidak membuka sapu tangan yang ada di matanya. Terdengar Narasya mengeluarkan isakan kecil.


"Kenapa?" Suara lirih yang menyayat hati itu mengalun di telinga mereka.


"Kenapa harus aku?" Suara lirih Narasya kembali terdengar, Arta DKK hanya diam mendengar suara lirih itu.


Tubuh Narasya mulai bergetar hebat, isakan demi isakan mulai terdengar dari mulutnya. Narasya menangis dan suara tangisan itu benar-benar menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Arta DKK tertegun.


Tangan Rulan bergerak membuka sapu tangan yang menutup mata Narasya. Sapu tangan itu telah basah karena air mata.


Uhuk uhuk.


Narasya terbatuk sampai mengeluarkan darah. Jantung Arta berdetak kencang melihatnya, perasaan bersalah mulai muncul di hatinya.


Degh.


Di saat itu juga Arta DKK sadar kalau mereka benar-benar salah. Mereka telah menyiksa orang tidak bersalah sedikitpun. Di saat itu juga perasaan menyesal dan merasa bersalah muncul.


"Sorry."


Brak.


Lalu penolong Narasya pun datang. "Kali ini kalian benar-benar keterlaluan." Pria itu membawa Narasya ke rumah sakit.


Sejak saat itu mereka tidak pernah lagi melihat Narasya, dan selama bertahun-tahun perasaan bersalah menghantui mereka.


Pyarr.


Audrey tak sengaja menjatuhkan gelas yang ada di tangannya. Rasanya tubuhnya benar-benar melemas, tanpa sadar Audrey kembali menangis.


"Kita bahkan sempat mengira dia telah tiada, tapi Rulan yakin kalau dia masih hidup, dan ternyata benar, Rasya masih hidup. Kita tidak pernah berhenti mencarinya selama ini," jelas Ivy.


"Lo tau, alasan kita tetap ngotot ingin bersekolah normal? Walaupun itu menyita sebagian besar waktu kita? Itu karena kita mau cari Rasya, kita mau menebus semua kesalahan di masa lalu," sambung Myesha dengan menatap dalam Audrey.


"Kita berkali-kali pindah sekolah, untuk cari dia. Cuman demi cari dia, Drey. Dan ini sekolah yang terakhir yang kita datangi, kita udah bener-bener pasrah kalau kita gak nemu dia di sekolah, tapi akhirnya-" Ivy menjeda kalimatnya. "Tuhan masih berbaik hati dan mempertemukannya," lanjut Ivy.


"Kita bener-bener mau minta maaf, kita mau lepas dari rasa bersalah ini," ucap Arta lirih.


Audrey menggelengkan kepalanya tidak percaya. Lalu tanpa mengucapkan apapun, Audrey pergi meninggalkan kafe itu dengan perasaan yang sudah tidak karuan.


.


.


.


Audrey sudah sampai di depan rumah Narasya, tapi pintu rumah terkunci karena penghuni rumah sedang pergi berlibur. Audrey tidak ingin pulang dia memutuskan duduk di teras rumah menunggu keluarga itu pulang.


Audrey memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya. Cerita Arta DKK yang dia dengarkan benar-benar menyakitkan, dia tidak menyangka ada orang-orang sejahat itu di dunia ini.


Sepanjang mereka bercerita, hanya ada rasa sesak menghujam dada Audrey. Rasanya benar-benar menyakitkan, apalagi Narasy yang mengalaminya secara langsung?


Tak sadar Audrey meneteskan air matanya dan terisak kecil. Kalimat-kalimat yang Arta DKK lontarkan masih saja terngiang-ngiang di kepalanya.


Tanpa sadar sudah berjam-jam Audrey menunggu, dia hanya menatap kosong lantai. Hari juga sudah mulai gelap, tapi Audrey tidak mau pulang dari rumah Narasya.


"Udrey ngapain duduk di sini?"


Akhirnya suara itu dapat Audrey dengar, suara yang sedari tadi dia tunggu. Orang yang membuat perasaannya tidak karuan sejak tadi. Lalu di detik berikutnya Audrey berdiri dan langsung memeluk Narasya erat-erat.


Narasya sedikit terkejut dengan Audrey yang tiba-tiba menubruknya dan memeluknya dengan sangat erat, tapi tak ayal Narasya membalas pelukan itu dengan perasaan bingung. Narasya dapat merasakan bahunya basah dan tubuh Audrey bergetar, sepertinya Audrey menangis, pikir Narasya.


"Udrey nangis?" tanya Narasya dengan polosnya. Dia mengusap-usap punggung Audrey. "Jangan nangis, aku sedih kalau Udrey nangis."


Karena Audrey menangis seperti itu, Narasya juga ikut menangis. Kedua orang tua Narasya hanya melihat pemandangan itu, sepertinya mereka mengetahui sesuatu.


"Rasya ... ," panggil Audrey dengan suara lirih.


"Iya, kenapa?" tanya Narasya.


"Pasti sakit banget ya, Sya? Kenapa Lo gak pernah ngasih tau gue, Sya?" tanya Audrey dengan sedikit isakan-isakan kecil.


"Apanya yang sakit? Aku gak lagi sakit." Narasya bingung dengan pertanyaan Audrey.


"Gue udah tau semuanya. Mulai sekarang gue gak bakalan biarin Lo terluka lagi. Gue akan makin jagain Lo semampu yang gue bisa. Lo jangan pernah takut lagi sama siapapun."


Di detik itu juga Narasya sadar kalau Audrey sudah mengetahui masa lalu kelamnya.


Bersambung....