
Nata dan Bima menatap putri semata wayang mereka yang sedang tertidur nyenyak. Setelah minum obat, barulah Narasya bisa tidur dengan nyenyak, karena dia selalu mengeluh kedinginan.
"Bagaimana ini, Mas? Traumanya kembali ... ," ucap Nata lirih, Bima bergerak memeluk Nata.
"Kita berdua tau kalau Rain anak yang kuat, dia pasti bisa melewati ini semua." Bima tidak yakin dengan ucapannya, setelah bertahun-tahun pun trauma itu tidak juga hilang.
"Mereka kembali tapi tidak seperti dulu." Nata memandang wajah damai putrinya yang tertidur itu. "Tapi Rain menganggap mereka masih seperti enam tahun lalu," lanjut Bima.
"Kita tidak mungkin menjauhkan Rain dari lingkungannya yang sekarang, karena dia sudah nyaman," ucap Bima.
"Tapi kalau kita tidak menjauhkan Rain dari mereka, itu akan bahaya buat Rain. Lihat ketakutannya tadi kan? Hanya Audrey yang bisa menenangkan dia dan kita, bagaimana kalau kita atau Audrey tidak ada di dekat Rain?" Bima menghela nafas dengan situasi yang terjadi saat ini.
"Satu-satunya cara adalah Rain harus bisa berdamai dengan masa lalunya." Bima menjeda kalimatnya. "Dia harus tau kalau tidak ada yang perlu ditakutkan, karena semuanya sudah berubah," lanjut Bima sambil menatap dalam Narasya.
Dulunya Narasya adalah anak yang sangat ceria, bukan pendiam seperti sekarang. Tapi keceriaan itu sudah lama hilang sejak enam tahun lalu, di mana orang-orang itu merenggut kebahagiaanya begitu saja.
Lalu Audrey datang tanpa diminta, memberikan kekuatan untuk Narasya dan menjadi pelindung Narasya sampai saat ini. Audrey melindungi Narasya dengan tulus tanpa dia ketahui kalau Narasya punya masa lalu kelam.
"Ya, Rain harus bisa berdamai dengan masa lalunya. Tapi jangankan mendekat, dia melihat mereka saja Rain sudah ketakutan setengah mati," ucap Nata dengan raut wajah pasrah.
"Hufftt, ini sulit sekali." Bima duduk di kasur Narasya.
Ya, memang sangat sulit, menghilangkan trauma seseorang yang sudah ada selama bertahun-tahun memang sangat sulit. Bima tidak ingin anaknya terus mengingat kejadian itu, Narasya harus bisa berdamai dengan masa lalu. Orang tua mana yang tega melihat anaknya hancur, Bima benar-benar tidak menginginkan itu.
.
.
.
Audrey memasuki kelas sebelas TKJ dua dengan raut wajah tidak mengenakkan, siapapun yang menatap Audrey tau kalau Audrey sedang tidak dalam keadaan baik. Aura sekitar terasa tidak enak ketika Audrey memasuki kelas.
Adinda yang paham akan keadaan, mendekati Audrey. Audrey begini pasti karena keadaan Narasya semalam, karena hanya Narasya yang mampu membuat perasaan Audrey porak poranda.
"Drey, you okay?" tanya Adinda, dia meneguk saliva ketika Audrey menatap tajam Arta DKK.
Audrey berjalan ke arah Arta DKK, lalu Audrey mencengkram erat kerah baju Arta sampai membuat Arta berdiri. Keadaan kelas pun langsung berisik karena itu.
"Eh eh, Drey, jangan gitu."
"Drey, kenapa?"
"Gak boleh gitu, Drey. Lepasin Artanya, kasihan."
"Drey, Lo kenapa?"
"Hei, Audrey, apa-apaan?"
Teman-teman sekelas Audrey langsung heboh. Audrey tidak peduli dengan keadaan kelas yang berisik, dia mencengkram erat kerah baju Arta dan menatap tajam empat teman Arta yang lainnya.
"Gara-gara Lo dan temen-temen Lo! Rasya sakit! Lo dan temen-temen Lo bikin Rasya nangis! Bangsat!" teriak Audrey dengan menarik-narik kerah baju Arta.
"APA YANG ADA DI OTAK KALIAN HA! APA!" bentak Audrey.
"Rasya itu takut sama kalian, anj*ng! OTAK ITU DIPAKE! BEG*! TOL*L! PUNYA OTAK KOK GAK GUNA! BANGS*T!" Audrey terus memaki Arta DKK dengan emosi yang berapi-api.
"Lepasin gue Din! Biar gue hajar bajing*n-bajing*n ini!" Audrey memberontak dari pelukan Adinda, sementara Adinda memeluk Audrey sekuat tenaga agar tidak kelepasan.
"Duh, mana pawangnya ini."
"Lo bisa masuk BK, Drey. Jangan beg* deh." Adinda masih berusaha menahan Audrey.
"Tapi mereka udah bikin Rasya nangis! Gue harus bales mereka! GARA-GARA MEREKA RASYA DROP! LO TAU GAK!" bentak Audrey, Adinda hanya bisa menghela nafas lelah.
"Maaf Drey, tapi jangan kayak gini," ucap Adinda lembut.
"Rasya Drop, Din ... ," ucap Audrey lirih, akhirnya dia berhenti memberontak. "Rasanya sakit banget ngeliat Rasya kayak gitu ... gue harus gimana ngilangin rasa takut dia ...."
Perasaan Adinda ikut sakit mendengar ucapan lirih Audrey. Selama dia berteman dengan Audrey, belum pernah dia melihat Audrey sekacau ini hanya karena seseorang. Bukan karena pacar ataupun keluarganya, tapi karena Narasya.
"Maaf, kita gak tau kenapa temen Lo bisa setakut itu sama kita. Kita bener-bener gak tau." Myesha mewakili teman-temannya untuk meminta maaf.
Penghuni kelas yang lain hanya bisa terdiam karena tidak mengetahui apapun. Ini pertama kalinya mereka melihat Audrey semarah itu, dan melihat selebriti papan atas menunduk di hadapan Audrey.
"Gue gak akan pernah maafin Lo pada, sebelum gue tau kenapa Rasya bisa ketakutan kayak gitu dan sebelum Rasya juga mau maafin Lo pada." Setelah mengucapkan itu, Audrey memilih keluar dari kelasnya untuk menenangkan diri.
Adinda tidak bisa berbuat apapun, dia kembali menghela napas dan membiarkan Audrey pergi meninggalkan kelas. Pasti Audrey ingin menenangkan diri, pikirnya.
Setelah kepergian Audrey, keadaan kelas hening sesaat. Mereka menjatuhkan rahang karena tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
"Ekhem, jadi ... kenapa Audrey bisa semarah itu?" tanya salah satu cowo di kelas.
Bukannya menjawab, Adinda dan Arta DKK hanya diam membisu. Keterdiaman itu semakin memancing rasa penasaran mereka, pasti sesuatu sedang terjadi.
"Perlu kalian tau." Salah satu gadisĀ berbicara pada Arta DKK. "Audrey memang sayang banget sama Rasya, dia bakal lakuin apapun supaya Rasya tetap tersenyum," ucap gadis itu.
"Ya mungkin orang lain gak tau sedekat apa mereka, tapi kami tau sedekat apa Audrey dan Rasya. Jangan-jangan coba-coba bikin Rasya nangis atau lukain dia, entar penjaganya ngamuk," lanjut gadis itu.
Arta DKK terlihat serius mendengarkan perkataan gadis itu. Mereka speechless karena baru mengetahui fakta ini.
"Haha, gue pernah gak sengaja bikin Rasya jatuh, terus gue disemprot habis-habisan sama Audrey. Ya memang gue salah sih, untung aja Rasya gak nangis waktu itu." Salah satu cowo menceritakan salah satu pengalamannya sambil terkekeh kecil.
"Aturan di kelas ini, jangan ganggu Rasya, apalagi sampe bikin dia nangis. Pawangnya serem cuy, jangan coba-coba deh," lanjut yang lainnya.
"Tapi baru kali ini gue liat Audrey semarah itu, biasanya dia kan ngomongnya dingin kalo marah, gak sampe ngomong kasar gitu." Salah satu gadis menatap Arta DKK curiga. "Sebesar apa sih salah kalian?" tanya gadis itu.
Arta DKK tidak mampu menjawab, mereka juga masih mencari tau apa sebenarnya yang terjadi. Satu hal yang pasti, kalau Narasya benar-benar mengenal mereka.
"Kalian harus tau, jangan sampai kalian membuat senyuman Rasya hilang, karena hanya dengan melihat senyumannya, dapat membuat kami semangat belajar di kelas ini."
"Karena ... senyuman Rasya itu candu."
Bersambung....