
"Eh eh, itu Myesha."
"Woi! Itu Myesha."
"Myesha, foto dong."
"Minta tanda tangan dong."
"Cantik banget sih."
Begitu Myesha keluar dari gedung sebuah acara televisi, dia langsung didekati beberapa penggemarnya yang sudah menunggu di depan gedung. Myesha melakukan keinginan beberapa dari mereka dengan tersenyum.
Myesha membalas sapaan dari mereka semua, dia cukup kewalahan untuk menghadapi fansnya yang cukup banyak. Bodyguard Myesha yang melihat kondisi sudah tidak memungkinkan, langsung membawa Myesha untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih semua, semoga kita bisa bertemu lagi," ucap Myesha dengan ramah. Beberapa dari fansnya berteriak karena mendapatkan senyuman manis dari Myesha.
Setelah Myesha sudah masuk ke mobil, dia langsung merubah ekspresinya menjadi datar, ternyata semua itu hanya topeng. Myesha bukanlah orang yang ramah, dia seperti itu karena ingin membuat fansnya senang.
"Langsung pulang nona?" tanya sang supir.
"Iya."
Hanya ada keheningan di dalam mobil, Myesha memilih memainkan ponselnya untuk melihat-lihat akun sosial medianya. Dia memiliki banyak sekali pengikut, Myesha termasuk Aktris dengan pengikut terbanyak di Asia.
Myesha membuat postingan di akun sosial medianya dengan caption "Hari Yang Melelahkan". Dalam beberapa detik, postingan itu sudah mendapatkan ribuan like dan ratusan komentar, cepat sekali.
Tak terasa Myesha sudah sampai di depan gedung apartemen. Myesha langsung masuk ke dalam, apartemen Myesha berada di lantai dua puluh.
Ceklek.
Myesha memasuki Apartemen yang sepi itu, dia hanya tinggal sendiri karena kedua orang tuanya sudah tiada. Apartemen tempat Myesha tinggal termasuk ke dalam apartemen termahal di kota itu.
Keluarga? Myesha masih punya keluarga yang lain, tapi Myesha tidak menyukai mereka karena mereka hanya tau memanfaatkannya saja. Mereka hanya ingin ikut terkenal seperti Myesha dengan selalu membawa-bawa Myesha demi menaikkan popularitas.
Dunia mengira Myesha dekat dengan keluarganya yang lain, padahal nyatanya tidak. Jangankan dekat, mengunjungi mereka saja Myesha enggan.
Kedua orang tua Myesha meninggalkan warisan yang cukup banyak untuknya, yaitu sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi, tapi Myesha tidak ingin menjalankan perusahaan itu. Hal itu dimanfaatkan keluarga Myesha yang lain untuk merebut perusahaan itu, tapi tidak ada yang berhasil karena tangan kanan ayah Myesha yang menjalankannya.
"Nanti setelah kamu benar-benar dewasa, dan sudah siap untuk menjalankan perusahaan ayah kamu, maka Paman akan benar-benar menyerahkan perusahaan ini. Untuk saat ini biar Paman yang pegang." Begitulah ucapan tangan kanan ayah Myesha beberapa tahun lalu.
Dunia hanya tau pemilik perusahaan itu adalah Rahardian, yang tak lain adalah tangan kanan ayah Myesha, padahal perusahaan itu milik Myesha. Mau tak mau nanti Myesha harus menjalankan perusahaan itu dan meninggalkan dunia hidnburan.
"Hah." Myesha menghela nafas.
"Kenapa gue tetap merasa kesepian padahal sudah mempunyai banyak pengikut?" Myesha menatap datar ponselnya.
Nyatanya Myesha hanyalah manusia biasa yang menginginkan orang lain di sisinya. Dia ingin ada orang lain yang selalu menemaninya. Myesha hanyalah manusia yang kesepian.
"Beruntung sekali dia memiliki sahabat yang sangat peduli seperti itu, gue juga mau."
Myesha memang punya teman, tapi tidak sedekat yang orang lain pikir, karena Myesha dan teman-temannya sama-sama sibuk. Myesha kesepian, dia benar-benar kesepian.
.
.
.
Ivy yang hendak memasuki kamarnya terhenti ketika mendengar Ibunya berbicara seperti itu. Dia langsung menoleh ke arah tempat ibunya duduk di sofa, reflek Ivy berjalan mendekat.
"Papa? Tadi Papa dateng?" Raut wajah Ivy terlihat khawatir. "Apa, apa yang dia bilang tadi, Ma?" tanya Ivy pada Ibunya.
Ibu Ivy terdiam sejenak, lalu dia menatap dalam putrinya itu. "Dia minta hak asuh kamu, dia mau kamu tinggal sama dia," ucap ibu Ivy lirih. "Mama gak mau kamu tinggal sama Papa kamu." Ibu Ivy bergerak memeluk Ivy.
Degh.
"Lagi?" Ivy memberikan tatapan tidak percaya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ivy tidak akan mau tinggal bersama ayahnya itu.
"Kenapa Papa maksa banget kalau aku harus tinggal sama dia? Papa jahat, aku gak mau tinggal sama Papa." Ivy sangat menolak permintaan ayahnya itu, sampai kapanpun dia tidak akan mau.
"Sampai sekarang dia masih berusaha untuk mendapatkan hak asuh kamu. Bahkan dia mau membawa hal ini ke jalur hukum," jelas ibu Ivy.
Ivy menggeleng tidak percaya, sebegitu inginnya Ayah Ivy untuk mendapatkan hak asuh dirinya? Padahal dia sudah punya dua anak dari hasil perselingkuhannya, kenapa masih belum cukup?
Ya, orang tua Ivy sudah lama bercerai karena ayah Ivy ketahuan selingkuh dengan rekan kerjanya. Ivy kecewa, ayah yang dulu sangat menyayanginya, bahkan memberikan apapun yang Ivy mau, sekarang semua itu sudah tidak ada, Ivy sangat kecewa pada ayahnya karena sudah mengkhianati keluarga mereka.
"Aku gak akan pernah mau tinggal sama Papa, bahkan sampai aku mati. Aku cuman mau tinggal sama Mama, aku sayang Mama." Ivy bergerak memeluk ibunya dengan erat. Wanita di depannya ini adalah satu-satunya orang yang sangat dia sayangi, Ivy akan melakukan apapun untuk ibunya yang sangat dia sayangi.
"Mama gak papa kan? Papa gak nyakitin Mama kan?" tanya Ivy.
Ibu Ivy menggeleng. "Mama gak papa, tadi Papa kamu cuman dateng marah-marah terus pergi," ucap Ibu Ivy.
Pandangan Ivy tak sengaja melihat bekas kemerahan di pergelangan tangan ibunya. Ivy tau kalau ibunya berbohong, ayahnya pasti melakukan sesuatu. Tangan Ivy langsung bergerak menggenggam tangan kanan Ibunya.
"Mama bohong." Ivy mengangkat pergelangan tangan ibunya yang terlihat memerah. "Ini apa? Papa nyakitin Mama lagi kan?" ucap Ivy.
Ibu Ivy tersenyum. "Mama memang gak bisa bohong sama kamu," ucapnya.
"Papa gak bisa dibiarin, Ma. Kita harus laporin Papa ke polisi, ini yang kesekian kalinya Papa nyakitin Mama," ucap Ivy dengan nada bicara yang menunjukkan kalau dia marah.
"Jangan sayang. Bagaimanapun dia, dia adalah Papa kamu. Dia sayang sama kamu," ucap ibu Ivy. "Maka dari itu dia menginginkan hak asuh kamu, karena dia sayang sama kamu," lanjut ibu Ivy.
"Enggak, Papa gak sayang sama aku. Kalau Papa sayang sama aku, Papa gak mungkin ngekhianatin kita," ucap Ivy tidak percaya.
"Papa cuman mau kalau perusahaannya punya penerus, dan aku gak tertarik jadi penerusnya."
Ivy hanya mengetahui kalau ayahnya menginginkan dirinya untuk menjadi penerus perusahaan pria itu. Ivy merasa kalau ayahnya hanya ingin memanfaatkan dirinya saja, dan Ivy benci itu.
"Padahal Papa punya dua anak lagi, anak kesayangan dia. Kenapa gak mereka aja yang nerusin perusahaan Papa? Kenapa harus aku?" ucap Ivy dengan nada tidak suka.
Ibu Ivy menghela nafas, dia sudah berusaha untuk membuat Ivy agar tidak membenci ayahnya sendiri, tapi semua itu sia-sia. Waktu Ivy kecil anak itu memang tidak membenci ayahnya, tapi semakin Ivy dewasa, Ivy memperlihatkan kebenciannya secara terang-terangan, bahkan Ivy tidak peduli kalau pria itu mati sekalipun.
Ivy tidak pernah menyebutkan nama ayahnya di depan publik, Ivy hanya menyebutkan nama ibunya. Sebegitu bencinya Ivy dengan pria itu.
"Dia merasa hanya kamu yang pantas untuk meneruskannya."
Bersambung....