Narasya And Her Friends

Narasya And Her Friends
18. Rasa Bersalah Yang Menyiksa



Sudah waktunya pulang sekolah, Narasya dan Audrey juga sudah berjalan keluar dari kelas untuk pulang. Sepanjang perjalanan menuju parkiran sekolah, Audrey hanya diam dan menatap jalanan dengan tatapan bingung.


Narasya heran melihat sahabatnya yang diam sedari tadi, keadaanya sangat canggung. Narasya pun menatap wajah Audrey dengan memiringkan kepalanya.


"Udrey kenapa diem aja?" tanya Narasya. Sudah di dalam mobil pun Audrey hanya diam, tidak seperti biasanya, maka dari itu Narasya akhirnya bertanya.


"Ha? Oh, itu gak papa, gue cuman kecapean." Audrey sontak menatap Narasya, dia langsung mengubah ekspresinya dengan tersenyum. "Mau langsung pulang, apa mau mampir makan dulu?" tanya Audrey.


"Pulang aja, Bunda pasti udah masak," jawab Narasya, Audrey mengangguk.


Audrey masih memikirkan hal aneh yang terjadi di kelas tadi. Kenapa ekspresi Arta DKK terkejut ketika Audrey memberitahu bekas goresan di pelipis Narasya.


"Udah lama?" tanya Arta memastikan sekali lagi, mana tau pendengarannya bermasalah.


"Iya, udah lama. Dari awal gue kenal sama Rasya, itu bekas goresan udah ada, dan masih jelas banget, kayaknya masih baru." Audrey menjelaskan dengan santai.


Arta DKK saling lirik satu sama lain, lalu tak lama setelah itu mereka melirik Narasya yang masih saja tertidur. Audrey mengernyitkan kening bingung dengan reaksi mereka, seperti baru menerima fakta mengejutkan?


Rulan menggelengkan kepalanya, lalu tanpa berkata-kata dia kembali ke tempat duduknya, begitu juga dengan teman-temannya yang lain, mereka langsung kembali ke tempat duduk mereka. Audrey langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres, Audrey menatap curiga ke arah mereka.


"Lah, kenapa tuh mereka?" ucap Audrey pada Adinda, Adinda hanya menaikkan kedua bahunya pertanda tidak tau.


Mengingat kejadian tadi, berbagai pertanyaan-pertanyaan hinggap di kepala Audrey. Dia berharap hal itu bukan sesuatu yang buruk.


Audrey menghela nafas, lalu beralih menatap Narasya sebentar yang juga sedang menatapnya. "Itu goresan yang ada di deket alis Lo itu kenapa, Sya?" tanya Audrey.


Narasya bukannya menjawab, dia hanya diam sejenak. "Kenapa nanya itu?" Narasya balik bertanya dengan nada pelan.


"Nanya aja sih, itu bekas kan udah lama banget. Kalo Lo gak mau jawab ya gausah dijawab," ucap Audrey yang masih fokus menyetir.


Narasya memang tidak berniat untuk menjawabnya, dia lebih baik memendam hal itu sendirian. Audrey tidak perlu tau.


"Kalau itu bukan hal yang penting, harusnya Lo jawab pertanyaan gue kan? Pasti itu hal yang sangat penting," ucap Audrey tanpa menatap Narasya sedikitpun. Pandangannya hanya lurus ke depan menatap jalanan.


Narasya terdiam sejenak, pandangannya dia alihkan ke jendela mobil menatap sendu jalanan. "Justru karena bukan hal yang penting, jadi tidak usah aku beritahu."


.


.


.


"Itu dia."


Arta DKK sedang berkumpul di suatu tempat. Mereka bahkan rela untuk membatalkan semua jadwal hari ini, hanya untuk membahas hal yang menurut mereka sangat penting.


"Kenapa dengan bodohnya dari awal kita gak sadar?" ucap Izzy dengan raut wajah sedikit menyesal.


"Harusnya kita sadar, karena hanya ada satu orang yang akan menjauhi kita sampai segitunya. Arrghh, bodoh banget sih!" Arta mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa sangat kesal pada dirinya sendiri.


"Kita semua bodoh," ucap Rulan.


"Kita bukan hanya jahat, tapi benar-benar jahat. Kita ... kita ha-hampir membunuh dia." Myesha berucap lirih. Myesha mengingat masa lalu kelam itu, yang seharusnya tidak perlu diingat lagi.


"Ya, kita sudah seperti monster." Rulan memandang lantai dengan tatapan kosong. "Kita ... benar-benar monster."


"Mungkin Tuhan ingin memberikan kita kesempatan dengan cara mempertemukan kita dengan dia lagi." Ucapan Myesha mendapat anggukan dari teman-temannya. Mereka senang karena dapat menemukan gadis itu.


Ya, mereka sedang membicarakan Narasya. Rain Narasya, satu-satunya orang yang selama bertahun-tahun belakangan ini selalu mengusik pikiran Arta DKK. Satu-satunya orang yang mampu memporak-porandakan hati mereka, ya, hanya Narasya yang bisa.


Gadis polos yang membutuhkan perlindungan dari seorang Audrey itu ternyata adalah masa lalu Arta DKK yang tidak ingin mereka ingat lagi. Bukan Narasya yang tidak ingin mereka ingat, tapi perlakuan jahat mereka pada gadis itu yang tidak ingin mereka ingat lagi.


Mereka masih mengingat jelas bagaimana perlakuan mereka dulu, hingga rasa bersalahnya masih terasa sampai saat ini. Mungkin saja perasaan bersalah itu akan selamanya bersarang di benak mereka.


"Ini udah bener-bener salah, kita harus secepatnya minta maaf sama dia," ucap Arta menatap teman-temannya yang lain.


"Jangankan minta maaf, dekatin dia aja gak bisa, gimana caranya?" tanya Izzy dengan frustasi.


Mereka bisa saja menanggung semua beban hidup, tapi tidak yang satu ini. Perasaan bersalah itu benar-benar menyiksa mereka secara batin.


Media hanya tau Arta DKK adalah orang-orang yang paling bahagia, padahal nyatanya salah besar. Mereka sama sekali tidak bahagia, rasanya banyak sekali beban yang mereka tanggung.


Orang-orang beranggapan kehidupan Arta DKK sangat sempurna, mereka dianugerahi wajah yang tampan dan cantik, kepopuleran dan uang yang melimpah. Hanya dengan kedipan mata, banyak sekali orang yang ingin menjadi pasangan mereka.


"Maka dari itu kita meminta bantuan Audrey. Hanya dia yang bisa membuat kita lebih dekat dengan ... Rasya," ucap Arta.


"Haruskah kita memberitahukan semuanya pada Audrey?" tanya Ivy ragu.


Rulan mengangguk. "Ya, kita harus memberitahu dia, Audrey berhak tau. Kita harus menceritakan semuanya," ucap Rulan.


"Gue takut Audrey marah, karena dia sangat menyayangi sahabatnya itu. Bisa-bisa dia tidak jadi untuk membantu kita setelah mengetahui semua kebenarannya," ucap Myesha ragu.


"Gak kita lakuin kita gak berhasil, mending kita lakuin aja walau pada akhirnya gagal, daripada engga sama sekali."


Semuanya menatap Arta, ucapan Arta ada benarnya juga, pikir mereka. Mending mencoba walaupun gagal, daripada tidak mencoba dan tidak ada kemajuan sedikitpun.


"Bagaimana kalau Minggu? Di kafe dekat sekolah," usul Izzy. "Kita harus membatalkan semua jadwal di hari Minggu, hanya untuk hari Minggu," lanjut Izzy.


"Ya, kita butuh waktu untuk menjelaskan semuanya kan? Sepertinya hari Minggu adalah hari yang cocok," sambung Ivy.


"Hm, berarti besok?" ucap Rulan dan yang lainnya mengangguk.


"Semoga saja kita berhasil, semoga saja Audrey mau membantu kita. Hanya Audrey harapan satu-satunya."


Ya, mereka sangat berharap pada Audrey untuk menebus semua kesalahan mereka. Rasa bersalah yang sangat menyiksa itu harus segera diakhiri, mungkin itu adalah karma atas perbuatan mereka di masa lalu.


"Hubungi Audrey sekarang."


"Oke."


Bersambung....