
"Ayo pulang, Sya." Audrey menarik tangan Narasya lalu keluar dari dalam kelas. Kelas sudah sepi, Audrey kebagian jadwal piket kelas, maka dari itu dia dan Narasya pulang sedikit telat.
Di luar kelas empat orang gadis mendekati Audrey dan Narasya. Audrey mengerutkan keningnya, kenapa mereka belum pulang ke rumah? Pikir Audrey.
"Eh kalian? Belum pulang?" tanya Audrey.
"Kita nungguin Lo Drey, buat ketemu sama Lo susah banget, udah kayak mau ketemu sama pejabat." Salah satu dari mereka memasang wajah kesal, Audrey hanya menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Hehe, ya maap. Mangkanya gue tuh gausah dicari, janjian aja ketemu di mana gitu kek," ucap Audrey.
"Gak enak sering-sering ngechat Lo buat ketemuan, takut ganggu," ucap gadis lainnya.
"Yaudah, memangnya ngapain mau ketemu gue? Cepetan, gue mau pulang." Audrey melihat jam yang melingkar di tangannya, dia harus segera mengantarkan Narasya pulang.
"Kita mau minta maaf, kayaknya perkataan kita kemaren itu nyakitin Lo. Kita gak bermaksud kok, buat menjelek-jelekkan temen Lo itu, sorry banget." Salah satu gadis mewakili teman-temannya untuk meminta maaf.
Sementara Narasya hanya diam menyimak pembicaraan mereka, menyender pada Audrey dan memainkan rambut Audrey. Narasya sudah merasa mengantuk sedari tadi.
Mereka adalah circle pertemanan Audrey dari jurusan Akuntansi yang dia temui beberapa hari lalu. Keempat gadis itu merasa bersalah, lalu berniat menemui Audrey untuk meminta maaf.
"Kalian gue maafin," ucap Audrey, keempat gadis itu bernafas lega. "Lagian gue gak marah kok, gue cuman kesel dikit, karena yang kalian omongin gak bener, Rasya bukan orang yang seperti itu," jelas Audrey.
"Iya, gak lagi-lagi deh."
Mendengar namanya di sebut, Narasya menatap Audrey. "Kalian lagi ngomongin aku?" tanya Rasya dengan polosnya.
"Lo ini lola banget sih, Sya? Jadi Lo kira dari tadi kami ngomongin siapa?" Audrey merasa gemas dengan sahabatnya itu, bisa-bisanya dia baru sadar sekarang.
"Ooo." Narasya membulatkan bibirnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Loh, dia siapa Drey?" Mereka baru menyadari kalau dari tadi ada gadis yang menyender di bahu Audrey. Apakah Narasya sekecil itu sampai tidak keliatan?
"Apa-apaan ekspresi kalian itu? Jadi dari tadi kalian baru sadar kalau ada dia di deket gue? Dia ini sahabat gue, Rain Narasya, orang yang gue maksud." Audrey menekankan nama Narasya di kalimatnya.
Terlihat jelas ekspresi terkejut dari mereka. Tidak menyangka kalau yang di depan mereka ini yang bernama Narasya, ini pertama kalinya mereka bertemu Narasya secara langsung.
"I-ini yang namanya Rasya?" tanya salah satunya, Audrey mengangguk. Reflek gadis itu mencubit pipi Narasya karena merasa gemas. "Lucu banget anjir!" teriaknya tiba-tiba.
Plak.
Audrey menepis tangan gadis itu. "Jangan dicubit, kalo nangis Lo mau tanggung jawab?" ucap Audrey.
"Hehe, maaf. Kelepasan Drey, habisnya dia imut banget, nemu di mana Lo Drey?" ucap Gadis itu.
"Ngidam apa sih emaknya, kok bisa imut gini?" ucap yang lainnya lagi.
"Pertanyaan kalian gak berbobot. Udahlah, gue mau pulang." Audrey kembali menarik Narasya untuk pergi dari sana.
"Bener kata Lo Drey, kami bakal narik kata-kata kami setelah bertemu Rasya secara langsung."
.
.
.
"Cut!"
Menjadi Aktris sekaligus model memang cukup melelahkan, Rulan seperti tidak punya waktu istirahat. Pagi sekolah sampai siang, pulang syuting di berbagai tempat dan sering pulang malam, belum lagi menghadiri acara-acara besar yang mengharuskan dia untuk datang, dan juga dia harus mengerjakan tugas sekolahnya.
Bukan cukup melelahkan, tapi sangat melelahkan, dia hanya punya waktu tidur paling lama empat jam. Sejujurnya Rulan tidak suka pekerjaannya sebagai aktris.
"Sekarang saya bisa istirahat?" tanya Rulan pada penanggung jawab syuting itu. Orang itu mengangguk.
Rulan pun pergi ke ruang ganti untuk menenangkan dirinya sebentar. Wajahnya hanya menampilkan raut wajah datar, tatapan dingin itu seperti tidak pernah hilang dari wajahnya.
"Ingat, Lan. Besok kita harus siap-siap untuk syuting iklan lagi." Manager Rulan mengingatkan sesuatu hal kepada Rulan.
"Hm."
Di depan publik, Rulan di kenal sebagai gadis yang ramah dan asik. Dia selalu tersenyum menyapa penggemarnya, tapi berbeda ketika dia tidak sedang di publik. Hanya orang-orang yang bekerja dengannya dan teman-temannya yang tau bagaimana Rulan yang asli.
Rulan sebenarnya sudah sangat lelah dengan itu semua, dia ingin berhenti, tapi seperti ada sesuatu yang menahannya. Menjadi terkenal dan kaya raya, tidak benar-benar menjamin kebahagiaan.
Rulan ingin sekali seperti remaja-remaja pada umumnya, mereka hanya sibuk dengan tugas-tugas sekolah, berkumpul bersama teman-teman mereka dan memiliki orang tua yang sayang pada mereka. Sayangnya Rulan hanya memiliki teman yang sama sepertinya.
"Neta, aku pulang." Rulan memberitahu Neta, yaitu managernya. Neta langsung mengikuti Rulan untuk ikut mengantarkannya pulang.
Rulan hanya ingin istirahat, dia berharap bisa tidur dengan tenang hari ini. Tapi sepertinya harapan itu pupus, baru saja sampai, Rulan sudah mendapatkan tamparan dari ayahnya.
Plak.
Kepala Rulan tertoleh ke samping, pipi Rulan terasa panas. Lalu dia menatap dingin Ayahnya.
"Kenapa kau memutuskan kontrak dengan perusahaan parfum itu?!" Terdengar jelas dari nada bicara ayahnya, kalau ayahnya sedang marah.
"Kalau aku tidak memutuskan kontrak dengan mereka, aku tidak punya waktu istirahat," jawab Rulan dengan nada datar seperti biasanya.
"Kenapa harus memutuskan? Kan ada cara lain?" Ayah Rulan tidak terima dengan jawaban anaknya.
"Aku bukan robot, Ayah."
"Cara lain apa? Ayah hanya tau memarahiku tanpa memberikan solusi," balas Rulan dingin.
"Kalau kau terus memutuskan kontrak, popularitasmu akan menurun, Ayah tidak mau itu terjadi." Ayah Rulan tetap ingin memaksakan kehendaknya pada anaknya.
"Popularitas? Aku tidak peduli dengan itu. Sudahlah, aku capek, mau istirahat." Lalu Rulan berlalu begitu saja dari hadapan Ayahnya. Tidak peduli walaupun ayahnya sudah berteriak memanggil namanya.
Brak.
Rulan membanting pintu kamar saking kesalnya. Hari ini sangat melelahkan untuknya. Batin dan fisiknya sama-sama kelelahan, dia sudah tidak bisa berpikir jernih saking banyaknya pikiran yang memenuhi kepalanya.
"Kenapa Ayah tidak pernah mengerti kalau aku itu udah capek?" Rulan berbicara pada dirinya sendiri. "Punya orang tua seperti tidak punya orang tua."
"Memangnya sepenting apa popularitas untuknya? Tidak ada yang menarik dari itu," ucap Rulan lagi.
Lalu Rulan mengambil pigura foto dari meja nakasnya, dia menatap foto itu lamat-lamat, mengusap foto itu dengan ibu jarinya. Rulan tersenyum tipis.
"Masa-masa yang indah. Andai waktu bisa diulang, gue gak akan mau menjadi seorang aktris. Gue hanya akan menjadi remaja biasa pada umumnya."
"Dan ... memperbaiki semuanya, mencegah hal itu akan terjadi."
Bersambung....