
Lima murid baru memasuki kelas sebelas TKJ dua. Sontak saja hampir seluruh penghuni kelas terkejut dan tidak percaya, melihat lima orang di depan mereka ini. Hei, apakah ini nyata? Pikir mereka.
"Perkenalkan nama kalian nak," ucap sang guru. Murid-murid kelas sebelas TKJ dua masih saja terdiam.
"Perkenalkan nama gue Myesha Wulannada."
"Nama gue Ivy Laura Dikara."
"Rulan Pricilla."
"Halo semua, nama gue Lio Arta Addison."
"Kalau gue Izzy Adinata Putra, dan kalian pasti udah ngenal kami dengan baik." Izzy menandakan perkenalan itu di akhiri.
Ya, lima murid baru itu tak lain adalah Rulan, Myesha, Ivy, Izzy dan Arta. Mereka adalah Aktris dan Aktor papan atas yang sering dibicarakan beberapa tahun terakhir.
Izzy dan Arta tersenyum manis ke arah teman-teman baru mereka, sontak terdengar teriakan yang berasal dari penghuni perempuan di kelas itu. Izzy dan Arta seperti definisi manusia sempurna, mempunyai wajah tampan, berbakat, dan juga kaya.
"Tampar gue, gue gak mimpi kan?"
"Idola gue, woi. Gak nyangka jadi temen sekelas."
"Anjir, seperti di fiksi."
"Gak bercanda kan ini?"
"Anjir, akhirnya gue bisa lihat Arta secara langsung."
"Izzy gue, akhirnya bisa gue lihat secara nyata."
Beberapa penghuni kelas berteriak histeris, tidak menyangka kalau orang-orang yang mereka idolakan bisa mereka lihat secara langsung. Pandangan penghuni kelas tidak bisa lepas dari lima orang yang sedang berdiri di depan.
"Ada pertanyaan?" tanya guru yang berdiri di depan.
"Ada buk," salah satu siswa mengangkat tangan. "Kenapa kalian bisa masuk sekolah ini? Terlebih lagi ini SMK loh, dan lebih anehnya lagi ini jurusan TKJ, T.K.J. Kalau kalian masuk SMA mending lah, atau SMK jurusan bisnis manajemen." Siswa itu mengungkapkan kebingungannya.
"Kalian tau TKJ kan, mainannya gak jauh-jauh dari kabel sama komputer. Kayak, gak masuk akal, anjir. Secara kalian itu aktris dan aktor," lanjut siswa itu.
Semua penghuni kelas menyetujui pertanyaan siswa itu. Hal ini benar-benar sulit dipercaya, lima orang yang sangat terkenal itu memilih masuk SMK? Terlebih lagi jurusan TKJ. SMK Trisatya juga tidak buruk, karena sekolah ini berakreditasi "A", dan sekolah yang menjadi incaran setiap orang, tapi tetap saja aneh sekali.
"Kami cuman mau nambah pengalaman aja," jawab Izzy santai.
Jawaban itu sudah cukup menjelaskan semuanya, walaupun masih terasa sangat janggal. Lalu mereka berlima di persilahkan duduk di bangku yang masih kosong.
Sementara itu di sisi Audrey dan Narasya bukannya senang, malah kebalikannya. Tubuh Narasya terus saja bergetar ketakutan dan menangis, Audrey merasa khawatir dengan Narasya.
"Kenapa nangis Sya? Lo sakit? Jangan bikin gue khawatir dong." Audrey kembali memeluk tubuh Narasya.
"A-aku takut ...." Narasya berucap lirih. Bahkan ketiak Audrey menyentuh telapak tangan Narasya, telapak tangan itu terasa dingin, membuktikan kalau Narasya benar-benar takut.
Narasya bahkan tidak berani menatap sekitarnya, dia hanya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Audrey. Hal itu membuat mata Audrey berkaca-kaca, jarang sekali Narasya merasa ketakutan sampai segitunya.
"Kenapa Sya? Lo takut sama siapa? Bilang sama gue," tanya Audrey. "Tenang aja Sya, ada gue. Di sini gak ada apa-apa." Audrey semakin memeluk erat Narasya.
Padahal tadinya Narasya baik-baik saja, kenapa jadi begini? Sebenarnya apa yang dia takutkan? Guru yang melihat hal itupun mendekat.
"Kenapa Audrey?" tanya guru itu.
"Yaudah, bawa Narasya ke UKS, takut nanti dia kenapa-napa. Wajahnya juga udah pucat itu," ucap guru itu.
Ketika Audrey ingin menggendong Narasya ke UKS, Izzy berdiri dan mendekat. "Biar saya aja yang bawa dia ke UKS, Buk," ucap Izzy menawarkan diri.
"Gak mau," ucap Narasya semakin memeluk Audrey erat.
"Gausah, kayaknya dia takut sama Lo. Biar gue aja yang gendong, lagian Rasya gak berat kok." Audrey menggendong Narasya di punggungnya, lalu dia membawa Narasya keluar kelas.
Izzy berkedip tidak percaya, dirinya di tolak? Baru kali ini seorang Izzy Adinata Putra mendapatkan penolakan dari seorang gadis. Matanya tadi tidak sengaja bertatapan dengan mata sendu Narasya. Mata yang membuat seorang Izzy ingin melindungi gadis itu.
"Rasya ya?"
.
.
.
Ceklek.
Adinda memasuki ruang UKS, terlihat Audrey duduk sambil memainkan ponsel denganya yang tertidur di brankar UKS. Adinda berjalan mendekat.
"Rasya gimana keadaannya, Drey?" Adinda menarik satu kursi yang ada di UKS dan ikut duduk di samping Audrey.
"Rasya tidur, capek nangis," jawab Audrey. "Gue masih bingung kenapa dia bisa sampe ketakutan banget sampe kayak gitu," lanjut Audrey. Raut wajah khawatir sangat tercetak jelas di wajah Audrey.
"Pasti ada sebabnya ini, mana mungkin tiba-tiba ketakutan gitu. Tapi apa ya?" Adinda tampak berpikir.
"Tadi sebelum masuk ke kelas, Rasya nabrak Rulan, terus tiba-tiba dia nangis." Audrey mencoba mengingat kejadian tadi pagi. "Waktu udah di kelas, udah gak nangis lagi dia, tapi waktu mereka berlima masuk, si Rasya ketakutan sampe nangis kayak gitu," jelas Audrey.
Adinda menegakkan tubuhnya. "Tadi pagi Rasya nabrak Rulan, terus nangis?" Ucapan Adinda mendapat anggukan dari Audrey. "Terus waktu lima anak baru itu masuk, Rasya nangis lagi sampe ketakutan? Di sana juga ada Rulan kan?" tanya Adinda lagi, Audrey mengangguk lagi.
"Apa jangan-jangan Rasya takut sama Rulan?" Adinda mencoba menebak-nebak. "Tapi kenapa bisa takut sama Rulan?" Adinda semakin bingung.
Audrey terdiam sejenak. "Lo ada benernya, tapi gak juga. Lo inget waktu Izzy nawarin diri buat ngegendong Rasya?" tanya Audrey pada Adinda, dan Adinda mengangguk.
"Itu Rasya bilang gak mau loh, dan badannya makin bergetar waktu Izzy mau nyentuh dia," lanjut Audrey.
Adinda menatap Narasya sebentar. "Tapi bisa aja kan dia memang gak mau digendong orang lain. Lagian waktu itu dia lagi ketakutan, maunya cuman sama Lo." Adinda sedikit menyela ucapan Audrey.
"Lo tau? Waktu lima orang itu masuk, Rasya bener-bener gak mau natap sekitar. Dia tiba-tiba meluk gue, terus nyembunyiin mukanya di leher gue," ucap Audrey.
"Hm, mungkin bisa aja memang Rasya takut sama mereka berlima. Atau dia cuman takut sama Rulan?" Adinda mencoba menebak-nebak.
"Entahlah, gue bingung, anjir. Sebenarnya Rasya ini kenapa?" Audrey menghembuskan nafas lelah.
"Kalo emang Rasya takut sama mereka berlima, kayak gak logis gak sih? Lo tau sendirikan mereka berlima siapa? Mereka itu bukan orang biasa, fansnya ada di seluruh Indonesia, dan juga terkenal di negara Asia lainnya." Adinda benar-benar merasa semua itu tidak masuk akal.
"Lo emang gak tau atau gak pernah liat salah satu dari mereka berlima ada sesuatu sama Rasya?" Pertanyaan Adinda mendapatkan gelengan dari Audrey.
Audrey menatap lembut Rasya, lalu mengelus kepala Rasya dengan lembut. "Apa sebenarnya yang terjadi sama Lo?"
Bersambung....