My sister my love

My sister my love
20. MSML20



Sudah seminggu setelah kejadian itu, tapi Dafa masih enggan bangun dari tidurnya. Dafa sudah di pindahkan ke ruang VVIP di rumah sakit itu. Ria selalu menjaga Dafa dan merawatnya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu kapan bangunnya Fa? Emang kamu gak cape ya tidur terus?" Ria berbicara kepada tubuh yang terbaring kaku di atas brangkar rumah sakit.


"Kamu mimpi apa sampe gak mau bangun? Di sini banyak yang nunggu kamu bangun!" ucap Ria lagi dan tanpa sadar air mata nya sudah mulai menetes.


"Cepet bangun ya Fa! Aku akan selalu menunggu mu dan menjaga mu," saat Ria mengatakan itu jari Dafa bergerak dan Ria melihat itu. Ria segera memencet tombol merah yang ada di samping brangkar Dafa. Tak lama Dokter datang untuk memeriksa keadaan Dafa.


"Pasien sudah keluar dari masa kritisnya! Kalian harus sering-sering mengajaknya berinteraksi seperti mengajaknya berbicara!" Dokter memberitahu kepada semua orang yang menunggu Dafa.


Seketika mereka semua bahagia karna Dafa sudah keluar dari masa kritisnya.


"Tapi, jika pasien tidak bangun sampai besok maka pasien dinyatakan koma!" ucap Dokter lagi yang membuat semua orang tiba-tiba terdiam.


"Saya permisi! Jika terjadi respon lagi dari pasien segera panggil saya!" ucap Dokter lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


🍃🍃🍃🍃


Sudah lebih dari sebulan setelah kabar Dafa keluar dari masa kritisnya. Tapi Dafa masih belum membuka matanya, dia dinyatakan dokter sedang koma.


Bahkan teman-temannya sudah selesai melaksanakan Ujian Nasional tak terkecuali Ria, Irwan, Dika, Raka, Tasya, dan Mia. Ria mendapatkan nilai tertinggi dan dia mendapatkan beasiswa kuliah di luar negri.


Selama ini Ria dan yang lain selalu menjenguk Dafa dan mengajak Dafa berbicara. Ria selalu menceritakan semua yang terjadi di sekolahnya.


Setiap pulang sekolah, Ria selalu mampir ke rumah sakit untuk menjenguk Dafa dan mengajaknya berbicara. Tapi hasilnya selalu sama, tidak ada tanda-tanda akan bangunnya Dafa dari tidur panjangnya selama sepuluh hari terakhir ini.


Ceklek...


Ria masuk ke ruang rawat Dafa, terlihat Mama Nesa sedang duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Tante! Ayo makan dulu!" Ria meletakkan kantong kresek yang berisikan makanan yang di belinya saat pulang sekolah tadi.


"Eh, ada Ria! Ayo kita makan sama-sama!" sahut Mama Nesa tersenyum.


"Aku udah makan, Tante!" sahut Ria.


"Tante tau kalau kamu belum makan! Ayo kesini kita makan sama-sama!"


"Baiklah," sahut Ria pasrah.


Setelah Ria dan Mama Nesa selesai makan, Ria beranjak dari duduknya menuju brangkar Dafa. Saat Ria memperhatikan Dafa yang masih terbaring lemah, ada seseorang yang menetuk punggungnya.


"Dafa masih belum memberikan respon saat di ajak bicara!" ucap Mama Nesa.


"Kita harus terus berusaha dan berdoa agar Dafa bisa bangun dengan segera!" ucapnya lagi.


Ria menatap Mama Nesa dan menampilkan senyum yang di paksakan.


Drrttt... Drrttt... Drrttt...


"Tante keluar angkat telpon dulu ya! Tantr titip Dafa ya!" ucap Mama Nesa lalu pergi keluar ruangan.


Setelah Mama Nesa pergi dari ruangan itu, Ria duduk di kursi yang ada di sebelah brangkar Dafa.


"Fa! Aku rindu!"


"Kamu gak rindu ya sama aku?"


"Bangun ya, Fa!"


"Di sini banyak yang menantimu!"


"Apakah kamu tidak ingin melihatku lagi?"


"Fa! Bangun ya!"


"Hmmm... Sepertinya kamu gak mau bangun kalau ada aku! Aku tau semua ini terjadi karna aku!"


"Maafin aku, Fa!"


"Aku kesini mau pamit sama kamu!"


"Maafin aku ya, Fa!" air mata Ria terus saja mengalir dari pelupuk matanya.


"Kamu jangan lama-lama ya tidurnya!"


"Aku akan pergi lama, Fa!"


"Aku besok harus pergi ke luar negeri untuk mengejar cita-citaku!"


"Kamu tau? Aku mendapatkan beasiswa di luar negeri dan semua orang mendukungku untuk pergi mengejar cita-citaku."


"Awalnya aku ragu karna aku harus pergi meninggalkanmu, tapi mereka memberi ku penjelasan."


"Aku akan berangkat besok pagi!"


"Cepat sembuh ya, Fa!"


"Aku pamit! Maafkan aku!" setelah itu Ria beranjak dari duduknya. Saat dia tiba di depan pintu, Mama Nesa lebih dulu membuka pintu itu dari luar dan masuk ke ruangan.


"Aku pamit ya, Tant!"


"Iya, kamu berangkat besok pagikan?"


"Iya, Tant!"


"Hati-hati ya! Jaga kesehatan kamu!"


"Iya, Tant! Tolong kabarin aku tentang perkembangan Dafa ya Tant!"


"Iya, Tante pasti kasib tau kamu kok!" sahut Mama Nesa tersenyum.


"Aku pamit ya, Tant!"


"Iya," sahut Mama Nesa dan memeluk Ria. Setelah pelukan mereka berakhir, Ria pergi dari rumah sakit dan pulang ke rumah untuk mempersiapkan kepergiannya besok.


Jangan lupa tambahkan ke favorit❤, like, vote dan tinggalkan jejak. Semangat dan saran dari kalian sangat membantu😊


Semoga kalian suka💕


Mohon maaf kalau ada banyak typo😊


Terima kasih😊