My sister my love

My sister my love
14. MSML14



Kelas 12 IPA 2


Seluruh siswi di kelas kegirangan karna murid baru itu akan sekelas dengan mereka kecuali Dika, Mia dan Tasya, mereka bertiga bengong meliat siswa yang akan sekelas dengan mereka. Sedangkan Ria, dia terlihat biasa saja, tidak ada reaksi apapun.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Tettt... Tettt... Tettt...


Bel istirahat sudah berbunyi, semua murid melakukan aktivitasnya masing-masing.


"Gue denger murid baru itu ada di kelas 12 IPA 2 dan 11 IPA 1!" seru salah satu siswi yang ada di kelas Dafa.


Saat mendengar perkataan siswi tersebut, Dafa langsung berlari menuju kelas 12 IPA 2. Sedangkan Raka kaget saat meliat Dafa yang tiba- tiba berlari karna dia tidak mendengar perkataan siswi yang tengah bergosip itu. Karna penasaran Raka mengejar Dafa.


"Fa! Tunggu napa!" ucap Raka ngosngosan, tapi Dafa tidak menghiraukannya, dia terus berlari menuju kelas 12 IPA 2. Ketika mereka sampai, Dafa tidak menemukan keberadaan Ria dan teman-temannya.


"Ria mana?" tanya Dafa pada siswa yang melewatinya.


"Gue denger sih mereka tadi mau ke kantin!" sahut siswa itu.


"Thanks," ucap Dafa lalu berlari menuju kantin, sedangkan Raka hanya mengikuti Dafa.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Kantin


Saat Dafa dan Raka sampai di kantin, Dafa langsung celingak-celinguk mencari keberadaan Ria. Saat mata nya tertuju pada sebuah meja di pojok kantin, Dafa melihat Ria, Tasya, Mia, Dika dan seorang laki-laki yang tak di kenali nya karna saat ini Dafa hanya melihat belakang laki-laki itu. Mereka terlihat tertawa lepas dan bahagia. Emosi Dafa sudah mulai memuncak karna melihat gadis tercintanya tertawa lepas dan bahagia bersama laki-laki lain. Dafa segera menuju tempat di mana Ria berada dan di ikuti oleh Raka yang juga sudah cemburu.


"Dafa!" ucap Ria saat dia melihat Dafa berjalan cepat ke arahnya.


"Ikut gue!" ucap Dafa dingin dan langsung menarik tangan Ria.


"Woy! Mau loe bawa ke mana adek gue!" teriak Irwan saat Dafa menarik tangan Ria agak kasar.


Saat mendengar teriakan itu Dafa langsung berhenti karna dia merasa tidak asing dengan suara itu.


"Lepasin tangan adek gue!" teriak Irwan lagi dan melepas paksa pegangan tangan Dafa. Sedangkan Dafa kaget melihat Irwan berada tepat di hadapannya.


Irwan membawa Ria menuju UKS, saat di perjalanan mereka berpapasan dengan Alice yang sedang menuju kantin.


"Hai kak!" sapa Alice, tapi Irwan tidak menyahut sapaan dari Alice, bahkan dia seolah-olah tidak melihat keberadaan Alice. Sedangkan Ria hanya tertunduk menahan sakit di pergelangan tangannya dan mengikuti Irwan yang membawanya.


"Bang Irwan sama Kak Ria kenapa?" tanya Alice kepada Mia, Tasya, Raka, Dika dan Dafa, tapi tidak ada yang menyahut pertanyaannya dan itu cukup membuatnya sangat penasaran.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Beberapa bulan setelah kejadian itu, Dafa tidak pernah bisa menghubungi Ria karna setiap kali dia menghubungi Ria yang menjawab selalu Irwan, bahkan dia tidak pernah bisa bertemu dengan Ria. Dafa hanya bisa melihat Ria dari kejauhan saja, itupun secara diam-diam. Semua kejadian yang terjadi itu sangat lah di sesali Dafa dan itu sudah sangat membuatnya uring-uringan dan terlihat sangat kacau bahkan dia kembali ke dunia nya yang dulu, balapan motor dan mabuk-mabukan. Dika dan Raka sangat cemas akan hal ini, mereka sudah berusaha membujuk Irwan tetapi Irwan masih kekeh tidak mengizinkan Dafa menemui Ria karna dia tidak mau Ria kenapa-kenapa, tidak ada yang bisa membujuknya, kalau itu adalah hal yang bersangkutan dengan keluarga nya. Ria sudah mencoba untuk membujuk Irwan tetapi apalah daya kalau Irwan sudah berkata tidak.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Rumah Keluarga Mahendra


Brakkk... Terdengar suara pintu yang di buka dengan kasar. Dafa masuk ke rumah nya dengan sempoyongan dan dia langsung tersungkur ke lantai yang ada di dekat sofa ruang tamu. Karna mendengar suara pintu yang sangat keras, bi Ijah langsung pergi ke asal suara karna kebetulan bi Ijah sedang membersihkan rumah karna jam sudah menunjukkan pukul 05:50 pagi. Bi Ijah kaget saat melihat Dafa yang sudah tersungkur di lantai, dia membantu Dafa yang setengah sadar untuk bangun dan berbaring ke sofa.


"Kenapa aku harus terlahir menjadi anak pembawa sial?" racau Dafa yang masih setengah sadar karna pengaruh wine yang diminumnya.


'Sepertinya saya harus memberitahu nyonya tentang ini!' gumam bi Ijah, karna dia sangat prihatin melihat keadaan Dafa yang kembali seperti dulu saat kepergian Karleen.


"Kenapa tuhan begitu tidak adil padaku?"


"Aku sangat tidak berguna, bahkan aku tidak bisa menjaga kakak ku sendiri!"


"Aku memang lelaki yang sangat lemah dan tidak berguna!"


"Aku memang pembawa sial!"


"Setiap orang yang dekat dengan ku selalu terluka, aku memang pembawa sial!"


"Kenapa tidak aku saja yang mati?"


"Kenapa dia yang harus pergi?"


"Seharusnya aku bisa menyelamatkannya!"


"Kenapa dia yang harus menanggung akibat dari kecerobohanku?"


Dafa terus meracau tanpa henti, keringat panas dingin mulai bercucuran membasahi wajah tampannya.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Di Alam Bawah Sadar


Dafa sedang berjalan menyusuri taman yang sangat indah tetapi tidak ada orang yang ada di sana. Setelah berjalan cukup jauh Dafa melihat seorang wanita yang sedang duduk di bawah pohon yang rindang. Wanita itu terlihat sangat bahagia, karna jarak yang cukup jauh membuat Dafa tidak jelas melihat wajah wanita itu. Rasa penasaran yang ada di diri Dafa, membuatnya berjalan mendekati wanita itu. Saat dia sudah berada di depan wanita itu, Dafa merasa kaget karna wanita itu adalah kakaknya yang sudah lama pergi meninggalkannya. Karleen menatap kearah Dafa dengan tersenyum manis dan Dafa memdekatinya lalu duduk di sebelah Karleen.


"Kenapa kakak meninggalkan aku?" tanya Dafa dan tanpa di sadari air matanya mengalir membasahi pipinya.


Karleen hanya tersenyum, dia tidak menjawab pertanyaan dari adiknya itu.


"Maafkan aku!" ucap Dafa.


"Kenapa kau harus minta maaf?" tanya Karleen tanpa menghilangkan senyum yang ada di wajah cantiknya.


"Kau adalah kakak yang terbaik di dunia, tetapi kenapa kau harus mendapatkan adik pembawa sial seperti ku! Bahkan aku adalah penyebab kepergianku!"


"Kau adalah adik yang baik dan yang sangat ku sayangi, siapa bilang kalau kau pembawa sial? Dan ingat! Jangan menyalahkan dirimu atas kepergianku dan ini semua adalah takdir!" sahut Karleen.


"Kenapa takdirku harus mengorbankan hidupmu Kak? Kenapa tidak aku saja yang pergi saat itu?" ucap Dafa lagi.


"Tuhan tahu aku tidak akan sekuat dirimu!" sahut Karleen, Dafa mengernyitkan keningnya tanda dia belum mengerti.


"Fa, apakah kamu menyayangiku?" tanya Karleen mengalihkan pembicaraan.


"Iya, bahkan aku sangat sangat menyayangimu kak!" sahut Dafa.


"Kalau kamu sangat menyayangi ku, aku ingin kamu menjadi seperti dulu lagi, sama seperti saat aku masih bersamamu, jangan mabuk-mabukan lagi, kakak tau kamu adalah anak yang sangat baik, kamu bukan anak pembawa sial dan perjalanan hidupmu masih panjang!"


"Aku sudah berusaha mencobanya, tetapi tuhan sangat tidak adil pada ku! Di saat aku mulai merasa aku kembali hidup setelah kepergianmu, karna kehadiran wanita yang sangat aku cintai. Tapi kenapa kami harus di pisahkan? Takdir ku sungguh buruk kak!" sahut Dafa, saat mendengar itu Karleen tersenyum.


"Kalau kamu benar-benar mencintainya maka perjuangkan dia, jangan mabuk-mabukan dan balapan liar! Aku sangat tidak menyukai hal itu! Kalau wanita itu tau kamu melakukan hal itu, apakah dia senang?" ucap Karleen memeluk adiknya, Dafa menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Karleen.


"Ini adalah hal yang sangat aku rindukan! Nasehat dan pelukan hangat darimu Kak!" seru Dafa sambil membalas pelukan dari Karleen.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Dafa terbangun dari tidurnya, dia sudah berada di dalam kamarnya. Dafa mengucek matanya, lalu melihat jam yang berada di dinding kamarnya.


"Ternyata sudah sore," gumam Dafa karna jam sudah menunjukkan pukul 17:10.


"Terima kasih Kak! Aku akan berusaha menjadi apa yang Kakak harapkan selama ini dan aku akan mewujudkan cita-cita Kakak! Aku sangat merindukanmu! Sudah lama aku tidak berkunjung ke sana" gumam Dafa lagi.


Ceklekk... Suara pintu terbuka dan Dafa menoleh ke asal suara.


"Apa yang anda lakukan disini?" ucap Dafa begitu dingin saat melihat seseorang yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.


Jangan lupa tambahkan ke favorit❀, like, vote dan tinggalkan jejak. Semangat dan saran dari kalian sangat membantu😊


Semoga kalian sukaπŸ’•


Mohon maaf kalau ada banyak typo😊


Terima kasih😊