
Brakkk...
"Dafaa!!" teriak Raka dan Dika yang langsung berlari kearah Dafa.
"Riaaa!!" teriak Tasya dan Mia bersamaan dengan teriakan dari Raka dan Dika.
Alice diam mematung karna kaget. Sedangkan Irwan sudah berlari lebih dulu tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Saat mendengar nama Dafa di sebut oleh sahabatnya, Ria langsung bangun karna tadi ada yang tiba-tiba mendorongnya yang membuatnya jatuh.
Saat Ria melihat ke tengah jalan, air matanya tiba-tiba keluar dari persembunyiannya dan dia terdiam kaku karna tidak percaya semua yang baru saja terjadi.
Tubuh yang penuh dengan cairan merah itu langsung di bawa kerumah sakit. Irwan mengemudikan mobil Dafa, sedangkan Ria berada di kursi penumpang belakang dan memangku kepala Dafa.
Sedangkan teman-temannya yang lain pergi menggunakan mobil Dika.
Badan Ria penuh dengan cairan merah yang terus keluar dari kepala Dafa. Saat sampai di rumah sakit, Dafa langsung di bawa ke ruang IGD.
Ria duduk di apit kedua sahabatnya di depan ruang IGD. Ria hanya menatap kosong ke depan dan cairan bening terus berjatuhan keluar dari persembunyiannya tanpa ada isakan sedikitpun.
Irwan sudah menelpon Mama Nesa agar segera datang ke rumah sakit, begitu pula dengan Dika yang menelpon orang tuanya.
Tak lama Mama Nesa, Mama Mira, dan Papa Bram datang dan langsung menghampiri mereka yang menunggu Dafa di depan ruang IGD.
Saat dokter keluar dari ruang IGD, Mama Mira langsung menghampiri dokter untuk bertanya tentang keadaan Dafa. Sedangkan Mama Nesa sudah menangis di pelukan Alice.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Mama Mira sangat khawatir.
"Pasien harus segera di operasi! Karna kepala pasien mengalami kebocoran yang mengabikatkan pasien kehilangan banyak darah! Keluarga pasien bisa ikut saya untuk mengurus persetujuan operasi dan administrasi nya!" ucap Dokter.
Saat mendengar itu, tangisan Mama Nesaย semakin pecah dan suara isak tangis Ria mulai terdengar.
Dokter langsung pergi di ikuti Papa Bram. Sedangkan Mama Mira mendekati Mama Nesa untuk menenangkannya. Mama Mira juga ikut meneteskan air matanya tapi dia tidak menampilkan kesedihannya karna dia tau perasaan Mama Nesa lebih sakit dari pada dirinya dan dia harus kuat untuk menenangkan Mama Nesa.
๐๐๐๐
Sekarang oprasi sedang berlangsung, semua orang menunggu di depan ruang oprasi dengan perasaan yang berbeda-beda.
Tiba-tiba para perawat dan dokter berlari masuk ke dalam ruang oprasi dengan wajah yang khawatir.
Tak lama keluar seorang dokter menghampiri mereka.
"Pasien mengalami pendarahan saat operasi sedang sberlangsung di bagian kepalanya, dan di rumah sakit sedang tidak memiliki darah yang sesuai dengan pasien, dan kita harus cepat melakukan donor darah agar pasien bisa selamat karna keadaanya sekarang semakin buruk karna banyak darah yang keluar dari kepalanya," ucap dokter.
"Saya Ibu nya dok! Ambil darah saya saja!" ucap Mama Nesa dengan suara yang bergetar, sedangkan tangis Ria semakin pecah saat mendengar itu.
"Bu, ayo ikut saya!" ucap seorang perawat dan Mama Nesa mengikuti perawat tersebut.
๐๐๐๐
"Operasi sudah selesai tapi pasien mengalami kritis. Pasien akan di pindahkan ke ruang ICU untuk pemantauan lebih lanjut!" jelas dokter saat Mama Nesa sudah berada di hadapannya, setelah menjelaskan keadaan Dafa dokter kembali masuk ke ruang operasi.
Tangis Mama Nesa kembali pecah saat mendengar itu, Mama Mira mendekati Mama Nesa lalu memeluknya.
"Aku takut Mir!" ucap Mama Nesa dengan suara yang bergetar.
"Aku sangat takut! Aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan lagi!" ucapnya lagi.
"Dafa pasti baik-baik saja! Dia sangat menyayangimu! Dia tidak akan meninggalkan mu!" ucap Mama Mira menenagkan Mama Nesa.
"Kita hanya perlu mendoakan Dafa dan yakin kalau Dafa akan keluar dari masa kritisnya!" ucapnya lagi.
"Aku sangat takut, Mir!" ucap Mama Nesa.
Sedangkan Ria, dia menatap kosong kedepan dengan air mata yang terus mengalir keluar dari pelupuk matanya tanpa ada suara isakan.
"Dafa pasti sembuh, Ri!" ucap Dika mendekati Ria. Ria hanya menatap Dika sebentar lalu kembali menatap kedepan.
"Dia gak bakalan ninggalin loe, Ri! Dia sangat mencintai loe!" tidak ada sahutan dari Ria, dia terus saja diam.
"Loe gak boleh kaya gini, Ri! Loe harus kuat dan sabar! Di sini cinta loe dan Dafa sedang di uji, Ri! Loe harus kuat! Gue yakin Dafa sekarang sedang berusaha untuk keluar dari masa kritisnya! Loe harus yakin itu, Ri!" seketika tangisan Ria kembali pecah.
"Gue takut Dik! Gue takut kalau Dafa...!" tangisan Ria semakin pecah.
"Semua ini salah gue! Kenapa gak gue aja yang berada di posisi dia?" ucapnya lagi.
"Mungkin Dafa tidak akan memaafkan dirinya jika dia tidak mendorong dan menyelamatkan loe saat itu!" sahut Dika.
"Ini semua bukan salah loe! Ini semua adalah ujian dan takdir dari yang Maha Kuasa," ucap Dika lagi.
"Tap..." ucapan Ria terhenti saat Dafa keluar dari ruang operasi dan di bawa ke ruang ICU.
Mereka semua mengikuti Dafa ke ruang ICU, mereka di izinkan masuk untuk melihat Dafa tapi dengan bergilir, maksimal dua orang.
Mereka masuk bergilir ke ruang ICU, sedangkan Ria masuk terakhir. Saat sudah sampai di hadapan Dafa, tangis Ria kembali pecah saat dia melihat alat rumah sakit yang berada di tubuh Dafa.
Jangan lupa tambahkan ke favoritโค, like, vote dan tinggalkan jejak. Semangat dan saran dari kalian sangat membantu๐
Semoga kalian suka๐
Mohon maaf kalau ada banyak typo๐
Terima kasih๐