My sister my love

My sister my love
10. MSML10



Kantin


"Wahhhh... Lega nya sudah selesai ujian!" ucap Mia bahagia karna mereka telah melewati ujian semestar genap yang menandakan ujian untuk naik ke kelas XII dan hari ini adalah hari terakhir ujian.


"Iya, walaupun ujiannya cuman 5 hari, puyeng kepala gue, karna sehari ada tiga mata pelajaran!" seru Dika dengan lesu.


"Ria sama Tasya mana ya?" tanya Mia karna yang berada di kantin saat ini hanyalah Dika dan Mia.


"Dafa sama Raka juga belum nongol! Kemana sih mereka tadi janjiannya kan selesai ujian ngumpul di kantin!" ucap Dika sambil celingak-celinguk mencari keberadaan teman-temannya, kali aja salah alamat, pikir Dika.


"Ngapain celingak-celinguk gak jelas gitu?" tanya Mia karna dari tadi dia memperhatikan laki-laki yang sejak pertama bertemu, dia sudah tertarik dan sekarang sudah memiliki tempat tersendiri di hatinya.


"Nyariin mereka! Kali aja salah alamat" ucap Dika cengengesan.


"Ohh... Gimana rencana kemaren jadi gak?" tanya Mia.


"Jadi dong!" sahut Dika tersenyum.


"Udah lama gue nungguin waktu yang seperti ini!" ucap Dika lagi yang diiringi dengan tawa.


Tak lama Ria datang bersama Tasya.


"Lama!" seru Mia dengan ekspresi datar.


"Hehehe... Sorry! Gue tadi ngambil ini dulu!" ucap Ria cengengesan sambil menampilkan beberapa lembar kertas.


"Nj*rrr... Bagus banget!" ucap Mia lebai.


"Gak usah lebai" sahut Tasya dan menoyor kepala Mia.


"Suka banget sih loe, noyor pala gue" ucap Mia sewot.


"Udah ke biasa!" ucap Tasya dengan watados.


"Terserah" ucap Mia cemberut.


"Lagi pada ngapain nih?" sahut Raka yang membuat Ria, Tasya, Mia, dan Dika terkejut.


"Njirr... Loe ya! Datang ngagetin orang aja!" sewot Mia.


"Kenapa loe?" tanya Dafa pada Mia.


"Biasa lah!" sahut Tasya dengan cuek sedangkan Mia masih cemberut.


"Ada apa nih mau ngumpul sekarang juga?" tanya Raka pada Ria.


"Gue mau kasih ini sama kalian!" sahut Ria sambil menyodorkan beberapa lembar kertas yang sempat ia perlihatkan pada Dika dan Mia.


"Nj*rrr... Serius nih?" ucap Raka kaget.


"Iya! Kalian datang ya jangan sampe telat!" sahut Ria tersenyum.


"Gue masih gak percaya! Beneran nih Ria mau nikah entar malam?" tanya Raka terkejut.


Awalnya Dafa tidak peduli dengan pembicaraan teman-temannya, tapi saat dia mendengar Raka mengatakan kalau Ria akan menikah malam itu juga, membuatnya membelalakkan matanya dan merebut undangan pernikahan yang bertuliskan nama Ria & Irwan. Seketika hatinya berasa remuk, sakit, sesak, hancur, sedih, kecewa, dan penyesalan yang Dafa rasakan. Tatapannya kosong kedepan, pikirannya kacau, dia merasa bahwa dirinya sangatlah sial, dia selalu di tinggalkan oleh orang yang dia sayangi.


"Bagaimana bisa loe menikah secepat ini? Sedangkan kita baru selesai ujian semestar genap kelas XI!" ucap Raka yang membuyarkan lamunan Dafa.


"Kalian ingat gak waktu gue minta tebengan sama Dafa? Saat gue gak bawa mobil dan gak ada yang jemput gue!" ucap Ria.


"Iya! Gue inget!" sahut Raka.


"Hari itu Bang Irwan juga datang ke rumah gue! Awalnya gue pikir dia datang hanya berkunjung seperti biasanya ternyata dia datang atas permintaan Bunda" ucap Ria.


"Terus?" ucap Mia.


"Dan hari itu Dika dan Alice juga datang ke rmh gue! Saat itu Dika dan Dafa pulang setelah makan malam, sedangkan Alice nginap di rumah gue! Setelah Dika dan Dafa pulang, Ayah dan Bunda menyuruh gue untuk datang ke ruang kerja Ayah!" ucapa Ria lagi.


"Ngapain mereka nyuruh loe datang ke ruang kerja Ayah?" tanya Tasya.


"Saat gue menemui mereka, Bunda menyuruh gue untuk duduk di hadapan mereka. Setelah gue duduk, Bunda bertanya 'kamu sayangkan sama kakek kamu?' Saat mendengar itu gue kaget setengah mati, gue pikir apa yang terjadi sama kakek gue, karna gue sayang banget sama kakek gue! Dan loe tau kan Dik kalau gue deket banget sama kakek!" ucap Ria lagi.


"Iya! Gue tau! Lalu apa yang terjadi?" tanya Dika.


"Gue nanya sama Bunda 'Bun kakek kenapa?' Bunda jawab 'kakekmu sudah menjodohkan mu dengan Irwan dan pernikahan kalian akan segera di laksanakan!: saat mendengar perkataan Bunda, gue langsung nolak gak nerima tapi Bunda dan Ayah membujuk gue supaya menerima perjodohan ini! Awalnya gue terpaksa menerima tapi setelah gue pikir-pikir, kenapa gue harus nolak? Gue kan kenal sejak kecil sama dia dan dia teman masa kecil gue dan akhirnya gue menerima perjodohan ini!" sahut Ria menceritakan semuanya.


"Bukannya loe sama Irwan itu sepupu?" tanya Dika.


"Selama ini gue mengenalnya sebagai kakak sepupu gue! Tapi saat gue menolak perjodohan ini Bunda memberitahu gue kalau gue sama Bang Irwan hanya sepupu angkat atau lebih tepatnya Ayah dan Om Darwan adalah saudara angkat bukan saudara kandung" Ria menjelaskan.


"Bagaimana bisa?" tanya Dika masih penasaran.


"Kakekku dan kakek Bang Irwan itu sahabat sejak kecil dan saat mereka sudah menikah dan nenek ku sudah melahirkan sedangkan nenek Bang Irwan sedang mengandung, mereka berniat menjodohkan Ayahku dan Ayah Bang Irwan jika mereka laki-laki dan perempuan dan jika mereka sama laki-laki maka mereka akan menjadi saudara!" Ria menjelaskan lagi.


"Berarti apa yang di katakan Irwan itu beneran dong?" tanya Dika kaget.


"Iya, itu benar! Awalnya gue mengira dia hanya iseng aja mengatakan itu karna saat mengatakan itu dia memberikan senyum jahilnya dan ternyata apa yang dia katakan itu benar!" ucap Ria membenarkan.


"Emang Bang Irwan bilang apa?" tanya Mia penasaran.


"Dia bilang kalau dia calon suami gue!" ucap Ria.


"Njirrrr... Ketipu gue!" ucap Dika kaget.


"Terus bagaimana sekolah loe?" tanya Raka.


"Semuanya sudah di urus sama Ayah dan Bunda! Gue tinggal ikut apa yang mereka suruh aja! Dan merahasiakan pernikahan ini sampai gue lulus sekolah!" sahut Ria.


"Jadi, entar malam datang ya! Jangan nggak datang!" ucap Ria lagi.


******


****Di Rumah Keluarga Mahendra****


Jam sudah menunjukkan 19:00 dan Dafa sudah siap untuk pergi ke acara pernikahan Ria. Sebenarnya Dafa tidak ingin pergi tapi karna paksaan atau lebih tepatnya ancaman dari Raka, padahal jika dia bisa memilih, maka Dafa memilih untuk diam di rumah dari pada pergi ke acara pernikahan Ria yang akan membuat dirinya semakin merasakan sesak yang ada di hatinya.


"Ayo! Pergi sekarang!" ucap Raka.


"Hmm" sahut Dafa malas.


Saat di perjalanan, suasana sangat hening karna Dafa tidak mengeluarkan kata-kata, tatapannya kosong kedepan. Awalnya Raka mengajak Dafa berbicara tetapi karna selalu tidak ada tanggapan dari Dafa, akhirnya Raka ikut diam dan fokus menyetir mobilnya.


******


Di Rumah Keluarga Paula


Dika sudah menunggu kedatangan Dafa dan Raka. Saat melihat mobil Range Rover hitam milik Raka sampai Dika tersenyum.



Raka dan Dafa mendekati Dika saat mobil sudah terparkir.


Dika, Raka, dan Dafa masuk ke dalam rumah dan langsung menuju taman belakang, tempat acara berlangsung.


Saat sampai di taman belakang Dafa nampak bingung karna di situ sangat lah gelap tidak ada cahaya dan seketika lampu di rumah itu mati tanpa menyisakan cahaya sedikit pun dan di saat yang bersamaan Dika dan Raka menghilang.


Tak lama terdengar suara petikan gitar yang di mainkan oleh seseorang dan tiba-tiba cahaya masuk dan menyorot ke arah Dafa dan ke arah si pemain gitar yang sedang duduk di kursi. Dafa sangat kaget saat melihat orang tersebut.


"Ada apa ini?" gumam Dafa merasa kaget.


Jangan lupa tambahkan ke favorit❤, like, vote dan tinggalkan jejak. Semangat, kritik dan saran dari kalian sangat membantu😊


Semoga kalian suka💕


***Mohon maaf kalau ada banyak typo😊


***Terima Kasih😊******