
Takk! Takk! Takk!
Suara ketukan pulpen terus berbunyi sepanjang rapat, Lana memegang kepalanya karena merasa terganggu. Kemeja lengannya telah tergulung sejak dua jam yang lalu, ia menatap laptop sembari menulis beberapa kata yang disampaikan oleh Han. Rapat hari ini berlangsung cukup lama, Lana sendiri melewatkan sarapan paginya dan hanya bisa mengkonsumsi kopi sebelum rapat dimulai.
Han cukup serius kali ini, beberapa kali ia mengkoreksi presentasi karyawan lain dengan keras. Tatapannya tajam, Han memang menakutkan saat sedang serius bekerja. Ruangan rapat yang besar memperburuk suasana karena membuat suara Han bergema diruangan itu.
“Saya tidak membayar kalian untuk melakukan pekerjaan seburuk ini”
Kalimat Sakti Han akhirnya keluar dari mulut pria itu, meski tak lancar berbicara Bahasa Indonesia namun kalimat itu tetap terasa menyakitkan. Kalimat itu merubah suasana rapat setelah Han keluar sembari meminta Aji mengikutinya. Lana bersikap acuh, ia sudah biasa melihat Han marah Ketika semua hal tak berjalan sesuai dengan keinginannya. Dengan cepat, ia menutup laptop Han dan membereskan kertas yang berserakan di lantai karena dilempar.
Semua orang yang ada diruangan itu justru mengabaikan Lana, perempuan itu tak ingin berburuk sangka. Ia hanya merasa aneh, karena tak ada satu orangpun yang menyapanya sejak pagi. Orang orang mengabaikannya, dan seolah olah Lana tak ada disana. Beberapa kali, mereka melempar tatapan tajam pada Lana. Hal itu membuat Lana hanya bisa diam di mejanya setelah rapat. Ia mencoba mengambil cemilan dari dalam laci, sembari mendengarkan suara Han dari rekaman ponselnya dan menulis hasil rapat pagi ini.
“Mr Han ada?” Ucap seorang karyawan dengan nada sinis.
“Ada, tapi ada Aji didalem. Masih diskusi soal rapat pagi ini” Jawab Lana singkat.
“Oh” Jawab perempuan itu sembari berjalan pergi.
Lana masih ingin mengacuhkan sifat sinis itu, untuk mengalihkan pikirannya ia pergi pantri untuk membuat segelas kopi. Namun langkahnya terhenti tak jauh dari pintu, ia mendengar beberapa orang sedang berbincang disana.
“Sial, terasa dejavu” pikir Lana karena tiba tiba pikirannya teringat akan kejadian dirumah Mitha.
Firasatnya benar, ia mendengar banyak hal dari percakapan para karyawan di pantri.
“Gue udah denger cerita Aji kemarin”
“Gila ya, pantes gue ngerasa heran kenapa tiba tiba sekretaris Mr Han diputus kontrak terus ga lama datang yang baru”
“Gue pikir dia emang pinter, tapi ternyata”
“Pinter di ranjang maksud lo?”
Mereka tertawa.
“Gue denger juga dari Aji, kenapa Lana bisa cerai”
“Kenapa?”
“Katanya, karena Lana ga mau punya anak. Padahal suaminya orang kaya, orang terpandang”
“Ya iyalah, mungkin dia maunya punya anak dari Mr Han. Secara Mr Han ganteng”
Sekali lagi mereka tertawa.
“Setelah jadi janda, dia bebas mau berhubungan sama siapapun”
“Sebebas mau deketin Aji dikantor? Ga bisa banget tahan nafsu sampe minta di kantor?”
“Jangan jangan, kalau dia lama lama didalam ruangan Mr Han. Jadi mereka…”
Lana menghela nafasnya, ia masih diam. Tangannya mengepal kencang untuk menahan amarah. Tak lama, Aji keluar dari ruangan Han. Ia menghampiri Lana yang masih berdiri tak jauh dari pantri.
“Ngapain lo Lan berdiri disini?” Tegur Aji dengan wajah dan rambut yang berantakan.
Menyadari ada Lana disana, para karyawan itu terdiam. Ia keluar dari pantri satu persatu, sedangkan Lana mengikuti Aji karena kesal.
“Lo nyebarin gosip apaan si Ji ke anak anak?” Lana memberanikan diri menegur Aji.
Aji masih cuek, ia tak mau merespon Lana karena sedang pusing dengan pekerjaannya.
“Apaan sih Lan” Aji balas berteriak.
“Elo yang apaan, gue ga pernah sekalipun cerita tentang kehidupan gue ke yang lain ya Ji. Disini yang tau kalau gue udah cerai Cuma elo doang” Ucap Lana.
“Ya mana gue tau, jaman sekarang informasi siapapun gampang dicari kali Lan. Lagipula bukan urusan gue” Elak Aji.
“Sialan” umpat Aji.
Lana tertegun saat mendengar Aji mengumpat, emosi nya sudah sampai ubun ubun.
“Aji, gue disini cari duit Ji. Dari kemarin gue berusaha untuk ngelupain kelakuan lo yang kurang ajar, karena gue mau bertahan disini. Please jangan mempersulit gue Ji” Ucap Lana.
Aji mendengus kesal, “Denger ya Lan, GUE GAK PEDULI”
“Lu itu mempersulit hidup gue doang, bisa ga lo minggir?” Ucap Aji sembari mendorong Lana agar tak menghalangi jalannya.
Lana benar benar berusaha keras menahan amarahnya, ia menatap Aji tajam namun tak melakukan apapun. Sedangkan Aji tersenyum kecil, menatap Lana dengan tatapan yang sama seperti waktu itu. Ia mendekatkan kepalanya ke Lana, lalu berbisik.
“Lo ga semenarik itu buat gue Lan, lo itu cewe murahan yang ga punya harga diri. Menurut lo, kalaupun gue nyebarin gosip tentang kehidupan lo. Mereka akan percaya gue yang mereka tau kalau gue temen lo atau elo yang selama ini Cuma diem?”
Tangan Lana gemetar, seluruh tubuhnya merasa dingin. Kepercayaaan dirinya jatuh begitu saja, rasa sakit itu lebih menyakitinya daripada amarahnya saat ini. Ia membiarkan Aji pergi dengan kemenangan atas perdebatan mereka. Dengan cepat Lana berlari kearah kamar mandi, ia berusaha mengendalikan diri karena nafas yang tersenggal senggal. Air matanya turun begitu saja, rasa panik saat melihat orang lain mulai menguasai dirinya lagi. Perempuan itu hanya duduk dan mencoba menenangkan diri. Tak lama terdengar suara beberapa orang masuk kedalam kamar mandi, mereka tertawa sembari bergurau.
“Tadi liat ga Lana sama Aji berdua di pantri?” tanya seorang perempuan membuka pembicaraan.
“Liat, kira kira mereka lagi ngomongin apa ya?” jawab yang lain dengan pernyataan.
“Mungkin Lana lagi minta maaf? Atau masih mau berusaha ngajak Aji ke hotel?”
“Hahaha”
Mereka tertawa bersamaan tanpa tau ada Lana yang sedang duduk dibalik salah satu bilik kamar mandi disana, Lana menelan pahit ludahnya. Pikirannya penuh dengan pertanyaan pertanyaan yang tak bisa ia jawab. Tentang kenapa orang orang begitu membencinya meski ia diam. Meski ia tak melakukan apapun, tapi orang orang dengan mudah akan membicarakan hal buruk tentangnya. Cerita tentangnya seperti sebuah dedaunan kering yang terpapar sinar matahari, hanya butuh sebuah petikan untuk membuat dirinya hangus dan terbakar. Orang orang tak peduli tentang bagaimana dedaunan itu mongering, mereka hanya tau bahwa dedaunan itulah penyebab kebakaran itu terjadi.
Lana merasa tak ada jalan yang mudah baginya, setelah bercerai semua orang memandangnya dengan sebelah mata. Kedua orang tuanya hanya berpikir tentang uang, keluarganya menganggap bahwa statusnya lebih rendah dibanding perempuan lain, temannya berpikir bahwa ia mendapat pekerjaan ini dengan menggoda atasannya sendiri, lalu orang orang berpikir bahwa ia menggoda orang lain karena nafsu. Dan yang lebih buruk, Lana sama sekali tak melihat jalan keluar untuk semua hal buruk yang terjadi padanya. Ia hanya bisa menerima semua hal menyakitkan itu, tanpa dibiarkan bernafas.
Ia sangat muak sampai rasa mual naik ke mulutnya, Lana merapikan pakaiannya. Ia menarik nafas dalam dalam dan menyeka air matanya. Perempuan itu membuka pintu dengan keras, lalu menatap perempuan lain yang sedari tadi membicarakannya. Ia tersenyum kecil, berusaha setenang mungkin. Lana berjalan kearah kaca, ia mendengus kesal sembari menyibakkan rambutnya dan menyalakan air untuk cuci tangan.
“Orang orang seperti kalian, yang hanya mampu membicarakan orang lain dari belakang. Apa kalian Bahagia?” Tanya Lana dengan tenang.
Mereka semua terdiam.
“Apa kalian tau, jika ucapan kalian bisa menghancurkan hidup seseorang. Dan membunuhnya?” Tanya Lana lagi.
“Bagiku, aku lebih suka meredam amarahku. Bersikap tenang, menerima semua hujaman ucapan kalian dan suara tawa kalian. Meski aku tidak tau, apa salahku pada kalian hingga kalian melakukan itu semua?” Lana berterus terang.
Mereka semua tetap terdiam, berusaha untuk melarikan diri namun Lana menahannya dengan menatap mereka semua.
“Maaf Lan, kita gatau kalau lo ada disana daritadi” Ucap seseorang gugup.
“Ah, bagaimana ini. Ucapan maaf kalian tak bisa menyembuhkan luka yang kalian buat sendiri” Kali ini Lana berucap ketus.
“Melihat kalian seperti ini, meski aku mengeluarkan seribu alasan atau sejuta bukti. Kalian tetap takkan percaya bukan?” Ucap Lana lagi.
“Karena kalian, hanya ingin mendengar apa yang kalian inginkan. Meski kalian tau, bahwa hati kalian yang terlalu busuk untuk menerima sebuah kenyataan yang benar” Lana tersenyum sebelum benar benar keluar dari kamar mandi.
Ia merasa lemas setelah keluar dari sana dan tak percaya pada apa yang baru saja ia ucapkan. Lana tau, ia sedang mengobarkan bendera peperangan. Entah apa yang akan terjadi nanti, yang ia inginkan kali ini hanya tersenyum lega. Sebuah senyuman kemenangan yang ia nantikan setelah diam berkali kali.