MY SECOND LOVE

MY SECOND LOVE
Perempuan yang Cantik



“Lo tau kan An maksud gue?” Ucap Kevin sinis setelah ia turun dari mobil pria itu.


Kevin terkekeh. Ia mengangguk setelah berjanji akan menjemput Kevin besok pagi sekali. Dengan malas malasan, Kevin berjalan dipekarangan rumah sembari menggenggam tasnya, menuju rumah utama. Wajah Kevin berubah menjadi sumringah saat neneknya yang sedang duduk didepan rumah melambaikan tangan memanggil Kevin agar mempercepat jalannya dan masuk segera kedalam rumah.


Pagi ini, semua keluarganya kumpul dirumah neneknya atas permintaan neneknya yang mendadak. Neneknya memang sedang sakit dan baru saja keluar dari rumah sakit kemarin, ibunya meminta Kevin pulang mendadak agar bisa ikut berkumpul. Beruntungnya Kevin memanf sedang tak punya jadwal manggung seminggu kedepan.


Pria itu memeluk neneknya dan berjalan bersama kedalam rumah, setelah tiba semua orang menyapanya ramah. Keluarga yang hangat. Kevin mengernyitkan dahi tatkala ia melihat sepupunya yang lain sedang menggendong anak kecil.


“Wah anakmu sudah besar kak?” Ucap Kevin terheran heran, karena seingatnya sepupunya berusia tiga tahun lebih muda darinya.


“Iya dong, ada perubahan. Emang kamu, tiap tahun masih begitu gitu aja. Jomblooo terus” Gerutu ibunya sembari membawa minuman dingin.


Semua orang tertawa, sedangkan Kevin memanyunkan bibirnya.


“Jomblo jomblo gini terkenal di TV, kalau Kevin mau Kevin bisa tinggal tunjuk perempuan manapun yang Kevin mau loh” canda Kevin.


“Alah, tinggal tunjuk tapi ga ada yang dibawa kerumah juga percuma kan?” Ledek neneknya.


Semua orang tertawa lagi, beberapa kali Kevin bercanda dengan keluarganya. Keluarganya menjadi sangat ramai, ada yang berkaraoke, beberapa sedang membuat sate untuk dibakar, dan beberapa hanya duduk duduk dilantai untuk berbincang bersama. Setelah sedikit Lelah, ia menyenderkan tubuhnya dipangkuan ibunya sembari melihat ponsel dan foto foto di Instagram. Ponselnya penuh dengan pemberitahuan suka dan komentar dari penggemarnya. Beberapa kali ia tertawa karena membaca pesan yang masuk di instagramnya.


Saat melihat daftar pengikutnya, ia sedikit tertarik pada sebuah foto profil yang sepertinya ia kenali. Perempuan itu baru saja menyukai fotonya beberapa menit lalu, dengan penasaran Kevin membuka profilnya dan tersenyum.


“Ketemu” Gumam Kevin.


Ibunya yang sedari tadi mengamati Kevin sedikit terkejut saat tiba tiba Kevin melihat foto foto seseorang yang baru saja ia temui.


“Ehhh, itu kan Lana” Ucap ibunya sembari menunjuk foto perempuan yang ada di ponsel Kevin.


Kevin sedikit terkejut, ia duduk dan kembali menunjukkan pponselnya pada ibunya.


“Ini? Ibu kenal dia siapa?” Tanya Kevin.


Ibunya mengangguk, “Itukan Lana, anaknya pak Tanto. Kamu pasti lupa” Jawab ibunya sembari menggoda.


“Dia baru aja kesini tadi, bawa kue pesenan nenek. Itu, kuenya masih ada disana? Lanjut ibunya.


“Pak Tanto?” Kevin bertanya tanya sembari mengingat.


Dahinya mengernyit, karena ia tak banyak mengenal saudara saudara jauh dari ibunya ia berusaha mengingat apakah ia pernah bertemu dengan Tanto atau tidak.


“Kayaknya kamu pernah ketemu sama pak Tanto deh, kamu ga inget? Dulukan kamu waktu kecil, pernah ketemu sama Lana. Dulu kamu suka banget lo sama Lana” Ledek ibunya.


“Malah dulu, kamu bilang, kamu mau nikah sama Lana kalau udah besar. Kira kira, dulu pas kamu sepuluh tahun” Lanjut ibunya lagi.


Kevin masih berusaha mengingat ingat, pantas saja ia merasa tak asing dengan wajah perempuan yang ia perhatikan didalam bar. Ia terdiam, berkali kali lagi ia memperhatikan semua foto Lana di isntagram.


“Awwww, sial” Teriaknya saat tak sengaja menekan hati pada sebuah foto Lana. Ia memukul kepalanya sendiri karena kebodohannya itu.


“Tapi setau ibu, dia sudah menikah beberapa tahun lalu. Suaminya, anak dari salah satu rekan ayah” Ucap ibunya lagi.


Kevin sedikit terkejut mendengar ucapan ibunya. Lalu, diam diam ia merasa kecewa. Wajahnya yang sedari tadi tersenyum, kini menjadi muram. Kevin kembali rebahan dipangkuan ibunya, sembari masih memperhatikan wajah Lana.


“Sudah cerai, beberapa bulan yang lalu. Nenek denger dari Pak Tanto langsung waktu itu” Neneknya kini ikut bergabung.


Kevin berusaha mengacuhkan pembicaraan antara nenek dan ibunya, namun kupingnya tetap ia pasang dengan jeli. Ia penasaran pada Lana, perempuan yang pernah ia selamatkan waktu itu.


“Loh, kok bisa bu? Lana kan cantik, setauku dia juga pintar. Karirnya jelas, waktu itu pak Tanto sering kan bangga banggain anaknya kalau kerumah” tanya Ibunya terheran heran.


Pikiran Kevin melayang layang, dalam benaknya ia tak setuju jika sebuah perceraian terjadi hanya karena tak bisa memiliki seorang anak.


“Keluarga pak Tanto kan sekeras itu. Pasti dia sangat tertekan” Lirih ibunya.


“Tertekan gimana bu?” Tanya Kevin dengan mulut yang penuh setelah memakai dua potong kue sekaligus.


“Keluarga pak Tanto itu sedikit keras sama tradisi keluarga, mereka ga setuju perceraian. Karena menurut mereka, perceraian itu aib keluarga. Ayahnya Lana, pak Tanto saja ga menceraikan istrinya walaupun istrinya pergi dari rumah dan belum kembali sejak beberapa tahun lalu. Jadi, kalau pasti Lana akan dianggap aib bagi keluarga pak Tanto” Cerita ibunya.


“Memang, setelah menjadi janda. Biasanya orang orang akan memandang perempuan itu berbeda, semua yang dilakukan akan menjadi salah. Kalau tidak menikah lagi disebut ga laku, tapi kalau menikah lagi pasti disebut nakal.  Bagaimanapun itu resiko” Ucap neneknya.


Kevin menyimak dengan baik meski berkali kali ia ingin ikut berbicara, namun ditahannya.


“Baru bercerai, tertekan dengan keadaan keluarga, dan tak bisa menahan pandangan orang lain terhadap statusnya. Pantas saja ia mau mati” Pikir Kevin.


Kevin pergi ke kamar untuk beristirahat, ia melamun sebelum tidur. Mengingat ingat lagi kejadian malam itu, Kevin masih belum lupa wajah Lana yang tersenyum damai saat itu. Perempuan itu terlihat cantik.


Perempuan yang diam, duduk sendirian sembari menenggak segelas besar bir dengan tingkah yang kaku dan berjalan ke keramaian lalu menari dan berteriak sepuasnya. Jelas perempuan itu tak sering ke bar. Langkah kaki yang penuh kembimbangan, dress tipis yang menampilkan lekuk tubuhnya, rambut yang tertiup angin serta senyuman diwajahnya terus mengganggu pikiran Kevin. Jelas jelas Kevin tertarik padanya.


Diam diam, ia bersyukur perempuan itu masih hidup sampai saat ini. Ia lega, karena mungkin ia masih punya kesempatan untuk bertemu lagi dengan perempuan itu. Lagipula, ia sudah bercerai.


*****


Lana turun dari motor setelah berkendara sekitar sepuluh menit, Ia menurunkan keranjang kue dari motornya dan berjalan masuk kerumah yang sudah berubah. Ia ingat dulu Ketika kecil, ia sering berada disana untuk sekedar bermain bersama seorang bibi yang dulu berniat mengadopsinya menjadi anak.


Lana tersenyum lebar saat melihat seorang perempuan berlari keluar untuk menyambutnya, perempuan itu berteriak memanggil namanya. Ia memeluk Lana karena sudah lama tak bertemu. Terakhir mereka bertemu saat perempuan itu menghadiri acara pernikahan Lana, itupun tak lama.


“Lana, cantik. Apa kabar sayang” sapa perempuan itu.


“Bi Lia, sehat bi. Bibi sehat juga kan?” jawab Lana ikut menyapa.


“Sehat dong, kamu makin cantik aja sih Lan” puji Lia.


Lana tersenyum, ia menyimpan keranjang kuenya diatas meja makan dan duduk sebentar.


“Nenek sehat?” tanya Lana saat melihat seorang perempuan tua berjalan kearah mereka.


“Sehat Lan, Cuma kalau sudah tua mau jalan saja repot. Sudah sesak nafasnya” Jawab perempuan itu bercanda.


Lana tertawa kecil, “Ada acara apa bi kumpul kumpul?” Tanya Lana penasaran.


“Biasa, nenek minta kumpul kumpul aja. Katanya pengen liat anak anaknya kumpul bareng” jawab Lia. Ia menyodorkan seamplop uang untuk dibawa pulang.


“Kok aku ga liat Kevin bi?” Tanya Lana penasaran.


“Oh si Kevin? katanya masih dijalan Lan. Kenapa? Kangen ya?” Ledek Lia.


Lana tertawa, “Iya, dulu terakhir kali ketemu pas masih umur sepuluh tahun kan. Sekarang Cuma bisa liat di Instagram, kapan lagi coba ketemu artis kan bi” balas Lana bercanda.


“Wah iya, sudah jadi artis dia sekarang. Sering ketemu fans, tapi jarang ketemu bibi. Kamu mainlah kerumah kapan kapan Lan. Ajakin bibi main, bosen dirumah terus kadang kadang”


“Iya bi, nanti Lana main kesana kalau ada waktu senggang. Lana pulang dulu ya bi, takut ayah butuh sesuatu dirumah” Ucap Lana berbohong karena sedikit tak nyaman.


Meski saudara jauh, Lana sendiri merasa tak nyaman jika berada diantara keluarga Lia. Terlebih ia merasa sedang butuh istirahat. Saat diperjalanan pulang, ia sedikit merasa kecewa karena tak bisa bertemu Kevin. Seseorang yang biasa hanya bisa ia lihat dari ponselnya.


Lana memukul kepalanya setelah menyadari pikirannya yang semakin menjadi jadi. Entah kenapa, wajahnya tersipu malu saat mengingat momennya bersama Kevin dulu. Kevin dulu selalu mengikutinya, selalu berkata bahwa ia cantik apapun keadaannya. Bahkan anak itu sering berkata bahwa ia akan menikahinya saat besar nanti. Namun, peremuan pertama mereka menjadi pertemuan terakhir tatkala ayahnya mengusir Lana dan Lana harus tinggal bersama ibunya untuk sementara waktu.