MY SECOND LOVE

MY SECOND LOVE
Perjalanan Tanpa Jeda



Dalam Lorong Lorong yang samar, Lana berjalan pelan. Dengan penuh keputusasaan dia memesan minuman yang akan cukup membuatnya mabuk. Ia menatap gelas yang bercahaya ditempa lampu bar yang gemerlap. Tatapannya kosong, ia merasakan dirinya yang begitu lelah setelah menghabiskan waktunya untuk menangis.


Tidak ada cara lain.


Perempuan itu melemparkan pandangannya pada orang orang yang sedang menari ditengah bar, seperti sedang menikmati dunia. Ada yang sedang mabuk sendirian, ada yang berpasangan, ada juga yang berkumpul bersama. Semakin kencang mereka terlihat tertawa, Lana semakin merasa muak. Ia bertanya tanya pada dirinya sendiri, kenapa ia tak bisa tertawa sebebas itu.


Ia masih gelisah, menimbang nimbang apakah ia perlu melakukan sesuatu yang gila. Untuk terakhir kalinya, ia ingin bersenang senang menikmati dunia yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Ia ingin tertawa, menyanyi, dan menari dengan bebas. Setelah menenggak segelas besar bir, ia berjalan ketengah bar. Menari dengan bebas.


Kedatangannya mencuri perhatian banyak orang, wajahnya polos tanpa riasan, namun pakaian yang ia pakai cukup seksi untuk menarik perhatian banyak pria. Ia tersenyum getir saat beberapa pria mendekatinya dalam keadaan mabuk. Lana terus menari, sesekali ia berteriak bernyanyi.


“Aku akan mati, akan mati hari ini. Selamat tinggal hidupku yang sial” Teriaknya disambut dengan riuh suara orang orang yang menganggapnya bercanda karena mabuk.


Seperti tak cukup baginya, ia Kembali memesan dua gelas besar minuman yang akan membuatnya semakin mabuk. Setelah menenggak habis minumannya, ia berjalan gontai keluar bar. Menyusuri Lorong Lorong yang gelap, sembari menenteng sepatu hak tingginya ia terus berusaha berjalan meski berkali kali terbentur tembok. Langkahnya terasa berat saat ia menaiki tangga menuju lantai teratas, dalam hati perempuan itu terus berharap bahwa akan ada seseorang yang menegurnya dan menanyakan kabarnya agar ia berhenti menuju muara keputus asaannya yang terakhir. Namun, sejauh apapun ia melangkah tak ada seorangpun yang menyapanya.


Dengan nafas terengah engah, ia membuka pintu terakhir menuju atap. Tangannya gemetar ragu, sebelum pergi ke atap ia menoleh sekali dan tak melihat siapapun dibelakangnya. Lana menarik nafasnya dalam, ia melangkah keluar. Tatapannya lurus melihat betapa tingginya tempat ia berdiri saat ini.


“Semua akan berakhir sekarang” Pikirnya.


Lana berjalan lurus, ia berpegangan pada pembatas Gedung sebelum naik. Kali ini, ia memandang langit tanpa bintang. Bahkan dimalam terakhirnya saja, bintang bintang seperti enggan menyambutnya untuk pergi kelangit. Ia masih menunggu, menunggu seseorang akan datang dan memeluknya lalu memintanya untuk tak melakukan itu. Kepalanya mulai terasa berat dan pusing, pandangannya mulai berbayang.


Ia tak ingin mati, hanya saja rasanya perjalanannya sudah begitu jauh. Ia tak ingin terus menjalani kehidupan yang begitu melelahkan baginya. Ia sudah cukup muak hidup dengan standar status orang orang disekelilingnya. Ia tak bisa lagi bertahan dengan perilaku kedua orang tuanya yang selalu menyeretnya dalam keadaan sulit.


Bayang bayang orang orang yang ia sayangi muncul dalam pikirannya seperti film yang diputar. Ibunya, Ayahnya, Mitha, Malik, keluarganya. Tak pernah terlintas sekalipun dalam pikirannya untuk pergi lebih dulu dengan cara yang menyedihkan. Tak terasa air mata mengalir dari pipinya, berkali kali ia menyeka matanya. Hembusan angin membuatnya merasa damai. Lana menyenderkan tubuhnya pada pembatas Gedung, ia terus menarik nafas dalam mengumpulkan keberanian.


Perjalanan Tanpa Jeda ini akan berakhir.


Dengan gemetar, Lana mulai naik satu persatu ke pagar pembatas. Nafasnya tersenggal senggal saat melihat kebawah. Ada sedikit kengerian dalam hatinya. Ia menarik nafas dalam dalam, lalu mulai menutup matanya dan melepas pegangannya.


Tinnn! Tinnn! Tinnn!


Suara lalu lintas menjadi kacau saat sebuah mobil membanting setir dan menabrak sebuah halte.


*****


Siapa yang tak kenal dengan Historia Band, band yang tengah naik daun beberapa tahun terakhir. Band ini menjadi angin segar bagi penikmat musik pop, memiliki empat personil didalamnya membuat semua personil band mudah dikenali.


Kevin, Rani, Adam, Reda.


Setelah mengisi acara di pusat kota, Kevin dan teman temannya pergi ke bar untuk menghabiskan waktu. Sebenarnya Kevin tak ingin ikut, namun karena Rani memberitahunya akan ada banyak produser musik yang datang membuatnya menjadi tertarik. Kevin memang terlihat berbeda dari yang lain. Tubuhnya tinggi dengan proporsi tubuh yang sempura, wajahnya manis karena memiliki lesung pipi dikedua pipinya. Meski tak tersenyum, namun bibirnya tetap terlihat seperti tersenyum tipis.


“Sorry sorry, gue ga minum alcohol” ucap Kevin saat seseorang menyodorkan segelas bir padanya.


Berkali kali ia menolak tawaran rekan rekannya yang mulai mabuk, pria itu hanya menikmati segelas jus alpukat sembari melihat lihat sekitar. Karena perbincangan yang mulai alot, Kevin merasa bosan dan memutuskan untuk berkeliling bar. Ia berjalan menepi, memperhatikan yang lain. Namun mata Kevin terpaku saat melihat seorang perempuan sedang menenggak segelas besar bir dengan tatapan yang kosong.


Dari kejauhan, Kevin masih terus memperhatikan perempuan itu. Ingin rasanya ia menghampiri, namun menjadi ragu saat perempuan itu menari dan berteriak keras sambil menyanyi. Kevin hanya tertawa kecil melihat perempuan itu bertingkah seperti orang gila. Ia menggigit bibir bawahnya, menyadari bahwa sudah terlalu lama ia memperhatikan perempuan itu.


Tak ingin lebih tertarik, Kevin memilih untuk mengambil rokok dimeja dan pergi ke atap untuk merokok. Ia duduk ditempat yang tersembunyi sembari memainkan ponselnya. Kevin sedikit terkejut saat mendengar suara pintu terbuka dan melihat seseorang berjalan lurus menuju pagar pembatas Gedung. Dilihatnya seorang perempuan berjalan tanpa alas kaki.


Kevin memperhatikannya dan menyadari bahwa perempuan itu perempuan yang sama yang baru saja ia lihat didalam bar. Dress tipis yang dipakainnya memperlihatkan lekukan tubuhnya dengan sangat jelas, terlebih dress tersebut juga cukup pendek memperlihatkan kakinya yang jenjang. Berbeda dengan kesan yang ia dapat saat didalam bar, perempuan itu kini terlihat sendu. Kevin memiliki firasat buruk saat perempuan itu semakin dekat dengan pembatas.


Ia mulai mendekati perempuan itu dan mendengarnya menangis, Kevin mematikan rokoknya dan bersiap untuk menarik perempuan itu jika ia akan menghempaskan tubuhnya dari ketinggian. Sebelum berjalan mendekati perempuan itu, ia sempat mengirim sebuah pesan ke Rani untuk datang ke atap agar menemuinya. Dari kejauhan Kevin bisa mencium bau alcohol darinya, pelan pelan langkahnya semakin dekat. Kevin benar benar merasa tegang, ia khawatir perempuan itu terkejut dan justru melemparkan tubuhnya lebih cepat sebelum Kevin dapat meraihnnya.


“Ahhh sial!” Teriak Kevin melompat saat ia melihat perempuan itu melepaskan pegangannya dari pagar pembatas.


Jantung Kevin berdebar kencang saat ia menyadari bahwa kedua tangannya memeluk perempuan itu dari belakang sebelum jatuh. Hanya sepatunya saja yang meluncur bebas kebawah karena perempuan itu pingsan. Tubuh Kevin seketika menjadi dingin, ia berteriak kencang karena syok. Ia tak pernah menduga akan mengalami kejadian sedramatis ini.


Kevin tak bisa melepaskan tubuh perempuan itu karena khawatir akan terjatuh, kakinya menahan tubuhnya sendiri dengan kencang. Kevin terus berteriak diantara riuhnya suara klakson mobil dibawah gedung karena sebuah mobil yang terhantam sepatu. Angin yang kencang membuatnya bergidik kedinginan, ia mengutuk dirinya sendiri karena pergi ke atap.


Brakkkkk!


“Kevin, lo ngapain?” Teriak Rani saat melihat Kevin berapa di ujung pembatas pagar.


“Ran, tolongin gue ran. Buruan!” Teriak Kevin.


Rani berlari kearah Kevin, ia berteriak mundur saat melihat Kevin sedang memeluk seseorang yang tak sadarkan diri. Ia membantu Kevin menarik perempuan itu dan membaringkannya. Kaki Kevin melemas, nafasnya tak karuan setelah berhasil mundur. Ia bersyukur nyawanya selamat kali ini.


“Gila, gila. Nih cewek mau bunuh diri” Teriak Kevin yang masih syok.


Rani yang terengah engah mencoba menelpon ambulans, sedangkan Kevin yang masih lemas terbaring sejajar dengan perempuan itu. Ia mencoba menatap perempuan itu, wajahnya terasa tak asing bagi Kevin.


“Cantik” Gumam Kevin saat memperhatikan wajah perempuan yang ada dihadapannya dan masih tak sadarkan diri.