
"Wih, bos perempuan gue udah datang sepagi ini. Rajin amat lo!" Sapa Aji saat baru saja masuk ke kantor dan melihat Lana yang sedang mengkopi beberapa dokumen.
Lana tersenyum, "Mr Han telpon gue semalem, ada beberapa dokumen yang harus disiapin buat rapat dia di Amerika" jelas Lana sembari menyusun beberapa dokumen dengan teliti.
Pagi ini Lana terlihat cantik dengan rok pendek dan kaos putih yang ia kenakan, rambutnya dibiarkan terurai. Ia terlihat lebih cantik saat memakai kacamata dan saat sedang serius bekerja. Aji mengamatinya dari atas sampai bawah, meski tak menggunakan sepatu tinggi namun kaki Lana masih terlihat jenjang karena tinggi dan postur tubuh yang bagus. Membuat Aji harus menelan ludah, dan menggelengkan kepala untuk menyadarkan dirinya.
"Ini perasaan gue aja, atau abis cerai lo emang keliatan lebih cantik ya?" Ledek Aji.
Lana tertawa kecil, "Perasaan lo doang, gue emang udah cantik dari dulu"
Aji terkekeh, ia mendekati Lana. Pria itu dengan sengaja menyenderkan tubuhnya di mesin fotokopi, tangannya mulai mengarah ke wajah Lana dan meyibakkan rambut Lana yang sedari tadi menutupi setengah wajah Lana yang menunduk. Lana yang terkejut mundur beberapa langkah untuk menjauhi Aji.
"Lo kenapa sih ji?" Tanya Lana gugup.
Aji tersenyum nakal, sikapnya mulai berubah saat menyadari bahwa belum ada siapapun yang datang ke kantor karena masih terlalu pagi. Ia kembali mendekati Lana, menatap mata perempuan itu dan mendekatkan wajahnya untuk mencium Lana. Seketika Lana menghindar dan tak sengaja mendorong Aji dengan keras.
"Aji!" Teriak Lana.
Aji sedikit kesal karena merasa ditolak, "lo ga usah munafik deh! Lo juga sengaja kan, gausah jual mahal deh!" Ucap Aji marah.
"Maksud lo apa sih? Gue ga ngerti ya, dan gue ga suka sama tindakan lo barusan"
"Hah? Ga suka? Ga usah munafik deh Lan. Lo sengaja kan dandan cantik begini buat narik perhatian banyak orang"
"Gue? Pikiran lo terlalu buruk untuk nilai gue Ji"
"Gausah jual mahal deh Lan, lo itu janda. Gausah pengen disamain sama gadis. Harga lo itu udah ga mahal, kenapa? Karena lo itu bekas. Jadi kalau lo mau laku, lu harus turunin harga lo!"
Lana menghela nafasnya, berusaha mengatur amarahnya yang sudah sampai ke ubun ubun. Ia tak mau membuat kesalahan dalam situasi yang takkan menguntungkannya karena mereka hanya berdua.
"Ji, denger baik baik ya. Gue disini untuk kerja, bukan jual diri. Gue ga peduli sama pikiran kotor lo, tapi kalau lo pikir gue jual diri disini. Lo salah!" Jelas Lana dengan tenang.
Aji mendengus kesal, "ga jual diri? Kalau lo ga jual diri, apa yang lo tawarin ke Mr Han sampe dia mau nerima lo segampang itu?"
"Ya gue gatau, tapi kalau pikiran lo seburuk itu. Mau apapun yang gue sampein ke elo, lo ga akan bisa nerima"
"Ooooh, gue tau. Mungkin karena Mr Han itu lebih punya banyak duit daripada gue, jadi dia bisa bayar lo lebih mahal. Jadi berapa lo dibayar sama Mr Han sampe mau dipake sama dia?"
Plakkkkk!
Lana menampar Aji dengan kesal, "mulut lo udah terlalu jauh Ji. Asal lo tau, kalaupun gue jual diri gue ke Mr Han. Gue yakin dan akan sangat yakin, kalau dia bener bener bisa beli gue dengan harga yang ga bisa lo bayar"
"Kenapa? Karena pikiran dia ke gue, ga semurah pikiran lo ke gue!" Ucap Lana penuh penekanan.
"Bangsat!" Teriak Aji yang kali ini mendorong Lana hingga Lana terlempar.
Perempuan itu menghantam meja sampai membuatnya harus berteriak karena sakit.
"Lana kepeleset tadi, iya kan Lan? Sini gue bantu. Bikin kaget aja pagi pagi" Aji tergugup sembari membantu Lana berdiri.
Lana menatap wajah Aji sinis, "iya, maaf bikin ribut pagi pagi" ucap Lana.
Setelahnya, Lana pergi keruangan Han. Ia meninggalkan Aji begitu saja. Jauh dari ruangan itu, ada Aji yang sedang gelisah.
Takkk! Takkk! Takkk!
Suara pulpen Aji berkali kali terdengar, sedari tadi ia tak bisa berhenti bergerak meski berkali kali ditegur. Didalam hatinya, ia benar benar takut jika Lana akan melaporkan kejadian pagi tadi pada Han. Ia tau pasti, Han tak perlu bukti apapun untuk ucapan Lana. Pria itu mempercayai Lana seratus persen, dan sudah pasti Aji akan dipecat jika Han tau apa yang sudah Aji lakukan pada Lana.
"Aji, Aji!" Tegur seorang perempuan saat Aji terlihat melamun di ruang istirahat.
"Eh iya, kenapa kak?" Tanya Aji.
"Lo kenapa deh, ngelamun gitu! Daritadi lo keliatan ga fokus, kenapa sih?"
Aji menggigit bibir bawahnya, ia terlihat ragu untuk bercerita. Namun, tiba tiba sesuatu terlintas dipikirannya. Aji mendekati perempuan itu, ia mulai berbisik.
"Kak, gue mau cerita. Tapi lo jangan bilang siapa siapa ya! Gue takut soalnya" bisik Aji.
Perempuan itu mengangguk.
"Tadi pagi lo liat Lana jatuh kan?" Tanya Aji.
Perempuan itu mengangguk lagi.
"Tadi pagi itu, Lana mau deketin gue. Dia mau nyium gue kayaknya, tapi gue yang kaget langsung dorong dia sampe dia jatuh gitu" lanjut Aji berbohong.
"Hah masa?" Perempuan itu berteriak.
Aji dengan cepat membungkam mulutnya, ia mengisyaratkan agar perempuan itu tak berisik jika mau mendengar penjelasan lagi darinya.
"Gue juga kaget, tadi pagi gue datang awal kan kak. Gue ga sengaja liat dia lagi fotokopi, terus gue puji dia cantik buat basa basi. Tapi tiba tiba dia mau nyium gue kak. Gue takut banget!" Aji berbisik lagi.
"Gila ya, keterlaluan sih dia. Lo laporin aja ke Mr Han, biar dia langsung dipecat!" Balas perempuan itu.
Aji menggeleng, "Justru itu kak, gue takut kalau gue laporin Mr Han malah gue yang dipecat. Karena gue tau, Mr Han percaya banget sama Lana. Gue gatau deh mereka udah ngapain aja, sampe Mr Han nurut dan percaya banget sama Lana"
"Maksud lo udah ngapain aja gimana?" Tanya perempuan itu penasaran.
"Dulu, Lana sama Mr Han itu deket banget kak. Sampe Lana akhirnya nikah, dan berhenti kerja. Tapi setelah lima tahun, Lana balik lagi ke kantor. Dan pas gue tanya, ternyata dia udah cerai sama suaminya. Jadi dia janda sekarang"
Ucapan Aji membuat mata perempuan itu membuka lebar, ia menutup mulutnya yang juga ikut terbuka karena terkejut dengan ucapan Aji. Meski begitu, ia begitu penasaran dengan kelanjutan cerita Aji dan memutuskan untuk mendengar keseluruhan cerita Aji.
Aji begitu percaya diri bercerita tentang masa lalu Lana dan semua pikirannya yang buruk, ia memulai sebuah kebohongan diikuti kebohongan kebohongan lain. Ia tau Lana tak mungkin berkata apa apa jika ada sebuah gosip tentangnya, yang ada dipikiran Aji saat ini adalah hanya bagaimana ia bisa menyelamatkan dirinya dari apa yang telah ia lakukan. Dan ia percaya, kebohongan itu akan menyelamatkannya. Meski Lana membuka mulutnya, tapi kebohongan pertama telah ia sebarkan untuk membuat sebuah keraguan. Sisanya, ia akan menyerahkan semuanya pada pikiran setiap orang yang mendengar cerita tentang Lana.