
Ting! Tong!
Bel apartemen Lana berbunyi, perempuan itu berlari kearah pintu dan mendapati Han berdiri didepan pintu dengan wajah khawatir. Pria itu memeluk Lana seketika saat ia melihat Lana baik baik saja sembari tersenyum padanya. Ia mengusap punggung Lana dengan lembut. Setelah dipersilahkan masuk, Han sama sekali tak meminum minumannya. Ia hanya menatap Lana yang sedang merasa canggung.
“Sejak kapan?” Tanya pria itu memecah keheningan.
“Aku pikir aku baik baik saja, tapi ternyata tidak” Jawab Lana.
Han mendekati Lana, ia menyentuh lembut kedua tangan Lana.
“Maaf ya, dengan kerja sama aku justru buat beban kamu semakin besar”
Lana menggelengkan kepalanya, “Enggak, aku justru suka ada di kantor. Kerja buat aku lupa sama masalah masalah aku”
Han tersenyum getir, ia menatap Lana dalam. Jantungnya hampir copot saat mendengar kabar bahwa Lana selamat dari percobaan bunuh dirinya. Semenjak kejadian itu, Lana memang ijin untuk tidak masuk kerja sementara.
“Mungkin aku butuh istirahat satu atau dua minggu, maaf ya Han” Ucap Lana pelan.
“Take your time Lan, aku akan rekrut orang lain untuk sementara”
Han baru saja menyentuh minumannya, ia menyeruput habis kopi yang disuguhkan oleh Lana. Untuk sejenak, pria itu mencoba memalingkan diri dari Lana dan menatap keluar jendela. Ia sedang menimbang nimbang apakah ia perlu melanjutkan rencananya Ketika malam itu atau menundanya. Namun ia memilih untuk pulang setelah berpamitan dengan Lana.
“Han udah balik?” Tanya Mitha saat keluar kamar.
Lana mengangguk.
“Lo yakin dia ga suka sama lo? Dia datang kesini Cuma buat mastiin lo baik baik aja loh” Tegur Mitha.
Perempuan itu menyeret tas Lana yang besar keatas sofa, Mitha baru saja selesai mengemas pakaian Lana karena perempuan itu akan pulang kerumah ayahnya untuk sementara waktu. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Mitha mengemudikan mobilnya untuk mengantar Lana ke rumah ayah mereka.
“Lan, gue yakin banget kalau Han itu suka sama lo” Ucap Mitha disela sela perjalanan.
Lana tersenyum tipis, “Kenapa lo bisa yakin banget?”
“Tatapan dia ke elo itu beda banget, waktu itu lo juga bilang kalau dia ngajak lo ketemu orang tuanya kan?”
“Itu karena emang orang tuanya juga harus hadir di acara waktu itu Mit”
“Dan waktu itu lo bilang keluarganya juga welcome kan sama lo”
“Itu karena mereka belum tau status gue”
“Dan waktu itu, dia mau cium lo kan pas di mobil? Cuman karena ibu lo aja yang datang dan ngerusak semuanya”
“Itu karena kita lagi sama sama kebawa suasana aja Mit”
Mitha mendengus kesal setelah semua ucapannya ditolak Lana.
Lana tertawa kecil, “Hhmm, luar biasa” gumamnya.
“Gue Cuma takut akan ngecewain banyak orang lagi Mit, dulu Malik, dan kedua orang tuanya juga menyambut gue dengan baik kan. Tapi setelah mereka kecewa, gue gabisa berbuat apa apa” Lanjut Lana mencurahkan apa yang ada dikepalanya.
“Itu karena mereka terlalu berharap kesempurnaan dari elo Lan, tapi bukan salah lo kalau semuanya ga sesuai dengan apa yang mereka mau” Mitha menginjak pedal gas dengan kencang seiring dengan emosinya yang naik saat memikirkan Malik dan keluarganya.
Lana memukul Mitha agar berhati hati, ia mencoba mengencangkan sabuk pengamannya agar merasa lebih aman.
“Denger Lan, gue yakin suatu saat lo akan denger ini dari orang tua lo. Setelah menikah, lo harus mengabdi sama suami lo. Setelah itu lo harus punya anak, supaya keluarga lo lengkap. Setelah punya anak satu, lo harus punya satu lagi anak supaya nanti Ketika tua lo punya anak yang gantian ngurus lo. Kehidupan masa tua lo akan bahagia setelah punya anak yang ada disamping lo dan Cuma tinggal menunggu akhir kehidupan” Jelas Lana.
Perempuan itu mengalihkan wajahnya dari Mitha. Ia menatap jalanan yang ramai dipenuhi kendaraan lain. Lana cukup senang hanya dengan melihat kemacetan sepanjang jalan.
“Buat gue, gue ga masalah kalau gue ga akan punya anak seumur hidup gue. Kalau dia pasangan gue yang baik, gue yakin dia akan bisa menerima gue yang ga sempurna ini. Lagipula, gue selalu percaya kalau anak itu bukan manifestasi masa tua gue, tapi manifestasi akhirat gue. Kenapa? Karena hidup gue didunia ini ya tanggung jawab gue sendiri, justru anak gue adalah tanggung jawab gue untuk akhirat. Bukan jaminan gue untuk hidup bahagia dimasa tua gue” Mitha mencoba untuk membantah ucapan Lana.
Lana yang kedinginan berusaha menarik dirinya kedalam selimut dan mencoba tidur karena tak ingin mendengar ucapan Mitha.
“Lagipula, punya anak itu ga harus melahirkan. Lo bisa kan adopsi anak, itu juga berbuat kebaikan kok. Ga semua perempuan harus punya anak, pinter masak, atau jadi istri yang nurut. Tapi punya karir yang bagus, punya banyak uang, dan menjalani hidup sesuai keinginan kita juga hak kita sebagai perempuan. Apa yang salah sama semua itu?” Mitha masih saja menggerutu.
“Percaya deh Mit, sudut pandang lo yang ini bener bener akan bikin lo kesusahan saat harus menghadapi keluarga kita” ucap Lana dibalik selimut.
“Gue ga peduli, ini hidup gue dan Cuma gue dan Tuhan yang bisa menentukan jalan hidup gue” Teriaknya menyudahi percakapan.
Sesampainya dirumah, Lana langsung masuk kedalam kamarnya. Ia membereskan beberapa baju kedalam lemari, lalu melemparkan tubuhnya keatas Kasur. Sembari tiduran, perempuan itu membuka Instagram dan kembali menemukan sebuah foto dari seorang pria dengan Instagram bercentang biru yang sedang duduk dirumah yang ia kenali. Ia menjadi iri lagi.
Tiba tiba ayahnya mengetuk pintu kamar Lana dari luar, pria itu masuk dan duduk dikursi belajar Lana sembari memegang obat yang ada diatas meja Lana.
“Kamu sakit?” Tanya ayahnya.
Lana menggelengkan kepalanya, tentu ia tak cerita soal kejadian beberapa hari lalu. Ia juga melarang Mitha bercerita agar kedua orang tuanya tak khawatir.
“Cuma obat tidur” jawab Lana seadanya.
“Kamu ga bisa tidur?” Tanya ayahnya lagi.
“Iya, akhir akhir ini Lana gabisa tidur. Ada banyak hal yang Lana pikirin yah. Mungkin karena udah lama ga kerja, dan akhir akhir ini kerjaan Lana lagi banyak. Baru bisa dikasih istirahat sekarang, itu kenapa Lana ambil cuti” Ucap Lana berbohong.
Ayahnya kembali menaruh obat Lana pada tempatnya, “Kamu itu masih muda, masalah apa sih yang kamu pikirin sampe segitunya. Ga usah manja, kamu harusnya banyak bersyukur karena masih banyak orang diluar sana yang kurang beruntung. Kamu bisa lari setelah cerai, kerja diluar kota. Ayah dan keluarga ayah? Kita harus nanggung malu sama tetangga seumur hidup karena keputusan kamu yang ceroboh itu” Ucap ayahnya.
Lana tersenyum getir, ia tak tau harus merespon apa.
“Kalau kamu memang lagi ga ngapa ngapain, bisa ga kamu anterin pesenan kue kerumah bi Lia? Ayah mau pergi ke kota untuk beli obat nenek” Perintah ayahnya.
Lana mengangguk, ia segera beranjak pergi dengan membawa sebuh keranjang besar diatas motornya.