
“Mit, lu punya gaun ga?” Tanya Lana dengan handuk masih menempel dikepalanya.
Ia baru selesai mandi, badannya belum benar benar kering. Sembari mengacungkan ponselnya, ia berlari kearah Mitha yang sedang mengunyah cemilan didepan televisi.
“Gaun? Ga punya” Jawab Mitha acuh.
“Han ngajak gue ke acara bisnis nanti malem, tapi gue ga punya gaun. Kayaknya sih acaranya lumayan penting sampe dia harus ngajak gue” Jelas Lana. Ia melamun diatas kursi, memikirkan pakaian apa yang harus ia pakai nanti malam.
Tak seperti biasanya, Han mengajaknya ke pertemuan bisnis diluar jam kerja. Ia mengajak Lana bertemu dengan orang orang penting yang hanya ada lingkaran bisnis Han. Rekan rekan karyawannya dulu selalu mengatakan bahwa tak semua orang bisa mengenal lingkaran bisnis Han, dan Lana beruntung akan bisa berkenalan dengan mereka.
“Halo! Ohhh? Iya..” Ucap Lana saat mengangkat telpon dari seseorang.
Mitha menatapnya tajam, bertanya tanya siapa yang menghubungi saudaranya ini.
“Han ngajak gue beli baju, gimana ini?” Lana panik karena Han tiba tiba menelponnya dan mengatakan bahwa ia sudah ada dilobi apartemen untuk menjemputnya.
“Mit, please bantuin gue pilih baju untuk keluar sekarang”
Perempuan itu berlari ke kamar, mengacak acak lemari pakaiannya. Biasanya ia hanya memilih baju yang asal saat pergi jalan jalan keluar, namun kali ini ia sedikit bayak pertimbangan dalam memilih pakaian untuk bertemu dengan Han. Ini pertama kalinya ia bertemu Han diluar jam kerja. Mitha memandangi Lana dengan tatapan yang aneh. Baru pertama kali juga baginya melihat Lana sepanik ini hanya karena akan bertemu seseorang.
“Lo mau jalan jalan atau pergi kerja?” Tanya Mitha saat melihat Lana memakai kemeja dan celana bahan yang biasa ia pakai untuk bekerja.
“No!” Responnya saat melihat Lana memilih beberapa pakaian.
“Ga cocok” Lanjut Mitha.
Lana sudah kehabisan akal, ia tak punya selera pakaian yang bagus.
“Gue pake kaos, sama ini aja deh” Ucap Lana putus asa.
Ia memilih sebuah kaos putih dengan celana jeans biru muda. Setelah memakai sepatunya, Lana segera turun melalui lift diikuti oleh Mitha. Mitha terlihat tak bisa menahan senyumannya melihat Lana yang sedikit gugup.
“Lan, lo keliatan kayak mau kencan daripada jalan jalan sama bos” Bisik Lana.
Lana memukul perut Mitha untuk menghancurkan pikiran Mitha yang mengganggunya.
“Lo yakin Han ga suka sama lo?” Tanya Mitha.
Lana tersenyum sinis, “Menurut lo gue sama Han pantes kalau pacaran? Ya enggaklah, apalagi status gue sekarang. Gausah ngada ngada deh”
“Loh, kenapa? Emang apa yang salah sama status lo? Lo udah ga nikah, yang salah itu kalau lo masih punya suami terus lo pacarana sama Han” Mitha ngotot dengan pemikirannya.
Lana memutar matanya, ia tak percaya saudara akan segila itu. Meski jantungnya berdebar saat Han menggenggam tangannya beberapa waktu lalu, ia merasa tak cukup pantas untuk pria sehebat Han.
“Mit, lo gatau Han itu sekeren apa. Dia ganteng, kaya, dari keluarga terpandang di Korea. Dan, bukan satu kelas sama kita Mit. Apalagi gue, yang notabenenya udah pernah nikah. Bahkan kalau ada harapan itu sedikit dihati gue, bakal gue injek injek sampe ancur lebur” Jelas Lana sembari tertawa keras.
“Heyy iiii.. Pikiran lo terlalu sempit Lan.. Hati itu mmmpphhh” Ucapan Mitha terpotong saat Lana berusaha menutup mulutnya karena mereka sudah melihat Han melambaikan tangan dari kejauhan.
Lana merapikan bajunya dan menyapa Han, ia juga mengenalkan Mitha pada Han. Setelah sedikit menyapa, akhirnya Lana berpamitan pada Mitha yang sedari tadi memasang senyuman aneh. Dengan canggung, Lana masuk kedalam mobil Han yang mewah. Ia sedikit ragu karena selama ini tak pernah melihat Han menyetir sendirian.
“Kamu cantik hari ini” Puji Han saat masuk kedalam mobil.
Sejujurnya, Han terpesona saat melihat Lana mengenakan pakaian yang kasual. Ia senang bisa jalan berjalan Lana diluar jam kerja. Sedari tadi, Han berusaha kerasa menyembunyikan senyumannya.
“Makasih, aneh banget ya ketemu diluar jam kerja gini?” Tanya Lana memecah kecanggungan diantara mereka.
Han mengangguk, ia tersenyum kecil sembari fokus mengendarai mobil.
“Mmm, jadi hari ini kita kemana?” Tanya Lana lagi.
Han sedikit berpikir, “Nonton, Makan, Beli baju?” Jawab Han ragu.
“Nonton, makan?”
“Mmmhh, kalau kamu ga mau. Ga apa apa, kita bisa langsung beli baju” ucap Han.
Ia tak ingin rasa canggung itu menguasai dirinya, ia ingin merasa bebas hari ini. Sudah lama ia tak bersenang senang diluar dan menikmati waktu liburnya.
“Acaranya jam delapan bukan?” tanya Lana lagi.
“Iya, tapi mungkin kita harus datang lebih awal” Jawab Han.
“Baiklah”
Setelah mereka tiba di mall, Lana dan Han pergi ke bioskop untuk menonton. Setelahnya mereka pergi ke restoran untuk makan lalu pergi untuk membeli sebuah gaun untuk Lana. Ternyata, Han sudah membuat janji di toko pakaian untuk Lana. Setelah mencoba beberapa gaun, Lana memutuskan memakai gaun hitam yang senada dengan jas milik Han. Mereka berdua lebih terlihat sebagai pasangan. Han sendiri beberapa kali melirik Lana yang terlihat Anggun dengan gaunnya, ia ingin memuji namun tak jadi karena khawatir Lana akan lebih canggung nantinya.
Sesampainya ditempat pesta, Lana dan Han bergandengan tangan untuk masuk kedalam ruangan yang besar. Lana sangat terkesima saat melihat lampu lampu kristal yang bercahaya. Ruangan itu terlihat begitu klasik dan bersinar, ia tak menyangka bisa melihat ruangan yang besar nan Indah itu. Ada banyak orang berlalu Lalang, beberapa pria membawa minuman untuk ditawarkan pada para tamu. Sesekali mereka melihat kearah Lana untuk memperhatikan Lana yang memang menarik perhatian. Ia berjalan dengan gugup, meski begitu ada Han yang menggandengnya dan sedikit menenangkannya. Pria itu sudah berpesan agar Lana tak pergi jauh darinya.
“Hai mom, dad” Sapa Han dari kejauhan. Pria itu melambaikan tangannya dan tersenyum lebar.
Seorang pria tua terlihat dari kejauhan tersenyum lebar, ia tertawa kecil saat Wanita yang berdiri disampingnya berbisik. Lana terkejut karena bertemu dengan orang tua Han diacara tersebut. Han tak pernah memberitahunya. Setelah bertemu mereka, Lana tersenyum manis saat Han mengenalkan Lana pada semua orang yang ada disana. Beberapa orang menggoda Han karena dianggap berbohong jika Lana adalah sekretarisnya, dan bukan kekasihnya. Orang tua Han juga bersikap sangat baik pada Lana, ia menawarkan makanan dan membawakan minuman untuk Lana.
Lana yang sedari tadi khawatir akan sulit menyesuaikan diri justru menjadi sangat nyaman karena ada Han dan kedua orang tuanya, mereka membantu Lana diacara yang asing itu agar tak terlihat memalukan. Jika Lana terlihat gugup saat menjawab pertanyaan, ibu Han akan mengusap punggung Lana dan membantunya menjawab. Kali ini ada perasaan baru yang dirasakannya. Perasaan senang dan Bahagia. Ia merasa memiliki keluarga yang sempurna meski hanya sekejap.
“Bolehkah aku merasa sebahagia ini?” Pikir Lana.
Tak lama setelah acara selesai, kedua orang tua Han mengantar mereka ke lobi sebelum pulang. Han beralasan bahwa ia harus segera mengantar Lana pulang. Sebelum pulang, ibu Han mendekatinya. Ia mengelus punggung Lana dan mencium kedua pipinya.
“Han itu gak pernah mebawa perempuan pada kami, kamu yang pertama” Ucap ibu Han.
Lana tersenyum tipis, ia berpamitan lalu segera masuk kedalam mobil setelah Han membukakan pintunya. Sesaat Lana lupa bahwa ia tak memiliki hubungan apa apa dengan Han, pikirannya terlalu tinggi saat itu sampai berpikir bahwa mereka pasangan.
“Maaf ya, aku ga bilang tadi ketemu orang tuaku” Ucap Han saat mobil mereka berhenti didepan apartemen Lana.
Lana menggeleng, “Ibu Ayah kamu baik kok, dengan adanya mereka aku justru semakin nyaman”
“Lan” panggil Han.
Pria itu meraih tangan Lana, ia menatap Lana dengan dalam lalu mendekatkan wajahnya pada Lana. Mereka sangat dekat sampai Lana bisa mencium parfum Han. Terasa sangat aneh karena Lana juga merasa meninginkan hal itu. Dan tak ada penolakan darinya sampai Tokk! Tokk! Tokk!
Seorang perempuan mengetuk kaca mobil Han, membuat mereka berdua terkejut dan kebingungan. Dengan cepat Han membuka kaca mobil untuk memeriksa perempuan yang mengganggunya.
“Lan, ini mama” Teriak perempuan itu sembari tertawa ramah sebelum Hanbisa mengucapkan sesuatu.
Lana yang terkejut, segera turun dari mobil. Ia menarik perempuan itu menjauh, lalu segera menghampiri Han yang masih kebingungan atas sikap Lana.
“Maaf Han, tadi ibuku” Ucap Lana saat Kembali.
“Oh, itu ibumu. Aku harus turun dan menyapanya bukan?” Jawab Han sembari membuka sabuk pengamannya.
“Ahhh, tidak tidak. Tidak perlu. Dia datang untuk mengambil sesuatu dan sedang terburu buru” Jelas Lana mencegah Han untuk turun.
“Baiklah, mmmh sepertinya aku harus segera pulang. Terima kasih untuk malam ini Lan” Ucap Han lembut.
Lana mengangguk, ia melambaikan tangan dan setelah itu mobil Han pergi. Dari kejauhan, Inka tersenyum aneh melihat Lana berjalan kearahnya.
“Wahh, ini baju merk terkenal. Pasti harganya mahal bukan? Kamu terlihat cantik, bisa ga nanti mama coba bajunya?” Tanya Inka.
“Bajunya harus dikembaliin nanti ma, takut rusak. Kalau rusak Lana gabisa bayar gantinya” Ucap Lana sembari mengajak perempuan itu naik ke apartemennya.
“Ya ampun, kamu pelit banget. Mama kan ga mungkin rusakin bajunya” Keluh Inka.
“Mama tau apartemen tempat Lana tinggal dari siapa ma? Kesini sama siapa?” Tanya Lana.
“Dari Mitha, mama kemarin nanya Mitha. Abis kamu ga balas pesan mama” Jelas Inka.
“Bos kamu yang tadi itu kan? Kamu pacarana sama dia?” Tanya Inka penasaran.
“Mama gausah ngaco deh, mana mau dia pacarana sama Lana. Lana cuman nemenin ke acara bisnis aja” Lana menutup pembicaraan.