MY SECOND LOVE

MY SECOND LOVE
Baik Baik Saja



Matahari tepat berada diatas kepala Lana yang baru saja keluar dari ruang administrasi, perempuan itu menutupi wajahnya dengan map merah yang baru ia dapat dari pengadilan. Ya, hari ini baru saja ia disahkan secara hukum menjadi seorang "JANDA". Rasanya proses cerai itu tak butuh waktu lama, begitu pikir Lana.


Ia tersenyum getir saat memikirkan kembali alasannya bercerai, sungguh sungguh menyebalkan. Tiba tiba Lana terdiam, ia berhenti sejenak untuk mengatasi perasaannya sendiri karena dadanya menjadi sesak dan kepalanya pusing melihat mobil dan motor berlalu lalang disebrang jalan. Tubuhnya mulai panas dingin, ia tak bisa bergerak. Kini tangannya mulai gemetar, rasa lemas mulai menjulur diantara kedua kakinya sampai seseorang memanggilnya.


"Lana" Panggil seorang pria dari dalam mobil.


Entah sejak kapan mobil itu berhenti tepat disamping Lana, perempuan itu segera sadar bahwa pria itu adalah Malik. Mantan suaminya. Sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan tubuhnya sebelum ia tersenyum kecil.


"Lan, ga apa apa? Kok diam disini, bahaya berdiri di pinggir jalan begini" Ucap pria itu.


"Oh, iya. Aku lagi nunggu ojek" Jawab Lana terbata bata.


Malik mengangguk, ia diam tak mengatakan apapun sembari menatap Lana.


"Ga langsung pulang?" Tanya Lana, kini suaranya sudah kembali pulih. Ia bersyukur Malik menyapanya sebelum ia benar benar jatuh pingsan.


"Aku emang lagi cari kamu sebetulnya, mau ketemu kamu. Sedikit kangen" Ucap Malik pelan.


Lana tak merespon, ia menggenggam tasnya erat. Matanya berusaha menghindari tatapan Malik. Tidak, ia tidak boleh menatap pria itu lama lama. Atau air matanya akan jatuh. Lana tersenyum kecil, ia masuk kedalam mobil setelah Malik memintanya masuk dan bicara sebentar. Sembari menundukkan kepala, Lana berusaha mencari sesuatu dari dalam tasnya untuk diberikan pada Malik.


"Mama gimana? Sudah bisa jalan?" tanya Lana membuka pembicaraan.


"Baru bisa tiga atau empat Langkah, perawat mama yang baru, datang seminggu lalu" jawab Malik.


Lana mengangguk, ia menyodorkan kertas yang baru saja diambil dari dalam tas.


"Ini, daftar makanan yang buat mama alergi. Kamu bisa kasih ke si mba. Aku khawatir kalau si mba nanti salah masak atau kasih makanan buat mama" Jelas Lana.


Malik terdiam, raut wajahnya mulai berubah. Bahkan tak ada satu katapun keluar dari bibirnya. Ia hanya memandangi Lana yang berusaha menghindar. Matanya mulai berlinang, setitik air mata jatuh melewati pipinya dan disusul sebuah pelukan. Pria itu menangis, tersedu sedu. Meski begitu, Lana bahkan sama sekali tak membalas pelukannya. Wanita itu harus tegar, agar bisa berpisah.


"Maafin aku Lan, maafin aku" hanya ucapan maaf yang mampu Malik berikan diantara isak tangisnya.


Sembari menepuk nepuk punggung Malik, Lana berusaha menahan tangisnya.


"Aku udah bilang bukan, aku nggak suka kamu nangis" Lana bergumam.


"Akan lebih mudah kalau kita bisa sama sama kuat" lanjutnya.


"Kamu harus bahagia, carilah seseorang yang bisa memberikan apa yang tak bisa kuberikan, yang bisa membahagiakanmu lebih daripada aku. Mari kita berpisah tanpa air mata" ucap Lana sembari melepaskan pelukan Malik. Ia berusaha tersenyum sebelum menyeka air mata Malik dengan lengannya.


"Aku pamit, aku minta maaf sama kamu karena aku punya banyak kesalahan selama jadi istri kamu. Aku turun sekarang ya" Lanjut Lana.


Perempuan itu membuka pintu mobil, melangkah keluar. Ia berdoa, semoga Malik tidak menahannya. Apapun yang terjadi, harus ada yang lebih kuat diantara mereka. Lana terus berjalan, tanpa menoleh sampai ia berpapasan dengan ojek yang sudah ia pesan sedari tadi.


Lana buru buru naik, ia tak bersuara sepanjang jalan. Hanya menatap mobil dan motor, pikirannya melayang layang meski tak tau apa yang ia pikirkan.


Tuhan, tolong jangan beritahu dia.


Jangan beritahu dia seberapa besar rasa cinta ini.


Tuhan, tolong jangan beritahu dia.


Jangan biarkan dia mengerti bahwa cinta ini bahkan mengalahkan rasa egoisku untuk bersamanya.


Dan terus membenciku, sampai dia melupakanku.


Menghapus semua kenangan tentang kita dari ingatannya.


Biarkan dia melupakan semuanya.


Melupakan semua kenangan ini.


Dan biarkan dia bahagia.


Tak terasa, air mata turun melalui pipinya. Ia menggenggam tasnya erat erat dan menangis dengan keras. Sampai pengemudi ojek tersebut panik dan menepi. Ia turun dari motor, kebingungan karena Lana sama sekali tak berhenti mengangis. Perempuan itu malah menjadi jadi, bahkan membuat beberapa orang yang sedang melintas berhenti lalu bertanya.


"Neng, kamu kenapa nangis?" tanya pengemudi ojek.


"Sumpah pak, saya ga apa apain. Mbak nya tiba tiba nangis" ucap pengemudi tersebut karena panik.


Lana menghela nafas setelah menyadari ada banyak orang mengerumuninya, tangannya kembali dingin. Wajahnya menjadi pucat, matanya memandang kesana kemari tak berarah. Ia panik, dan gemetar. Sekuat tenaga Lana berusaha mengendalikan dirinya, ia mengambil ponsel dari tas dan menelpon seseorang.


"Mit, tolong" ucapnya lirih sembari menangis saat panggilannya tersambung.


Lana memberikan ponselnya pada pengemudi ojek agar Mitha yang berada diujung telpon bisa menjelaskan keadaan Lana saat ini. Setelahnya, Lana dibawa kesebuah toko pinggiran dan diberikan minuman agar tenang.


Setelah sekitar setengah jam, seorang perempuan turun dari motor dengan terburu buru. Ia menghampiri Lana dan memeluknya.


"Lo ga apa apa kan?" tanya Mitha panik.


Lana sudah tenang setelah melihat Mitha, akhir akhir ini ia memang tak bisa mengendalikan emosinya. Terlebih setelah semua yang terjadi selama beberapa bulan terakhir. Saat merasa sedih, ia hanya bisa menangis dan tak bisa melakukan apapun. Ia terus merasa terpojok.


"Gue ga mau tau ya, lo harus berobat" Ucap Mitha keras sembari mengendarai motor.


Lana terdiam, ia merasa tak ada yang salah dengan dirinya selama ini. Ia hanya sedang bersedih, begitulah dirinya saat merasa sedih.


"Gak perlu lah gue ke psikiater, gue baik baik aja Mit. Ini Cuma sementara, sementara gue sedih aja" Jelas Lana.


"Sementara? Lo berbulan bulan udah begini ya, panik setiap ketemu banyak orang. Nangis tiba tiba, ngurung diri dikamar berhari hari, ga makan. Mungkin lo pikir lo baik baik aja, tapi badan lo nunjukin hal yang bertolak belakang. Lo butuh bantuan Lan" Kali ini Mitha sedikit marah karena Lana masih bersikeras menolak sarannya.


Lana diam, tak memberikan jawaban apapun. Ia baik baik saja, begitu pikirnya. Tak perlu membuang banyak uang untuk sesuatu yang akan sembuh sendiri. Lamunannya berhenti saat ponselnya bergetar, ia melirik sebentar pada ponsel yang sedari tadi digenggamnya.


"Siapa?" tanya Mitha posesif.


"Mama" jawab Lana sebelum ia mengangkat panggilan dari ibunya.


"Iya ma, nanti Lana transfer. Masih dijalan, sama Mitha" Ucap Lana setelah panggilannya terhubung, lalu terputus begitu saja.


"Kenapa?" Tanya Mitha lagi sedikit kesal.


"Biasa" Jawab Lana singkat.


Mitha menghela nafasnya, Lana bisa merasakan itu. Setelahnya, Lana hanya diam. Tak berkata apapun hingga sampai kedepan rumah. Setelah berterima kasih, Lana pelan pelan masuk kedalam rumah, lalu sesuatu mengejutkannya.


Pranggggggg!