MY SECOND LOVE

MY SECOND LOVE
Dunia yang Gelap



Pagi hari di Jakarta diguyur hujan, Lana menarik selimutnya berkali kali karena terus direbut Mitha yang juga meringkuk karena kedinginan. Meski pagi hari begitu dingin, Lana justru enggan mematikan pendingin ruangan. Ia suka merasa kedinginan.


Alarm dari ponsel Mitha terus menerus berdering, tanpa ada satu orangpun yang mencoba mematikan alarm tersebut. Mitha sang pemilik ponsel, justru menutup kepalanya dengan bantal agar bisa lanjut tidur. Sabtu pagi, dihari liburnya Mitha tak ingin diganggu. Apalagi, minggu ini ia ada di Jakarta.


"Mit, mampus udah jam tujuh!" Teriak Lana terkejut saat melihat jam di ponselnya.


"Hah? Mampus gue!" Mitha segera bangun karena ikut terkejut, ia baru ingat jika hari ini ia harus pulang untuk acara keluarga. Ibunya sudah menjatuhkan surat peringatan, dan jika Mitha tak datang kali ini. Mitha sudah dipastikan takkan bisa melanjutkan pekerjaan yang sangat ia sukai.


Brakkk! Brakkkk! Brakkkkk!


Berkali kali suara keributan antara Mitha dan Lana terdengar, mereka tergesa gesa untuk mandi dan bersiap. Lana mengambil bajunya asal dari dalam lemari, sedangkan Mitha mengeluarkan seluruh bajunya dari dalam lemari karena tak bisa menemukan pakaian yang cocok. Ibunya terlalu sulit dipuaskan jika soal penampilan. Perempuan itu harus cantik, elegan, rapi dan terlihat terdidik. Begitu yang selalu disampaikan oleh ibu Mitha.


Setelah lebih dari tiga jam, akhirnya mereka sampai dirumah Mitha. Sebelum masuk kedalam rumah, tangan Lana sudah dingin. Ia ragu akan ikut dalam acara keluarga besar Mitha karena Lana tau, bukan tempatnya untuk berada disana. Bahkan ia tak pantas ada disana.


"Buruan masuk!" Ucapan Mitha bernada pemaksaan.


Lana terdiam.


"Lan, bantuin gue kali ini aja ya! Gue beneran gamau sendirian kali ini, keluarga opung gue bar-bar semua soalnya" keluh Mitha.


Lana menghela nafas, ia meremas tasnya untuk mengurangi rasa grogi. Kakinya terasa berat, kepalanya terus menunduk agar tidak melihat orang orang yang menatapnya saat ia masuk kedalam rumah yang megah dan besar itu. Lana merasa kecil, ia sedikit tak bisa bernafas karena khawatir akan pandangan orang lain tentangnya.


"Apa yang mereka pikirkan tentangku?" Pikir Lana.


"Apa mereka akan mengomentari caraku berpakaian?" Pikirnya lagi.


Lana tak bisa menghentikan pikirannya yang semakin liar, ia menggenggam erat tangan Mitha sebelum akhirnya mereka menyapa kedua orang tua Mitha.


"Hai Lan, udah lama tante ga ketemu. Apa kabar?" Sapa ibu Mitha.


Lana tersenyum tipis, "baik tan, tante dan om gimana? Sehat kan?" Lana berbasa basi.


"Iya dong! Kamu ga liat, ini tante makin gendut dari hari ke hari" perempuan setengah baya itu tertawa ramah.


Tak lama, acara inti keluarga mereka dimulai. Lana duduk dikursi paling ujung dan belakang agar posisinya tak terlihat, sedangkan Mitha harus duduk dibarisan depan menemani kedua orang tuanya. Wajahnya sudah kesal dan muram selama hampir satu jam berada disana, ia bisa tau apa yang sedang mereka bicarakan.


Perjodohan.


Ya, tentang rencana perjodohan antara Mitha dan sepupu jauhnya. Acara ini memang sering diadakan dikeluarga Mitha setiap beberapa tahun sekali, tujuannya untuk memperkenalkan anak anak mereka yang sudah beranjak dewasa untuk dijodohkan jika cocok. Dari keluarga Mitha, ialah yang berusia paling matang untuk dapat segera dinikahkan. Terlebih, salah satu sepupunya yang berusia tiga tahun lebih tua darinya juga belum menikah. Setelah pembicaraan yang panjang sebelumnya, akhirnya orang tua Mitha sepakat untuk mendekatkan mereka melalui pertemuan keluarga yang diadakan dirumah Mitha.


"Hai" sapa seorang pria mengejutkan Lana yang sedang terdiam memperhatikan Mitha dari jauh.


"Jangan ngelamun terus, nanti kesurupan" lanjut pria itu.


Lana tersenyum kecil saat seorang pria yang tak dikenal mendekatinya, ia menarik tubuhnya menjauh secara sengaja agar tak terlalu dekat dengan pria tersebut.


"Boleh kenalan?" Tanya pria itu lagi.


"Kenalin, ini Lana. Sepupu jauh Mitha juga, dari keluarga besar tante disini" ucap ibu Mitha saat menghampiri mereka.


Pria itu tersenyum, "udah kenalan tadi tan" jawab pria itu.


"Cantik kan?" Goda ibu Mitha.


Pria itu tersipu malu, sedangkan Lana tersenyum canggung.


"Lana ini, memang terkenal dikeluarga tante disini. Cantik, pintar, penurut, dan pendiam. Cocok buat jadi istri" lanjut ibu Mitha.


"Wah tante, bicaranya kejauhan" ucap seorang perempuan lagi menyambut candaan ibu Mitha.


"Iya nih ma, padahal aku baru kenalan barusan"


Lana hanya diam dan tersenyum saat pembicaraan terus berlanjut, ia akhirnya tau kenapa ibu Mitha memintanya untuk datang ke acara ini. Perempuan itu juga ingin menjodohkan Lana diam diam. Setelah pembicaraan selesai, akhirnya Lana bisa melarikan diri untuk pergi ke kamar Mitha. Ia berusaha naik kelantai atas dan pergi ke kamar Mitha. Namun langkahnya terhenti.


Langkah Lana terhenti didepan sebuah kamar mandi, ia tak sengaja mendengar seseorang bicara didalam sana menyebut nyebut namanya.


"Dia pikir dia siapa mau mencoba menjodohkan anak kita dengan seorang janda?" Sayup sayup terdengar suara seorang perempuan yang sepertinya sedang telpon. Ada nada kesal dari suaranya.


"Laki laki, walaupun sudah menjadi duda masih pantas mendapatkan anak gadis. Tapi kalau seorang janda, apa kata orang kalau anak kita yang belum menikah harus mendapatkan janda? Sungguh tidak pantas" lanjut perempuan itu.


"Biar cantik, baik, pendiam dan penurut. Tak ada gunanya, kita ga pernah tau apa kesalahan yang sudah dia lakukan sampai suaminya dulu menceraikan dia. Pasti dia perempuan bermasalah"


Lana tertegun saat mendengarnya, ia tau jika yang dibicarakan perempuan itu adalah Lana. Meski ada rasa marah, Lana berhasil menekan amarahnya dan bersikap tenang. Ia menelan semua ucapan pahit itu, dan menunggu perempuan itu keluar dari kamar mandi. Tak lama, seorang perempuan yang ia kenal keluar dari kamar mandi. Perempuan yang ternyata adalah ibu dari seorang pria yang mengajaknya berkenalan tadi. Wajahnya berubah pucat saat melihat Lana berdiri didepan kamar mandi, ia tersenyum canggung karena khawatir Lana mendengar percakapannya didalam kamar mandi.


Lana tersenyum getir, raut wajahnya cukup menjelaskan bahwa ia sudah mendengar semuanya.


"Maaf tante, sudah selesai? Saya mau pakai kamar mandinya juga" ucap Lana sopan.


Ya, Lana tak ingin memperpanjangnya. Bukannya ia tak bisa marah, ia ingin marah namun ia lebih memilih memendamnya. Lana selalu berpikir bahwa diam akan lebih baik, dan berbicara saat marah hanya akan merugikannya.


Didalam kamar mandi, ia mengambil ponselnya. Mengetik sebuah pesan pada Mitha untuk ijin pulang lebih dulu. Setelahnya, Lana keluar dari rumah yang megah itu. Ia tertunduk lesu karena lelah bertemu dengan orang orang yang tak mengerti dirinya. Belum cukup ia merasa muak pada Aji, kini seorang perempuan tua harus menusuk hatinya dengan kata kata setajam pisau.


Entah kenapa, ia merasa ingin pergi jauh. Kakinya terus melangkah, berjalan menyusuri jalanan ramai. Menatap lampu lampu kendaraan, ia suka suara bising yang tak menganggapnya ada.


Tak bisakah orang orang mengabaikan saja?


Tak perlu merasa iba, ataupun jijik.


Karena itu semua omong kosong.


Tanpa Lana sadari, langkahnya berhenti pada sebuah gang kecil yang gelap. Itu adalah jalan menuju rumahnya, tempat dimana Lana berasal. Isak tangis Lana tak bisa lagi ia bendung saat menyadari rumahnya yang jauh berbeda dari Mitha, bahkan dalam keadaan tak sadarpun Langkahnya tetap akan membawanya pada dunia yang gelap. Tempat dimana seharusnya kakinya berpijak.


Lana lelah. Sungguh sangat lelah. Ia ingin menghilang dari dunia yang gelap ini.