MY SECOND LOVE

MY SECOND LOVE
Kembali ke Kantor



Lebih dari enam tahun Lana meninggalkan pekerjaannya setelah menikah dengan Malik, namun hal yang tak pernah ia duga bahwa ia akan kembali ke tempat dimana ia merasa lebih senang daripada dirumah. Pagi ini Lana sedikit berdandan, ia mengenakan kemeja putih dengan celana hitam panjang. Karena Jakarta padat, ia sengaja pergi lebih awal. Ya, kini Lana telah pindah ke Jakarta. Dulu sebelum ia memutuskan berhenti bekerja, bosnya menawarkan Lana untuk dimutasi ke Jakarta bersamanya. Namun tentu Lana menolak karena ia sedang mempersiapkan untuk pernikahannya.


Setelah bercerai, Lana memutuskan untuk kembali bekerja. Ia memberanikan diri untuk menghubungi mantan bosnya dan bertanya apakah ada tawaran pekerjaan yang bisa ia ambil dan ternyata Lana mendapatkan pekerjaan baru sebagai sekretaris di kantor Jakarta.


Mantan bosnya bukan orang Indonesia, pria itu berasal dari Korea. Sejak bertemu dengan Lana, pria itu merasa cocok dengan Lana baik dari cara Lana bersikap maupun cara Lana bekerja. Selama bertahun tahun mereka bekerjasama, dan ia sangat menyayangkan Lana yang harus berhenti karena menikah.


"Hai Lan, sudah lama?"Sapa seorang pria menghampiri Lana yang sedang duduk menikmati segelas kopi dingin.


Lana tersenyum, ia berdiri untuk menyapa dan mengulurkan tangannya "Tidak, saya baru datang setengah jam lalu dan duduk disini untuk segelas kopi sembari menunggu anda. Mr Han apa kabar?"


"Tentu aku bersemangat karena bertemu denganmu hari ini, kamu terlihat lebih kurus dari terakhir kita bertemu" Ledek Han.


Lana cemberut, ia pergi ke kasir untuk memesan kopi kesukaan Han. Tentu ia tidak lupa karena sering menyiapkan itu dahulu. Segelas kopi dingin tanpa gula dan kafein yang lebih banyak daripada takaran standar.


Keberadaan Lana menarik perhatian banyak orang, ia sedikit gugup saat harus duduk berhadapan dengan Han yang masih sibuk dengan laptopnya padahal jam sudah menunjukkan lebih dari jam delapan pagi. Meski tak nyaman, ia berusaha fokus untuk melihat jadwal kegiatan Han dari tablet yang baru saja diserahkan Han.


"Semua materi rapat pagi ini ada disana, aku harap kamu bisa mempelajarinya dengan cepat" Ucap Han dengan senyumnya yang menggoda.


Lana mengangguk, ia sudah tau jika pria ini akan memberikannya tugas sulit meski dihari pertama ia bekerja. Namun anehnya, ia merasa tertantang dan lebih bersemangat. Lana menggulung lengan kemejanya, dan mengikat rambutnya karena sedikit gerah. Ia mulai serius dalam membaca materi yang diberikan Han, bahkan tak terasa sudah hampir dua jam mereka hanya saling diam dan memperhatikan pekerjaan masing masing.


"Ayo Lan, rapatnya sudah akan dimulai. Kita naik keatas sekarang" Ajak Han.


Lana mengangguk, ia berjalan disamping Han dan mengikutinya. Sampai akhirnya mereka sampai di kantor utama, semua mata tertuju pada Han yang membawa seorang perempuan. Han mengenalkan Lana pada beberapa orang di kantor yang Sebagian justru sudah mengenal Lana karena merupakan karyawan di kantor cabang yang lama.


Tempat duduk Lana ada tepat didepan kantor utama Han, namun bahkan Lana tak sempat membereskan meja tersebut karena Han sudah mengajaknya ke ruang rapat dan bertemu dengan orang orang penting.


"Han, apa tidak apa apa jika aku langsung ikut rapat sepenting ini?" Bisik Lana saat mereka duduk.


Han tertawa kecil, "Tidak apa apa, aku yakin kamu bisa. Jika kamu tidak bisa, kamu harus ingat bahwa proyek ini lebih dari sepuluh milyar dan tak boleh gagal karenamu" Ucap Han sedikit mengancam.


Anehnya, Lana malah tak merasa gugup. Tiba tiba, kebiasaannya membeku saat melihat banyak orang atau saat menjadi pusat perhatian menghilang begitu saja. Justru kepercaya dirinnya semakin membesar, rasa itu seperti akan meledakkan jantung Lana. Lana dengan sigap membantu Han dengan melakukan apapun yang Han minta, ia mengatur presentasi Han dan menjawab beberapa pertanyaan yang tak bisa dijawab Han langsung. Bahkan beberapa orang memuji Lana diakhir presentasi mereka, hal itu membuat Han mengacungkan kedua jempolnya.


"Lana telah kembali" Bisik Han setelah mereka keluar dari ruang rapat.


"Aku harus mengajak mereka semua makan siang, kamu beristirahatlah di kantor. Aku minta maaf karena membuatmu bekerja keras dihari pertamamu bekerja. Temui Aji jika kamu membutuhkan sesuatu, katakan aku akan menyetujui apapun yang kamu minta untuk kebutuhan kantor" Jelas Han, ia mengusap lengan Hana sebelum akhirnya hilang dibalik lift.


Setelah kembali ke tempat duduknya, seorang pria mendatangi Lana dan menyapanya.


Lana tersenyum lebar melihat Aji menyapanya, Lana tak sempat menyapa Aji saat melihatnya karena harus mengikuti Han. Perempuan itu menyerahkan selembar kertas berisi kebutuhan yang dibutuhkannya pada Aji begitu saja.


"Gue baik dong Ji, lo apa kabar?" Tanya lana.


"Baik dong, jadi kenapa nih tiba tiba balik setelah bertahun tahun?" Kali ini Aji berusaha mengakrabkan diri.


"Biasa, kebutuhan ekonomi lah. Apa lagi" Singkat Lana.


"Loh, kok bisa? Suami lo kan bukannya agak agak kaya raya ya? Pesta pernikahan lo aja semegah itu kan dulu" Aji bertanya karena penasaran.


Lana tersenyum, "Dulu, sekarang enggak. Udah cerai gue. Baru berapa bulan lalu"


"Cerai? Kenapa? Dia selingkuh? Emang laki laki, ga bisa dikasih anugrah kaya raya. Punya duit banyak, pasti lari nyari cewe lain. Padahal lo udah sesempurna ini"


"Gue yang minta cerai Ji, udah ah. Ini daftar keperluan yang gue butuhin, minta tolong ya. Tadi Mr Han bilang kalau dia setuju apapun yang mau gue beli untuk keperluan kantor. Gue mau beres beres dulu kantornya Mr Han didalem" Lanjut Lana, ia berusaha untuk menghindari perbincangan lebih dalam dengan Aji.'


"Siap bos! Pokoknya bos gue disini udah nambah satu lagi selain Mr Han" Ucap Aji.


Lana tertawa kecil sebelum akhirnya ia masuk keruangan Han, seharian ia membereskan ruangan Han yang terlihat sangat berantakan. Memang jarang ada karyawan yang cocok dengan Han, pria itu sangat sulit ditaklukan karena selalu bersikap perfeksionis. Jika ia tak suka sesuatu, maka ia tak segan melempar barang barangnya dan marah lalu memecatnya.


Setelah jam kerja selesai, Lana harus pulang dengan berkutat pada kemacetan Jakarta. Beruntungnya, Mitha bersedia menjemput Lana di kantor hingga ia bisa sampai lebih awal di rumah. Perempuan itu bergegas diri membersihkan badannya dan mulai membereskan barang barangnya.


Sejak tiba di Jakarta, Lana belum sempat membongkar barang miliknya karena harus langsung bekerja. Lana tinggal bersama Mitha di apartemen yang disewa Mitha, menurut Mitha lebih hemat untuk menyewa apartemen bersama daripada tinggal di rumah kost jika berada di pusat kota Jakarta. Terlebih mereka tak perlu lagi membeli barang barang karena semuanya telah tersedia, Mitha menyewa sebuah apartemen dengan satu kamar karena menurutnya ia takkan sering ada di apartemen.


Mitha bekerja di sebuah perusahaan jasa untuk penyelenggara konser konser besar di seluruh Indonesia, itu kenapa Mitha tak akan sering pulang karena ia lebih banyak bekerja diluar daerah daripada di Jakarta. Perempuan itu sengaja melarikan diri dari keluarganya yang terus bertanya kapan Mitha akan menikah, ia punya banyak alasan agar tak banyak menghadiri banyak acara keluarga. Minggu ini dia di Malang, lalu kemudian minggu depan di Surabaya, atau di Medan. Kota tempat ia berada setiap minggu terus berubah, meski terkadang tak semuanya benar.


"Lan, ayo makan" Teriak Mitha dari luar.


Lana bergegas, "Waw"


"Berapa bungkus nih mie?" tanya Lana saat melihat mie yang masih panas di panci besar.


"Lima" Jawab Mitha singkat sembari menyerahkan sebuah mangkok agar Lana bisa ikut makan.