
"Ini lo mau kerja apa mau ke pasar sih?" Gerutu Mitha setelah mendengar suara Lana menyiapkan makanan.
Perempuan itu geleng geleng kepala saat melihat jam masih menunjukkan pukul enam pagi, ia baru saja tidur selama tiga jam setelah tiba dari Malang dan harus bangun karena aroma masakan Lana. Sembari menggaruk pantatnya, ia berjalan kearah meja makan.
"Aww aww panas" Teriaknya saat mengambil sebuah roti goreng yang baru saja diangkat.
"Kayaknya lo lebih cocok jadi satpam deh daripada cewe kantoran" Ledek Mitha lagi.
Lana masih sibuk memasukkan beberapa roti goreng kedalam kotak makanan sembari menghiraukan Mitha, lalu menuangkan segelas susu dari kulkas dan duduk bersama Mitha.
"Gue ke kantor jam delapan sih, tapi mau mampir ke rumah sakit dulu. Malik ngabarin kalau ibunya masuk rumah sakit lagi kemarin" Jelasnya sembari menyantap sepotong roti.
Mitha memicingkan matanya, wajahnya berubah tak suka.
"Enggak enggak, lo ga boleh ketemu Malik dan orang tuanya!" Larang Mitha segera.
Lana hanya tertawa kecil mendengar respon Mitha yang keras.
"Gue gamau ya lo ketemu mereka lagi, mereka semua udah nyakitin lo. Dan bisa bisanya lo bawain mereka roti goreng yang berharga ini? Najis!" Lanjut Mitha, perempuan itu merampas kotak makanan yang sudah disiapkan Lana dan menyimpannya dalam pelukan Mitha.
"Lo boleh jadi pembantu mereka waktu lo masih nikah sama Malik, tapi setelah lo cerai dan setelah apa yang mereka lakuin ke elo. Gue ga terima lo masih bisa berbuat baik sama mereka" Gerutu Mitha tiada henti.
Lana menggelengkan kepalanya, menolak semua ucapan Mitha yang terkesan kasar baginya. Ia mendekati Mitha, mengusap punggungnya dan menarik perlahan kotak makanan yang dipeluk Mitha erat erat.
"Gue emang udah cerai sama Malik, tapi bukan berarti gue harus ga peduli sama kehidupan dia. Bagaimanapun kita pernah sama sama berhubungan baik Mit" Ucap Lana.
Mitha memandangi mata Lana, ia ingin memastikan bahwa perempuan itu baik baik saja. Meski Lana terus berucap hal yang meyakinkan, namun Mitha mengenalnya sangat baik. Perempuan itu sangat mahir dalam menyembunyikan perasaannya. Bahkan dalam keadaan yang paling buruk sekalipun. Ia hanya akan runtuh saat sendirian.
"Gue ga apa apa beneran" Ucap Lana seperti bisa membaca pikiran Mitha.
"Perlu gue anter ga?" Mitha menawarkan diri.
Lana menggeleng, "Ga perlu, abis dari rumah sakit gue harus nyusul Han ke tempat lain. Jadi ga langsung ke kantor, lagipula gue dianter sama supir Han. Itu orangnya udah nunggu dibawah" Jelas Lana.
Perempuan itu menghilang dibalik pintu, setelah menghabiskan segelas susu Mitha pergi ke kamar dan melanjutkan tidurnya. Setelah turun kebawah, Lana melambaikan tangannya ketika melihat sebuah mobil terparkir agak jauh dari tempatnya berdiri. Tak Lama mobil itu menghampiri Lana, namun senyuman semangat Lana tiba tiba menghilang saat ia melihat seorang yang ia kenal membuka kaca jendela mobil sembari menyapa.
"Hai Lana, selamat pagi" Sapa Han sembari menurunkan kacamata hitam yang dipakai sedari tadi.
Lana bisa melihat ada bayangan hitam dari mata Han yang kurang tidur, ia tak menduga jika pria itu akan ada disana karena sebelumnya Han justru memberitahu bahwa ia akan langsung ke tempat rapat. Itu kenapa Lana meminta untuk diantar kerumah sakit sebelum ketempat yang akan ia tuju.
"Selamat pagi Han, aku pikir kamu akan langsung datang ke tempat rapat. Bukannya ini terlalu pagi?" Tanya Lana sembari masuk kedalam mobil.
Han tersenyum lebar, ia membuka ponselnya untuk mencari sesuatu. Setelah menemukannya, ia menunjukkannya pada Lana. Membuat Lana semakin bertanya tanya karena Han hanya menunjukkan bukti panggilan telpon supirnya pagi ini.
"Sebelum berangkat saya telpon mr Han mba, saya bilang mba Lana mau berangkat pagi pagi karena mau kerumah sakit dulu" Jelas supir Han.
Lana tersenyum kecil, ia menyimpulkan sendiri jika Han khawatir padanya.
"ooooohhh, aku baik baik saja. Cuma mau jenguk seseorang" Lana menjelaskan.
Han membuang nafasnya lega, ia melirik kotak makanan yang dibawa Lana penasaran. Lana yang mengerti gerak gerik Han kemudian membuka satu kotak makanannya dan menyodorkan roti miliknya pada Han. Ia juga mengambil sebotol susu pisang dari tas dan memberikannya pada Han.
"Ini roti goreng, kamu pasti belum sarapan kan. Sekalian susunya" Ucap Lana.
"Ini juga buat bapak, dimakan pak nanti" Lanjut Lana memberikan beberapa potong pada supir Han.
Setelah hampir setengah jam, mereka berhenti di lobi rumah sakit. Lana memaksa agar Han tak ikut, namun pria itu memaksa untuk turun. Dengan merasa sedikit tak nyaman Lana mencari cari ruangan rumah sakit yang dicarinya. Ia masuk pelan pelan agar tak mengganggu.
Sembari tersenyum kecil, Lana menyapa Malik dan mantan ibu mertuanya. Dengan perasaan canggung, ia memberikan beberapa makanan dan buah buahan lalu berbasa basi. Setelah cukup lama berada disana, seorang perempuan tiba tiba keluar dari kamar mandi dan menyapa Lana. Lana terdiam saat melihat perempuan itu, ia kenal siapa perempuan yang kini berdiri dihadapannya. Perempuan yang dulu akan dijodohkan dengan Malik sebelum menikahi Lana. Orang tua malik pernah mengenalkannya pada Lana dulu saat pesta pernikahan.
Lana benar benar terkejut dan tak menduga bahwa ada seorang perempuan lain ada diruangan itu, tiba tiba pikirannya menjadi kosong. Ia menjadi tak fokus dan ingin pergi sesegera mungkin, Malik yang menyadari hal itu segera membawa Lana keluar dari ruangan.
"Aku bisa jelasin Lan" Ucap Malik dengan suara sedikit panik.
Lana tak memberi respon apapun, Ia hanya menatap Malik. Bertanya tanya, kenapa Malik bisa setega itu padanya. Belum genap setahun mereka berpisah, namun Malik sudah bersama perempuan lain. Sedangkan dirinya, masih terpuruk dalam perasaan sedih yang tak berujung. Ia merasa itu semua sangat buruk baginya, setelah bercerai orang tua dan keluarganya justru menyalahkannya dan tak memberikan pembelaan apapun terhadapnya. Namun Malik, pria itu bisa dengan leluasa bersama perempuan lain dihadapan orang tuanya. Akhirnya Lana benar benar menyadari, bahwa hubungannya dengan Malik sudah berakhir. Tak ada lagi kesempatan untuknya.
"Aku ga perlu tau" Gumam Lana.
"hah?" Malik sedikit terkejut dengan jawaban Lana.
"Sudah bukan urusanku lagi, dan bukan kewajiban kamu untuk memberikan penjelasan apapun. Hubungan kita memang sudah berakhir" Jawab Lana dengan tersenyum tenang.
Malik yang sedari panik, kini justru kebingungan dengan respon perempuan itu. Sebelum benar benar sadar akan situasinya saat ini tiba tiba seorang pria memanggil Lana dari arah belakangnya lalu menghampiri mereka.
"Lan, kita harus pergi sekarang bukan?" Tanya Han secara tiba tiba.
Malik mengenali Han yang baru saja datang, bagaimana bisa ia lupa pria itu. Pria yang menjadi bayang bayang dan ketakutannya akan mengambil Lana dulu.
"Oh, ini Malik bukan kalau saya tidak salah? Saya Han, mungkin kamu sudah beberapa kali mendengar soal saya dari Lana. Saya juga sudah banyak dengar tentang kamu dan Lana" Sapa Han sembari mengajak Malik berjabat tangan. Namun Malik menolaknya, ia memalingkan wajahnya pada Lana berharap Lana akan memberikan penjelasan.
Namun bukannya memberikan penjelasan, Lana justru mengabaikan Malik dan tersenyum pada Han.
"Iya, kita harus pergi sekarang" Jawab Lana.
Han mengangguk, ia meraih tangan Lana dan menggenggamnya lalu mengajak Lana pergi darisana. Sedangkan Malik, ia hanya terdiam melihat Lana menghilang begitu saja. Ia benar benar telah kehilangan Lana, karena sifat pengecutnya.
Langkah Lana benar benar ringan saat ia mengikuti Han yang menggenggam tangannya dengan erat, konon jika seorang perempuan terluka karena seorang pria maka yang bisa menjadi obat adalah dengan menemukan pria lain. Lana hanya bisa menatap punggung Han yang besar, sembari menyesuaikan langkahnya agar tak terjatuh. Dari kejauhan, seorang pria yang tak sengaja melewat justru mengambil foto Lana dan Han saat sedang bergandengan tangan dan masuk kedalam mobil lalu pergi begitu saja.