MY SECOND LOVE

MY SECOND LOVE
Prolog



"Aku selalu berpikir bahwa manusia itu egois" ucap Lana yang menghabiskan waktunya selama sepuluh menit untuk mengamati pendulum diatas meja yang tak berhenti bergerak sejak lemparan pertama.


"Menurutmu, apa kejadian dua hari lalu adalah benar benar keinginanmu?" tanya seorang perempuan paruh baya yang tersenyum melihat Lana dengan tatapan kosongnya.


"Ya" jawab Lana singkat. Tatapannya kosong, namun setelah menyadari bahwa seseorang sedang menatapnya sedari tadi, Lana mengalihkan pandangannya pada papan nama seorang dokter diatas meja dan duduk bersandar dengan nyaman.


"Apakah kamu sudah siap untuk bicara?" Tanya perempuan itu lagi.


Lana mengangguk, ia mengambil nafas panjang sebelum memulai ceritanya dengan tatapan yang kembali kosong.


"Kamu bisa memanggilku dengan dokter, atau Sinta, atau tante karena usiaku yang dua kali lebih tua darimu. Atau, apapun semaumu agar kamu bisa merasa nyaman" Lanjut Sinta, Lana mengangguk sekali lagi sembari tersenyum tipis.


"Dua hari lalu, aku masuk rumah sakit setelah seseorang menarikku sebelum aku melemparkan diriku dari Gedung setinggi dua puluh lantai" Ucap Lana pelan pelan.


Ia mulai bercerita.


Lana tak pernah merasa seburuk itu, sejak pernikahannya dengan Malik benar benar berakhir satu tahun lalu. Ia terus merasa kosong, perasaan gagal dalam dirinya terus menerus membesar. Tak ada satupun kata kata yang bisa menyembuhkannya, bahkan ia hanya bisa tidur tiga hingga empat jam dalam sehari.


Sebuah perceraian yang selalu menjadi ketakutan terbesar Lana benar benar terjadi setelah pernikahannya memasuki tahun kelima, hidup dalam keluarga yang begitu erat dengan budaya patriarki membuatnya tak bisa bernafas karena tak juga memiliki keturunan. Saat tahun pertama, ia masih bisa tersenyum. Di tahun kedua, ia masih bisa tertawa, pada tahun ketiga senyumannya mulai tipis, dan tahun keempat ia mulai menghadapi kedua orang tua Malik yang terus memintanya untuk melakukan banyak hal agar bisa memiliki keturunan, namun ditahun kelima Lana harus menangis sendirian dikamar setelah mendengar kedua orang tua Malik meminta anaknya untuk menceraikan Lana.


Bahkan dalam masa terburuknya, ia tak punya tempat untuk berlari. Saat tangisannya tak terbendung, ia hanya bisa menguatkan dirinya melalui sujud yang panjang. Meski sudah satu tahun berlalu, senyuman Lana tak kunjung kembali. Tatapan matanya yang berbinar benar benar sudah hilang, suaranya yang ceria kini menjadi suara seorang perempuan yang tak memiliki canda. Ia terobsesi pada kesendirian dan memeluk kesedihannya dalam ruangan yang gelap nan kosong. Ia mengunci kebahagiannya dalam sebuah ruangan tanpa pintu, lalu menenggelamkan dirinya dilautan dalam sampai benar benar ingin mati sendirian. Tanpa ada satu orangpun yang tau.


Sebelum menikah Lana adalah perempuan yang bebas, perempuan yang terus berusaha keluar dari budaya patriarki yang masih dianut oleh keluarga besarnya sampai ia bertemu dengan Malik. Seorang pria yang menunjukkan betapa indahnya cinta yang tak pernah ia dapat dari kedua orang tuanya yang bercerai sejak ia kecil. Sejak saat itu Lana berharap akan selalu bisa bersama Malik, merajut cinta yang selama ini ia percayai. Saat itu, cukuplah bagi mereka berdua untuk merasa terus bahagia meski hanya berdua hingga memutuskan untuk menikah.


Sampai hari dimana ibu Malik terkena penyakit jantung, hari dimana seluruh cinta Malik kembali pada cinta pertama seorang anak laki laki. Pria itu tak lagi punya waktu untuk berbahagia karena memenuhi baktinya pada seorang ibu. Lana tak pernah keberatan dengan semua itu, namun permintaan ibu Malik untuk memiliki seorang cucu dari satu satunya anak laki laki yang dimilikinya telah membuat Malik berubah.


Dalam kebimbangannya, Malik tak lagi sama. Ia tak lagi menatap Lana dengan hangat, tak lagi punya banyak waktu dirumah, tatapan matanya menjadi kosong dan raut wajahnya yang Bahagia tiba tiba memudar hingga membuat Lana tak bisa lagi tersenyum. Ia terus diliputi perasaan bersalah karena tak mampu memenuhi harapan ibu Malik, meski telah berusaha keras namun anugrah mengandung bukanlah kuasanya. Rumahnya yang hangat kini menjadi sepi dan hampa. Sampai akhirnya Lana meminta Malik untuk menyerah dan menceraikannya saja. Meski begitu, Lana tetap berharap Malik akan menahannya dan berusaha bersama untuk membuat ibunya mengerti, namun yang ia dapat hanya kekecewaan yang besar. Seseorang yang ia cintai, kini telah menyerah begitu saja.


Tak cukup sampai disana, saat pertama kalinya Malik memulangkan Lana kerumah ayahnya, yang Lana dapat hanya cacian dan cemoohan dari keluarganya. Menjadi janda adalah hal yang memalukan, begitu pikiran mereka. Bahkan ayahnya meminta Lana untuk kembali kerumah Malik dan berlutut, memohon agar tak bercerai dan jika perlu Lana bersedia untuk menyetujui jika Malik harus berpoligami.


"Karena aku perempuan? Jadi aku menjadi hina karena menjadi seorang janda? Tapi jika itu ayah, tak apa menjadi duda karena ayah laki laki?" Tanya Lana saat itu hingga membuat sebuah tamparan mendarat di pipinya.


"Aku akan bekerja setelah bercerai, aku akan memulai lagi karirku yang terhenti, aku akan mencari uang. Ayah tak perlu takut. Banyak hal yang bisa kulakukan yah, daripada sekedar hancur karena rumah tangga yang sudah tak lagi bisa diperbaiki" Ucap Lana yang berlutut, meminta ayahnya untuk sedikit saja melunak.


Perkataan ayahnya yang terakhir benar benar membuat Lana hancur seketika, menyadari bahwa semesta tak lagi menginginkannya untuk hidup. Sejak hari itu, hidup Lana adalah kekosongan. Rasanya, bahkan ia tak berhak lagi untuk memiliki sebuah senyum.


"Manusia itu mahluk paling egois, aku selalu memikirkan itu saat aku memiliki waktu untuk diam. Jadi aku memilih untuk berada di kantor selama mungkin yang aku bisa" Jelas Lana mengakhiri cerita pertamanya.


Sinta menghela nafas berat, ia ikut merasakan beratnya perasaan Lana saat ini. Tak terasa sudah dua jam Lana duduk dihadapannya tanpa menangis, itu artinya Lana memang tidak baik baik saja.


"Aku pikir aku bisa membantumu setelah mendengar ceritamu, tapi kurasa aku akan terlihat sangat egois jika kubilang semua akan baik baik saja atau Indah pada waktuya. Jadi aku tak punya nasehat apapun untukmu hari ini" Ucap Sinta sembari tersenyum.


"Belum saatnya untukmu mati, jika kamu ingin mati sekarang ingatlah bahwa yang telah menangis hanya dirimu sendirian. Jadi, untuk sekarang mari hidup untuk berbuat baik pada hidupmu sendiri" Lanjut Sinta.


"Sedikit demi sedikit, mari kita kikis kesedihanmu dengan satu kebaikan yang kamu buat untukmu sendiri. Hari ini, kamu telah membuat satu kebaikan untuk dirimu sendiri dengan datang kesini. Jadi pastikan kamu akan datang kembali lagi kesini minggu depan, aku akan menunggumu" Sinta mengusap bahu Lana sebelum ia kembali duduk ke kursinya dan meresepkan deretan obat untuk membantu Lana agar bisa tertidur dengan baik.


"Terima kasih" gumam Lana sebelum pergi.


"hhmm?"


Lana tersenyum kecil, "Terima kasih karena tidak menghakimiku. Terima kasih karena hanya mendengarkanku dan tak memberiku nasihat sampai saat terakhir aku bercerita"


Sinta mengangguk, "Kapanpun kamu butuh seseorang untuk mendengarmu, hubungilah aku. Aku akan mendengarnya dengan baik"


Lana pergi setelah berpamitan, tak terasa malam sudah tiba. Ia duduk didepan rumah sakit setelah mendapat obat yang diresepkan Sinta, menunggu seseorang datang. Dari kejauhan, ia bisa melihat seorang perempuan datang sembari mengendarai motor dan melambaikan tangannya. Dengan senyuman yang lebar, perempuan itu berhenti tepat didepan Lana. Ia menyodorkan sebuah jaket tebal dan helm untuk Lana pakai.


"Gimana?" tanya Mitha, sahabat Lana.


Lana mengangguk, "Aku menyukainya, kurasa aku akan datang lagi minggu depan" jawab Lana singkat.


"Yeayyyyyyyyy! Mari sembuh, hidup panjang umur dan Bahagia" Teriak Mitha sembari menjalankan sepeda motor.


Lana tertawa kecil, ia memeluk Mitha erat erat karena menyayanginya.