MY SECOND LOVE

MY SECOND LOVE
Titik Balik Perasaan



Ting Tong!


Bel apartemen Lana berbunyi, membuatnya meloncat dari posisi tidurnya. Ia pelan pelan berjalan kearah pintu lalu berdiri tepat didepannya sembari mengangkat sebuah payung. Jantung Lana berdetak kencang saat mengingat ia tak sedang memesan makanan ataupun paket belanja yang akan datang hari ini. Sedangkan Mitha, perempuan itu punya kunci cadangan apartemen dan tak mungkin membunyikan bel.


Setelah hampir lima menit ia berdiri siap disana, tiba tiba seseorang mengetuk pintunya dengan kencang membuat Lana mundur beberapa langkah karena takut.


"Siapa?" Teriak Lana dari dalam, namun tak ada jawaban dari luar.


Lana berlari mengambil ponselnya yang tiba tiba bergetar diatas meja makan, tangannya gemetar.


"Halo Mit, mit gue harus gimana ya? Ada orang ga dikenal ketok ketok diluar daritadi. Gue takut" Ucap Lana dengan bergetar.


"Ini gue, gue didepan. Bukain pintunya buruan, kunci gue ketinggalan dimobil Andi" Jelas Mitha.


Lana menghela nafasnya lega setelah mendenger jawaban Mitha, saat membuka pintu apartemen ia melihat Mitha membawa banyak tas belanja dikedua tangannya. Melihat wajah Mitha yang begitu kelelahan, Lana dengan cepat membawakan Mitha minuman segar dari dalam kulkas. Perempuan itu melempar semua tas belanjaan miliknya dan menenggak habis minuman yang Lana sediakan.


Mitha menyandarkan tubuhnya pada sofa, Lana dengan sigap memijit lengan dan bahu Mitha yang kini hampir saja tertidur jika bukan karena ponselnya yang tiba tiba bergetar. Ia mendengus kesal sembari merogoh ponselnya dari kantong celana, matanya terbuka lebar saat melihat nama ibunya disana.


"Hhhm? Iya ma?" Sapa Mitha sigap setelah panggilan tersambung.


"Oh, anaknya opung itu? Oh iya" Kali ini suara Mitha berubah menjadi malas.


"Kayaknya sih minggu ini kosong ma, waktunya libur. Iya nanti Mitha ajak Lana"


Lana yang mendengar namanya disebut dengan cepat menempelkan kupingnya ke ponsel Mitha, ia penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan Mitha dengan ibunya.


"hhmmm, iya iya"


"Iya, oke oke"


"Oke, hhmm hhmm. Yaudah"


Panggilan pun berakhir, Mitha bisa melihat ketidakpuasan Lana dari ekspresi perempuan itu.


"Kenapa muka lo begitu?" Tanya Mitha.


"Abis lo nyebut nyebut nama gue. Terus setelahnya gue Cuma dapet iya iya, oke oke, hhmm hhmm, yaudah. Udah gitu doang. Kan gue penasaran" Lana kesal.


Mitha melemparkan ponselnya ke sofa, ia menepuk dahinya.


"Biasa, mama mau jodohin gue sama anak opung yang di Makasar itu loh. Dia minta gue balik akhir minggu ini" Keluh Mitha.


"Terus dia minta gue bawa lo, katanya biar dikenalin sama opung opung gue. Kali anaknya ada yang tertarik sama lo. Biar bisa sekalian dijodohin" Tambah Mitha.


Lana menyandarkan tubuhnya ke sofa, sembari beberapa kali mengganti siaran televisi, ia tidak berniat mencari sesuatu. Hanya iseng.


"Masa lo tega sih, lo tau kan gue gabisa ada di acara kayak gitu. Lo tau kan?" Rengek Mitha.


Kehidupan Mitha sungguh jauh berbeda dari Lana, Mitha besar dari kedua orang tua yang cukup berada. Ayahnya seorang guru dan ibunya seorang dokter. Meski keluarga Mitha juga merupakan keluarga yang kolot, namun Mitha tak pernah terjerat pada aturan keluarga besarnya. Cara bicaranya keras dan tak beraturan, ia berani mengeraskan suaranya pada orang yang lebih tua jika ia tak salah. Ia bisa dengan leluasa menyampaikan pendapatnya tentang keluarganya yang kolot.


Mitha sungguh berbeda dari sepupu Lana yang lain, ia tak butuh pujian dan hanya ingin melakukan apapun yang ia inginkan. Mitha adalah Mitha, tak ada satupun yang bisa mengubahnya. Mitha adalah sepupu jauh Lana, mereka pertama kali bertemu saat Lana baru akan masuk SMA. Gila, begitu kesan Lana pada perempuan itu saat pertama kali mereka bertemu.


Setelah lulus kuliah, ia memutuskan untuk bekerja di Jakarta dengan alasan mengejar karir. Meski kedua orang tuanya berusaha melarang, Mitha punya sejuta cara untuk menghindar hingga kini bisa leluasa pergi keluar kota setiap minggu. Ia suka bertemu orang orang baru dan melakukan banyak hal, itu kenapa Lana merasa menjadi seseorang yang berbeda saat bersama Mitha. Perempuan itu tak pernah menghakimi Lana, mereka bisa melakukan hal gila bersama.


"Iya iya, gue ikut" kali ini Lana menyerah.


"Asssseeekkkkk!" Teriak Mitha.


Lana masih terus terusan mengganti siaran televisi melalui remot, ia bersandar pada sofa dengan wajah yang muram. Tatapan matanya kosong, pikirannya penuh dengan amarah yang ia pendam. Kejadian dirumah sakit pagi ini masih mengganggu pikirannya. Ia pikir, ia sudah selesai dengan hatinya. Namun ternyata ia salah. Ia masih merasa cemburu.


"Malik udah punya pacar baru" Gumam Lana.


Mitha melirik sinis mendengar ucapan Lana, "Gila tuh laki laki, ga punya hati" Ucap Mitha menyalahkan Malik.


"Bukan salah Malik, salah gue" Ucapa Lana menyalahkan dirinya sendiri.


"Kenapa jadi lo yang salah? Kenapa harus elo yang merasa harus bertanggung jawab sama semuanya?" Kali ini Mitha merasa kesal karena pikiran Lana yang menurutnya tak masuk akal.


Air mata mulai jatuh ke pipi Lana, ia terisak. Kedua tangannya menutupi wajah agar Mitha tak bisa melihatnya menangis dengan jelas.


"Ya kalau gue bisa hamil, mungkin kita masih bareng bareng. Mungkin ibunya ga akan minta kita untuk pisah. Mungkin gue ga akan menyerah" Lana terbata bata.


Mitha menggelengkan kepalanya, "Untuk memutuskan bisa punya anak atau enggak itu bukan kuasa lo, bukan kuasa mereka. Kalau Tuhan masih belum kasih kesempatan, artinya Tuhan tau kalian masih belum mampu. Kita juga gatau, siapa yang belum mampu. Bisa jadi elo, bisa jadi dia. Jadi ga ada alasan buat elo ngerasa bahwa ini semua salah elo" Jelas Mitha panjang.


Lana terdiam, ia tak mau mendengar ucapan Mitha. Lana masih ingin memeluk kesedihannya sendirian, ia masih ingin menangis sembari menatapi keramaian kota lewat jendela apartemen yang besar. Pikirannya berkecamuk, entah kenapa begitu sulit baginya untuk merasa tidak bersalah atas berakhirnya hubungan pernikahan yang ia jalani selama bertahun tahun. Termasuk sikap Malik yang selalu diam. Ada kalanya ia ingin pergi menghilang dari dunia ini, pergi ketempat dimana ia hanya bisa diam, tak memikirkan apapun, tak melakukan apapun.


Ini semua salahnya.


Semua pernikahan, seharusnya memiliki anak agar menjadi lengkap.


"Gue tau lo ga akan pernah dengerin gue soal ini, tapi Lan. Please, lo harus bahagia. Lo harus bisa bangkit dari apapun yang nyeret lo dalam kesedihan" Ucap Mitha sebelum ia masuk kedalam kamar.


Lana tak mengerti bagaimana caranya agar bisa keluar dari labirin perasaannya sendiri karena ia tak sedang merasa terjebak disana. Ia merasa baik baik saja. Kesedihannya ini hanya akan sementara, gejala panik yang ia alami itu juga hanya akan sementara. Ia tak perlu pergi ke psikiater, ia bisa menangani ini semua.


"Semua akan baik baik saja seiring dengan berjalannya waktu" Pikirnya untuk menghibur dirinya sendiri.