
“Sorry Lan, soalnya ibu lo nelpon gue terus seharian. Gue pikir, yaudah mungkin ibu lo mau ketemu sebentar” Ucap Mitha diujung telpon.
“Hhmmm, iya gapapa Mit. Kayaknya malam ini mama tidur disini. Lo balik kapan?” Tanya Lana sembari mencoba membuka pintu apartemen.
“Gue balik darisini harus kerumah ibu negara dulu, kemarin nelpon minta gue balik” Jelas Mitha.
Perempuan itu memang sedang diluar kota untuk bekerja, jadi Lana hanya memastikan saja agar Mitha tau bahwa ibunya akan tinggal sementara di apartemen.
“Hhhm, iya yaudah. Hati hati ya” Ucap Lana menutup telpon.
Lana masuk kedalam apartemen, diikuti oleh Inka yang langsung berputar putar mengelilingi setiap ruangan di apartemen. Berkali kali ia berdecak kagum. Langkahnya cepat menuju ke kulkas di dapur, ia mengambil beberapa botol susu dan makanan dari dalam kulkas lalu duduk dan memakannya. Lana menatap ibunya dengan perasaan lelah, perempuan itu terlihat sangat kelaparan.
“Wah, tempat tinggal kamu enak juga ya. Banyak makanan” Ucap Inka.
Lana tersenyum, mencoba bersabar.
“Mama masih lapar? Kalau masih mau makan, Lana bisa pesan makanan”
Inka mengangguk, “Udah seminggu mama luntang lantung kesana kesini, susah cari uang. Padahal Cuma buat makan” keluhnya kali ini.
Lana mengangguk untuk mencoba memahami perkataan Inka yang terlihat berbeda dengan penampilannya, perempuan itu menggunakan tas brand terkenal, dengan pakaian yang juga harganya tak murah. Dan seingatnya, ia baru saja memberikan uang yang cukup besar untuk Inka beberapa waktu lalu. Seharusnya, jika hanya digunakan untuk biaya hidup sehari hari maka uang itu akan cukup untuk satu hingga dua tahun kedepan.
“Uang yang Lana kasih ke mama kemarin, sudah habis?” Tanya Lana penasaran.
Inka diam tak menjawab, ia mencoba mencari cari sesuatu dari dalam kulkas untuk mengalihkan perhatian.
“Ma!” Teriak Lana.
Inka masih mengabaikan Lana, ia pura pura tak mendengarnya.
“Mama!” Teriak Lana lagi.
“Iya, uangnya udah habis” Jawab Inka terpaksa.
Alis Lana terangkat, ia mendekat pada Inka yang terduduk lemas dilantai..
“Sebulan yang lalu, mama ketemu orang. Dia jelasin ke mama soal investasi apartemen di daerah Jakarta. Akhirnya mama tertarik, karena dia janji bisa kembaliin uang mama dua kali lipat” Cerita Inka.
“Terus?”
“Terus mama ajak beberapa orang yang mama kenal untuk investasi, termasuk uang dari kamu. Setelah seminggu, orangnya ilang. Waktu mama datang ke tempat apartemen yang dia maksud, ternyata dia penipu. Dan korbannya bukan Cuma mama” Jelas Inka lagi.
“Sekarang, orang orang yang mama ajak investasi minta mama kembaliin uangnya karena udah jatuh tempo. Mama bingung Lan. Mama datang cari kamu untuk minta uang, uang mama udah habis” Inka berterus terang. Ia meraih tangan Lana dan mengusapnya.
Lana menatap wajah ibunya, ia bisa melihat wajah kelelahan dari perempuan itu. Namun, entah kenapa ia justru membenci wajah yang sudah menua itu. Seolah ia tak ingin berlama lama melihat Inka.
“Terus, suami mama kemana? Bukannya dia juga harusnya ikut tanggung jawab?” Tanya Lana.
“Lana kan tau dia ga kerja, siapa lagi yang bisa bantu mama selain Lana. Mama untuk makan aja sekarang susah Lan” Ibunya memohon.
Lana menggelengkan kepalanya, “Lana gabisa bantu mama lagi, uang Lana sudah habis ma. Kenapa mama ga jual tas dan baju baju mama yang mahal mahal itu, mungkin masih cukup untuk makan beberapa bulan ma. Nanti Lana transfer kalau sudah dapat gaji”
“Ga bisa dong Lan, ini semua kan tas dan baju kesukaan mama. Mama pakai setiap hari untuk kesana kesini, kalau dijual nanti mama pakai apa?” Inka menolak saran Lana.
Kali ini Lana menghela nafasnya, ia beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar untuk mengambil sebuah kotak dari dalam lemari tempat ia menyimpan uang. Tanpa Lana sadari, Inka mengikutinya dan sedikit tersenyum. Lana mengambil beberapa lembar uang dan menyerahkannya pada Inka.
“Ini uang simpanan Lana ma, nanti Lana transfer mama lagi kalau sudah terima gaji bulan ini” Ucap Lana.
Inka mengangguk.
“Malam ini, mama tidur disini aja dulu. Mitha masih diuar kota, mungkin dia pulang minggu depan. Lana mandi dulu ya ma” Jelas Lana.
Setelah melepas gaunnya, ia memasukkan gaun itu ke kantong laundry karena berniat mencucinya besok. Lana merasa sangat lelah karena bepergian sejak pagi hingga tengah malam, ia mulai menyalakan air hangat dan membasuh rambutnya. Tubuhnya merasa rileks saat ia merasakan air hangat mengalir. Sambil memejamkan mata, ia mulai membayangkan kejadian hari ini. Betapa ia merasa nyaman berada diantara kedua orang tua Han.
“Ah, andai saja mama dan ayahku seperti mereka”
Ia dapat merasakan nyamannya sebuah tangan lembut mengusap punggungnya perlahan, dan mencoba meredakan grogi yang membuat tubuhnya dingin. Hangatnya sebuah pelukan kasih sayang yang tak pernah ia dapat dari ayah dan ibunya. Pikirannya semakin liar tatkala ia membayangkan dalamnya tatapan Han padanya.
“Apa yang akan terjadi jika mama tak mengetuk tadi?”
Tiba tiba Lana bergidik, ia menolak semua pikirannya yang menjawab pertanyaannya sendiri. Ia masih belum bisa membayangkan bahwa ia akan menyukai orang lain secepat ini. Apapun itu, yang ia takutkan bukanlah jatuh cinta lagi namun ia takut akan terluka lagi karena ketidaksempurnaannya. Tersadar bahwa ia cukup lama menghabiskan waktu dikamar mandi, Lana segera menyelesaikan mandi dan memakai pakaiannya. Dengan handuk yang dililitkan di kepala. Lana keluar dari kamar mandi sembari memeriksa ponselnya.
Ia terkejut saat melihat ibunya mengirim sebuah pesan Panjang beberapa menit lalu, perlahan Lana membaca isi pesan dari Inka yang merupakan permintaan maaf. Lana cepat menyadari maksud Inka, ia berlari kearah kamar dan menemukan kamarnya dalan keadaan berantakan. Lemari dan kotak tempatnya menyimpan uang sudah terbuka begitu saja dalam keadaan kosong. Semua uang simpanannya telah diambil, Lana terduduk lemas. Namun kepanikannya tak berhenti disana, ia semakin panik saat melihat kantung laundry tempatnya menyimpan gaun mahal dari Han menghilang.
Lana panik dan mencari keseluruh tempat di apartemen, ia yakin benar ia menyimpan baju itu disana. Setelah menyadari bahwa semuanya hilang, Lana dengan cepat berlari keluar apartemen dan turun lewat tangga. Ia benar benar berlari dan berharap akan menemukan ibunya dibawah, ia harus mengembalikan gaun itu. Tak apa jika uangnya tak Kembali, namun gaun itu harus ia kembalikan pada Han. Apapun yang terjadi.
Dengan nafas terengah engah, Lana berlari semakin cepat saat melihat ibunya baru saja naik motor disebrang jalan. Ia berusaha berteriak memanggil ibunya dengan kencang, namun bukannya berhenti Wanita itu hanya mempercepat gerakannya dan meminta pria yang merupakan suami barunya itu untuk cepat pergi meninggalkan Lana.
Secepat apapun Lana berlari, atau sekeras apapun Lana berteriak itu semua tak ada artinya. Yang tersisa hanya Lana yang berjalan lemas sembari menangis menuju apartemennya untuk Kembali. Ia berusaha menghubungi lewat telpon namun ponsel ibunya sudah tak aktif. Semua mata tertuju pada Lana saat didalam lift, ia masih mengenakan handuk dikepalanya dengan tanpa alas kaki. Lana mundur sedikit untuk menghindari pandangan orang orang didalam lift, setelah sampai didalam apartemen ia baru sadar jika kakinya telah berdarah karena berlari tanpa alas kaki.
Lana benar benar merasa lelah, ia hanya bisa duduk dilantai sembari menangis. Ia menangis dengan kencang. Betapa hebatnya apa yang terjadi pada dirinya hari ini, baru sedikit saja ia merasa senang namun pengkhianatan besar telah menghujam jantungnya dengan keras dan tak menyisakan apapun. Ia benar benar marah, kecewa, dan sedih dalam bersamaan. Namun, yang membuatnya lebih putus asa adalah fakta bahwa ia tak bisa melalukan apapun. Ia hanya bisa mengurung semua perasaannya dalam dirinya sendirian.