MY SECOND LOVE

MY SECOND LOVE
Sekelumit Akar Masalah



Tanto bergeming saat membuka pintu rumahnya, ia kembali bertemu dengan Inka. Mantan istrinya yang telah pergi bertahun tahun. Raut wajahnya berubah kesal saat perempuan itu tersenyum ramah menyapanya sembari masuk kedalam rumah meski tak dipersilahkan.


Inka menoleh kesana kemari, memeriksa setiap ruangan mencari seseorang.


"Lana mana?" Tanya Inka singkat.


Tanto duduk dengan emosi yang memenuhi pikirannya, ingin segera mengusir perempuan itu.


"Lagi ke pengadilan, ambil berkas perceraian" Jawab Tanto sembari mendengus kesal.


Perempuan paruh baya itu duduk mendekati Tanto, ia membuka ponselnya dan mencoba menghubungi Lana.


"Lan, ini mama. Kamu udah baca pesan mama kan? Jadi kapan kamu mau transfer mama? Mama udah ga punya uang" lanjut perempuan itu.


Tanto yang mendengar ucapan Inka menjadi semakin emosi, ia tak habis pikir kenapa perempuan itu bisa menelpon Lana dan meminta uang pada Lana sesuka hatinya.


"Kamu minta uang ke Lana?" Nada suara Tanto meninggi.


Inka menoleh, dengan sedikit rasa malu perempuan itu pergi ke dapur untuk mengambil minum. Setelah meredakan rasa hausnya, ia kembali duduk.


"Ya ke siapa lagi kalau bukan minta ke Lana, Lana itu kan juga anakku" Ucap Inka pelan pelan.


Inka tau ia melakukan kesalahan didepan Tanto, seharusnya ia tidak membahas soal uang didepan pria itu. Setelah bercerai dan memutuskan untuk pergi dari rumah, Inka tak pernah kembali kerumah itu dan memutus semua hubungan. Satu satunya yang bisa menghubungi perempuan itu adalah Lana. Itupun saat Inka membutuhkan uang dari Lana.


Perempuan berambut panjang itu dengan cepat memasukan ponselnya ke dalam tas, sembari tersenyum lebar ia kembali meneguk minumannya.


"emmm, ngomong ngomong kamu tau berapa harga gonogini yang didapat Lana?" tanya Inka pada Tanto.


Laki laki itu menghela nafas, "Harta itu ga seberapa. Kamu tau gak betapa malunya saya dan keluarga saat orang orang tau kalau mereka bercerai?" Bentak Tanto.


Inka mengernyitkan dahinya, "Yang paling penting itu berapa banyak harta yang bisa didapat Lana sekarang, perceraian kan sudah terjadi. Sudah tidak bisa dirubah"


"Padahal Malik baik, kaya, dan dari keluarga terpandang. Kenapa Lana justru mau bercerai, sungguh sia sia" Celoteh Inka.


Tanto mendengus kesal, ia menatap Inka dari ujung rambut hingga kaki. Ia benar benar tak menyukai perempuan ini. Perempuan murahan, begitu pandangan Tanto pada Inka.


Begitu pula sudut pandang Inka pada pria itu, pria egois, kasar, dan sering merendahkan perempuan. Ia sungguh menyesal pernah menikah dengan pria itu, penyesalan terbesarnya adalah membawa Lana pada kehidupan keluarga yang tak sempurna. Meski begitu, nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang bisa Inka perbaiki pada usia yang sudah menginjak paruh baya. Kini ia sedang berusaha bertahan hidup ditengah himpitan ekonomi yang melanda bersama suami barunya.


"Dasar Wanita murahan" umpat Tanto begitu saja.


Mata Inka membesar, ia tersulut emosi "Maksud kamu apa?" Tanya Inka dengan meninggikan suaranya.


"Iya, kamu murahan. Wanita ******, tidak tau diri. Sudah pergi dari rumah, masih berani minta uang pada anak. Hanya menyusahkan saja" Lanjut Tanto dengan tidak peduli, semua umpatan itu keluar dari mulutnya.


"Mulut kamu itu luar biasa ya, kamu pikir hanya saya yang merepotkan, kamu juga pengangguran. Ga punya penghasilan, kamu juga sama ga bergunanya sama saya" Balas Inka.


"Kurang ajar kamu" Teriak Tanto.


Pria itu menarik rambut Inka, disertai dengan teriakan Inka. Perempuan itu berusaha menghindar dan berlari kedapur mencari sesuatu untuk melindunginya dan Pranggggggg!.


Inka melempar gelas kearah Tanto, namun karena Tanto menghindar gelas tersebut justru terlempar kearah lain dan betapa terkejutnya Inka saat melihat Lana berdiri disana. Perempuan itu langsung berlari kearah Lana dan bersembunyi dibalik tubuh Lana.


"Usir Wanita ****** itu dari sini" Teriak Tanto.


Lana yang terkejut, buru buru menarik Inka agar keluar dari rumah. Ia membawa Inka menjauh dari rumah sebelum ayahnya benar benar membunuh ibunya. Ditoko pinggir jalan, Lana membeli sebuah minuman dan makanan untuk Inka, dan duduk bersama sembari menunggu seseorang yang akan menjemput Inka.


Lana mengangguk, "Sudah selesai semuanya sekarang"


"Mama penasaran, jadi berapa harta gonogini yang kamu dapat?" tanya Inka lagi tanpa tau malu.


Lana terdiam, ia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan itu. Sedangkan Inka, menatap anaknya dengan penuh harapan kalau Lana akan menjawabnya segera.


"Lana kan tau, mama sekarang lagi susah. Untuk makan sehari hari saja, mama harus dapat trasferan dari Lana. Kalau Lana memang ada uang lebih, mama minta. Untuk buat usaha kecil kecilan, supaya mama ga harus kesana kesini untuk cari.."


"Ma" Lana tiba tiba memotong pembicaraan.


Ia merogoh sebuah amplop berisi uang, lalu menyodorkannya pada Inka.


"Ini, Malik setuju untuk membayar semua harta gonogini dalam bentuk uang. Sudah ditambah dengan uang dari nafkah iddah Lana. Lana bagi dua, setengah untuk mama, setengah untuk ayah" Jelas Lana.


"Mama gausah khawatir, besok Lana sudah kerja dikantor Lana yang dulu. Bosnya masih mau terima Lana, nanti kalau Lana ada uang, Lana akan transfer mama. Mungkin ga besar, tapi mudah mudahan cukup untuk menutup kebutuhan mama sama ayah" Tambah Lana.


Perempuan itu menyeka keringatnya dari dahi karena kepanasan, ia tersenyum kecil sembari melambaikan tangan saat Inka menghilang dengan motor yang dikendarai seorang pria yang menjadi ayah tirinya kini. Setelah mengantar Inka, Lana masuk kedalam rumah dan menemukan ayahnya tengah terduduk lesu.


"Ayah kenapa sedih?" Lana menyapa.


Perempuan itu mengambil kotak obat obatan dari dapur dan duduk disamping ayahnya sembari membersihkan kaki yang berdarah karena pecahan gelas.


"Mama kamu itu memang ga punya otak! Seenaknya dia minta uang sama kamu, lalu menghidupi laki laki lain. Kalau dia menikah, setidaknya harus cari laki laki yang bisa menghidupi dia" Gerutu Tanto lagi.


Lana tersenyum kecil, "Gapapa, mungkin mama bahagia sama pilihannya sekarang"


"Buat apa bahagia kalau ga bisa nafkahin hidup? Makan tuh cinta"


"Iya" Lana menanggapi sekenanya karena tak ingin memperpanjang.


"Padahal hidup sama ayah sudah enak, ada rumah, walaupun ayah tidak kerja tapi ada kamu yang bisa kasih uang untuk hidup kita sehari hari. Apalagi coba yang mau dicari. Sudah tua, harusnya diam saja dirumah, buat apa punya anak kalau harus susah payah saat tua"


Lana terdiam, ia berhenti membersihkan kakinya. Ia tak ingin terus menerus mendengar celotehan Tanto. Sembari tertatih tatih, Lana masuk kedalam kamar meninggalkan Tanto yang masih menggerutu sendirian diruang tamu. Ia melemparkan tasnya keatas Kasur, meraih ponselnya dari dalam tas dan memeriksanya.


Dilihatnya beberapa foto dari sosial media, foto dari teman teman SMA nya, teman kerja, dan beberapa artis. Namun perhatian Lana teralihkan pada sebuah akun bercentang biru yang ia kenal, seorang pria yang kini sedang naik daun dengan grup band nya. Lana sering mendenger artis itu dibicarakan saat kumpul keluarga, karena dia adalah salah satu sepupu jauh. Seringkali Lana menjadi iri saat melihatnya.


Usia pria itu hanya dua tahun lebih tua dari Lana. Namun pria itu bebas, terlahir dari keluarga yang kaya raya, bisa melakukan apa yang ia mau sejak kecil, bisa pergi keluar negeri, memiliki kedua orang tua yang utuh, terlihat bahagia, dan terlepas dari racun patriarki keluarga karena dia adalah laki laki.


Lana pernah bertemu dengan pria itu sekali, saat masih kecil. Namun setelahnya tak ada lagi kabar karena dia pindah ke Jakarta. Berkarir menjadi seorang artis, dan menjadi terkenal sampai sekarang. Bahkan saat momen lebaran pun mereka tak pernah bertemu.


"Ahh lama lama melihat sosial media memang bisa merusak hati" gumam Lana saat sadar bahwa ia terlalu banyak melihat foto pria itu.


Lana masih berbaring, meski sudah tengah malam. Ia menatap langit langit kamar dan tak bisa tidur di jam yang tepat adalah kebiasaannya. Entah kenapa, sulit sekali baginya untuk tidur akhir akhir ini. Pikirannya melayang layang setelah mendapat pesan dari Inka yang sedang bercerita rencana perempuan itu setelah mendapat uang yang cukup besar dari Lana siang tadi.


Setelah dipikir pikir, hidup Lana memang penuh masalah. Ia terlahir dari orang tua yang bercerai, kesulitan ekonomi, dan kini harus bercerai dari suaminya yang kaya raya. Namun akar permasalahan terbesar hidupnya adalah orang tuanya sendiri. Ibunya terlalu terobsesi pada uang, ayahnya terobsesi pada ibunya sendiri dan masih belum terima jika mereka sudah bercerai.


Jangan pernah tanya kesulitan seorang anak yang besar tanpa orang tua utuh, karena tidak ada satupun yang bisa menggantikan kebahagian tumbuh bersama keluarga yang lengkap. Lana selalu ingat, tak ada satu orangpun yang datang kesekolah saat pembagian rapor Ketika ia sekolah dulu. Dan Lana hanya bisa berbohong bahwa kedua orang tuanya sibuk. Namun tak pernah sekalipun Lana membenci orang tuanya.


Mental Lana sudah rusak sejak dulu, itu yang membuat Lana menjadi seorang yang tenang dan pendiam. Seorang yang mudah menahan amarah dan tak mampu mengungkapkan isi hatinya. Karena ia tak tau harus kemana ia pergi saat merasa kesulitan, bahkan saat Malik mendiamkannya ia tak tau kemana ia harus berlindung selain menangis dalam sujud.


Saat semua orang memuji Lana dulu karena Ia pintar di sekolah, berprestasi, mudah mendapat pekerjaan dan menikah dengan orang yang kaya raya Lana hanya bisa tersenyum getir. Ia lebih merasa miris saat kedua orang tuanya membanggakan dirinya didepan orang lain. Karena tatapan Lana pada dirinya sendiri tak lebih dari rasa kasihan.