MY SECOND LOVE

MY SECOND LOVE
Keputusan yang Bodoh



Waktu masih menunjukkan jam lima pagi, namun Mitha dengan nafasnya yang terengah engah berlari dilorong rumah sakit menuju kamar tempat Lana dirawat. Jantungnya hampir copot saat mendengar telpon dari rumah sakit jika Lana dirawat dirumah sakit karena mencoba loncat dari atap gedung.


Dengan pakaian seadanya, ia menerobos jalanan kota Bandung Jakarta menggunakan mobilnya. Seingatnya terakhir kali, Lana baik baik saja. Namun pikirannya kacau setelah mengingat bahwa Lana baru saja bertemu dengan ibunya semalam.


Dengan tak sabar, Mitha membuka pintu kamar rawat tempat dimana Lana masih terbaring. Ia sedikit terkejut saat melihat seorang pria terbangung dari tidurnya di sofa saat mendengar perempuan itu membuka pintu. Mitha kenal dengan pria yang baru saja terbangun dan pria itu juga terkejut saat melihat Mitha dibalik pintu. Pria itu adalah Andi, pria yang Mitha kenal sebagai manajer band Historia. Beberapa kali Mitha berhubungan dengan pria itu saat akan mengadakan konser dengan Historia.


“Kok disini?” Tanya Mitha tanpa basa basi.


Andi merapikan rambutnya semberi menggaruk kepalanya, ia masih setengah sadar saat melihat Mitha berdiri dihadapannya.


“Lo kenal sama ni cewek?” Andi justru bertanya balik.


Mitha mengangguk, “Sepupu gue”


“Kevin ga sengaja ngeliat ini cewek mau loncat dari atap sambil mabuk, terus ditolong sama Kevin. Akhirnya pingsan, dibawa ambulans kesini semalem” Jelas Andi sembari mengambil minuman dari kulkas.


Mitha menyimpan tasnya di sofa, ia terduduk lemas karena lega.


“Makasih ya, tolong bilangin sama Kevin” Ucap Mitha pelan.


Andi mengangguk.


“Terus Kevin gimana?” Tanya Mitha.


“Kevin masih syok, dia langsung minta pulang kerumahnya semalem dan minta gue urus semuanya”


“Maaf banget ya, ngerepotin. Gue juga gatau kenapa tiba tiba dia begini” Mitha menghela nafas, mengingat perilaku Lana akhir akhir ini.


“Kadang kadang orang yang depresi juga selalu terlihat baik baik aja diluar. Tau tau, bunuh diri” Ucap Andi pelan.


Pria itu mengambil jaketnya dari atas sofa, “Beli sarapan yuk, lo pasti belum sempet makan kan dari Bandung?” ajak Andi sembari mengulurkan tangannya.


“Kok lo tau gue dari Bandung?” Tanya Mitha penasaran.


“Iya, kemaren gue sempet telpon ke kantor. Buat mastiin jadwal konser Historia bulan depan, katanya lo lagi di Bandung. Jadi belum bisa ngadain rapat” Jawab Andi.


Mitha menyambut uluran tangan Andi, ia beranjak dari sofa untuk pergi bersama Andi. Sejenak ia terdiam menatap Lana yang masih tertidur, tiba tiba kekhawatiran menghampiri dirinya.


“Gausah khawatir, dia pasti bangun siang. Nanti gue titip sama perawat didepan juga” Ucap Andi menenangkan Mitha.


*****


Kevin turun dari mobil dengan kaki pincang, ia merasa kakinya sakit karena menggunakannya untuk menahan tubuhnya dan Lana agar Lana tak lepas dari pelukannya. Jantungnya benar benar berdetak kencang saat menahan Lana, ia merasa bahwa hidup perempuan itu ada ditangannya saat itu. Meski berkali kali mengumpat, ia bertahan sekeras mungkin karena takut terlepas. Setelah itu, ia bersumpah takkan lagi pergi ke atap Gedung manapun.


Pria itu melemparkan tubuhnya ke Kasur, matanya menatap langit langit kamar. Ia masih ingat wajah Lana yang saat itu tak sadarkan diri, wajahnya penuh dengan kedamaian dengan senyuman kecil dibibir. Kevin penasaran, apa yang membuat Lana tersenyum saat bahkan perempuan itu sedang menjemput kematiannya. Pria itu sedikit gelisah, berkali kali itu membalik tubuhnya ke berbagai arah namun pria itu tak bisa tidur.


Kevin beranjak dari Kasur, pergi ke dapur untuk memakan sebuah cemilan. Ia mendapati ibunya sedang memasak. Tanpa ragu Kevin memeluk ibunya, ia merasa nyaman berada dekat dengan ibunya sendiri.


“Kenapa ga tidur?” Tanya ibunya.


Kevin melepaskan pelukannya, ia mengambil sebuah apel dari atas meja dan menggigitnya.


“Ga bisa tidur, habis mengalami kejadian yang bikin syok” Jawab Kevin asal.


Ibunya tertawa kecil, “Kejadian apa?” Tanyanya.


“Abis nolongin orang yang hamper bunuh diri bu! Gila kali itu perempuan” Jelas Kevin.


Ibunya mengernyitkan dahi, menimbang nimbang apakah anaknya sedang berbohong atau tidak.


“Kasihan” Gumam ibunya.


Kevin mendekat, ia menatap ibunya dengan serius.


“Kasihan kenapa bu?” Tanya Kevin.


“Ya kasihan, kita ga tau seberapa berat hidupnya sampai memutuskan untuk coba bunuh diri” Jelas ibunya.


Kevin terdiam, matanya menatap tangan kanan ibunya yang tak sengaja terbuka. Dengan cepat ibunya menarik lengan bajunya saat tau Kevin melihatnya lalu mencoba mengalihkan perhatian Kevin yang terpaku. Kevin memalingkan wajahnya, ia mengambil sebotol minuman dari kulkas dan menenggaknya.


“Ibu juga kasihan” Ucap Kevin pedas.


Ibunya hanya diam.


“Sampe kapan ibu mau diam?” Tanya Kevin.


Ibunya masih terdim.


Kevin yang kesal segera pergi dari dapur, ia mengambil kunci mobil dari kamarnya lalu berpamitan. Pria itu bergegas pergi Kembali ke Jakarta dengan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


*****


Perlahan Lana membuka matanya, ia melihat bayang bayang Mitha sedang bertolak pinggang dihadapannya. Dengan wajah penuh kecemasan dan amarah. Lana tersenyum kecil, kepalanya masih terasa berat.


“Jadi ini akhirat?” Ucap Lana pelan saat melihat ruangan kamar tempatnya dirawat.


“Tapi kenapa masih kerasa sakit?” Gumamnya lagi.


Mitha menggelengkan kepalanya, ia kesal saat melihat temannya meracau diatas ranjang. Tangannya sudah siap memukul Lana, ia tak peduli Lana sedang depresi atau apapun. Yang jelas emosinya harus tersalurkan saat ini juga.


“Akhiramu memang buruk, karena kamu menghabisi hidupmu sendiri” Ucap Mitha membesarkan suaranya.


Lana terdiam.


“Mit, kamu juga ikut mati? Kenapa ada suara kamu disini” Ucap Lana lagi.


“Euhhh, rasain ini. Rasain” Mitha yang sudah tak sabar memukul lana berkali kali agar perempuan itu sadar.


Ia menjitak kepala Lana, memukul tangannya, dan menggoyang goyangkan tubuh Lana lalu memeluknya.


“Lan lo masih hidup Lan!” Ucap Mitha.


Lana terdiam, ia memeluk Mitha lagi. Tanpa kata kata, ia hanya menangis. Melihat Mitha menangis menyadarkannya bahwa ia telah melakukan kesalahan besar dengan menyerah pada hidupnya. Meski tak ingat apa yang telah terjadi semalam, namun kini perasaannya justru merasa lega. Ia bersyukur karena Kembali bertemu Mitha.


Setelah mereka berdua puas menangis, Lana dan Mitha Bersiap untuk pulang. Mitha sama sekali tak membiarkan Lana sendirian, ia khawatir bahwa mental Lana belum stabil. Sebelum pulang, mereka sempat mampir sebentar untuk mengambil jadwal psikiater dirumah sakit. Lana sudah berjanji pada Mitha untuk menjalani pengobatan agar mentalnya membaik.


“Lan, lo boleh diem didepan orang lain. Tapi jangan ke gue” Ucap Mitha saat didalam mobil.


Lana mengangguk.


“Lo ga perlu nyembunyiin perasaan lo ke gue, lo bisa marah, nangis, berkeluh kesan. Asalkan jangan putus asa”  Lanjutnya.


Lana mengangguk lagi sembari tersenyum tipis.


“Mungkin dunia emang semengecewakan itu buat lo Lan, Tapi jangan nyerah ya, lo harus percaya suatu saat kebaikan akan datang”


Lana terdiam, air matanya mulai menggenang. Ia menatap jalanan yang ramai, pikirannya melayang layang. Kali ini ia sadar, dirinya tidak baik baik saja.