
Jakarta pagi penuh dengan kemacetan, berbagai macam kendaraan seperti keluar bersamaan di jam yang sama. Meski sudah berusaha pergi di jam jam bebas macet, dugaan mereka tak bisa membuat Mitha dan Lana terhindar dari kemacetan. Kalau saja ia tak terlanjur berjanji pada Mitha untuk mengantarnya ke kantor, ia takkan pernah mau terjebak macet berjam jam.
“Gue bilang juga apa, pergi pagi. Ga perlu lo hitung hitung ini jalan akan macet atau enggak di jam jam tertentu. JAKARTA ITU PASTI MACET” Gerutu Lana sembari memainkan ponselnya.
Mitha melempar senyuman sinis, ia menyalakan radio dari dalam mobil dan menikmati musik yang diputar. Sedangkan Lana, sedang menahan kantuknya sembari melihat lihat Instagram. Perempuan itu Kembali ke Jakarta lebih cepat karena bosan mendengar ceramahan ayah dan keluarganya yang lain, selain itu ia juga sudah berjanji untuk menemani Mitha melakukan beberapa hal.
“Ikut ga ke dalem?” Tanya Mitha sesaat mereka tiba di kantor Mitha.
Lana menggeleng, ia berniat memisahkan diri dan pergi ke kantin namun Mitha justru menyeretnya saat ia melihat Andi sedang berjalan terburu buru menuju ruang rapat.
“Ikut ajadeh” ucap Mitha singkat.
Dengan langkah terburu buru, ia menyeret Lana yang tidak tau apa apa dan bergabung dengan beberapa orang diruang rapat. Lana hanya bisa diam mendengarkan rapat tersebut, bahkan ia bisa menggambar di ponselnya untuk menghilangkan rasa kantuk. Ia sama sekali tidak tertarik pada pekerjaan Mitha yang harus bertemu banyak orang. Bagi Lana, pekerjaan itu terlalu melelahkan. Ia bersyukur Han hanya bertemu banyak orang melalui acara formal.
Beberapa kali Lana menguap, matanya sudah tak bisa menahan kantuk. Satu tangannya disimpan diatas meja demi menopang kepalanya yang hampir jatuh.
“Tenang, ada dia” Mitha mengejutkan Lana.
Perempuan itu mengarahkan telunjuknya pada Lana yang terkejut dan tiba tiba terbangun. Lana yang tidak tau apa apa, tersenyum canggung sembari merapikan rambutnya yang berantakan.
“Kita butuh relawan kan? Tenang, ada dia. Dia lagi ga kerja, dan kebetulan sudah ada disini” Ucap Mitha lagi.
Lana menaikkan alisnya, memberi tanda pada Mitha bahwa ia tak mengerti. Namun Mitha mengabaikan Lana, ia menutup rapat dengan senyuman jahat. Sembari membereskan berkas diatas meja, ia baru menjelaskan.
“Minggu ini, ada relawan kita yang mundur satu orang. Terus kita bingung mau cari gantinya, jadi gue bilang tenang ada elo” jelas Mitha.
Lana terdiam, ia berusaha mencerna apa yang baru saja Mitha katakan.
“Relawan konser? Gue?” tanya Lana gugup.
Mitha mengangguk, “Lo juga lagi butuh duit kan, bayarannya lumayan”
“Gue kan gatau apa apa Mit, gila lo!” keluh Lana.
“Tenang tenang, ini Cuma pengganti aja kok. Semua kerjaan udah beres, lo Cuma perlu datang pas hari H dan ikutin aja. Kan ada gue juga, lumayan kan cuman berdiri, bisa nonton konser, dibayar lagi” lanjut Mitha.
“Gak, gue ga akan datang” Lana menolak.
Mitha tersenyum kesal, “Ga bisa, lo harus datang. Gue akan seret lo dari Kasur, dan bawa lo ke tempat acara” paksa Mitha.
Lana cemberut, ia mengikuti Mitha dari belakang untuk pergi ke kantin. Dari kejauhan, seorang pria memanggil Mitha dengan senyuman lebar. Mitha bersemangat untuk menyapa pria itu, ia sedikit berlari kecil. Setelah memesan makanan, mereka bergabung dimeja yang sama dengan pria itu.
“Gimana an nego harganya, sesuai?” Tanya Mitha.
“Beres lah, gila kali. Historia kan lagi naik daun, masa iya bos lo gamau naikin harga” Jawab Andi.
Lana tersenyum, ini pertama kalinya ia bertemu dengan pria yang sering diceritakan Mitha. Ia sering mendengar nama Andi, namun tak pernah bertemu langsung selama ini.
“oh, ini Andi yang sering lo certain itu kan Mit?” Lana mencoba mengakrabkan diri.
Mitha tersenyum canggung, ia mencubit tangan Lana sampai perempuan itu sedikit menjerit lalu Lana kemudian baru mengerti kenapa ia harus diam. Sebelum Andi melontarkan pertanyaan lanjutan, Lana justru mengangkat ponselnya menandakan seseorang menelponnya. Itu dari Han.
“Halo, Han!” Sapa Lana setelah panggilannya tersambung.
Han tersenyum diujung telpon.
“Mmm, iya aku baik baik saja. Hanya diresepkan obat untuk tidur” Ucap Lana pelan.
Mendengar ucapan Lana yang canggung, Mitha hanya bisa tersenyum geli. Ini pertama kalinya ia melihat Lana secanggung itu saat menelpon seseorang. Sepertinya keadaan Lana sudah sedikit membaik. Untuk menghindari Mitha, Lana pergi menjauh dari mereka agar bisa leluasa.
“Udah sampaikan terima kasihku ke Kevin?” Tanya Mitha pada Andi.
Andi mengangguk sembari menyuap sesendok nasi.
“Tangan dan kakinya terluka, tapi dia bilang dia tetap bisa tampil minggu ini” Jelas Andi.
Mitha mengangguk.
“Kamu sudah bicara pada Lana? Tentang malam itu?” Tanya Andi penasaran.
“Sudah” Jawab Mitha.
“Jadi apa alasannya?” Tanya Andi lagi.
Mitha memelankan suaranya, “Lana baru saja bercerai, ibunya juga baru saja membawa semua uangnya lalu pergi menghilang, ayahnya sering memarahi dia karena memutuskan untuk bercerai, dan mantan suaminya baru saja punya kekasih baru” Jelas Mitha.
Andi menghela nafasnya, mulai menyesali kenapa ia perlu tau alasan Lana bisa berada diatap Gedung.
“Beruntungnya, dia punya aku yang selalu ada. Dan Han” Lanjut Mitha.
“Han?”
Mitha mengangguk, “Bosnya sekarang, tapi aku yakin pria itu menyukai Lana seribu persen”
“Darimana kamu tau?” tanya Andi.
“Tatapan dan cara bicaranya pada Lana, tidak seperti caramu bicara padaku” Bisik Mitha.
“Uhukk, uhukkk” Andi tersedak saat mendengar ucapan Mitha yang terakhir. Ia menatap Mitha yang sedang menggodanya.
“Darimana kamu tau kalau aku tak menyukaimu?” Tanya Andi.
Mitha mengangkat kedua tangannya, “Ya tau aja”
Setelah menghabiskan semua makanannya, Mitha berpamitan pada Andi dan menyusul Lana yang masih bertelepon dengan Han. Andi masih memandangi perempuan itu sampai ia menghilang dibalik pintu. Diam diam, ia tersipu malu. Ia menyukai Mitha, sudah sejak lama.
*****
Lana menelpon Han sembari berjalan mencari cari tempat yang nyaman untuk bicara, setelah berjalan cukup jauh ia bisa menemukan sebuah kursi di taman atap Gedung tak jauh dari kantin. Perempuan itu duduk disana sembari masih terus bicara tanpa menyadari seseorang sedang mengikutinya untuk mendapat kesempatan menyapa.
“Iya, aku ga apa apa” Ucap Lana.
“Maaf ya harus ngerepotin kamu” Lanjutnya.
“Iya, Han mungkin ini terlambat. Tapi terima kasih untuk gaun yang kamu belikan untukku malam itu”
Mendengar ucapan terakhir Lana, pria yang sedari tadi mendengarkan Lana mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak. Ia sedikit kecewa saat tau bahwa Lana sedang bicara dengan seorang pria dan membahas sesuatu.
“Kevin!” Teriak seseorang dari kejauhan.
Kevin tersenyum ramah, Ia pergi menjauh dari Lana dan pergi menyapa Mitha yang sedang melambaikan tangan. Lana yang sedari tapi menelpon, mengakhiri panggilannya saat mendengar seseorang memanggil nama Kevin. Ia menoleh ke belakang dan mencoba mencari cari, namun tak menemukan apapun.