My New Journey as Shadow Monarch Ashborn

My New Journey as Shadow Monarch Ashborn
Menemui Kakak Elizabeth



Selama perjalan kami dari dunia Tensura ke dunia tempat Elizabeth tinggal melalui portal yang Elizabeth ciptakan, kami tidak mendapat kendala apapun sehingga membuat perjalanan kami lebih mudah.


Selama beberapa perjalan kami melihat cahaya diujung kemudian sampai disebuah tempat layaknya padang rumput dengan hewan yang ada serta pohon dan gunung yang menghiasi.


Namun hewan hewan yang ada disini nampak berbeda dengan yang ada dibumi, sebagai contoh rusa putih dengan tanduk bercabang dengan sedikit percikan listrik dan seukuran banteng.


Elizabeth lalu berdiri didepanku, membungkuk sedikit dan menyambut layaknya seorang resepsionis.


"Tuan Penyelamat, selamat datang diduniaku" (Elizabeth)


"Jangan panggil aku Tuan Penyelamat, panggil saja aku Ashborn"


"Tapi Tu—" (Elizabeth)


Tepat ketika Elizabeth ingin aku berkata aku meletakkan jari telunjuk kanan kebibirnya, serius aku tidak terlalu pembicaraan atau perlakuan dengan formal aku lebih suka diperlakukan biasa saja.


"Sudah dan iyakan saja"


"Ah....um" (Elizabeth)


Elizabeth hanya mengangguk pelan, dari balik topeng aku tersenyum dan menepuk halus kepalanya.


"Tuntun jalannya, kita harus cepat"


"Baik, Ashborn-sama" (Elizabeth)


'Hah......kenapa dia ini keras kepala'


Elizabeth segera berjalan kedepan dan kuikuti dari belakang, saat aku melihat sekeliling banyak hewan yang terlihat takut denganku bahkan berusaha menjauh dariku.


'Apa wujudku ini menyeramkan ?'


Pikirku sembari menyilangkan kedua tangan dibawah dada tapi sistem segera memberi jawaban yang membuatku dapat berpikir tenang.


< Host, alasan kenapa hewan hewan menjauhi anda adalah karena elemen {Death} yang anda miliki sangat kuat >


'Bisa kau jelaskan'


< Tentu, elemen {Death} biasanya dimiliki oleh entitas yang berhubungan dengan kematian dengan contoh Dewa kematian, King Undead serta anda Host >


< Tapi elemen {Death} memiliki tingkatan mereka sendiri dan dikategorikan dari angka 1 hingga 10 >


< Jika saya analisis, maka elemen {Death} yang Host sudah berada di angka 4 yang notabenya sudah menyamai Dewa Kematian kelas bawah >


'Begitukah, lalu bisakah kau berikan rincian tentang tingkatannya'


< Baik, tingkat 1 hingga 2 sudah setara Undead King sejati, tingkat 2 hingga 5 sudah setara Dewa Kematian kelas bawah, tingkat ) hingga 7 setara Dewa Kematian tingkat menengah, tingkat 8 hingga 10 setara Dewa Kematian kelas atas >


< Tapi masih ada tingkatan lanjutan setelah tingkat 10 >


'Maksudmu sistem ?'


< Jika suatu entitas berhasil menghancurkan batasan pada dirinya hingga dia berhasil menerobos tingkat 10 maka dia akan setara dengan Dewa Kematian Sejati >


'Jadi begitu, nampaknya aku perlu bertambah kuat'


'Sistem terima kasih atas informasinya'


< Sama sama, sudah tugas saya membantu anda Host >


Setelah selesai berbicara dengan sistem aku menatap Elizabeth dan berpindah menatap sekeliling, kami berdua menyusuri hutan dan setelah berjalan lebih 30 menit kami berdua sampai disebuah tempat dengan 10 pilar mengelilingi tempat singgahsana dan tepat diujung pilar didepan terdapat tempat duduk raja.


Selain itu aku juga dapat melihat bebera orang yang tidak lain adalah Dewa sama seperti Elizabeth karena aura suci yang mereka pancarkan.


Sebelum masuk tempat itu aku disuruh Elizabeth untuk tetap diam ditempat terlebih dahulu.


"Ashborn-sama, mohon anda diam disini sebentar"


"Tidak masalah"


Setelah memberikan jawabanku, Elizabeth segera berjalan menuju ruangan singgahsana.


Menyadari kedatangan Elizabeth para Dewa/Dewi yang ada diruangan itu langsung menyambutnya.


"Elizabeth" kata salah satu Dewi yang cantik berpakaian seperti Dewa Yunani Athena namun memiliki rambut biru panjang bergelombang hingga lutut kaki, dengan hiasan beberapa aksesori yang terbuat dari emas dibagian leher, tangan, serta kepala.


"Aku kembali, Ikhstar-san" (Elizabeth)


"Selamat datang kembali, Elizabeth-chan" (?)


"Um, nampaknya kau baik baik saja Carlos"


Dewa yang bernama Carlos itu terlihat seperti tipe petarung dengan rambut merah pendek dan tato garis merah pada tubuhnya, dia berotot dan memiliki sosot mata tajam dan hanya hanya menggunakan celana seorang spartan tanpa baju dengan sendal jaman dulu.


"Semuanya aku kembali" (Elizabeth)


"Elizabeth, jika kau kembali kau pasti telah menemukan Sang Penyelamat" (Ikhstar)


"Ya, Ashborn-sama silahkan"


Dari balik bayang bayang aku menampakkan sosok asliku yaitu Shadow Monarch, tubuh yang tinggi dengan armor pelindung, jubah hitam pekat dengan rambut ungu berkobar layaknya nyala api, mata ungu yang tajam dari balik topeng serta aura kematian yang bewarna hitam pekat dapat terlihat.


Wajah para Dewa seketika sedikit pucat dan terkejut, Ikhstar paling cepat bereaksi segera menempatkan Elizabeth dibelakangnya.


"Elizabeth-chan tetap dibelakangku" (Ikhstar)


"Kenapa, dia adalah Sang Penyelamat" Elizabeth berkata dengan nada khawatir karena teman temannya salah mengira diriku.


"Mana mungkin dia penyelamat !, lihat saja dia !" ucap salah satu Dewa yang memiliki ciri ciri layaknya manusia dibumi dengan rambut hitam dan lain sebagainya tapi sedikit tinggi.


"Apakah ini cara perlakuan teman temanmu, Elizabeth"


"Kau, sama sekali tak berhak menyebut namanya !" (Carlos)


Carlos segera melompat kearahku tombak digenggaman tangannya, aku sedikit menyipit dan dengan santai menangkap ujung tombak Carlos dan menggunakan momentum ini untuk menghempaskan Carlos ketanah.


Setelah itu Ikhstar menciptakan sebuah panah dan menembakkan salah satu anak kepadaku, itu berhasil mengenai dada tengahku walaupun rasanya agak sakit tapi tidak terlalu sakit seperti pukulan Zecht yang berhasil membuat tubuh rohku hancur sehingga kembali kewujud fisik.


"Apa !?" (Ikhstar)


Aku menyapu dadaku setelah terkena anak panah tadi dan melihat para Dewa/Dewi yang telah dalam posisi siap bertarung.


Aku menghela nafas berat dan menatap mereka semua, Elizabeth panik melihat itu tadi tapi segera berpikir untuk mencari solusi akan kesalahpahaman ini.


Aku mengepalkan jari jariku dengan menggerakkan leherku kekiri dan kanan sehingga mengeluarkan bunyi *Crack* dari tulangku.


'Sistem, apakah aku dapat memanipulasi elemen {Death} milikku'


< Bisa, tapi untuk saat ini anda masih tidak terlalu mahir memanipulasi {Death} anda >


< Namun saya dapat membantu anda >


'Bagus, sistem tolong intimidasi mereka dengan elemen {Death} milikku'


< Baik >


Seluruh tubuhku mulai mengeluarkan aura hitam dan ungu yang mewakili elemen {Death} milikku, para Dewa/Dewi lainnya makin waspada dan kemudian area sekitarnya hancur dan dari seluruh tubuhku meluaplah elemen {Death} yang sangat berbahaya sehingga memberikan dampak negatif kepada area sekitar berjarak 5 cm seperti daun yang mati, udara tercemar, dan tanah yang membusuk.


Salah satu Dewa meneguk air liurnya setelah melihat {Death} meluap tak terkendali dengan berbagai jiwa monster sengsara yang setelah kubunuh.


Ya semua makhluk yang telah kubunuh, mereka semua akan dibelenggu oleh jiwaku sehingga membuat mereka semua tidak dapat beristirahat dengan tenang.


Hal ini kuketahui beberapa hari yang lalu setelah beberapa pecahan ingatan masa lalu ku yang kudapat dari mimpi.


Faktor itu jugalah yang membuatku dapat membangkitkan suatu makhluk dari kematian duniawi mereka sehingga itu membuat semua Shadow Soldier yang kupunya terikat padaku.


Andai salah dari mereka hancur maka aku dapat merasakan itu, merasakan keberadaan mereka yang hilang walau sementara dan aku juga dapat melepas belenggu yang mengikat jiwa para makhluk yang kubunuh tapi karena aku adalah entitas kematian maka jiwa jiwa mereka yang terbelenggu akan menjadi kekuatan tambahan bagiku.


Aku memejamkan mataku sebentar dan memberikan tatapan tajam serta makin memperkuat elemen {Death} milikku.


Semua Dewa/Dewi segera bersiap menyerang, aku melirik kebelakang dan Carlos telah mengarahkan tombaknya kewajahku.


'Rajaku, ijinkan kami semua keluar untuk membunuh mereka' Beru berkata dengan nada marah.


'Tahan'


'Tapi Rajaku, mereka telah menyerang anda' (Beru)


'Biarkan saja'


'Baiklah Rajaku' (Beru)


Aku acuh tak acuh kembali menatap mereka yang ada didepanku dan hendak melangkah tapi sebelum itu terjadi Elizabeth segera berdiri didepanku dengan kedua tangannya terbuka.


"Hentikan ini semua !" (Elizabeth)


Para Dewa/Dewi tersentak kaget ketika Elizabeth menghentikan mereka untuk menyerangku termasuk kebalikannya.


"Elizabeth apa yang kau lakukan !, segera menjauh darinya !" (Carlos)


"Tidak akan !, dia adalah Sang Penyelamat !" (Elizabeth)


"Elizabeth coba kau lihat dia, mana mungkin dia Sang Penyelamat !" (Carlos)


"Benar apa yang dikatakan Carlos, dia bukanlah Sang Penyelamat melainkan sebuah kematian berjalan bahkan dia lebih berbahaya dari Dewa Jahat yang ada didunia ini !" (Ikhstar)


"Aku memang sempat berpikir seperti itu tapi dia adalah Sang Penyelamat, lihat ini !"


Elizabeth mengeluarkan batu yang dia gunakan untuk menemukanku, batu itu nampak bersinar dan ketika Elizabeth mendekatkannya kepadaku sinar pada batu itu makin terang.


Para Dewa/Dewi terdiam tidak percaya setelah mereka melihat bahwa aku adalah Sang Penyelamat, mereka semua menatapku dengan ketidakpercayaan lalu mereka menatap satu sama lain dan menghilangkan senjata mereka.


'Nampaknya ini sudah tenang, sistem tolong hentikan'


< Baik >


Luapan elemen {Death} ku perlahan hilang dan selang beberapa detik semuanya sudah lenyap walaupun daerah sekitar yang terkena dampak {Death} ku tidak kembali semula.


"Apakah kalian percaya sekarang bahwa Ashborn-sama adalah Sang Penyelamat" (Elizabeth)


Ikhstar segera berjalan maju kedepanku dengan jarak beberapa langkah dariku, dia menatap Elizabeth dan berpindah menatapku.


"Ashborn Sang Penyelamat, tolong maafkan tindakan kami tadi" (Ikhstar)


Ikhstar yang mewakili semua Dewa/Dewi segera menundukkan tubuhnya dan meminta maaf kepadaku.


"Tidak apa apa, angkat tubuhmu wahai Dewi Ikhstar" ucapku, Ikhstar memposisikan tubuhnya semula dan menatapku.


"Terima kasih, atas kerendahan hati anda" (Ikhstar)


"Sama sama"


Aku menatap semua Dewa/Dewi lalu menatap Ikhstar.


"Dewi Ikhstar, tolong tunjukkan jalan menuju kakak Elizabeth"


"Aku mengerti, ikuti aku" (Ikhstar)


Ikhstar berbalik dan berjalan kedepan diikuti olehku, Elizabeth serta semua Dewa/Dewi.


Kami semua sampai disebuah ladang bunga dengan bukit yang tidak terlalu tinggi dibagian kanan dan pohon yang ukurannya cukup besar dengan dedauan yang banyak diatasnya.


Lalu dibawah jalur bukit terdapat gubuk sederhana yang terbuat dari kayu coklat, kami berjalan menuju gubuk itu dan sesampainya disana aku melihat seorang wanita berkulit pucat dengan banyak keringat terbaring tak berdaya diatas kasur.


"Dia adalah kakak Elizabeth" ucap Ikhstar dengan nada yang sedikit sedih, Elizabeth segera berlari kearah kakaknya dan memegang tangannya dengan air mata yang mengalir.


"Kakak...aku sudah membawa Sang Penyelamat, dia akan menyembuhkan kakak" (Elizabeth)


Elizabeth tak dapat menahan tangisnya sementara Dewa/Dewi yang lainnya, mereka hanya dapat memasang wajah khawatir dan tatapan sendu.


Kakak Elizabeth membuka matanya dan menatap Elizabeth, dia tersenyum walau terlihat dipaksakan dan menyeka air mata Elizabeth dengan tangan yang terlihat lemah dan gemetar.


"Elizabeth-chan.....sudahlah, jangan menangis" kata kakak Elizabeth dengan suara yang lemah.


"Tapi....kakak" (Elizabeth)


"Jika kau terus menangis.....wajah cantikmu akan hilang" kakak Elizabeth mempertahankan senyumannya dan Elizabeth segera menyeka air matanya sembari menahan tangisan lalu menatapku.


Aku menangguk sebagai balasan dan berjalan mendekati kakak Elizabeth, aku kemudian berjongkok supaya posisi tubuhku setaa walaupun itu jauh dari ekspetasi karena tubuhku saat ini menyamai tinggi bahu Elizabeth.


Kakak Elizabeth sangat terlihat mirip dengan Elizabeth sendiri bahkan pakaian mereka sama namun pakaian kakak Elizabeth cukup mewah dan terkesan dewasa dan dadanya, kurasa itu lebih besar.


"Jadi kau kah kakak Elizabeth"


"Ya" (Elizabeth)


"Bisalah kau berikan namamu ?"


"Um....namaku adalah Mariotte" (Mariotte)


"Mariotte, nama yang bagus"


"Terima kasih atas pujiannya" (Mariotte)


Elizabeth menutup matanya dengan perlahan, aku mengerutkan keningku dan akhirnya meminta sistem untuk bekerja.


'Sistem, bisa kau analisis keadaan Mariotte'


< Baik, memulai analisis >


< 1.....23.....58.....61....77.....89.....99 >


Aku melihat layar sistem dan menunggu waktu analisis selesai.


< Analisis selesai >


< Keberadaan Mariotte saat ini cukup buruk, namun satu hal yang perlu dikhawatirkan yaitu kutukan mulai menyebar keseluruh tubuhnya dan menginfeksi semua bagian organnya >


< Beruntung beberapa kerusakan jiwanya masih tidak terlalu parah >


< Saya sarankan melakukan tindakan pencegahan agar efek kutukan melambat >


'Caranya ?'


< Kita dapat menekan efek kutukannya dengan sihir tapi itu tidak akan terlalu lama >


'Baiklah'


Selama aku berbicara dengan sistem, Elizabeth menatapku dan bertanya sehingga aku keluar dari pikiranku.


"Ashborn-sama, bagaimana keadaan kakakku ?" (Elizabeth)


Elizabeth nampak sangat khwatir dan aku menepuk bahunya dengan lembut, Elizabeth menatapku sekali dan menghela nafasnya dan menenangkan diri.


Aku lalu menatap para Dewa/Dewi tang ada dibelakangku saat ini.


"Keadaan Mariotte cukup beruntung saat ini"


"Maksudmu ?" (Carlos)


"Kutukan yang Mariotte miliki masih belum sepenuhnya menyebar keseluruh jiwanya karena keneradaanya saat ini masih bisa dirasakan"


"Lalu apakah yang harus kita lakukan agar menghilangkan kutukan Mariotte" (Ikhstar)


"Aku akan mencari bahan untuk membuat ramuan penetralisir kutukan ini, tapi untuk saat kita hanya dapat melakukan pencegahan dengan cara menekan kutukannya"


Para Dewa/Dewi menangguk paham aku lalu aku kembali menatap Mariotte yang keadaanya semakin lemah setiap berjalannya waktu.


'Sistem tolong tunjukkan cara untuk menekan kutukan Mariotte'


< Baik, anda harus membuatnya dalam posisi duduk dengan tubuh telanjang dan memasukkan sihir lewat sentuhan pada punggungnya >


'Tunggu telanjang !?, apakah ada cara lain yang lebih bagus ?'


< Sayangnya tidak ada, cara terbaik adalah melakukan sentuhan fisik murni tanpa ada halangan >


'Kurasa ini akan menciptakan kesalahpahaman lagi'


Aku memejamkan mata sebentar dan menghela nafas.


"Aku akan melakukan penekan kutukan, kalian tolong bantu Mariotte untuk duduk karena aku akan memasukkan sihir melalui punggung dan......"


"Dan ?" Ucap para Dewa dan Dewi.


"Tolong buka bajunya agar aku dapat lebih mudah melakukannya"


"Apa !?" (Carlos)


Carlos dan beberapa yang lain nampak terkejut atas gagasan yang kulatan dan salah satu Dewa yang tadi menyangkalku angkat bicara.


"Kau !, apa yang barusan kau katakan, buka bajunya !" (?)


"Ya"


"Apa kau gila ha !" (?)


Geh aku juga sebenarnya tidak ingin melakukan ini.


"Kau hanya akan melakukan hal mesum padanya, kau me—"


"Diamlah !" bentak Ikhstar, Dewa itu segera terdiam lalu Ikhstar menatapku.


"Aku percaya padanya, Elizabeth tolong bantu aku" (Ikhstar)


"Baiklah"


Ikhstar dan Elizabeth membantu Mariotte duduk dan perlahan membuka pakaian atasnya, dan para lelaki hanya mengalihkan pandangan dari dadanya yang besar.


"Dan tolong tutupi area dadanya" ucapku dengan menundukkan kepala.


Mariotte yang mendengar hal itu mengambil selimut dan menutupi dadanya, aku kemudian menatap Mariotte yang sudah siap dan bergeser sedikit kekanan agar lebih mudah melakukan proses penekan.


'Sistem, apakah aku harus melepas wujud rohku ?'


< Tidak perlu, wujud roh anda lebih efektif daripada wujud fisik anda >


'Baiklah kalau begitu, sistem mohon bantuannya'


< Baik, memulai proses >


Aku meletakkan tangan kananku kepunggung Mariotte dan sistem mulai memberikan sihir kepada Mariotte tapi suatu masalah terjadi ketika kami melakukannya yaitu sihir yang diberikan sistem sekana ditolak dan kutukan Mariotte menyerang tanganku.


"Geh itu cukup sakit"


"Apakah anda tidak apa apa ?" (Ikhstar)


"Ya, nampaknya kutukan ini memberikan perlawanan"


'Sistem kita coba lagi'


< Baik >


< Memberikan sihir {Penangkal}, {Anti Kutukan}, {God Healings}, {Perlambatan Waktu}, {Manipulasi Energi Negatif}, {Penghalang Jiwa}, {Jiwa Abadi} >


< Memberikan beberapa buff ketahan fisik dan kesehatan kepada Mariotte, selesai >


< Peringatan ! >


< Kutukan yang Mariotte alami menolak sihit yang diberikan >


< Kutukan Mariotte melawan >


< Peringatan ! >


< Kutukan Mariotte mulai merambat kepada anda >


'Sial ini merepotkan, sistem berapa lama lagi ?'


< Mohon tunggu sebentar >


< ................ >


< Selesai >


Aku segera melepaskan tanganku dari punggung Mariotte dan menatap tangan kananku yang sakit.


< Peringatan ! >


< Kutukan Mariotte telah mengenai anda >


'Apa !?, sistem bisakah kau hilangkan'


< Tentu, karena efeknya tidak terlalu kuat saya dapat melakukannya >


< Memulai penetralisiran >


< Mohon tunggu....................selesai >


< Kutukan pada anda telah dinetralkan >


'Syukurlah'


Aku menghela nafas lega, Dewa/Dewi menatapku dengan tatapan heran dan Elizabeth bertanya.


"Apakah sudah selesai ?" (Elizabeth)


"Ya, aku telah melakukan penekanan untuk sementara"


"Syukurlah" Elizabeth berkata sambil bernafas lega sepertiku.


"Dan untuk kalian aku akan pergi mencari bahan untuk kutukan ini, kuharap kalian menjaga Mariotte"


"Tentu" (Ikhstar)


Aku berdiri dan berjalan keluar gubuk dan mejauh dari sana lalu menatap langit sebelum akhirnya memanggil sistem.


"Sistem, apakah kau mendapat lokasi dari bahan bahan untuk Rebirth Potion"


< Tentu, saya sudah mendapatkan lokasi dari ke-5 bahan >


< Yang manakah bahan yang ingin anda ambil terlebuh dahulu ? >


"Yang terdekat dulu"


< Baik >


< Menggunakan skill [Dimension Break] >


Sebuah retakan muncul diudara didepanku dan itu segera pecah layaknya kaca dan membuat sebuah portal.


“Waktunya bekerja”


Aku berjalan masuk kedalam portal dan portal itu segera hilang seperti itu memang tidak pernah ada.


...


Disisi lain dari dimensi yang tidak diketahui asal usulnya.


Sebuah bayangan berbentuk manusia namun memiliki sklera mata hitam dengan iris merah darah dan pupil bulat hitam.


“Nampaknya dia sudah bergerak” ucap bayangan itu, suaranya menggema keseluruh daerah tempat dia berada.


Tempat itu terlihat seperti ruang takhta raja dengan sebuah singgahsana.


“Kalian semua.....” (?)


Bayangan itu berbalik menatap 5 orang yang tubuhnya sama sama tertutupi bayangan namun dengan bentuk manusia dimana itu diisi oleh 3 pria dan 1 wanita.


“Salah satu dari kalian pergilah, dan hentikan dia untuk mengumpulkan ke-5 bahan tersebut” (?)


Salah satu bayangan pria berdiri tegak dengan mata merahnya yang menyala dan 2 tanduk melengkung mengarah keatas.


“Saya yang akan melakukannya, Tuan”


“Kalau begitu pergilah, Kin” kata dia dengan mata yang menyipit.


Bayangan yang bernama Kin membungkuk untuk memberi hormat lalu segera pergi keluar dari ruangan.


Bersambung.