
Sudah 15 hari berlalu sejak aku kembali dari dunia lain ke dunia Tensura.
Festival akan dimulai dalam beberapa hari labirin Ramiris juga sudah selesai dan saat ini menciptkan gelang pembangkitan hanya menunggu waktu saja sebelum gelang itu jadi.
Dan aku cukup terkejut mendengar Masayuki telah disummon kedunia ini, kukira waktu dia akan datang nanti cukup terlambat yah baguslah dengan kehadiran Masayuki nanti masalah dengan kekaisaran Timur akan sedikit mudah.
Rimuru mengundang semua anggota Octagram,aku juga menghubungi Yuuki dan Zenovia untuk pergi ke Tempest saat festival nanti sekaligus membawa para murid untuk bersenang senang.
Seperti biasa aku jalan jalan sambil melihat penduduk Tempest beraktivitas sampai pada malam hari aku pergi kepenginapan dan tidur.
...*Suara tetesan air*...
Aku terbangun didalam kegelapan dan saat menggerakkan tubuhku, rasanya sangat berat saat aku melihat kebadanku.
Sebuah rantai melilit semua tubuhku aku mencoba menggerakkan tubuhku namun hanya sedikit saja yang bergerak.
Aku menatap kebelakang dan mencari tahu dimana letak dari ujung rantai tersebut tapi yang kulihat hanyalah rantai tak berujung didalam kegelapan itu.
...*Suara tetesan air*...
"Apa yang kulakukan disini"
Hanya itulah kata kata yang dapat aku keluarkan, aku tak tau harus berbuat apa, aku sangat bingung.
Semua isi pikiran kosong aku tak dapat berpikir apapun.
Rantai ditubuhku sedikit bergerak seakan melonggar kemudian aku melangkah satu kali.
...*Suara tetesan air*...
Suara tetesan bergema keseluruh tempat, aku menatap kebawah dan melihat bayangan diriku dari genangan air.
Seorang pria yang tak berekspresi tak memiliki perasaan itulah yang kulihat dari diriku sendiri, aku memegang rantai yang melilit diriku dan mencoba melepaskan rantai tersebut tapi tidak bisa.
Aku tidak bisa melepaskan rantai tersebut, tubuhku bergetar layaknya ketakutan, aku tak dapat merasakan apapun dari telapak tanganku, apakah tubuhku mati rasa.
"Apa aku ini ?"
...*Suara tetesan air*...
Aku hanya bisa meratapi diriku yang mirip seperti orang mati, mataku tak menunjukkan apapun kecuali kekosongan.
"Semuanya terasa hampa"
...*Suara rantai bergerak*...
Rantai pada tubuhku bergerak seperti kereta pada relnya dan ketika aku berbalik aku dapat melihat rantai yang menurun.
Rantai tersebut melonggar kemudian aku memegang rantai tersebut dan menariknya.
Setelah beberapa menit aku berhenti menarik rantai tersebut karena tak ada habisnya jadi aku memutuskan berjalan kearah depanku menuju kegelapan.
Aku berjalan dan terus berjalan, aku tak tau berapa lama aku berjalan tapi aku tetap berjalan.
Sunyi dan kesendirian itulah yang kurasakan padahal aku tak merasakan apapun.
...*Suara tetesan air*...
Saat tetesan air terdengar seluruh tempat ini berubah menjadi tempat lain, sebuah tempat yang mirip gurun tapi semuanya hanyalah bebatuan.
"Entah mengapa tempat ini cukup familiar bagiku"
Aku berjalan kedepan sambil melihat sekitarku dan tak menemukan satupun kehidupan semuanya sama seperti tadi, sunyi dan hampa semuanya hanyalah kekosongan.
...*Suara rantai bergerak*...
Rantai yang awalnya longgar mengencang dan menarik mundur, aku mencoba bertahan tapi tak bisa, tubuhku seakan tak berdaya.
Apakah aku lemah, apakah aku takut, apakah aku khawatir, aku tak tau apapun.
Rantai yang menarikku berhenti dan seketika tempat yang hanya sebuah wilayah tak berkehidupan kini berubah menjadi tempat yang dipenuhi mayat monster dan ksatria perak.
Darah ada dimana mana, tubuhku yang bersih kini bersimbah darah, aku merasa takut tubuhku kembali bergetar tapi dengan cepat semua perasaan itu menghilang seakan ditelan bumi.
Bau dari darah dan besi menyengat dihidungku.
Aku berjalan tanpa arah tujuan dan hanya melihat mayat dari perang.
Benar tempat ini adalah tempat dimana Ruler dan Monarch bertarung sekaligus tempat dimana aku bertarung dengan yang lainnya.
Disaat aku berjalan aku merasa kakiku seperti dipegang jadi aku berhenti dan melihat apa itu.
Monster yang dipenuhi luka dan sekarat memegang kaki kananku dan aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong.
"Ktr&$!?-€+#\£kmeb*]#•£!"
Aku tak apa yang dia katakan, tanganya bergetar aku mencoba melepaskan kakiku tapi monster itu memegang dengan erat.
Aku melihat sekeliling dan menemukan sebuah pedang menancap ditubuh monster yang mati jadi aku mengambilnya dan mengarahkannya keatas kepala monster tersebut.
"Mo——" (Monster)
Sebelum dapat berkata aku menusukkan pedang menembus kepalanya dan darah bewarna ungu dengan bau amis keluar.
Tangan monster itu perlahan lahan melemah sampai tanganya melepas kakiku dengan sendirinya.
Setelah membunuh monster itu aku melihat kembali tumpukan mayat mosnter dan ruler yang mati, ada sedikit yang masih hidup jadi aku mendekati mereka baik itu dari pihak minster atau Ruler aku membunuh mereka tanpa ekspresi dan kekosongan.
Disaat aku ingin membunub mereka, mereka berkata sesuatu yang tidak kupahami dan aku mencoba mencari arti dari kata kata mereka namun percuma.
"Semuanya kembali sunyi"
Angin menerpaku dengan lembut dikelilingi mayat dan darah, aku menatap pedang yang kupegang dan melepaskannya lalu berjalan keberbagai arah tanpa ada tujuan.
Aku tak tau berapa lama aku ada disini tapi rasanya sangat lama.
Entah itu mimpi atau bukan tapi aku berharap agar segera bangun.
Aku terus berjalan sampai menemukan sebuah tembok batu kemudian menyentuhnya.
...*Suara tetesan air*...
Setelah tetesan air terdengar tembok batu yang kupegang berubah menjadi pintu besar dan terbuka jadi aku masuk kedalam.
Saat sampai didalam aku melihat ruang takhta kosong dengan beberapa senjata disekitarnya dan ada beberapa senjata yang menamcap ditakhta tersebut.
"Absolut"
Tempat ini adalah tempat dimana Absolut tewas duduk ditakhtanya.
Aku berjalan menuju takhta dan memegangnya, aku dapat merasakan dingin pada kursi takhta tersebut dan debu.
Hal itu wajar karena tempat ini sudah lama ditinggalkan mungkin ruang takhta yang dulunya cerah kini berubah menjadi gelap dan sunyi.
Kemudian aku berjalan melihat sudut lain dari ruang takhta dan menemukan sebuah kaca dengan pinggir emas.
Kaca tersebut dipenuhi debu jadi aku mengusap dan meniupnya agar debu tersebut hilang.
“..........”
Aku terdiam tak bisa berkata apa apa saat melihat diriku dalam cermin, yang terpampang jelas hanyalah sesosok orang berarmor hitam dengan dengan jubah hitam dan rambut ungu seperti nyala api.
Aku menyentuh kaca tersebut dan hanya menatap dengan tatapan kosong.
Rantai pada tubuhku kembali bergerak dan menraik diriku namun kali ini aku dapat bertahan tapi tangan kiriku telah ditarik dan aku bersikeras bertahan, aku menatap diriku dalam bentuk Ashborn dan entah aku sedikit merasa marah dan sedih.
“AARRGHH !”
Aku berteriak dan memukul cermin tadi hingga pecah, dan ketika cermin tersebut pecah aku berpindah tempat ke sebuah ladang bunga.
Aku melihat sekeliling dan menemukan sebuah pohon besar dan dibawahnya menamcap sebuah bendera putih yang agak rusak dengan bercak darah.
Aku menatap tubuhku yang diselimuti rantai dan menggenggan kedua tanganku kemudian berjalan menuju pohon.
Suara dari rantai yang bertubrukan satu sama lain dapat terdengar jelas olehku namun aku tak peduli dengan itu, aku terus berjalan menuju pohon tersebut dan ketika sampai sebuah angin lembut menerpaku seketika tubuhku yang penuh darah hilang walaupun rantai yang melilitku masih ada.
Aku mengarahkan tangan kananku kebendera tersebut tapi rantai ditubuhku menarikku kembali.
Kali ini aku mencoba bertahan sekuat tenaga, aku sedikit tertarik tapi aku melangkah menuju bendera.
Setiap langkah yang kulakukan akan menyebabkan rantai yang menarikku semakin kuat.
Dan ketika sudah sangat dekat aku memegang bendera tersebut memakai kedua tanganku seketika rantai yang ada ditubuhku menggila.
Rantai tersebut makin banyak dan mulai melilit diriku dengan kuat tubuhku yang mati rasa kini merasakan sakit yang luar biasa akibat lilitan rantai.
“KUGH !”
Sebuah rantai tiba tiba melilit leherku dan menarikku namun aku tetap berpegangan pada bendera itu.
Kedua tanganku mulai dipenuhi rantai bahkan tangan kiriku sudah remuk akibat lilitan rantai yang kuat.
“KGH !”
*KRACK*
Bahkan suara retakan tulangku dapat terdengar ini buruk.
“Ah !, Persetan dengan ini semua !”
Karena terlalu lemah aku melepas bendera tersebut dan diriku ditarik ketengah ladang.
Kedua tangan dan kakiku dililit rantai dan membuatku tak bisa bergerak.
“Cogh ! Uhuk ! Uhuk !”
Aku batuk darah akibat tidak bernafas, aku mencoba bernafas tapi itu sangat susah akubat nafasku yang tak beraturan.
“Sialan”
Aku mencoba menggerakkan tangan kananku tapi tidak bisa tarikan rantainya sangat kuat.
“Kenapa kau mencoba untuk melepaskan rantai takdir yang mengekangmu” (?)
Suara siapa itu dimanakah asal suara itu
“Kau tidak perlu mencariku” (?)
“Siapa kau ?”
“Kau tidak perlu tau aku tapi kenapa kau ingin melepas rantai takdir yang mengekangmu ?” (?)
“Rantai takdir ?, apa maksudmu ?”
“Rantai yang mengekang dirimu adalah rantai yang takdir yang akan terus mengekang dirimu ditempat yang sama, baik itu kehidupan sebelumnya atau sekarang dirimu akan berakhir ditempat yang sama” (?)
“Jadi itukah alasan kenapa setiap kehidupanku selalu buruk”
“Benar” (?)
Pantas saja dikehidupan sebelumnya dan saat ini aku cukup menderita.
“Aku tanya sekali lagi mengapa kau mencoba melepas rantai takdir milikmu ?” (?)
“Entahlah”
“........” (?)
Sial bagaimana caranya aku dapat melepas rantai takdir ini sialan, pikiranku cukup kacau saat ini.
Berpikirlah diriku berpikir, apakah ada cara agar aku dapat melepas rantai konyol ini.
.........
.........
.........
.........
.........
.........
.........
.........
“Ryu ingatlah ini, apa tujuanmu tetap melangkah kedepan, apa tujuanmu tetap kuat melangkah, apa tujuanmu dari melakukan itu dan jawaban dari itu adalah untuk melindungi orang yang kau cintai baik itu teman atau keluarga mengerti”
”Baik ayah”
”Bagus”
.........
.........
.........
.........
.........
.........
.........
.........
Ayah kau benar, alasan kenapa aku melangkah dan kenapa aku bersikeras tetap melangkah walaupun harus menahan sakit.
“Hey suara aneh”
“?” (?)
“Asal kau tau saja, aku tak suka berdiam disatu tempat saja”
Dengan sekuat tenaga aku berusaha menggerakkan tubuhku yang dikekang oleh rantai walaupun aku harus menaha rasa sakit.
“Kenapa kau tetap bersikeras melakukan itu” (?)
“Diamlah !”
“Jangan pernah menyerah Ryu, kau pasti bisa”
“HAAAAAA !”
Ketika aku menggerakkan tubuhku rantai yang mengekangku mengendur dan menjatuhkanku tak membuang kesempatan aku langsung berlsri menuju bendera itu dan memegangnya sekali lagi.
Sama seperti tadi banyak rantai yang muncul dan menjerat tubuhku lalu menarik.
“Akan kuberitahu satu hal, rantai itu tak bisa dilepas” (?)
“Jika aku tidak bisa melepas rantai ini !, maka akan kuhancurkan saja”
“RANTAI SIALAN INI !”
Rantai yang menjerat diriku terlepas kemudian dengan tangan kananku, aku melepas bendera yang menamcap ditanah dan membuat rantai yang ingin menjeratku tidak jadi melakukan itu.
“Ha.....ha......berhasil”
Seluruh tempat ini tiba tiba perlahan menghilang menjadi butiran cahaya emas yang terbang keudara.
Sampai semuanya habis dan aku terbangun dari tidurku.
“Mimpi”
Aku berangkak dari kasurku dan berjalan menuju kamar mandi untuk mandi setelah itu aku mengganti pakaianku dan membuka jendela.
Pemandangan yang kudapatkan sangat meriah, orang orang saling tertawa dengan riang banyak orang dari berbagai ras datang itu karena hari ini adalah Festival.
“Kurasa aku harus menikmatinya, sistem jam berapakah sekarang ?”
< Saat ini baru pukul 07.32 >
“Yosh waktunya makan”
Aku langsung turun kebawah dan menikmati festival yang meriah di kota Tempest.
.........
.........
.........
.........
.........
.........
Sementara itu disebuah tempat tak dikenal seorang sedang mengawasi festival dari bola kristal.
“Kukuku, akhirnya tiba juga saatnya” (?)
“Ashborn bersiaplah, aku akan mengacaukan acara itu dan membunuhmu” (?)
“Hahahahahahaha !” (?)
Pria itu tertawa terbahak bahak sebelum dia menghilang dalam kegelapan dan hanya meninggalkan bola kristal yang menunjukkan Ashborn yang sedang menikmati festival
Bersambung.