
...~HAPPY READING~...
Dua Jam berlalu. Film telah selesai diputar, Steve dan Kai memasang wajah pucat dan sementara Penelope malah tertidur di karpet berbulu itu.
Hari sudah menunjukkan pukul 8 malam dan seharusnya mereka memasuki kamar mereka untuk belajar atau tidur, tapi karena film horor tadi mereka berdua masih berdiam diri disamping Penelope.
Penelope yang menantang Steve untuk menonton film ini malah tiba-tiba tertidur saat film sudah mau habis. Masalahnya Penelope kalau tidur tuh cosplay jadi mayat alias susah dibangunin dan Steve malas untuk membangunkan Penelope.
Steve dan Kai saling bertatapan, adegan film horor tadi masih terekam dengan jelas di otak mereka. Mereka berdua menatap sekelilingnya yang sangat sepi karena hanya ada mereka bertiga diruang tengah ini, para pembantu juga sudah kembali ke asrama mereka yang terletak di belakang Mansion.
"Aku haus." kata Kai.
"Yasudah ambil minum di dapur sana."
Kai terdiam, jarak antara ruang tengah dan dapur lumayan jauh. "Aku tidak berani, aku masih mengingat film tadi." ujar Kai yang menunduk takut. Kai ini memang anak yang polos dan lugu, ia juga anak yang jujur.
Steve menghela nafas. "Kau ini, ayo ku temani." Steve bangkit dari duduknya, mendengar Steve akan menemaninya tentu saja hal itu membuat Kai senang.
Kai juga bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Kai. Namun baru saja mereka berjalan setengah langka tiba-tiba lampu di kediaman itu mati.
Gelap. Sangat gelap, mereka tidak bisa melihat apapun.
"Eto... Steve?"
"Aku disamping mu, diam lah!" Steve agak berdecak, jantungnya berdetak kencang.
Bukankah kalau mati lampu begini biasanya ada sesuatu yang menyeramkan terjadi? Seperti difilm-film.
Ah, tidak, tidak. Steve menggelengkan kepalanya. Itu hanya terjadi di film bukan dunia nyata, tidak mungkin cerita seperti difilm-film terjadi di dunia nyata. Apalagi Steve adalah bangsa Werewolf masa takut sama hantu.
Jeder! Petir menyambar diluar, kilatan cahaya terlihat dari jendela yang belum di tutup korden.
Steve dan Kai secara spontan langsung berpegangan tangan, jantung mereka berdua berdebar kencang.
Sial, kenapa disaat-saat seperti ini Steve malah teringat dengan film yang tadi? Padahal kalau menonton film horor niatnya Steve mau menakut-nakuti Penelope tapi kenapa malah dirinya yang ketakutan sendiri sekarang?
"Steve, Steve." panggil Kai sembari menggoyangkan lengan Steve pelan.
"Ada apa?"
"Kau dengar suara itu?" suara Kai agak bergetar sepertinya ia memang takut.
"Jangan bicara apapun Kai, aku tidak dengar apapun. Sudahlah sebaiknya sekarang kita ke asrama para pekerja saja dan bertanya kenapa listriknya mati."
"Apa kau tidak bisa menggunakan sihir mu untuk membuat cahaya?" kata Kai.
"Kau bercanda ya? Kita tidak boleh memakai sihir di dunia manusia. Sudahlah ayo pergi." Steve menarik tangan Kai dan mereka berdua berbalik berniat untuk pergi dari tempat itu—
"HUWAA..."
"Bwhahaha..." suara tawa menggelegar di ruangan itu. Penelope tertawa terbahak-bahak karena berhasil menakut-nakuti kedua orang ini.
Penelope mengangetkan mereka dengan menyoroti senter ke wajahnya sendiri.
"Kau! Dasar sialan kau bebek!" omel Steve kesal. Ia memegang jantungnya yang hampir copot, untungnya gk copot beneran.
"Kenapa kau marah-marah? Katanya kau tidak takut." ejek Penelope yang sekarang berusaha mengontrol tawanya.
"Aku terkejut bukan takut!" elak Steve, mungkin kalau lampu menyala mereka semua bisa melihat wajah Steve yang memerah karena malu.
"Benarkah?" ejek Penelope.
"Bukankah kau tadi tidur?" kali ini Kami yang membuka suaranya.
"Aku terbangun saat mendengar suara petir. Kalian mau ke asrama belakang kan? Ayo kita kesana."
Penelope berjalan lebih dulu, ia yang memimpin jalan. Steve agak heran karena sepanjang perjalanan Penelope tidak berbicara apapun dan hanya terdiam saja, sesekali Penelope bersenandung kecil.
"Bukan kah Pene agak aneh?" bisik Kai. Padahal biasanya Penelope akan selalu memulai pertengkaran tapi kali ini ia hanya diam saja.
Steve tidak menjawab dan hanya mengangguk. Hingga akhirnya mereka pun berhasil keluar dari rumah itu, ternyata hujan turun dengan deras beruntung di teras mereka ada atapnya jadi mereka tidak terlalu terkena hujan.
Tapi ketika mereka berjalan melewati taman dan menuju ke belakang Mansion sebuah suara menginterupsi mereka dan membuat langkah mereka berdua terhenti.
"Tuan Muda! Kalian mau kemana? Kami mencari kalian kemana-mana." ucap salah seorang wanita tua sembari membawa senter dan berlari-lari kecil menghampiri Kai dan Steve.
Namun yang membuat mereka terkejut bukanlah kehadiran beberapa pelayan itu namun Penelope yang tengah di gandeng oleh salah satu pelayan.
Wajah Kai dan Steve mendadak pucat, mereka terdiam seribu bahasa.
"Beruntung Nona muda ini ke asrama pelayan, kenapa kalian meninggalkan nona muda sendirian?!" omel pelayan itu.
Penelope sendiri hanya terdiam sambil menguap kecil dan mengucek-ngucek kedua matanya. Terlihat dengan jelas jika Penelope baru bangun dari tidurnya.
Kai dan Steve menoleh ke belakang dan kemudian namun ia tidak melihat siapapun disana, bahkan Penelope yang mengantar mereka tadi juga tidak ada.
"Kalian kenapa?" tanya Penelope dengan suara serak khas orang bangun tidur. Penelope menatap mereka berdua dengan heran.
Setelah hari itu Steve dan Kai terkena demam selama 4 hari dan juga sejak saat itu Steve membenci hantu.
...~END~...