My Mate {END}

My Mate {END}
Chapter 25



...~Happy Reading~...


Penelope terbangun dari tidurnya, ia menatap keluar jendela yang menampakkan langit malam.


Sudah berapa lama Penelope tertidur? Ia juga tidak tau. Yang jelas tenggorokannya sangat kering sekarang. Penelope memposisikan dirinya untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang. Ia menoleh ke arah kirinya dan melihat Steve yang tertidur sambil memegang tangannya.


"Aku butuh air." Gumam Penelope sambil berusaha mengambil segelas air yang tergeletak diatas meja, tangannya gemetar.


Hampir saja ia berhasil meraih gelas itu, sebuah tangan menahan pergerakannya. Steve terbangun dari tidurnya dan menatap Penelope.


Steve tidak berkata apapun ia membantu Penelope mengambil segelas air itu dan tentu Penelope menerimanya dengan senang hati.


"Harusnya kau membangunkan ku."


"Kau tertidur, aku tidak tega. Kau pasti lelah setelah berperang." Penelope menundukkan kepalanya. "Maafkan aku." Gumamnya lirih, ia merasa bersalah. Kalau saja dirinya lebih berhati-hati dan kalau saja Penelope lebih kuat.


"Untuk apa kau minta maaf?"


"Itu..."


"Karena kau diculik?" Penelope mengangguk menjawab pertanyaan Steve. "Pene..." Panggil Steve lembut, Steve menangkup wajah Penelope dan memaksanya untuk melihat dirinya.


Penelope menangis tanpa suara membuat hati Steve sakit, seharusnya Steve bisa menjaga wanita itu. Lebih baik jika Penelope berteriak, berkata kasar ataupun memaki dirinya seperti biasa daripada harus menangis seperti ini.


"Kau itu pasangan ku, karena itu sudah kewajiban ku untuk menjaga mu." Steve menghapus air mata yang mengalir di wajah Penelope, tanpa pria itu sadari dirinya juga ikut menangis. "Penelope, aku mencintaimu jadi maafkan aku karena aku tidak bisa melindungi mu."


Steve membawa Penelope kedalam pelukannya, mereka menangis bersama. "Aku mencintaimu, Pene."


"Aku tau, hiks..."


Pada malam itu mereka berdua menumpahkan segala isi hati mereka. Keheningan yang melanda membuat mereka tau kalau mereka menanggung bebannya masing-masing.


Penelope yang merasa dirinya tak berguna dan Steve yang merasa dirinya gagal menjaga wanita itu.


...🐺🐺...


Penelope menyandarkan kepalanya di bahu Steve dan Steve memeluk tubuh Penelope sambil sesekali mengusap perutnya yang masih datar.


Apa Penelope tau kalau dirinya hamil? Sepertinya tidak.


"Tadi perut ku sempat sakit—"


"Sekarang tidak apa-apa kan? Haruskah kita ke dokter?" Steve memotong ucapan Penelope.


"Sekarang aku baik-baik saja, sepertinya karena terlalu terkejut perut ku jadi sakit." Penelope tertawa kikuk. Senang rasanya melihat Steve yang sangat mengkhawatirkannya.


"Kau sedang mengandung Pene."


Penelope terdiam dan tak menjawab apapun, mungkin Penelope masih terkejut dengan kabar ini.


Penelope mendongak menatap wajah Steve, mereka saling bertatapan. "Kau bilang apa? Sepertinya aku salah dengar." Penelope menggaruk telinganya yang tak gatal. Ia sedang memastikan indera pendengarannya.


"Kau sedang hamil."


"Kau hamil?" Mata Penelope membelalak terkejut.


"Kau pikir aku bisa hamil?!" Kata Steve tak habis pikir. Apa karena di culik otak Penelope jadi semakin eror?


"Anak siapa?"


Steve lagi-lagi terkejut mendengar ucapan wanita itu. Benar-benar Steve harus sangat bersabar. "Apa kau berhubungan dengan pria selain diri ku?!"


"Apa?! Tentu saja tidak! Aku hanya memastikan!"


"Harusnya aku yang memastikan! Kenapa jadi kau?!"


"Maksudnya kau menuduh ku selingkuh?!"


"Kapan aku menuduh mu?!"


"Aku tidak selingkuh! Tidak ada yang lebih besar dari mu!!"


Wajah Steve seketika memerah. Kenapa pikirannya jadi kesana sih?!


"Apanya yang besar?! Jangan ambigu dong!"


"Haruskah aku perjelas?!"


"Tidak jangan!"


"Yang besar itu—"


"Hentikan!! Aku tidak mau dengar!" Steve menutup kedua telinganya dengan wajah yang sangat merah seperti tomat.


"Dengar dulu!"


"Tidak mau!!"


"Pene!!"


...~BERSAMBUNG~...