
...~Happy Reading~...
^^^Penelope (4 Tahun)^^^
^^^Steve (6 Tahun)^^^
"Penelope sayang, perkenalkan. Ini adalah putra tunggal Tante Elsa dan Paman Cristopher. Ayo perkenalkan dirimu." Kata Selena dihadapan seorang gadis kecil yang dikuncir dua dan seorang anak lelaki yang cukup tinggi untuk anak seusianya.
"Mama, dia seperti jerapah." Tunjuk Penelope yang membuat anak lelaki itu kesal.
"Penelope kau tidak boleh begitu pada orang yang baru kau temui?" Tegur Selena yang membuat kedua temannya tertawa.
"Tidak apa, Steve memang sangat tinggi untuk anak berumur 6 tahun. Dia bahkan paling tinggi diantara teman-teman sekelasnya." Ucap Elsa, ibu Steve.
"Jerapah." Tunjuk Penelope pada Steve.
"Dari pada kau bebek."
"Bebek itu lucu, orang-orang lebih menyukai bebek daripada jerapah."
Steve tersenyum sinis. "Iya orang-orang menyukai bebek untuk dijadikan makanan. Suatu saat nanti kau juga akan dijadikan sate bebek." Steve tertawa jahat. Ucapan Steve mampu membuat Penelope menatapnya takut.
"Huwaa... Mama..."
"Steve!"
Steve mengabaikan teguran ibunya dan menjulurkan lidahnya mengejek Penelope.
...🐺🐺...
^^^Penelope (8 Tahun)^^^
^^^Steve (10 Tahun)^^^
Buak. Boneka bayi itu melayang dan mendarat diwajah Steve.
Penelope menatap Steve dengan tajam ketika anak itu menghina boneka bayinya yang lucu.
Steve mengambil boneka bayi milik Penelope yang terjatuh. "Memangnya ucapan ku salah? Boneka ini memang menyeramkan seperti wajah mu." Ejeknya yang membuat kesabaran Penelope habis.
Penelope kembali merebut boneka miliknya dengan kasar. "Mata mu buta ya?! Lihat boneka ku baik-baik." Ia melotot sambil memamerkan boneka bayinya.
"Apa? Mau dilihat seribu kali pun Boneka itu menyeramkan, kau harus menerima kenyataannya."
"Apa?!"
Buk... Buk... Penelope memukuli Steve dengan boneka miliknya. Ia sangat kesal. Steve meringis agak sakit karena boneka tersebut terbuat dari silikon.
"Kai, lihat ini baik-baik apa boneka lucu ku itu menyeramkan?" Nada bicara Penelope sangat dingin dan tatapannya tajam. Ia menyodorkan wajah boneka bayinya dihadapan Kai.
"Huwaa Pene! Itu memang menyeramkan." Sangking seramnya Kai sampai berjalan mundur karena takut.
"Kau!"
Buak. Lagi-lagi Penelope memukul Kai dengan boneka bayi. Kai yang terkena pukulan itu memegang keningnya yang terasa sakit dan agak memerah.
"Pene, kau hikss.. keterlaluan... Huwee... Huhuhu hikss..." Ia menangis namun Penelope malah terlihat puas.
"Kalau kau bersikap kasar begitu nanti tidak ada yang mau menikah dengan mu." Ejek Steve membuat Penelope kembali menatapnya dengan kesal
Buk... Buk... Buk...
"Aw... Hey itu sakit hentikan!" Bukannya berhenti Penelope malah semakin menjadi memukuli Steve, melampiaskan amarahnya.
"Astaga! Pene!!"
...🐺🐺...
^^^Penelope (14 Tahun)^^^
^^^Steve (16 Tahun)^^^
"Ini kunjungan terakhir kami." Kata Elsa sembari menatap Selena. Keluarga Cameron berpamitan dengan keluarga Cruz karena mereka mau pergi ke Hawai dan tinggal disana.
"Wah, Penelope pasti kesepian karena tidak ada teman."
Mendengar ucapan ibunya Penelope langsung melotot dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kenapa aku harus merindukan jerapah?" Katanya dengan sinis membuat Steve jadi kesal.
"Kau pikir aku akan merindukan bebek seperti mu?!"
"Hei! Kau pasti akan merindukan ku, aku ini orang yang ngangenin."
"Bahkan dalam mimpi pun aku tidak akan merindukan mu tau!"
"Oh benarkah?! Bagaimana jika kita lihat nanti?! Kau akan menyesal telah berjauhan dengan ku!"
Mereka berdua saling bertatapan dengan tajam, seolah-olah ada aliran listrik yang mengaku di antara mata mereka.
Setelah itu mereka berdua tidak pernah lagi saling bertemu dan bahkan mereka sudah melupakan wajah masing-masing.
Sampai akhirnya Penelope bertemu lagi dengan Steve di hutan dan mereka berdua secara spontan langsung saling mengenal.
...~BERSAMBUNG~...