My Mate {END}

My Mate {END}
II. Epilog [Pangeran Kembar]



...~Happy Reading~...


Suara kaki berlari terdengar dengan sangat jelas di lorong itu membuat para pelayan harus berteriak memanggil nama mereka, namun sayangnya mereka mengacuhkan panggilan tersebut.


BRAK. Pintu terbuka lebar kedua anak kembar itu menatap orang tuanya yang masih berada di ruang kerja dengan tatapan datar.


Theodore Cameron dan Thomson Cameron, anak kembar berusia 4 tahun.


"Kalian kenapa?" Tanya Penelope yang langsung bangkit dari pangkuan Steve dan berjalan mendekati kedua putranya.


Theo dan Thom, walaupun mereka kembar tapi mereka memiliki sifat yang berbeda.


Theo itu manja, Thom itu mandiri, Theo itu suka bertarung dan Thom suka sihir. Persamaan sifat mereka hanya satu yaitu sama-sama gk waras. Gen sifat gila Penelope menurun pada mereka.


Thom menunjuk kearah Theo dengan marah. "Theo merusak buku sihir ku." Kata Thom dengan kesal sambil memperlihatkan buku sihirnya yang rusak.


"Ya ampun kalian ini." Penelope memijat keningnya, kepalanya pusing sekali karena si kembar selalu bertengkar.


Steve juga menghela nafas ia bangkit dari duduknya dan berjalan kearah mereka. "Thom, nanti ayah berikan lagi buku sihir baru untuk mu dan Theo kau harus minta maaf pada Thom."


Theo menunduk, kedua matanya berkaca-kaca dan hidungnya memerah. "TIDAK MAU!! ITU SALAH THOM YANG TIDAK MAU BERMAIN DENGAN KU!!" Teriakan Theo menggelegar membuat Penelope dan Steve terkejut.


Bukk... Duk... Theo mendorong tubuh Thom dengan kesal hingga anak itu terjatuh dan kepalanya terbentur pintu. Theo yang tak bermaksud mendorong Thom dengan kencang pun terkejut.


"Ah..."


"Ya ampun Thom." Penelope dengan sigap membantu Thom berdiri, ia menggendong Thom sambil mengusap-usap kepalanya yang terbentur tadi.


Kedua mata Thom berkaca-kaca. "Huwee.... Huhuhu... Hikss..." Thom menangis.


Theo merasa bersalah, namun bukannya minta maaf Theo malah berlari keluar sambil menangis. "HUWAA... AKU BENCI THOM."


Duh, tingkah mereka membuat Steve dan Penelope sakit kepala.


...🐺🐺...


"Ibu, kenapa kami harus bersaudara?" Tanya Thom yang kini tangisannya sudah mereda.


"Eh? Kenapa ya? Mungkin karena takdirnya memang begitu." Jawab Penelope bingung.


"Tidak bisa mengerti orang lain adalah hal yang wajar."


"Lalu bagaimana bisa ayah dan ibu saling mengerti padahal kalian suka bertengkar?"


Penelope tersentak dengan serangan fakta itu. "Tentu saja dengan meminta maaf dan berkomunikasi. Kau harus bertanya pada saudara mu apa yang dia inginkan, kau mungkin suka saat sedang sendiri. Tapi kau memiliki keluarga dan orang-orang yang kau sayang, luangkan waktu untuk mereka."


"Ibu ingin, kau dan Theo selalu akur dan bersama seperti ini. Kau dan Theo saling harus melindungi. Ibu juga ingin anak-anak ibu tumbuh dengan cinta dan kasih sayang seperti selama ini ibu dapat kan. Kau mengerti kan?" Thom menatap Penelope kemudian mengangguk.


"Aku mengerti."


Penelope tersenyum puas "Pintar nya, sekarang ayo temui ayah dan Theo. Mereka pasti sedang menunggu."


"Iya."


...🐺🐺...


"Theo." Panggil Steve lembut ketika melihat Theo berjongkok di depan hamparan bunga mawar. Rupanya anak itu bersembunyi di rumah kaca Penelope.


"Ayah?" Theo terlihat habis menangis, tangannya mungilnya terlihat sedang mencabuti rerumputan.


Steve ikut berjongkok di samping Theo, ia meraih tangan Theo dan membersihkan tangan Theo menggunakan sapu tangan miliknya.


"Kau marah karena Thom tidak bermain dengan mu?" Tanya Steve yang membuat Theo mengangguk.


"Aku ingin Thom terus bermain dengan ku, ayah dan ibu sibuk, bermain dengan para pelayan tidak begitu menyenangkan. Aku ingin bermain dengan keluarga ku, memangnya aku salah?"


"Tidak Theo, maaf kalau selama ini ayah dan ibu sibuk. Apa kau tau? Kau jelas boleh bermain dengan keluarga mu tapi kau harus membicarakan itu baik-baik dengan Thom. Melampiaskan kekesalan mu dengan merusak barang milik orang lain bukan hal yang bagus, apalagi kau menggunakan kekerasan pada saudara mu."


"Aku tau jika aku salah, tapi aku benar-benar kesal."


Steve tersenyum tipis. "Tidak masalah, tapi lebih baik kalau kau minta maaf setelah menyadari kalau kau salah dan bukannya malah lari, kau tidak boleh lepas tanggungjawab atas perbuatan mu."


"Aku mengerti ayah, aku akan meminta maaf pada Thom." Steve tersenyum puas. Anak-anak nya mudah mengerti.


...~BERSAMBUNG~...