
Sebelumnya Choco mau memperingatkan, kalau kalian gk suka sama yang sedih-sedih lebih baik gk usah baca chapter ini.
Tapi karena Choco suka sama yang angst jadi Choco bikin chapter ini hahaha... Jadi kalau kalian gk suka lebih baik gk usah ya guyss π
.............
.......
.......
...~Happy Reading~...
"Theo." Panggil Thom yang saat ini berada dibelakangnya. Merasa dipanggil, anak itu menoleh.
Ia melihat jika ibu dan saudaranya sudah berada dirumah kaca itu. Sebenarnya tempat ini adalah tempat kesukaan Penelope dan jarang ada orang yang diperbolehkan memasuki tempat ini.
Theo berlari kecil menghampiri Thom, Theo menggenggam kedua tangan Thom dan menatapnya. "Aku minta maaf, aku salah. Seharusnya aku tidak merusak buku mu dan tidak mendorong mu. Aku benar-benar menyesal, maafkan aku." Kata Theo sambil menunduk takut. Theo takut jika dirinya tidak dimaafkan oleh Thom.
"Aku juga minta maaf, harusnya aku tidak mengabaikan mu. Ayo kita berbaikan." Thom tersenyum cerah membuat pipi gembulnya memerah merona.
Begitu juga dengan Theo yang mendadak kedua matanya berbinar indah. "Iya." Theo terlihat sangat gembira, ia tersenyum dan menampilkan deretan gigi susu nya.
Penelope tertawa kecil, kenapa anak-anaknya sangat menggemaskan begitu?
"Kalau begitu bagaimana jika besok kita piknik di dunia manusia?" Kata Steve memberi ide.
"Benarkah ayah?" Thom dan Theo terlihat berbinar senang.
"Tentu." Steve tersenyum membuat kedua anaknya bersorak senang.
...πΊπΊ...
...BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN...
"Dimana ayah?" Tanya Thom sembari menatap saudara kembarnya.
"Dimana lagi? Tentu saja dirumah kaca. Itukan tempat favorit ibu."
Mereka berdua menghela nafas.
Pada dasarnya usia manusia lebih pendek dari usia bangsa Immortal, 6 bulan yang lalu pada usia Penelope yang ke 67 tahun. Penelope meninggal karena sakit keras.
Sejak meninggalnya Penelope, Steve terlihat seperti tidak bernyawa. Ia begitu terpukul karena meninggalnya sang istri, hingga akhirnya kedudukan Alpha jatuh ke salah satu putranya.
"Pene, hari ini seluruh bunga mawar bermekaran. Indah bukan?" Dengan tangan kosong Steve mengambil bunga mawar itu dan membiarkan tangannya tertusuk duri bunga mawar hingga mengeluarkan darah.
"Cantik kan Penelope?" Steve tersenyum manis, dalam bayangannya ada Penelope yang sedang menatap hamparan bunga mawar itu dengan senyum yang begitu cerah.
Steve ikut tersenyum, ia tau kalau yang Steve lihat sekarang hanyalah imajinasinya saja tapi Steve tidak peduli. Karena yang terpenting ada Penelope disisinya sekarang.
...πΊπΊ...
...Dua Tahun Kemudian...
Thom dan Theo terdiam menatap batu nisan dihadapannya. Karena tidak bisa mengatasi rasa kesepiannya atas kehilangan Penelope, pada akhirnya Steve memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Steve di makamkan di samping makam Penelope. Steve tidak pernah ingin jauh-jauh dari Penelope, sampai mati pun Steve selalu ingin berada di dekat kekasihnya itu.
"Kejadian ini tidak bisa dihindari." Gumam Daniel dengan tatapan sendu. Mustahil jika dirinya tidak merasa kehilangan, tapi mau bagaimana lagi? Ini keputusan Steve dan mereka menghargainya walaupun cara yang Steve gunakan salah.
Padahal mereka selalu bertengkar, mereka tidak pernah akur, tapi mereka saling mencintai satu sama lain lebih dari apapun. Pertengkaran mereka mungkin salah satu cara mereka untuk membuktikan kalau mereka saling mencintai.
Theo dan Thom jadi ingat perkataan terakhir ibunya.
"Kalau reinkarnasi itu benar-benar ada, aku harap kita kembali dipertemukan lagi. Aku selalu mencintaimu Steve."
Dua tahun adalah batas terakhir Steve untuk hidup tanpa Penelope. Saat bunuh diri Steve berpikir, walaupun reinkarnasi tidak ada, walaupun Steve tidak bisa lagi berjalan bersama Penelope, tapi Steve ingin berjalan dijalan yang Penelope lalui. Walaupun bukan disampingnya dan Steve berada di belakangnya itu tak masalah.
Yang Steve inginkan hanyalah melihat Penelope. Sosok yang dicintainya.
...~BERSAMBUNG~...
Ini dia bonus pict cast My Mate π
...(Thom & Theo)...
...(Steve & Penelope)...
...(Daniel & Steve)...