My Mate {END}

My Mate {END}
Chapter 20



...~Happy Reading~...


"STEVE!! GAWAT!!!"


BRAK.


Beberapa bulan berlalu dengan damai, orang-orang sudah terbiasa dengan kehebohan yang Penelope ciptakan.


Penelope memasuki ruang kerja Steve dengan wajah yang sangat panik membuat Steve bertanya-tanya dengan apa yang telah terjadi.


"Kenapa?"


"Lihat ini!" Penelope menunjuk kearah ujung rambutnya. "Rambut ku rusak! Bagaimana bisa disini tidak ada salon?!"


"Ini hutan Pene!"


"Bagaimana dengan perawatan rambut ku? Ini sudah rusak nanti makin rusak!" Protes Penelope. "Harusnya kau membuka salon di hutan?!"


Apa yang Penelope pikirkan? Kalau Steve membuka salon di hutan siapa yang mau datang? Yang ada rugi dirinya nanti.


"STEVE!! KAU HARUS MELAKUKAN SESUATU DENGAN RAMBUT KU!!"


"Astaga Moon Goddess kesabaran ku." Steve memijat keningnya yang terasa pusing. Sebuah keajaiban dirinya bisa bertahan bersama Penelope. "Aku akan menyuruh pelayan untuk mengurus rambut mu, apa kau puas?"


Penelope tersenyum manis membuat jantung Steve berdetak kencang. "Tentu saja my darling..." Penelope mengedipkan sebelah matanya membuat semburat merah menghiasi wajah Steve. Disaat seperti ini dia baru bersikap manis.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Dengan senyum cerah Penelope melenggang pergi ke luar.


"Hey! Kau mau kemana?" Tanya Steve yang membuat wanita itu berbalik menatapnya.


"Ke rumah kaca. Kenapa?"


"Tidak, berhati-hati lah."


"Rumah kaca ada di belakang Mansion, aku akan baik-baik saja."


"Kalau kau diculik aku tidak mau menolong." Ejek Steve.


"Kau akan menangis jika aku di culik." Penelope kembali melanjutkan perjalanannya.


...🐺🐺...


Tangan kirinya memegang sebuah selang yang digunakan untuk menyiram tanaman-tanaman tercintanya, beberapa bulan yang lalu Penelope merengek meminta di buatkan rumah kaca yang akhirnya mau tak mau Steve turuti.


Sebenarnya apapun permintaan Penelope asalkan itu masuk akal maka Steve akan menurutinya dengan senang hati. Berbagai macam jenis bunga ada disini, ini adalah tempat favorit Penelope. Bahkan Penelope mengerjakan pekerjaannya di tempat ini.


"Sesuatu yang indah memang cocok untuk ku." Penelope tersenyum puas.


Prank. Atap rumah kacanya tiba-tiba saja pecah. Tiga orang berjubah hitam muncul dihadapan Penelope membuat wanita itu bergerak melangkah mundur.


Gawat, Penelope meninggalkan belati dan pistolnya di kamar.


'Kalau begitu aku harus—'


Buak. Salah satu dari mereka memukul kepala Penelope membuat wanita itu menggeram marah. Padahal nanti sore Penelope mau perawatan.


Penelope merasakan ada sesuatu yang berbau amis dan lengket mengalir dari kepalanya. Itu darahnya. Kepalanya sangat pusing, Penelope memejamkan kedua matanya dan ia pun tidak sadarkan diri.


...🐺🐺...


BRAK.


"Yang Mulia ada serangan—" Jake menghentikan ucapannya ketika melihat Steve yang menggeram penuh amarah.


Netra hitamnya perlahan berubah warna menjadi warna merah, kuku-kukunya memanjang dan terlihat mengerikan.


Jake tau jika Tuannya sedang diliputi oleh amarah yang sangat besar.


"Kita akan berperang pada orang yang berani menculik Penelope!" Steve mengeluarkan Alpha tone nya, aura mengintimidasi menguar dengan kuat. Suaranya yang dingin dan tidak mau dibantah, sudah lama Jake tidak melihat sisi Tuannya yang seperti ini.


"Baik, Yang Mulia."


"Ini semua terjadi karena kita terlalu santai."


"Itu benar, harusnya sejak dulu aku membunuh mereka semua. Sial! Pene, kumohon bertahan lah." Steve benar-benar khawatir sekarang.


Berbagi macam pemikiran buruk hinggap di kepalanya. 'Pene aku akan menjemput mu.'


...~BERSAMBUNG~...