My Mate {END}

My Mate {END}
Chapter 23



...~Happy Reading~...


"Arghh... Kenapa gak bisa sih?!! Padahal kalau aku lihat di film atau di novel bisa kok. Tapi kenapa ini gk bisa?!" Kesal Penelope yang langsung membuang kawat itu ke sembarang arah.


Beneran deh, ini Penelope yang gk berbakat atau emang mereka melakukan penipuan?! Sialan. Penelope kesal sekali. Ia menggeram frustasi.


Ia lupa kalau cerita novel tidaklah seindah realita. Penelope hanya bisa mengumpat dalam hati. Sekarang bagaimana cara ia melarikan diri?!


"Ukh..." Penelope meringis memegang perutnya yang tiba-tiba sakit. "Kenapa perut ku sakit? Apa karena aku belum makan? Tapi tadi pagi aku makan nasi goreng, lalu kue lemon, jus jeruk dan buah persik."


Ia terdiam, Penelope jadi pingin makan kue lemon. "Duh, bukan saatnya aku memikirkan makanan!"


Kriet. Pintu kayu itu terbuka dan menampilkan seorang wanita cantik dengan balutan gaun seksi.


"Hallo gadis kecil."


Hah? Umur Penelope sudah 22 tahun dan dia sudah menikah memangnya masih bisa dipanggil gadis kecil?


'Wajahnya mirip Sophie.'


Wanita itu berjalan perlahan mendekati Penelope. "Sayang sekali, harusnya kau menjadi anak ku." Wanita itu menggelengkan kepalanya membuat Penelope menatapnya bingung. "Aku Marry, harusnya aku yang menikah dengan ayah mu."


Oh, jadi wanita itu adalah Mate yang di reject oleh Adam.


"Tapi wanita sialan itu malah mengambilnya dari ku! Apa dia tidak tau sudah berapa banyak aku berkorban untuk Adam?!" Suara Marry meninggi. Ia begitu emosi melihat Penelope, namun Penelope malah menatapnya dengan tatapan datar.


"Maksudnya berjuang dengan cara memanfaatkan ayah ku?" Nada suara Penelope terdengar mengejek.


"KAU TAU APA SIALAN!! KAU BAHKAN ORANG YANG MEREBUT KEBAHAGIAAN KU!!"


Penelope menghela nafas. Lucu sekali mendengar wanita itu berteriak dan melempar kesalahannya pada orang lain.


"Aku berjuang untuk keluarga ku! Aku bahkan membuang anak ku untuk keluarga ku!! Tapi bagaimana bisa mereka mengkhianati ku?!! Bajingan!! Bahkan Adam juga meninggalkan ku!!" Marry berucap dengan sangat frustasi. Dia depresi karena lingkungannya. Tapi Penelope tidak merasa iba sama sekali, Marry pantas mendapatkan balasannya.


Terus apa? Haruskah Penelope berkata kalau hidupnya mengerikan? Begitu?


'Padahal dia sendiri yang membuat masalah tapi malah menyalahkan orang lain.'


"Kenapa kau tidak keluar dan menjadi Rogue saja? Itu memang tidak mudah. Tapi kalau kau keluar dari zona mu kau akan mendapatkan yang lebih baik. Lalu sekarang kau menyalahkan orang lain karena kesalahan mu sendiri?!" Penelope terkekeh kecil dan kemudian ia berhenti. Penelope menatap Marry dengan tajam. "Jangan membuat ku tertawa!"


Plak. Sebuah tamparan mendarat diwajah Penelope membuat wanita itu memejamkan matanya merasakan perih yang teramat.


Penelope kembali membuka matanya dan menatap Marry penuh permusuhan. Penelope yakin jika pipinya memar sekarang. "Hey nenek tua! Kau tidak tau ya kalau wajah adalah aset berharga seorang wanita!!" Geram Penelope. Aura yang Penelope keluarkan membuatnya merinding.


Ingin rasanya Penelope mencabik-cabik tubuh Marry. Kalau saja tangannya tidak di ikat mungkin Penelope sudah mencakar wajah Marry.


'Beraninya dia melukai wajah ku!! Sialan!'


"Aku di perintahkan untuk membunuh mu. Aku akan membunuh mu sekarang." Marry mengangkat tangannya tinggi membuat cakar berwarna hitam dengan ujung runcing itu muncul dan bersiap menebas leher Penelope.


Crash.


...~BERSAMBUNG~...