My Mate {END}

My Mate {END}
Chapter 28



...~Happy Reading~...


Penelope dan Steve menatap sosok pria tua dihadapannya, disamping pria tua itu ada Marry dan mereka berdua dalam kondisi sama-sama dipasung. Persis seperti mereka memasung Penelope saat itu.


"Jadi katakan, kenapa kalian mengincar Penelope? Kalian tidak mungkin membunuhnya karena alasan tidak masuk akal itu kan?" Kata Steve dengan tajam. Penelope sendiri memilih untuk berdiri di belakang Steve sambil mengelus perutnya yang membuncit.


"Sayang sekali, memang hanya itu alasannya." Kata tetua itu sambil menyeringai.


Buak. Steve yang kesal pun menendang wajah pria tua itu hingga hidung dan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Penelope yang melihat hal itu hanya bisa meringis.


Kini Steve beralih pada Marry, mungkin alasan Marry ingin mencelakai Penelope karena balas dendam atas perbuatan Adam tapi itu juga tidak bisa dijadikan alasan. Steve tidak tau pasti karena saat itu ia masih belum lahir atau bahkan belum di buat, tapi tetap saja tindakan Marry salah karena balas dendam pada orang yang tidak tau apa-apa.


"Dimana Kevin?"


"Kau pikir aku tau?! Dia saja meninggalkan ku!" Sentak Marry yang membuat Steve menatapnya tajam. Aura Steve sangat mengeringkan sampai-sampai membuat Penelope merinding.


"Tindakan kalian itu benar-benar tidak masuk akal ya. Hanya karena kekuasaan kalian mau membunuh wanita secantik aku." Penelope menggelengkan kepalanya dan menatap mereka (pura-pura) prihatin.


"Kau bajingan!" Umpat Marry.


Penelope menyerit bingung kemudian menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa jadi aku?! Kau yang bajingan! Kau bahkan tega membuat anak mu sendiri. Beruntungnya Sophie hidup dengan baik."


Marry tersentak mendengar ucapan Penelope. Bagaimana bisa Penelope tau nama anaknya yang sudah ia buang itu?!


Penelope terkekeh kemudian menunjukkan senyum sinis. "Kepo ya kepo ya." Ejeknya yang malah membuat Marry semakin marah.


"Sudahlah, ayo suami ku kita pergi." Penelope berjalan keluar dari penjara itu, namun sebelum keluar Penelope kembali menatap kedua musuhnya. "Jangan dibunuh dengan cara di cincang ya, soalnya aku penasaran kulit serigala tua bisa dijadikan tas atau jaket, kalau kulit serigala wanita tentu harus di jadikan sweater." Penelope menyeringai membuat mereka berdua merinding.


Saat ini Penelope terlihat lebih menyeramkan daripada Steve.


...🐺🐺...


"Aw... Ibu." Jerit Steve ketika Elsa menarik telinganya.


Padahal Penelope dan Steve baru masuk ke ruang tengah tapi tiba-tiba Steve disambut dengan jeweran penuh cinta dari ibunya.


"Tapi Penelope sendiri yang mau ikut ibu."


"Kenapa kau tidak melarangnya?!"


"Itu..." Steve menoleh kearah Penelope meminta pertolongannya tapi Penelope malah tertawa dan menikmati penderitaan Steve.


"Iya, ibu. Steve memaksa ku untuk ikut dengan nya." Kata Penelope yang berakting sedih.


"Apa?! Kapan aku— aw... Ibu, kalau begini telinga ku bisa putus."


"Itu bagus kan?"


"Apanya yang bagus ibu?!"


Penelope tertawa menikmati penderitaan Steve, ya ampun itu sangat seru.


"Penelope." Panggil Cristopher lembut.


"Ah! Iya ayah?"


"Makan ini." Cristopher menyodorkan buah persik pada Penelope.


"Ayah sudah mengupasnya, jadi kau bisa memakannya." Cristopher tersenyum lembut dan menuntun Penelope untuk duduk disofa.


"Ya ampun ayah, padahal ayah tidak perlu repot-repot begini." Duh, Penelope jadi tidak enak.


"Tidak apa, ayo dimakan. Ini kan untuk cucu ayah juga."


Penelope tersenyum senang. "Terimakasih ayah."


Sepertinya mereka melupakan Steve yang sedang tersiksa.


...~BERSAMBUNG~...