
Jam kuliah telah selesai, saat ya pulang ke rumah. Ziya merasa sangat bahagia sebab bertemu dengan sahabat nya Gabriel. Keduanya tampak akrab saat belajar. Zeo hanya bisa menggigit bibirnya gemas sebab kekasihnya tampak nyaman dengan pria lain.
"Wihh, semakin kaya aja kamu yah? Aku tidak menyangka kalau kamu bisa punya mobil bagus!" puji Gabriel saat berada di area parkir. Dia melihat Ziya membuka mobil milik Zeo.
Senyuman angkuh terbit dari wajah Zeo. Dia membusungkan dadanya menatap remeh Gabriel. Sedangkan Ziya hanya tersenyum malu-malu tak enak hati pada sahabatnya.
"Mobil ini bukan milikku, tapi milik pacarku!" balas Ziya membuat wajah Gabriel runyam. Dia menyesal telah memuji mobil rival nya.
Rival? Tentu saja rival, karena Gabriel telah lama menyukai Ziya. Namun, pria itu memilih diam-diam suka, karena takdir ingin merusak persahabatan mereka yang telah terjalin lama. Takut Diya malah menolak perasaan nya.
"Wajar bagus, karena mobil ku mahal. Tidak murahan seperti mobil mu!" ejek Zeo penuh percaya diri membuat Gabriel tertawa lepas. Sedangkan Ziya hanya membuang wajahnya ke arah lain tak berani menatap Gabriel.
Sebab malu, karena nyatanya nihil Gabriel lebih mahal daripada mobil Zeo.
Keduanya sama-sama memakai Lamborghini. Namun, Lamborghini milik Gabriel berada di tipe lebih bagus daripada Zeo.
"Ha ha … apa kau orang kaya baru? Kau kira semua Lamborghini itu mahal? Ha ha … yang benar saja. Ziya … Ziya … pacar mu sungguh norak!"
Gabriel membalas mengejek Zeo membuat pria itu melebarkan matanya. Dia menoleh ke arah Ziya, lalu menyentuh tangan kekasihnya. Dapat dirasakan kalau saat ini sang kekasih sedang malu.
Ya Tuhan … apakah Zeo salah?
"Ziya, apa mobil ku lebih murah dari mobilnya?" tanya Zeo serius menatap lekat wajah pacarnya. Sang kekasih pun mengangguk kepalanya dengan berat hati.
"I-iya."
Duarr.
Rasa bangga dan senyuman angkuh di wajah Zeo langsung hilang tak berbekas. Berganti dengan raut wajah malu dan runyam.
Gabriel terkekeh geli. Dia menepuk pundak Zeo guna mengejek rivalnya. Lalu berkata kalau Zeo bukan lawannya.
"Dasar norak. Kau bukan lawan ku."
"Zi, aku pulang dulu yah. See you!"
"Bye-bye … jaga Ziya yah. Jangan sampai di rebut orang!" Gabriel tersenyum sinis lalu melambaikan tangannya ke arah Ziya. Kemudian menginjak pedal gas nya melaju meninggalkan Zeo dan Ziya di area kampus.
Zeo marah, dia merasa terhina karena sikap songong Gabriel. Dia mengepalkan tangannya erat, cahaya berwarna biru keluar dari telapak tangannya. Bersiap-siap ingin ia lemparkan ke mobil Gabriel.
"Rasakan ini bocah tengil," desis Zeo dengan nada kesal membuat Ziya melebarkan matanya melihat aksi Zeo.
Segera saja dia genggam tangan Zeo membuat pria itu terhenyak. Dia menoleh ke samping dan menatap Ziya.
"Jangan aneh-aneh. Dia itu sahabatku. Sebelum ada kamu, sudah ada dia yang lebih dulu melindungi ku di kampus ini. Cuma dia yang aku punya selain kamu!" tegas Ziya dengan suara lembut, namun penuh penekanan membuat Zeo kesal.
Terpaksa pria itu mengurungkan niatnya. Cahaya biru di tangannya menghilang, karena permintaan Ziya untuk tidak mengusik Gabriel.
Cahaya kuning keluar dari tangan Zeo membuat mata Ziya silau. Untung saja tidak ada orang lain di area parkir, kalau sampai ada. Mungkin orang-orang akan takut dan terkejut melihat aksi Zeo.
Mata Ziya membulat sempurna ketika melihat tiga emas batang di telapak tangan kekasihnya.
"I-ini emas batangan?!" pekik Ziya terkejut.
"Ayo kita beli mobil baru yang lebih mahal daripada si curut itu!" ajak Zeo cepat membuat Ziya tersedak ludahnya.
*
*
Novel ini slow up yah kakak. Tapi, tetap up kok dan tamat dengan sempurna. Insya Allah 🤗🤗🌹🌹🥰
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏