My Love From The Blue Sea

My Love From The Blue Sea
Mayat Berserakan



Zara dan Zeo turun dari bus. Mereka berdua akan merapikan barang-barangnya untuk pindah ke rumah baru yang nantinya akan mereka tempati. Rencananya mereka akan mencari rumah baru besok pagi. Hari ini terlalu lelah untuk mencari rumah.


"Aku sangat lelah, maunya tidur saja setelah ini. Bagaimana denganmu, Sayang?" tanya Ziya manja seraya memeluk lengan Zeo.


Pria itu tersenyum manis. Merasa hangat dan berbunga-bunga hatinya mendengar sang kekasih memanggil nya dengan panggilan sayang.


"Aku juga mau istirahat, maunya tadi aku ingin mandi dulu. Tapi, karena cuaca dingin jadi lebih baik aku ikutan istirahat saja!" balas Zeo seraya mengecup aroma rambut Ziya yang baru saja di masker tadi siang saat berada di mall.


"Rambut kamu wangi," puji Zeo membuat pipi Ziya merona. Sang gadis tersenyum manis lalu mengecup bibir Zeo.


Keduanya berciuman sesaat membuat orang-orang yang lewat merasa sangat iri. Ketampanan dan Kharisma Zeo bukan main. Meski memakai topi tetap saja aura nya bak MC di dunia anime.


Apalagi tato naga di pelipis nya sangatlah membuat orang-orang tertarik.


"Tentu saja rambut ku wangi, karena tadi di mall aku melakukan berbagai perawatan. Ini juga berkat uang hasil penjualan emas mu."


Ziya berkata dengan nada manja. Dia sangat nyaman menunjukkan sisi lainnya pada Zeo. Padahal dulu saat masih berada di rumah ayah kandungnya, Ziya tidak pernah sekalipun bersikap manja.


"Sering-seringlah merawat dirimu, karena aku suka." Zeo membalasnya dengan santai layaknya sugar Daddy yang tidak pernah takut menghabiskan uang banyak untuk kekasihnya.


"Hi hi … tapi, uang nya dari kamu, 'kan?" tanya Ziya manja membuat Zeo terkekeh kecil.


"Tentu saja." Zeo mengecup puncak kepala Ziya. Keduanya berjalan kaki menuju lorong kos mereka.


Degg.


Zeo mencium aroma Duyung lain. Dia mencekal tangan Ziya membuat gadis itu menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Ziya heran.


Pria itu menatap serius sang kekasih. Jari telunjuk nya ia letakkan pada bibir. Memberi kode pada sang kekasih untuk tidak bersuara.


"Diam," gumam Zeo pelan.


Pria itu menggenggam erat tangan Ziya. Teringat kembali perkataan sang naga yang terus menghantuinya sampai saat ini.


"Kau harus berhati-hati, kelak akan banyak musuh berdatangan untuk menghancurkan permata kehidupan mu."


Kalimat itu terngiang di telinganya. Dalam hati Zeo bertanya-tanya dalam hati mengapa naga itu mengatakan hal demikian.


Siapa musuh yang akan datang? Apa alasan para musuh yang ingin menghancurkan permata kehidupan nya? Perasaan Zeo tidak pernah membuat masalah dengan Duyung atau siluman manapun.


Kembali lagi pada Zeo. Dia merasa was-was, keringat dingin keluar dari benaknya. Takut sekali kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Ziya. Tidak masalah dirinya terluka parah, asalkan sang kekasih baik-baik saja.


"Kenapa?" tanya Ziya penasaran dengan suara pelan.


"Aku merasakan aura duyung lain di sekitar sini. Tidak tahu dia jahat atau baik, tetapi kita harus tetap waspada. Ingat! Baru tadi siang kita selamat dari maut."


Zeo menjelaskan dengan suara pelan penuh penekanan. Pria itu menatap ke arah sekelilingnya. Menggenggam tangan Ziya yang gemetar ketakutan.


Gadis itu teringat kembali tentang kejadian tempo hari. Mungkin bila bukan karena Zeo dirinya saat ini sudah bertemu dengan Sang Maha Kuasa.


Zeo membawa gadis itu melangkah menuju kos mereka. Dia berharap kalau duyung itu tidaklah jahat, atau hanya perasaan nya saja.


"Tetap di sisiku dan jangan lepaskan tanganku!" titah Zeo dengan nada tegas tak ingin di bantah.


Saat tiba di kos, bau anyir darah tercium oleh indera penciuman mereka berdua. Jantung Ziya berdegup kencang, tangannya bergetar hebat. Wajahnya pucat pasi dan air matanya mengalir begitu saja membasahi pipi.


Tungkai nya hampir luruh ke jalanan saat melihat mayat berserakan di lantai. Nafas Ziya tercekat di tenggorokan.


"Zeo, hiks … itu ibu kos." Ziya meneteskan air matanya. Dia menunjuk ke arah mayat ibu kos. Tangannya gemetar hebat, tubuhnya menggigil.


Tiba-tiba …


Brak.


Genggaman tangan Zeo pada Ziya terlepas. Pria itu terlempar ke dinding rumah. Kesalahan Zeo adalah kurang waspada.


Uhuk.


Seteguk darah segar keluar dari mulut Zeo. Ziya berteriak histeris menangis sesegukan melihat kejadian naas di hadapannya.


Tidak menyangka sang kekasih akan terluka di hadapannya sendiri.


Kabut berwarna hitam tampak di hadapan Zeo. Tak lama kemudian kabut tersebut membentuk seorang pria.


Kaki pria itu tepat berada di kepala Zeo. Dia tersenyum seperti psikopat menatap Sso dengan tatapan tajamnya.


"Apa kabar, Pangeran Terbuang?" tanya Rio dengan suara bariton nya.


Zeo mengepalkan tangannya erat. Dia ingin bangkit dan membalas perbuatan Rio. Namun tidak bisa, kekuatannya seolah menghilang begitu saja. Dia menatap ke arah Ziya yang berdiri tak jauh darinya.


Gadis itu luruh ke lantai seraya menutup mulutnya tak percaya. Air mata mengucur deras membasahi pipi putih sang kekasih.


"Eugh … apa yang kau lakukan di sini, Jenderal Rio?"


Zeo bertanya dengan susah payah mengeluarkan suaranya. Pria itu merasa kerdil berhadapan dengan Rio yang merupakan jenderal duyung. Dia setengah siren dan Duyung. Kejam, bengis dan membenci manusia itulah karakternya.


Tak kenal ampun saat bertempur di Medan perang. Paling tega membunuh lawannya dengan cara sadis.


Pria itu tertawa kecil. Dia menikmati pemandangan di hadapannya.


"Apa yang aku lakukan di sini? Hemm … tentu saja aku ingin membunuhmu, sesuai dengan perintah Raja Jionard!" balasnya santai dengan suara dinginnya membuat Zeo mengepalkan tangannya erat.


*


*.


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


Mampir juga ke novel temen author 🥰🥰