
Zeo tersentak kaget saat tak sengaja bersentuhan dengan pemuda tampan tak kalah tampan dengan wajahnya. Pria itu menyelami mata coklat nya membuat Zeo geram.
"Dia," batin Zeo kesal.
Pria itu mencekal lengan Ziya membuat gadis itu langsung menoleh ke arahnya. Senyuman di wajah Ziya langsung terbingkai dan mengembang.
"Gabriel? Hey … apa kabar?" tanya Ziya dengan nada ceria membuat pria itu tersenyum tipis.
Gabriel merupakan teman masa SMP Ziya. Hanya pria itu yang mau berteman dengannya, selain itu, Gabriel merupakan anak orang kaya.
"Kabar ku baik, bagaimana dengan mu? Aku dengar kamu sudah angkat kaki dari rumah sialan mu itu?"
Gabriel bertanya kasar membuat Ziya memutar bola matanya malas. Kebiasaan mulut sahabatnya ini, kasar dan pedas. Memang benar hubungan mereka sedekat itu, sampai-sampai Gabriel sering mengumpat ayah kandung Ziya, karena memperlakukan gadis itu tak adil.
"Kamu ini, ck … ke mana saja saat aku butuh kemarin, huh?! Ayo kita duduk dulu. Biar enak ngomong sambil makan siang!" ajak Ziya pada Gabriel.
Sejenak dia melupakan keberadaan Zeo, karena terlalu asik mengobrol dengan sahabatnya. Sedangkan pangeran duyung itu hanya mampu menggertakkan giginya. Dia sangat cemburu sekarang, hatinya terbakar. Wajahnya merah padam. Tak suka melihat Ziya dekat dengan pria lain.
"Hati ku panas, darah ku mendidih. Rasanya aku ingin membunuh pria itu saat ini juga," gumam Zeo pelan lalu melangkah mendekati Ziya.
Dia duduk di samping gadis itu tak membuat Ziya menoleh ke arahnya. Ziya terlalu sibuk curhat pada Gabriel. Pria yang bernama Gabriel itu menyimak cerita Ziya dengan serius.
Zeo dapat merasakan aura pria itu sedang berbunga-bunga dan semangat. Seperti orang yang sedang jatuh cinta. Hal itulah yang membuat Zeo tidak suka, merasa kalau Gabriel ancaman baginya.
Pria itu adalah saingan nya.
"Ya begitu deh! Akhirnya papa mengusirku dan aku langsung pergi dari sana. Untung saja ada Zeo yang menolong ku. Kalau tidak! Mungkin aku sudah jadi gembel." Ziya mengakhiri ceritanya dengan raut wajah sendu bercampur kesal.
Entah mengapa dia merindukan sang ayah. Padahal sudah jelas-jelas dirinya anak buangan yang sama sekali tidak di inginkan.
"Oh iya, kenalin, ini Zeo. Zeo ini Gabriel!"
Ziya berkata membuat kedua pemuda tampan itu saling bertatapan. Keduanya tampak saling tak suka, dapat di lihat bagaimana sorot mata Gabriel menatap Zeo, begitu pun sebaliknya.
Zeo tersenyum tipis. Dia menyodorkan tangannya memperkenalkan diri pada Gabriel. Pria itu pun langsung menyambut tangan Zeo.
"Aku Gabriel sahabatnya Ziya!" ujar Gabriel datar membuat Zeo tersenyum kecil.
Tampaknya Gabriel tidak suka. Pria itu menatap sinis Zeo. Selama ini hanya dirinya yang menemani Ziya. Susah senang gadis itu selalu cerita padanya.
Ziya menelan ludahnya, entah mengapa dia merasa kalau kedua pria ini saling tidak suka dan kalau tidak di pisahkan bisa berlanjut gelut.
"Syukurlah, kau hanya kekasih Ziya. Bukan suami nya!" balas Gabriel santai terdengar menjengkelkan bagi Zeo.
Swash.
Tiba-tiba angin bertiup kencang di dalam kantin kampus. Membuat semua orang panik, karena takut terjadi bencana alam.
"Ya Tuhan, kenapa bisa ada angin kencang tiba-tiba seperti ini? Apa jangan-jangan sebentar lagi ada angin ****** beliung?"
Gabriel pun terkejut saat tiba-tiba ada angin kencang di dalam kantin. Sedangkan Ziya menelan ludahnya kasar, segera dia menggenggam tangan Zeo membuat angin kencang itu perlahan menghilang.
"Jangan melakukan sesuatu yang berbahaya," bisik Ziya pada Zeo membuat pria itu berdecak kesal lalu mengecup bibir ranum kekasihnya.
Cup.
"Aku cemburu," balas Zeo dengan nada lirih seraya mengusap bibir ranum kekasihnya.
Degg.
*
*.
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏