My Love From The Blue Sea

My Love From The Blue Sea
Terlalu Banyak Rahasia



"Naga? Bagaimana bisa kau masih ada? Bukankah tadi naga sudah punah sejak 7 abad yang lalu?" Suara Zeo bergetar ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Dia benar-benar ketakutan sekarang, tidak menyangka akan bertemu dengan sosok naga yang sangat mengerikan.


"Kau terlalu banyak tanya anak muda. Tidak pantas kau bertanya seperti itu padaku."


Suara naga itu terdengar menakutkan membuat Seo menelan ludahnya kasar. Dia bahkan tak sanggup berdiri lagi, tubuhnya lemah ketakutan.


Sejenak suasananya menjadi hening. Zeo tidak berani lagi memulai pembicaraan dia terlalu takut untuk membuat sosok naga itu marah.


Teringat cerita guru sihir nya tentang ras naga yang sudah punah akibat peperangan antar kaum nya sendiri. Bukan hanya para duyung yang membunuh duyung lemah.


Ras naga pun seperti itu. Mereka lebih sadis daripada ras duyung, induknya sendiri yang akan membunuh anaknya bola sang anak tak memiliki kekuatan.


"Saat kau sadar nanti, akan ada banyak musuh berdatangan. Mereka ingin membunuhmu dan mengambil permata kehidupan mu. Tak hanya itu kalau sampai kau lengah dan masih lemah, mereka juga akan membunuh kekasihmu."


Sang naga berkata tegas membuat Zeo mendongak memberanikan diri untuk bertatapan dengan sang naga. Jakun pria itu naik turun, dia sangat takut dengan ucapan sang naga.


Ziya juga akan berada dalam bahaya bila dirinya tidak hati-hati dan masih lemah.


Tetapi, bukankah dirinya memang lemah?


"Apa yang harus aku lakukan untuk menghalau para musuh itu? Sedangkan aku sendiri sangatlah lemah. Julukan ku adalah Duyung sampah di kerajaan ku sendiri!" ujar Zeo dengan nada putus asa.


Matanya berkaca-kaca menunjukkan kesedihan yang dalam membuat naga itu membuang wajahnya ke arah lain tak ingin melihat wajah sedih Zeo.


Dia benci sorot mata Zeo saat menatapnya.


"Kau tidak selemah seperti yang selama ini kau pikirkan." Naga itu kembali berbicara penuh arti membuat Zeo merasa bingung.


Dia tidak paham maksud naga itu.


"Apa maksudmu?" tanya Zeo heran.


"Kelak kau akan tahu mengapa Dewi Fortuna menciptakan mu. Teruslah hidup dan berusahalah untuk hidup. Percayalah pada dirimu sendiri, kau lebih kuat dari mereka semua. Ingat! Jangan sampai permata kehidupan mu hancur."


Zeo merasa sakit kepala mendengar ucapan sang naga yang penuh rahasia dan makna. Dia tidak pandai bermain teka-teki. Dirinya merasa sangat lelah kalau harus bermain tebak-tebakan.


Teringat kejadian tempo lalu saat dirinya melakukan teleportasi membuat Zeo penasaran dan bertanya apad sang naga.


"Teleportasi? Kenapa aku bisa melakukan teleportasi? Bukankah, teleportasi hanya dapat di lakukan oleh duyung level dewa?" tanya Zeo serius membuat naga itu menyeringai penuh arti.


"Bukan kau yang melakukan teleportasi, tetapi aku! Aku yang menolong mu dari jurang maut."


"Kenapa kau menolong ku? Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa masuk ke dalam mimpiku?" tanah Zeo bertubi-tubi membuat sang naga tersenyum penuh arti.


"Kelak kau akan menemukan jawabannya sendiri. Jaga dirimu baik-baik anak muda. Sampai bertemu di pertemuan selanjutnya!"


Perlahan Naga itu menghilang.


"Tunggu dulu, hey! Kenapa kau menolong ku? Kau belum menjawab pertanyaan ku!"


Zeo berteriak kencang.


*


*


Di alam nyata.


Tubuh Zeo mengalami kejang-kejang membuat Ziya sangat panik. Gadis cantik itu menangis sesenggukan dan berlari mencari dokter.


"Dokter, tolong pacar saya! Tubuhnya mengalami kejang-kejang!" panggil Ziya membuat dokter yang tadinya memeriksa Zeo.


"Baik." Segera saja dokter itu berlari menuju ke dalam ruangan Zeo. Namun, saat tiba di sana sang pria sudah sadar dan duduk bersandar di dinding.


Mulut Ziya terbuka lebar begitupun sang dokter mengernyitkan dahinya. Dia merasa penasaran dengan apa yang terjadi, sehingga Zeo bisa sadar.


"Tadi Anda bilang kekasih Anda kejang-kejang. Tapi kenapa sekarang dia sudah sadar dan terlihat baik-baik saja?" tanya sang dokter heran membuat Ziya mengedipkan matanya lucu.


"Saya juga tidak tahu, Dokter. Tadi, pacar saya beneran kejang-kejang!" jelas Ziya serius membuat sang dokter menghela nafas panjang.


Zeo yang baru saja sadar pun merasa bingung dengan tempatnya berada. Semuanya bernuansa putih membuatnya heran.


"Ziya, kita sedang berada di mana? tanya Zeo penasaran membuat Ziya segera menghampiri pria itu.


"Tadi, kamu jatuh pingsan. Aku khawatir dan langsung bawa kamu ke rumah sakit! Kamu sudah tidak apa-apa? Apayada yang sakit?" tanya Ziya bertubi-tubi seraya memeriksa tubuh Zeo khawatir.


"Aku tidak apa-apa." Zeo membalas singkat lalu menatap tajam ke arah sang dokter.


"Dia adalah dokter yang tadi menolong mu." Ziya membalas perkataan Zeo dengan santai.


Sang dokter itu tersenyum lalu segera menghampiri Zeo.


"Apakah ada yang sakit, Tuan?" tanya sang dokter seraya menyentuh tangan Zeo membuat pria itu risih dan menepis tangan sang dokter, membuat pria itu kesakitan.


"Auch … tenaga Anda sangat besar, Tuan." Dokter itu mendesis pelan seraya mengelus lengannya yang terasa sakit.


Ziya segera memeluk tubuh Zeo takut sekali kalau pria itu berbuat keributan di rumah sakit.


"Jangan seperti itu. Nanti kamu di kira jahat oleh orang-orang," bisik Ziya pelan membuat Zeo tenang.


"Dia adalah dokter dan dokter tugasnya mengobati orang yang sakit. Tadi, kamu sakit dan dia yang mengobati mu." Ziya menjelaskan dengan cara berbisik pada Zeo agar sang dokter tidak mendengarnya.


"Hemm." Zeo berdehem pelan.


"Saya rasa kekasih Anda baik-baik saja. Bahkan, lebih baik daripada sebelumnya!" ujar sang dokter menahan kesal karena lengan nya terasa sakit di tepis oleh Zeo.


Tanpa ba-bi-bu dokter itu segera pergi dari sana membuat Ziya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia merasa tak enak hati pada dokter itu.


"Lain kali kamu tidak boleh seperti itu pada orang yang sudah baik padamu, Zeo." Ziya menasehati sang kekasih membuat Zeo menganggukkan kepalanya.


Keduanya pun segera beranjak pergi dari rumah sakit menaiki bus. Salam perjalanan Ziya teringat dengan mobil yang baru saja ia beli.


"Kamu sedang sedih?" tanya Zeo lembut pada Ziya saat merasakan emosi gadis itu sedang sedih.


Dia mengelus kepala Ziya yang berada di pundaknya.


"Mobil yang baru kita beli sudah rusak dan meledak. Padahal belum sehari kita memakainya," lirih Zara pelan seraya meneteskan air matanya membuat Zeo segera memeluk kekasihnya.


"Yang penting kita selamat itu lebih berharga daripada mobil baru yang kita beli tempo lalu." Zeo menepuk punggung Ziya yang bergetar.


Pria itu masih teringat dengan sosok naga yang berada dalam mimpinya. Semua perkataan sang naga memiliki sejuta makna rahasia.


Bak teka-teki yang harus dipecahkan.


"Siapa musuhku?" gumam Zeo pelan.


*


*


Di kontrakan Ziya dan Zeo.


Cairan kental berwarna merah berceceran di lantai. Lima orang wanita sudah tak bernyawa lagi terkapar atas lantai.


Seorang pria tampan menatap pemandangan di depannya dengan tatapan dingin.


"Dia tidak ada di sini," gumamnya pelan.


"Hiks … tolong jangan bunuh aku! Tolong … aku punya keluarga di desa dan aku harus bekerja untuk mereka!" Seorang wanita bersimpuh di kaki sang pria memohon untuk tidak membunuh nya seperti yang lain.


"Kau masih bisa bertemu dengan keluargamu di kehidupan selanjutnya," balas pria itu datar.


Slash


Tubuh wanita itu menjadi dua bagian membuat pria itu tersenyum mengerikan.


"Akk?!" jeritan wanita itu terdengar menyedihkan sebelum nyawanya melayang.


"Jeritan kalian seperti nyanyian merdu untukku," gumamnya pelan tertawa cekikikan bak psikopat.


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


Mampir juga ke novel temen author