My Love From The Blue Sea

My Love From The Blue Sea
2 Persen



Zeo mengepalkan tangan nya erat, dia merasa sangat marah mendengar ucapan Rio. Marah sekali pada sang ayah, mengapa tega menyuruh Rio untuk membunuhnya. Di mana letak kasih sayang seorang ayah pada anaknya.


Sedari kecil dia selalu di kucilkan oleh keluarganya. Tak mendapatkan kasih sayang atau perhatian hanya karena dirinya lemah dan tak punya kekuatan sehebat saudaranya yang lain.


"Kenapa? Kenapa Ayahanda menyuruhmu membunuhku? Aku tidak pernah membuat kesalahan!" tanya Zeo ingin tahu alasan sang ayah menyuruh Rio untuk membunuhnya.


Pria tampan itu tertawa sinis. Dia memfokuskan kekuatan nya pada telapak kakinya, sehingga membuat kepala Zeo semakin sakit. Sebab tekanan nya semakin kuat.


"Kehadiran mu di dunia ini adalah kesalahan. Tidak punya kekuatan hebat, hanya bisa mempermalukan keluargamu. Mempermalukan kerajaan Duyung di setiap pertemuan antar kerajaan. Bahkan, hewan air non sihir menganggap mu sampah. Apalagi kami yang punya sihir kuat? Tentunya kamu lebih buruk dari sampah!"


Pria itu berkata tajam bak pedang yang menusuk ulu hati Zeo. Pria itu merasa sedih, muak, marah dan kecewa pada kaum nya sendiri. Mengapa sangat jahat padanya?


"Aku tidak pernah meminta Ayahanda dan Ibunda untuk melahirkan ku ke dunia. Bukan aku yang salah, tetapi mereka yang tidak mau bersyukur atas apa yang mereka punya. Ayahanda selalu menuntut ku menjadi kuat, tanpa peduli sekeras apa perjuangan ku untuk menjadi kuat!"


"Di bandingkan yang lain, akulah yang paling banyak berusaha untuk kuat!" teriak Zeo sekuat tenaga berusaha bangkit berdiri dan melawan Rio.


Tetapi, tidak bisa. Pria tampan itu tampak sangat lemah di hadapan Rio.


"Ha ha … hidupmu memang sangat menyedihkan. Tapi, tidak apa! Setelah ini kamu tidak akan sedih lagi. Berdoa saja semoga Dewi Fortuna menghidupkan mu menjadi sosok yang kuat di kehidupan selanjutnya!"


Rio mengeluarkan air dari tangannya. Kemudian air itu berubah menjadi tombak es. Dia tersenyum penuh arti lalu mengangkat tombak tersebut tinggi-tinggi ingin menancapkan ke punggung Zeo.


Zeo meneteskan air matanya. Dia memejamkan matanya, pasrah bila maut menjemputnya saat ini.


Ziya yang melihat pria asing itu ingin membunuh kekasih nya pun panik. Dia mencari sesuatu yang bisa memukul pria itu. Sorot matanya mendapati kursi kayu di halaman kos.


Di angkatnya tinggi lalu ia melempar ke arah pria asing itu mengenai punggung.


"Jangan sakiti, Zeo!" teriak Ziya dengan suara melengking.


Brak.


Mata Zeo melebar tak percaya melihat aksi berani Ziya. Pria itu gemetar ketakutan, dia melupakan posisi Ziya saat ini. Gadis itu berani mencari masalah dengan Rio.


Duyung kejam dan bengis.


Kursi kayu itu patah, punggung Rio tak tergores sedikitpun. Dia tersenyum penuh arti, kakinya yang tadi menginjak kepala Zeo ia angkat kembali.


"Sepertinya ada mangsa baru," ujar Rio santai dengan suara bariton nya membuat Ziya merinding. Mata gadis itu berkaca-kaca, menatap penuh ketakutan ke arah Rio yang kini sudah berbalik menatap dirinya dengan bola mata biru safir nya.


"Ziya, lari!" teriak Zeo seraya merangkak menahan langkah Rio. Dia memeluk erat kaki sang jenderal agar tak mendekati Ziya.


Sang gadis memundurkan langkahnya, dia merasa ketakutan dan terintimidasi dengan tatapan mematikan Rio. Pria itu tampak sangat mengerikan.


"Apa ini? Kalian berdua saling melindungi? Ha ha … apa benar kabar yang aku dengar, kalau Pangeran Terbuang naik ke daratan demi bisa hidup dengan manusia hina ini?"


Rio memindai penampilan Ziya dari atas hingga bawah. Dia tersenyum penuh misteri. Matanya menatap jijik Ziya.


"Jangan sakiti dia. Kalau kau ingin membunuhku, maka bunuh saja aku! Tapi, jangan sakiti dia. Kalau tidak!"


"Kalau tidak apa? Pangeran terbuang ini akan membunuh ku? Uhh … aku takut."


Sang jenderal mengejek ketidakberdayaan Zeo. Wajahnya tetap datar, meski kata-kata yang keluar dari lisan nya mampu menyakiti hati orang lain.


"Iya! Aku akan membunuhmu?! Aku bersumpah atas nama Dewi Fortuna kalau aku akan membunuhmu. Baik di kehidupan ini atau di kehidupan selanjutnya. Aku akan memburu mu sampai ke ujung dunia sekalipun. Kalau sampai kamu menyakiti nya?!"


Zeo berkata dengan sungguh-sungguh di iringi petir menyambar. Angin berhembus kencang menerpa pepohonan di sekitar. Membuat Rio terhenyak.


Dia menatap ke sekelilingnya. Lalu ia kembali menoleh ke belakang menatap wajah Zeo yang tampak sangat serius.


"Kau bukan Tuan ku. Larangan mu sama saja perintah bagiku!" desis Rio menatap tajam Zeo.


Kemudian, cahaya berwarna hitam keluar dari telapak tangannya membuat Zeo melebarkan matanya.


Dia melihat Ziya yang masih berdiri di tempat yang sama.


"Ziya, lari?!" teriak Zeo kencang membuat gadis itu berbalik ingin berlari.


Namun ..


Tombak berwarna hitam muncul dari telapak tangan pria itu. Lalu ia melempar tepat mengenai punggung kanan Ziya menembus dada kanan Ziya.


"TIDAK?!"


Sejenak suasana menjadi hening. Waktu berjalan begitu lambat. Zeo melihat kejadian naas itu tepat di depan matanya sendiri.


Melihat bagaimana kejamnya sang kekasih di lukai oleh jenderal.


Tes.


Air mata Zeo berubah menjadi mutiara berwarna hitam. Menunjukkan rasa sedih yang sedang di rasakan oleh nya saat ini sangatlah perih.


"Ziya," lirih Zeo dengan suara tertahan.


Bayangan wajah Ziya tersenyum dan tertawa terlintas dalam benaknya. Teringat kembali janji wanita itu yang mau menikah dengannya setelah lulus kuliah.


Namun …


Zeo tak bisa berkata-kata lagi. Hatinya dipenuhi rasa sesak.


Bruk.


Kaki Ziya luruh ke tanah. Dia terduduk seraya memegang dada kanannya. Tidak menyangka kalau nasibnya akan tragis seperti ini.


Uhuk.


Cairan kental berwarna merah keluar dari mulut Ziya. Gadis cantik itu tersenyum perih.


Dia berusaha menoleh ke belakang, tatapannya bertemu dengan Zeo. Sekuat mungkin dia tersenyum manis agar sang kekasih tak bersedih hati.


"Aku cinta kamu," lirih Ziya lemah lalu menutup matanya tak sadarkan diri jatuh ke tanah.


"Ziya?!"


Suara Zeo terdengar menggelegar. Terdapat rasa sakit dan perih di dalamnya.


Sosok naga yang berada di dalam tubuh Zeo tersenyum penuh arti melihat kejadian di hadapannya.


"Kau butuh bantuan ku anak muda?"


Suara mengerikan itu kembali terdengar oleh Zeo. Pria itu mengepalkan tangannya erat. Dia menatap tajam ke arah Rio.


"Jangan banyak tanya lagi. Berikan aku kekuatan mu untuk membunuh Duyung sialan itu?!" desis Zeo melalui telepati.


Sang naga tersenyum penuh misteri.


"Tetapi, kau harus membayarnya kelak."


"Apapun bayarannya aku tidak peduli. Cepat berikan aku kekuatan mu sekarang juga!" ujar Zeo tak sabar.


"Baiklah, aku akan meminjamkan 2 persen kekuatan ku untukmu."


"Kenapa hanya 2 persen? Pinjam kanaku seluruh kekuatan mu?" teriak Zeo murka.


"Ha ha … jika aku meminjam kan seluruh kekuatan ku, maka penduduk langit akan turun ke bumi untuk menangkap mu, Anak muda. Karena kekuatan ku merupakan ancaman untuk semua makhluk di alam semesta ini!"


"Bersiaplah."


Setelah memberikan aba-aba, sang naga mengeluarkan bola berwarna hitam seukuran mutiara dari mulutnya. Kemudian ia arahkan mutiara itu masuk ke dalam jantung Zeo.


Eugh.


Zeo meringis kesakitan saat merasakan sesuatu menusuk jantungnya. Rio melebarkan matanya ketika melihat aura berwarna hitam keluar dari tubuh Zeo.


Auranya sangat jahat dan kejam. Seperti pembunuh berantai yang sudah membunuh banyak makhluk.


Sang jenderal memundurkan langkahnya saat melihat Zeo perlahan bangkit berdiri.


"Apa-apaan aura ini?" tanya Rio dengan suara bergetar.


Zeo tersenyum kecil, ia menaikkan pandangan nya menatap angkuh Rio tanpa rasa takut.


"Tatapannya berubah," gumam Rio terkejut.


Bola mata Zeo berubah menjadi hitam sepenuhnya.


"Halo, Jenderal!" sapa Zeo dengan suara mengerikan nya. Gabungan antara suara Zeo dan sang naga.


Degg.


*


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


Mampir juga ke novel temen author 🥰