
"Sayang, awas?!" teriak Ziya kencang membuat Zeo langsung membanting setir ke samping dan tangannya menggenggam erat tangan Ziya.
Wushh.
Cahaya berwarna biru keluar dari pelipis Zeo sebelum mobil truk itu menyentuh mobil yang mereka kendarai.
*
*
Hah …
Hah …
Nafas Ziya dan Zeo memburu, keduanya baru saja berhasil melewati jurang maut. Tubuh pria tampan itu melemah, dia amburuk ke lantai seraya menggenggam tangan Ziya.
Tepat saat truk Fuso menabrak mobilnya Zeo menggenggam erat tangan Ziya dan tiba-tiba tato di pelipis nya mengeluarkan cahaya terang membuat keduanya memejamkan mata pasrah bila ajal menjemput.
Namun, saat mereka membuka mata, Zeo dan Ziya berada di area lobi Mall tempat mereka sebelumnya berada.
"Ba-bagaimana bisa kita bisa berada di sini?" tanya Ziya terkejut melihat sekelilingnya.
Dia menelan ludahnya kasar, seolah berada di alam mimpi. Banyak hal tak logis terjadi, semenjak Zeo datang. Dia melirik sang kekasih tampak pucat pasi dengan keringat membasahi kening juga leher jenjangnya.
"Zeo, wajah kamu pucat pasi? pa yang sebenarnya terjadi?" Ziya bertanya dengan suara bergetar ketakutan.
Wajah Seo saat ini benar-benar pucat seperti mayat hidup. Pria itu menggelengkan kepalanya lemah, kemudian jatuh pingsan dalam dekapan Ziya.
Tubuh Zeo melemah, dirinya sendiri merasa bingung. Bagaimana bisa dia melakukan teleportasi? Padahal dirinya bukanlah Duyung level dewa. Hanya duyung level dewa yang bisa melakukan teleportasi.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Zeo bisa melakukan teleportasi? Banyak tanda tanya besar dalam benak pria itu.
Ziya panik, gadis itu menangis lalu berteriak meminta tolong pada orang-orang sekitar. Dia tidak ingin suatu hal buruk terjadi pada kekasihnya.
"Tolong?! Tolong pacar saya. Hiks … tolong!" Ziya berteriak membuat orang-orang yang berada di sekitarnya pun segera menoleh ke arah mereka.
Dengan gerak cepat orang-orang di sana menghampiri Ziya dan terkejut ketika melihat seorang pria tampan dengan wajah pucat berada dalam dekapan Ziya.
"Cepat panggil ambulans!" titah seorang wanita tua lalu memeluk kedua kakinya di lantai dan memegang tangan Zeo.
Dia merasakan nadi Zeo nyaris tidak berdetak. Kulit Zeo berubah menjadi dingin layaknya es batu.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa hipertermia?" tanya wanita tua itu kasihan melihat Zeo.
Ada beberapa orang di sana menatap Ziya dan Zeo dengan tatapan iba. Gadis itu tak mampu lagi menjawab pertanyaan dari wanita tua itu. Suaranya tak bisa keluar. Hanya Isak tangis nya yang terdengar.
"Aku mohon, jangan tinggalkan aku! Baru kemarin kita bertemu lagi dan menghabiskan waktu bersama. Kalau kamu pergi, nanti siapa yang melindungi ku," batin Ziya menjerit pilu.
Lima belas menit kemudian, ambulance tiba. Zeo segera di gotong ke atas brankar dorong, selanjutnya di masukkan ke dalam mobil ambulance.
Ziya ikut masuk ke dalamnya. Dia ingin melihat sendiri bagaimana keadaan kekasih nya.
"Hey, aku mohon kamu sadar! Hiks … aku cinta sama kamu, kamu juga sudah janji akan ada di samping ku selamanya. Kamu pun sudah janji akan menikahiku setelah aku lulus kuliah, 'kan. Ayo bangun … aaakk."
Ziya mengguncang tubuh Zeo berharap kekasih hatinya sadar. Selama perjalanan ke rumah sakit, Ziya sudah berkali-kali memanggil Zeo. Berusaha membangunkan kekasih hatinya.
*
*
Saat tiba di rumah sakit, Zeo segera di tangani oleh dokter. Pria paruh baya berpakaian putih yang sedang memeriksa keadaan Zeo pun merasa bingung.
Tidak ada gejala penyakit apapun, hanya tubuhnya saja yang dingin seperti es batu. Tetapi, sama sekali tidak berbahaya bagi nyawa.
"Aneh! Bagaimana bisa ini terjadi? Dia baik-baik saja walau tubuhnya dingin seperti es batu?"
Dokter tersebut pun bermonolog pada dirinya sendiri. Setengah jam dia memeriksa keadaan Zeo, berusaha mencari penyakit, namun tak juga di temukan.
"Baru kali ini aku bertemu dengan pasien unik seperti ini," gumam nya lagi.
Lalu beranjak keluar dari ruangan. Dia melihat Ziya sedang mondar-mandir seperti orang gelisah.
"Dok, bagaimana keadaan pacar saya?" tanya Ziya dengan suara serak, karena lelah menangis.
"Dia baik-baik saja, tapi hanya suhu tubuhnya saja yang sangat-sangat dingin. Tetapi, tidak sampai membahayakan nyawa. Apa sebelumnya pacar Anda pernah mengalami hal seperti ini?" tanya dokter itu ingin lebih tahu tentang kondisi Zeo.
Ziya terdiam sejenak, dia tidak tahu apakah Zeo pernah seperti ini atau tidak. Sebab mereka baru saja berhubungan dua hari.
"Saya tidak tahu, Dok," jawab Ziya pelan.
Sesaat dokter itu terdiam. Berbagai pertanyaan timbul dalam benaknya. Sangat penasaran dengan kondisi Zeo.
"Apa jangan-jangan dia berasal dari kutub Utara yah? Makanya bisa dingin seperti ini," gumamnya sendiri lalu meninggalkan Ziya seorang diri.
*
*
Zeo membuka matanya pelan. Dia melihat sekeliling berwarna hitam. Tubuhnya basah oleh air dan ternyata Zeo tertidur di atas air. Bedanya dia tidak memiliki ekor padahal tubuhnya basah.
"Hampir saja kau mati konyol, Anak muda?!" ujar sebuah suara mengerikan membuat bulu kuduk Zeo berdiri.
Pria itu mencari pemilik suara tersebut, namun tak kunjung ia temukan.
"Siapa kau?" tanya Zeo heran membuat sosok itu mendengus dingin.
"Kau ingin melihat wujud ku hemm?" tanya suara itu membuat Zeo mengangguk kepalanya.
"Baiklah," ujar sosok itu tersenyum sinis.
Sosok misterius yang selama ini melakukan telepati dengan Seo keluar dari tempatnya.
Degg.
Mata Zeo membulat sempurna. Dia memundurkan langkahnya, tanpa sadar tersandung hingga terjatuh.
"Na-naga," pekik Zeo dengan suara terbata-bata.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰