My Love From The Blue Sea

My Love From The Blue Sea
Simbol Kuno



"Halo, Jenderal!" sapa Zeo dengan suara gabungan antara dirinya dan sang naga. Terdengar mengerikan membuat tubuh Rio bergetar dengan sendirinya.


Hewan penjaga milik Rio yang merupakan anjing laut pun gemetar ketakutan. Dia berada dalam tubuh Rio dan hanya akan ikut bertempur bila lawannya sangat kuat.


"Rio, kali ini aku tidak bisa menolong mu. Kau dan aku akan mati! Aura ini bukan sembarang aura!"


Suara hewan penjaga Rio terdengar olehnya. Pria itu mengernyitkan dahinya mengapa hewan penjaga nya sangat ketakutan berhadapan dengan Zeo. Meski dirinya sendiri juga tak tahu mengapa tubuhnya bisa sampai gemetar.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Rio melalui telepati.


"Lari!"


Rio mengepalkan tangannya erat. Dia bukanlah pengecut dan tidak akan pernah mau lari dari pertempuran. Nasi sudah menjadi bubur dan dia tidak bisa mundur lagi.


"Aku akan tetap di sini untuk melawannya!" balas Rio tak mau mendengarkan perintah hewan penjaga nya.


Dia mengumpulkan kabut hitam di tangannya. Dengan cepat ia tujukan ke arah Zeo yang berdiri tak jauh dari arahnya.


"Kabut pembunuh," ujar Rio mengeluarkan jurus andalannya.


Kabut tersebut bergerak dengan cepat menuju ke arah Zeo. Membuat sudut bibir pria itu naik ke atas. Saat ini tubuh nya dapat di kuasai oleh sang naga sebanyak 2 persen.


"Pelindung," gumam nya pelan lalu terbentuklah kaca pelindung di hadapannya membuat serangan Rio lenyap saat menyentuh pelindung milik Zeo.


Mata Rio terbuka lebar. Pria itu terkejut tak percaya kalau jurus nya menghilang begitu saja. Bahkan, pelindung kaca milik Zeo tidak tergores sedikitpun.


"Tidak mungkin," gumam Rio terbata-bata.


"Kenapa? Kau terkejut? Ha ha … aku sangat menyukai raut wajahmu saat ini, Jenderal!"


Zeo tertawa mengerikan untuk berapa saat. Kemudian wajahnya berganti ekspresi datar. Dia memiringkan kepalanya menatap Rio dengan pandangan kosong.


"Giliran ku sekarang."


"Perwujudan kata : heart attack."


Sang naga bergumam dalam hati. Setelahnya jantung Rio langsung sakit bak di tusuk ribuan pedang. Pria itu ambruk ke atas tanah. Seteguk darah keluar dari mulutnya, dia menyentuh dadanya yang terasa amat sakit.


Akk …


"Apa yang sudah kau lakukan padaku?" tanya Rio dengan suara terbata-bata membuat Zeo tersenyum penuh arti.


"Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan tadi yaitu membunuhmu!" jawab Zeo dengan suara mengerikan nya.


Sang pangeran melangkahkan kakinya perlahan menuju ke arah Rio. Jenderal Rio memperhatikan langkah kaki Zeo. Setiap bekas jejak langkah Zeo mengeluarkan api berwarna hitam.


Mata Rio hampir keluar melihat api itu. Dia pernah mendengar cerita kalau pemilik api hitam hanya milik ras naga.


"Ras naga," gumam Rio bergetar ketakutan.


Saat tiba di hadapan Rio, sang pangeran menekuk salah satu kakinya. Dia menatap kosong tubuh lemah Rio.


Kuku jari telunjuk Zeo Tiba-tiba memanjang dan runcing. Pria itu melukiskan huruf kuno di kening Rio membuat pria itu berteriak kesakitan.


"Akk … panas!" teriak nya menggelegar.


Perlahan kesadaran Rio menghilang.


*


Di kerajaan Duyung.


Raja Jionard sedang melakukan rapat antar kerajaan untuk membahas tentang aura mematikan beberapa waktu lalu. Para Duyung level dewa merasa kalau pemilik aura itu adalah iblis.


"Saya rasa pemilik aura itu adalah iblis Lucifer, Tuan Raja! Sebab, selama ini yang memiliki aura mematikan dan jahat adalah iblis Lucifer!" ujar seorang duyung paruh baya berambut putih panjang.


"Bukankah, iblis Lucifer telah dimusnahkan oleh Dewa lautan?" tanya Raja Jionard.


"Bisa jadi inti tubuhnya masih tersisa dan para manusia menyembunyikan nya untuk membangkitkan iblis Lucifer sewaktu-waktu."


Sejenak suasana menjadi hening. Hingga tiba-tiba sebuah kabut hitam muncul di tengah-tengah aula membuat mereka semua terkejut secara bersamaan.


"Apa itu?" tanya mereka semua.


Hingga saat kabut itu menghilang, tampak lah mayat jenderal Rio terbaring. Semua Duyung yang hadir di sana tak bisa menahan keterkejutan mereka.


Selama ini Rio di kenal sebagai Jenderal hebat, bengis dan kejam. Tidak akan ada yang selamat dari terkaman nya di Medan perang.


Namun, saat ini. Mereka melihat jasad Rio. Mungkin bila hanya mendengar tanpa melihat, mereka tidak akan percaya kalau Rio akan mati.


"Jenderal," pekik Raja Jionard terkejut.


Duyung paruh baya itu segera berenang menghampiri jasad sang jenderal. Semua orang yang hadir segera mengerubungi jasad sang jenderal.


Mata mereka terbelalak saat melihat tulisan kuno di kening jenderal bersamaan dengan lambang kepala naga.


"I-ini … lambang ini adalah milik ras naga yang sudah punah beberapa abad yang lalu," ujar salah satu Duyung level dewa yang hadir.


Raja Jionard menelan ludahnya kasar. Dia sendiri bertanya-tanya dalam hati hal apa yang telah di lakukan oleh Rio sampai bertemu dengan ras naga.


"Aku menyuruhnya untuk membunuh Zeo, tetapi kenapa dia yang terbunuh?" gumam Raja Jionard dalam hati.


*


*


Kembali lagi pada Zeo. Pria itu melihat kekasih hatinya terbaring lemah atas ranjang. Buru-buru dia menghampiri sang kekasih. Tak mampu Zeo menahan air matanya agar tak turun.


"Ziya, aku mohon bangun … hey! Lihatlah dia sudah aku kalahkan," bisik Zeo dengan suara seraknya.


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


Mampir juga ke novel temen author 🥰🥰