MY LIFESAVER & I

MY LIFESAVER & I
Kalung Liontin



"Oh kau sudah bangun ya putri tidur?" ledek Bryan setelah melihat Sam tengah berkutat di dapur membuat sesuatu.


Tadi ketika Bryan datang, Sam masih tertidur lalu dia pun pergi sebentar dan saat kembali mendapati Sam sudah bangun. Padahal Sam mengirimi Bryan pesan jam 4 pagi untuk segera datang ke rumahnya.


"Cih. Bukankah seharusnya kau memberi penjelasan," sambar Sam cepat.


Bryan mengernyitkan kening, lalu menatap Sam yang masih sibuk dengan aktivitasnya.


"Penjelasan apa?" tanya Bryan tidak mengerti.


Sam menatap dingin pada Bryan, "Kau pikir aku tidak tau jika kau sedang bersama Via tadi malam," cetus Sam tinggi


Bryan sontak tersenyum lebar, lebih tepatnya menyeringai sambil memperlihatkan barisan giginya yang kecil-kecil itu. Tangannya menggaruk belakang telinganya yang tak gatal.


"Apa kau ingin tau bagaimana ceritanya, Via bisa berakhir bersamaku?" pancing Bryan.


Sam menghentikan aktivitas mengaduk kopinya itu, lalu menatap Bryan seakan berkata cepat-jelaskan-sekarang-kalau-kau-masih-ingin-hidup.


Bryan dengan santai menanggapi tatapan mata Sam.


"Tenanglah dulu. Bawa kemari kopi milikmu, aku akan menceritakannya," kekeh Bryan.


Sam membawa kopi hitam miliknya dan duduk di dekat Bryan.


Bryan yang sepertinya membeli sarapan itu mulai menyantapnya tanpa menawarkan Sam.


'Sialan. Di mana sopan santun bocah ini' batin Sam kesal.


Setelah melihat Bryan dengan tenang menyantap sarapannya, Sam juga ikutan menjadi lapar. Apalah daya dia harus menahannya dengan segelas kopi dulu.


"Jadi," Bryan memulai membuka pembicaraan. Mulutnya sibuk mengunyah makanannya dengan cepat lalu menelannya.


"Terjadi sesuatu padanya tadi malam. Karena dia tak bisa menghubungimu, oleh karena itu dia menghubungiku,"


Sam diam saja dengan wajahnya yang datar. Dia juga tak bisa selalu tepat waktu untuk datang membantu Via, ya karena memang ada urusan yang lebih penting daripada itu.


"Lalu dia mengatakan bahwa dia ingin mencari rumah baru. Aku hanya menawarkan rumahku yang tidak kupakai itu padanya dan-"


"Sampai dini hari, apa kau pikir itu masuk akal untuk mencari rumah? Padahal bisa dilakukan keesokan harinya?" Sam langsung memotong pembicaraan Bryan yang belum selesai.


Sedangkan Bryan manyun karena dipotong saat dia berbicara.


"Ya. Via pikir lebih cepat lebih baik. Sungguh kau tak perlu khawatir. Aku tak melakukan apapun padanya," Bryan menegaskan diri bahwa dia tidak melakukan hal yang macam-macam, jari tangannya sampai membentuk isyarat 'sumpah'


Bryan menelan ludah saat melihat raut wajah Sam yang mulai mengeras. Walaupun mereka hanya berteman, tapi Sam sangat peduli pada Via. Maka dari itu, jika sesuatu terjadi padanya, Sam tidak akan tinggal diam sekalipun orang yang menyakiti Via adalah Bryan.


Sam memandang penuh selidik pada Bryan, "Kau sebenarnya suka dengannya, bukan?"


Bryan semakin menelan ludah dan mengalihkan pandangannya ke berbagai tempat di rumah Sam.


"Aku sama sekali tak masalah jika kau menyukainya. Tapi kau ingat satu hal, jangan sakiti dia. Kau tau aku dan Via berteman baik," ujar Sam menatap kepulan uap diminumannya.


Bryan tertawa kecut, "Sam, kau serius tidak tau bagaimana perasaan Via?"


Sam mengernyit, "Apa maksudmu? Kami hanya berteman dekat. Apapun yang berhubungan dengannya juga turut berhubungan denganku,"


Bryan semakin menguatkan tawanya.


Uhukk!!! Uhukkk!!!


Seketika dia tersedak oleh air liurnya sendiri. Buru-buru Bryan mengambil segelas air putih di dapur dan menenggaknya hingga habis.


"Kenapa kau menanyakan itu?" Sam balik melontarkan pertanyaan pada Bryan. Ya aneh saja, mendengar Bryan bertanya hal yang sudah jelas.


Bryan duduk kembali sambil menghela napas panjang. 'Bodoh sekali kau Sam. Bisa-bisanya tidak peka akan perasaan Via,' batin Bryan memaki teman baiknya ini.


"Sudahlah kalau kau berkata seperti itu. Aku tidak akan membahasnya lagi," sambar Bryan segera mengalihkan pembicaraan lain.


Tapi Sam tampak penasaran, dia terlihat menunggu jawaban dari Bryan. Namun karena Bryan sudah berkata begitu maka Sam tak mungkin memaksanya untuk menjawab pertanyaannya tadi.


"Aku akan pergi menjemput Paman Sebastien," ucap Sam langsung pada intinya.


Bryan mengerutkan keningnya. Tangannya terlipat di depan dada. "Kau yakin? Apa ini berarti kau akan memakai Kartu AS mu?"


Sam mengangguk singkat, lalu menyeduh kopi hitamnya itu dengan nikmat.


"Dina tidak akan melepaskanmu, Sam. Kau tau tabiatnya bagaimana. Jika kau membawa Paman Sebastien pulang, maka Dina tidak akan membiarkannya," lanjut Bryan.


Ah dari semua anggota keluarga Sam, Dina adalah yang paling semangat jika memikirkan tentang harta dan tahta. Untuk itu dia akan menggunakan segala cara demi mempertahankan posisi suaminya, Scott sebagai Presiden Direktur. Dina tidak akan segan menggunakan cara-cara licik.


"Tidak. Dia tidak akan berbuat apapun. Rapat umum pemegang saham kan sebentar lagi. Jika Dewan Direksi mengetahui dia membuat kekacauan, pasti itu akan mempengaruhi keputusan akhir,"


Bryan mengerti, benar memang yang dikatakan oleh Sam.


"Kapan kau akan pergi?"


"Hari ini. Tolong pesankan tiket untukku. Aku akan menghubungi kantor untuk meminta cuti beberapa hari lagi,"


Ah benar. Sam masih harus menghubungi kantor tempatnya bekerja saat ini.


"Bagaimana pun caranya, aku harus membuat Paman Sebastien mendapatkan posisi ini. Agar aku tak diusik lagi mengenai tugas dan tanggungjawabku. Juga agar harta kakek tetap terjaga. Kau tau mereka begitu serakah,"


Bryan mengangguk setuju.


"Baiklah. Aku juga sudah menyimpan bukti kejahatan Scott dengan aman. Kau tenang saja,"


Sam tersenyum simpul, "Terima kasih,"


Seketika terlintas dalam ingatan Sam tentang sesuatu yang tersimpan di rumah ini. Mungkinkah Bryan mengetahuinya.


"Hei. Kau tau, Scott memintaku untuk pindah dari rumah ini. Apa mungkin rumah ini menyimpan sesuatu?"


Bryan membelalak kaget mendengar penuturan Sam. Ha, pamannya, Scott meminta Sam pindah.


Ini bukankah sungguh mencurigakan?


"Aku tak tau. Tapi sepertinya tidak ada apapun di rumah ini, Sam. Kalau ada, pasti kakek sudah cerita,"


Sam terdiam lagi memikirkan kata-kata Bryan. Itu seperti yang diduganya. Jika ada sesuatu, pasti kakeknya akan cerita.


'Ah sialan. Ini benar-benar menggangguku,' batin Sam jadi kesal.


Selagi dia tinggal di sini, Sam akan mencari tau apa yang sebenarnya Dina dan Scott maksud. Sebelum mereka meminta Sam untuk pindah dari sini.


Kalau begitu lupakan niat ingin membawa pergi gadis itu. Lakukan jika memang Sam sudah mengetahui apa rahasia dibalik rumah ini.


"Jadi bagaimana perkembangannya?" tanya Sam lagi kali ini lebih serius.


Bryan mengerucutkan bibirnya. 'Apa maksudnya?' batinnya tak mengerti.


"Kau pasti tak lupa jika aku memintamu untuk mengurus pengadopsian gadis itu kan,"


Bryan menepuk jidatnya, "Maafkan aku. Aku tidak sengaja melupakan untuk yang satu itu,"


Seketika Bryan mendapatkan tatapan mematikan dari Sam.


"Aiissshh. Tanganku hanya ada dua, Sam. Mana bisa kukerjakan sekaligus," keluh Bryan yang memang sibuk akhir-akhir ini.


"Itu sama pentingnya dengan membawa Paman Sebastien pulang, Bryan. Aku ingin cepat. Aku tak mau tau," perintah Sam pada Bryan yang segera dibalas anggukan lemas dari Bryan.


Baru saja Bryan ingin menghela napas. Pekerjaannya di kantor juga banyak. Ditambah dengan perintah dari Sam.


Ingin rasanya menghilang saja.


"Aku tidak akan menemui gadis itu untuk tiga hari kedepan. Jadi tolong kau jaga dia. Berkunjunglah untuk memberi kabar padanya jika aku sedang pergi,"


Bryan menghela napas lagi. Sam benar-benar memperlakukan gadis kecil itu dengan sangat baik.


Sam kemudian bangkit dari duduknya dan membawa gelas kopi yang sudah kosong itu ke dapur. Lalu masuk ke kamarnya.


Tak lama dia keluar lagi.


"Berikan ini pada gadis itu. Aku sudah memodifikasinya untuk ditambahkan GPS,"


Bryan seketika tertawa kencang. Astaga. "Hei, kau sudah gila ya. Kenapa kau memberikan kalung berbentuk liontin begini sih," celoteh Bryan antara protes dan meledek Sam.


"Jangan banyak bertanya," Sam melemparkan bantal sofa di dekatnya ke wajah Bryan.


Bryan masih sibuk tertawa geli melihat tingkah aneh Sam. Dari sekian banyak model untuk kalung, kenapa yang harus berbentuk liontin. Orang yang melihatnya bisa salah paham yang ada. Apalagi untuk diberikan ke anak yang mungkin terpaut 15 tahun darinya.


"Sam, kau masih normal kan?" selidik Bryan.


"Apa maksudmu?" Sam tersinggung dikatakan seperti itu.


"Kau itu orang dewasa. Jangan jatuh cinta pada anak yang masih di bawah umur, Sam. Kau bisa terkena pasal tindak pidana hukum nanti,"


Kini giliran Sam yang tertawa kencang. "Jaga bicaramu, sialan. Atas dasar apa kau mengatakan aku jatuh cinta padanya,"


"Ini buktinya. Kenapa kau harus memberikan kalung berbentuk liontin ini," Bryan ngotot mempertahankan argumennya.


Sam semakin lepas kendali. Kali ini tertawa lebih kencang dari sebelumnya.


"Memangnya kalau aku memberikan kalung liontin itu menandakan jatuh cinta padanya? Heh, aturan darimana itu. Aku memilih itu karena bentuknya cantik. Lagipula disitu tempat menyimpan chip, Bryan. Itupun hanya sebagai hiasan saja. Kau ini berpikir terlalu berlebihan" balas Sam panjang lebar, mematikan pendapat Bryan.


Masih dengan tertawa terpingkal Sam masuk lagi ke kamarnya.


Iya sih benar juga yang dikatakan oleh Sam. Tapi Bryan tetap saja merasa janggal.