
Jadi disinilah Sam berakhir. Disebuah meja makan persegi panjang yang begitu mewah, sudah terhidangkan berbagai macam makanan yang menggiurkan.
Sam tertawa dalam hati. Bisa pula dirinya malah berakhir disini.
Sam melepaskan dua kancing teratas kemeja berwarna hitam itu karena rasanya begitu gerah.
Semua anggota keluarganya saat ini tampak begitu menikmati hidangan yang telah tersaji ini. Oke sebenarnya ini agenda makan malam wajib yang harus dihadiri oleh seluruh anggota keluarga tersisa dan agenda ini diadakan setiap 2 minggu sekali.
Ya katanya sih demi mempererat hubungan keluarga. Tapi Sam justru merasakan hal yang sebaliknya karena ini jadi semacam ajang pamer.
Sam menghela napasnya. Sedari tadi dia mengaduk makanannya karena tak begitu berselera. Padahal ada makanan kesukaannya tapi entahlah, dia ingin pulang saja.
Sebenarnya kedatangannya hari ini juga tak lepas dari paksaan Bryan. Dia merecoki Sam melalui ponsel agar Sam bisa datang. Karena Sam sudah beberapa kali absen menghadiri agenda ini.
"Kak. Kakak kenapa tidak makan?"
Sepupunya yang merupakan anak dari pamannya ini bertanya pada Sam. Padahal dia sedang berkuliah diluar Kota. Kenapa dia harus bersusah payah untuk datang kesini. Ini bukan acara yang penting. Ah Sam mengerti. Karena Ayahnya saat ini adalah Kepala keluarga yang baru setelah Ayah Sam dan Kakek meninggal.
"Tidak berselera" jawab Sam ketus.
Lalu mengalihkan lagi matanya menatap makanan dipiringnya.
Biasanya mereka akan membicarakan hal-hal terkait perusahaan setelah makan malam selesai, dan makan malam sudah dijadwalkan akan berakhir dalam waktu satu jam.
Sekarang sudah 30 menit berlalu. Itu artinya 30 menit lagi baru benar-benar berakhir.
Huft. Sam ingin cepat-cepat pergi. Tak nyaman dia berada disini.
Biar Sam luruskan siapa saja yang hadir malam ini.
Itu ada pamannya, Scott yang saat ini sebagai pemimpin keluarga juga pemimpin perusahaan, bersama istri dan anaknya.
Lalu ada keluarga yang satu darah dengan kakek. Yaitu adik-adik kakek bersama dengan keluarga mereka.
Jadi begitu ramai makan malam hari ini. Sedangkan pamannya yang satu lagi itu, Sebastien sedang berada di Amerika.
Oh sial. Sam sebenarnya ada rencana untuk menjadikan Sebastien sebagai penerus selanjutnya. Tapi Sam harus bertemu dengannya di Amerika dan membujuk pamannya itu.
Tapi pamannya begitu keras hati. Ya dia bukannya tak ingin membantu Sam tapi dia malas mengurusi bisnis keluarga karena hanya akan menimbulkan pertikaian saja.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Sam?"
Suara berat Scott memecah isi pikiran Sam. Apa tadi ada seseorang yang bertanya padanya. Sam benar-benar melamun tadi.
Mendadak mereka semua memandang kearah Sam.
'Ada apa ini. Aku bukan bahan pertunjukan. Berhenti menatapku' keluh Sam dalam hati.
Sam menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, paman Scott. Maaf maksudku, Tuan Presdir"
Sam tau tidak lama lagi - namun entah kapan tepatnya, akan diadakan Rapat Umum Pemegang Saham untuk menentukan siapa yang jadi penerus selanjutnya.
Sepertinya pamannya ini tidak akan menjabat lagi, karena dari berita yang Bryan katakan pada Sam bahwa Dewan Direksi merasa tidak begitu cocok dengan Paman Scott-nya ini.
Walaupun paman telah memberikan keuntungan yang besar pada perusahaan tidak mengubah fakta bahwa dia tidak begitu disukai. Apa yang membuatnya begitu ya.
Namun lain cerita jika pamannya ini mungkin saja membayar para Dewan Direksi itu untuk kembali memilihnya.
"Jaga bicaramu, Sam"
Ah begitu romantisnya. Baru saja istrinya membela suaminya.
"Maafkan aku bibi. Aku tidak bermaksud lancang. Bagaimana kalau kita akhiri saja makan malam ini. Aku sudah tidak berselera lagi" ujar Sam santai sembari melemparkan senyum indahnya keseisi ruangan.
"Kenapa kau begitu terburu-buru Sam. Nikmati saja dulu makanannya" balas Scott tampak tak ambil hati dengan ucapan Sam yang terdengar menyindirnya.
Sam mengangkat bahunya, jengah. Tidak bisa lari dari hal ini. Sesuatu yang begitu menjengkelkan.
"Minggu depan adalah hari peringatan kematian orang tuamu kan"
Jantung Sam mencelos. Minggu depan. Benar juga. Dia melupakannya.
Setiap peringatan kematian pasti keluarga ini akan mengadakannya. Tidak terkecuali peringatan kematian orang tua Sam.
Sam selama ini selalu melewatkannya. Tidak pernah datang. Bahkan peringatan kematian kakeknya pun dia jarang datang. Namun sebenarnya Sam diam-diam mendatangi makam mereka.
"Aku usahakan. Aku takut jika bentrok dengan keadaan darurat"
"Kau lebih memilih pekerjaanmu dibandingkan dengan peringatan kematian kedua orang tuamu" celetuk istri pamannya ini.
Seketika meja makan itu hening mencekam. Tidak ada yang ingin menanggapi, menyanggah ataupun menghentikan aksi sindir menyindir ini.
Sam berdehem sedikit keras.
"Bibi. Apa kau tak menyadari jika ucapanmu barusan itu membuat ketegangan dimeja makan ini. Yang tadinya terasa khidmat jadi begini kakunya" balas Sam balik menyerang bibinya.
"Urusan apakah aku lebih memilih pekerjaan dibandingkan dengan peringatan kematian kedua orang tuaku. Itu bukan urusan bibi. Jadi jangan ikut campur"
Sam menelak bibinya, Dina, hingga tak berkutik. Apa menurutnya aksinya menyudutkan Sam tadi itu sudah hebat.
Sam tertawa senang dalam hati. Dia merasa menang. Tidak ada yang bisa melawan Sam.
"Sudah, sudah. Jangan diteruskan lagi. Kalian sudah membuat suasana asing saat kita tengah makan malam. Makan malam masih akan berakhir dalam 10 menit. Tidak ada yang boleh membicarakan topik-topik yang bisa menyinggung beberapa pihak"
Kalimat nasihat itu dilontarkan oleh adik kakek yang paling kecil. Hmm Sam menyebutnya apa ya. Dia juga tak begitu mengerti tentang silsilah keluarga ini.
Dina tampak mengeraskan rahangnya menahan malu...... ralat juga menahan marah. Bibirnya terkatup rapat, matanya tampak tak tenang sibuk mencari objek yang bisa dipandanginya.
Sam masih tersenyum dalam hati, lalu menyeduh teh hijau miliknya. Tentu dengan kemenangan ditangannya. Ah rasanya begitu menyenangkan.
Setelah 10 menit berlalu yang rasanya seperti 10 jam akhirnya mereka selesai makan malam.
Kali ini mereka bisa santai karena tinggal memakan makanan penutup saja.
Obrolan yang topiknya berat-berat pun boleh dibicarakan.
"Bisakah seseorang memberitahuku apa yang ingin dibicarakan saat ini"
Sam membuka calak. Karena dia ingin segera pergi dari sini. Tentu dia harus memulai bicara.
Scott. Pamannya tampak ingin menjawab ucapan Sam.
"Kau harus pindah dari rumah itu, Sam"
Sam menaikkan alisnya. Apa lagi ini. Tiba-tiba memintanya untuk pindah. Tak ada hal yang lebih penting yang bisa disampaikan.
"Apa alasannya?" balas Sam acuh sembari menggigit apel merah yang berada ditangannya.
Semua yang masih berada dimeja makan saling berpandangan. Sam menduga jika mereka ini memang sudah sepakat untuk meminta Sam meninggalkan rumah kakek.
"Hanya aku sepertinya yang tidak tau apa-apa. Datang-datang aku malah diminta untuk pindah. Apakah pantas seperti itu. Sungguh tidak sopan" celoteh Sam mengunyah apelnya, memasang raut wajah mendramatisasi bahwa dia merasa tersinggung.
Tidak ada yang berani bicara. Semuanya menunduk menyembunyikan wajah yang mengatakan bahwa mereka itu sudah merencanakan ini.
"Aku ulangi pertanyaanku. Apa alasannya aku diminta untuk pindah dari sana" tegas Sam menuntut jawaban. Dia jadi serius karena sepertinya mereka ini memang sengaja tidak ingin memberitahukan yang sebenarnya.
Scott, sebagai kepala keluarga adalah orang yang bertanggung jawab untuk hal ini.
"Kau tak lagi memiliki hak untuk tinggal disana. Sebaiknya kau pindah ke rumah kedua orang tuamu"
Hah? Sam semakin bingung tak mengerti.
"Sepertinya hanya kau satu-satunya yang tidak tau disini. Apa Bryan tidak memberitahumu?"
Astaga. Kenapa harus berbelit-belit membawa-bawa Bryan.
"Langsung saja katakan padaku. Ada apa?"
Scott menghela napas panjang. "Aku sebagai kepala keluarga memutuskan untuk memintamu pindah dari sana" katanya tegas dengan nada seperti tidak ingin dibantah.
"Kau terus mengoceh mengatakan bahwa aku harus pindah tapi tak mengatakan dengan jelas apa alasannya. Aku tidak akan menerima hal itu. Rumah itu sudah diberikan kakek padaku" balas Sam melotot tak mau kalah.
Jika pamannya ini bersikeras untuk meminta Sam pindah dari sana, kemungkinan ada yang disembunyikan pamannya terkait rumah itu.
Sam mengeluh dalam hatinya. Kenapa ada saja masalah kecil seperti ini dibesar-besarkan.