
Bryan terus melirik sedikit-sedikit kearah Via, karena dia takut akan mengganggu wanita itu jika Bryan terang-terangan menatapnya.
Setelah Sam meninggalkan mereka tadi, Via jadi terus murung dan tampak tak ingin bicara.
"Apa Sam tau?"
Bryan membuka suaranya tapi sialnya suaranya justru terdengar seperti cicitan tikus karena dia mendadak jadi gugup.
"Tau tentang apa?" balas Via tanpa mengalihkan pandangannya yang sibuk menatapi hamparan gedung-gedung tinggi diluar sana.
Bryan berdehem kecil dan mengeratkan pegangannya disetir mobil. Pandangannya jadi begitu fokus menatap jalanan didepannya.
"Perasaanmu...." Bryan sedetik berhenti bicara "...... mungkin" ucapnya jadi takut-takut.
Dia takut Via jadi marah padanya karena Bryan tanpa sengaja tau tentang perasaannya pada Sam.
Tapi ayolah astaga, siapa coba yang tidak menyadari saat Via begitu jelas memandangi Sam dengan penuh ketertarikan.
Via masih belum memberikan responnya. Dia masih diam, mungkin sedang memikirkan jawaban terbaik yang bisa dia berikan atas pertanyaan Bryan itu.
Bryan pun lagi dan lagi melirik Via yang tak kunjung memberikan jawabannya.
Duh dia ini merasa seperti diasingkan. Sudah susah payah Bryan membuka suara agar mereka tidak canggung tapi Via malah tidak menjawabnya. Ya bagaimana ya, Bryan juga salah pertanyaan kan.
Kenapa tiba-tiba jadi membahas tentang Sam yang tidak mengetahui tentang perasaan Via. Itu topik sensitif apalagi Via dan Bryan baru bertemu hari ini.
Bryan antara penasaran dan bingung ingin berbicara apa. Beda tipis saja.
Karena Via yang tak kunjung menjawab, Bryan pun berdehem lagi.
"Tidak apa kalau kau tidak ingin menjawab" katanya sambil melihat Via dari ujung matanya.
Via yang sedari tadi memandang kearah luar, kini mengalihkan pandangan menatap Bryan.
Hal pertama yang ditangkap Bryan adalah amarah. Tuh kan benar saja, Via marah ditanyai seperti itu. Bryan menghela napas dalam hati, mempersiapkan dirinya untuk menerima makian Via.
Via memandang galak pada Bryan. Dia tak menyangka semudah itu Bryan bisa membaca gelagatnya yang sudah susah payah disembunyikan walaupun tak benar-benar dia lakukan.
Sebagian kecil hatinya ingin memperlihatkan dengan sempurna perasaannya pada Sam. Tapi sebagian kecil lainnya menahannya karena dia tak ingin hubungannya dengan Sam jadi berantakan.
Via masih memandang Bryan dalam diam. Tampak Bryan yang jadi gugup dan salah tingkah, karena Via yakin Bryan menyadari bahwa dia telah salah mengajukan pertanyaan.
"Berhenti memandangku seperti itu. Kau marah, katakan saja jika kau marah. Aku memang sudah lancang mengusik privasimu yang mungkin dengan susah payah kau tutupi" sahut Bryan datar.
Jantungnya jadi berdetak-detak kencang kala Via masih menatapnya. Tapi sudah tidak menatapnya dengan begitu galak lagi.
"Jelas aku marah. Kenapa kau bisa membaca perasaanku. Aku sungguh tak suka ada orang lain yang mengetahui bahwa aku menyimpan perasaan pada Sam" balas Via dingin.
Via menggertakkan giginya demi mengurangi rasa kesal yang ingin membuncah. Tangan kanannya terkepal kuat sedangkan yang kiri menggenggam erat-erat sabuk pengaman yang terpasang didadanya.
"Aku sungguh minta maaf karena telah menyinggung hal itu. Aku tak bermaksud demikian. Aku hanya berpikir bahwa Sam benar-benar tidak tau tentang perasaanmu. Satu lagi...."
Bryan menghentikan Via yang sudah membuka mulutnya siap untuk menginterupsinya.
"Bagaimana bisa aku tak tau, sedangkan matamu tak bisa berbohong ketika menatap Sam, Via"
Via yang tadi kesal, mendengar ucapan Bryan membuat tubuhnya terasa lemas. Pegangannya pada sabuk pengaman didadanya itu luruh kesamping tubuhnya.
"Kau mungkin bisa bertingkah biasa saja, tapi matamu tak bisa menyembunyikannya, Via. Kau juga tak bisa membohongiku"
Via benar-benar terdiam dibuatnya. Kenapa Bryan bisa sangat jeli memperhatikan Via.
"Mungkin kau sebaiknya mengakui perasaanmu padanya sebelum dia diambil orang lain" kata Bryan rendah namun menusuk.
Diambil orang lain? Ya kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tapi lihatlah bagaimana hubungan Via dan Sam sekarang.
Via menggeleng pelan, kepalanya ditundukkan, tangan kanannya terlihat gemetar. Apa karena dia yang begitu syok mendengar ucapan Bryan tadi atau karena menahan gejolak tangis yang bisa jadi akan pecah.
"Aku tak bisa melakukannya. Itu hanya akan membuatku kehilangan Sam"
Bryan tersenyum. Dia begitu naif. Demi mempertahankan Sam tetap ada disisinya, Via lebih memilih untuk memendam perasaannya.
"Ya sudah kalau begitu. Aku tak bisa memaksamu untuk memberitahu Sam tentang apa yang kau rasakan"
Via mengusap air matanya yang ternyata sudah jatuh mengenai pipinya.
"Setelah ini kita belok kemana lagi?" tanya Bryan saat mereka berhenti dilampu lalu lintas. Didepan mereka ada perempatan jalan. Juga sekaligus untuk mengubah topik pembicaraan.
Via mengangkat wajahnya dan melihat jalan yang dimaksud oleh Bryan.
Bryan menganggukkan kepalanya pelan, sembari menunggu lampu lalu lintas berubah warna menjadi warna hijau, baik Bryan dan Via tidak ada lagi yang mulai untuk berbicara.
Setelah Bryan tanpa sengaja menyinggung perasaan Via, Bryan tak ingin lagi salah-salah dalam berucap.
Bryan tersadar dari lamunannya saat kendaraan roda empat dibelakangnya membunyikan klakson dengan begitu kuat.
Buru-buru Bryan menginjak pedal gas saat dia lihat lampu lalu lintas yang memang sudah berubah warna.
Pantas saja kendaraan dibelakangnya tampak tidak sabaran.
"Apa yang kau lamunkan?"
Bryan mengangkat sebelah alisnya saat pertanyaan terlontar dari bibir wanita itu.
"Tidak ada" balas Bryan singkat. Tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
"Nanti pertigaan jalan didepan itu belok ke kiri" kata Via memberi instruksi kepada Bryan.
Bryan bergumam pelan. Lalu membelokkan mobilnya kearah kiri. "Lurus saja" kata Via langsung sebelum Bryan bertanya lagi.
Bryan pun mengarahkan mobilnya lurus mengikuti jalan.
"Oke. Berhenti disini" kata Via sembari menunjuk sebuah rumah bercat hijau muda. Tampak asri dengan beberapa pohon yang ada dihalaman rumah itu.
"Disini?"
Via mengangguk sekilas lalu melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Bryan juga melakukan hal yang sama.
"Terima kasih karena kau sudah mengantarku pulang" ujar Via sopan.
Walaupun dia sebenarnya lelah, tapi dia tak ingin terlihat cuek setelah Bryan dengan baik hati mengantarnya pulang.
"Ini rumahmu?" tanya Bryan lagi memastikan.
Oke rumah ini begitu besar. Terdiri dari 2 lantai dan Bryan melihat-lihat sekitar jika di rumah ini bukan hanya dihuni oleh satu orang saja. Karena rasanya rumah ini didesain bukan untuk ditinggali sendirian.
"Ini tempat kontrakanku, Bryan" jelas Via.
Bryan mengernyit. Oh jadi Via tidak tinggal bersama orang tuanya? Pantas saja, rasanya begitu ramai di rumah itu.
Sadar karena Bryan terlihat berlebihan, dia pun segera mengubah raut wajahnya, tampak biasa saja.
"Baiklah kalau begitu" balas Bryan kemudian mengusap tengkuknya salah tingkah.
Bryan tiba-tiba teringat jika dia belum memberikan kartu namanya sebagai tanda perkenalan.
Bryan merogoh-rogoh saku jasnya mencari dimana kartu berbentuk persegi itu dia letakkan.
Lalu menariknya dari dalam saku ketika dia mendapatkan apa yang dicarinya.
"Ini kartu namaku. Hubungi aku jika kau butuh sesuatu. Kau adalah teman Sam. Itu berarti kau temanku juga"
Bryan menyodorkan sebuah kartu berbentuk persegi berwarna putih untuk bagian depan dan biru untuk bagian belakangnya.
Via tampak ragu-ragu untuk menerima kartu nama itu. Namun karena segan, dia akhirnya mengambilnya juga.
"Terima kasih" ucapnya lirih.
Bryan tersenyum manis. Matanya pun bahkan ikut tersenyum.
"Apa mereka itu teman-temanmu?" celetuk Bryan setelah dia mendongakkan kepalanya menatap beberapa wanita yang berada dilantai 2 tampak memandang kearahnya juga Via.
Via pun mengikuti arah pandang Bryan. Lalu tertawa getir.
"Maaf. Mereka memang seperti itu. Entahlah aku tak tau mengapa, hanya saja sepertinya mereka tidak menyukaiku tinggal disini" ucap Via sedih.
Bryan menelan ludah dengan susah payah, mencerna ucapan Via tadi yang rasanya terdengar begitu pilu.
"Baiklah, hubungi aku kalau ada sesuatu terjadi padamu"
Via mengangguk. Lalu Bryan pun melangkahkan kakinya masuk kembali ke mobil dan segera menyalakannya lalu meninggalkan Via.
Via menghela napas panjang. Bertemu dengan Bryan adalah hal yang tidak disangkanya.
Kata Bryan tadi. Teman Sam adalah temannya juga. Itu berarti Via dan Bryan berteman? Apa dia menganggap Via seperti itu? Ah entahlah. Yang jelas Via begitu canggung jika harus meminta bantuan Bryan.
Mungkin karena mereka juga baru mengenal satu sama lain. Via mengusap lembut kartu nama Bryan dan memasukkannya kedalam tasnya.