MY LIFESAVER & I

MY LIFESAVER & I
Matamu Begitu Indah



Bryan menghela napas panjang ketika Sam memutuskan panggilan secara sepihak. Dia yang menelepon dia juga yang dengan kasar menutupnya. Sungguh tidak sopan.


Bryan pikir ada apa Sam menghubungi dirinya sepagi ini. Ternyata tentang bagaimana cara adopsi anak.


Hmm sepertinya Sam serius untuk mengadopsi gadis kecil yang dia ceritakan itu.


Bryan memang belum pernah bertemu dengannya tapi dia merasa jika Sam begitu memperhatikan gadis kecilnya.


Waktu pertama kali Sam menceritakan tentang pertemuannya dengan gadis itu, Sam terlihat begitu senang dan bahagia. Sepanjang dia bercerita terus menyunggingkan senyum manis, bahkan kadang cekikikan sendiri.


Sungguh aneh. Entah apa yang tengah merasuki Sam.


Bryan sudah cukup lama menjadi asisten pribadinya Sam. Selain itu dia juga memiliki tugas lain di perusahaan kakeknya.


Jadi kadang Bryan tak bisa meluangkan waktunya dua puluh empat jam penuh. Namun sebisa mungkin dia akan usahakan.


Sam juga kadang-kadang tak menceritakan pada Bryan jika dia butuh sesuatu. Kalau tidak mendesak saja, mungkin Sam tidak akan menghubunginya.


Sam masih menjadi kandidat paling kuat untuk meneruskan perusahaan kakeknya ini walaupun sekarang sedang dipimpin oleh pamannya.


Padahal Bryan tau jika Sam sama sekali tidak tertarik untuk melakukannya dan lebih memilih untuk menjadi petugas pemadam kebakaran.


Sesering apapun Bryan coba untuk mempengaruhi pendirian Sam agar dia berubah pikiran dan mau mengurusi perusahaan kakeknya, tapi Sam tidak terpengaruh sama sekali.


Sangat keras kepala. Mungkin juga karena dia sudah nyaman dengan pekerjaannya sebagai petugas pemadam kebakaran. Ya itu merupakan tugas yang mulia, yang tak semua orang bisa melakukannya.


Bryan melemparkan ponselnya begitu saja di ranjangnya. Lalu dia bangkit dan masuk ke kamar mandi.


Sam telah membangunkanya, membuat Bryan jadi tak bisa tidur lagi padahal dia bekerja lembur kemarin.


Bryan berdiri didepan wastafel, dan mematut bayangan dirinya terpantul dicermin bulat itu. Menghidupkan keran air dan membasuh wajahnya.


Lalu mematikan keran itu lagi.


Bryan sedikit banyaknya tau tentang kisah hidup Sam yang kecilnya berada di panti asuhan. Lalu dia diambil kembali oleh Sang Kakek.


Orang tua Sam memang sudah meninggal dan Bryan yakin jika Sam antara benci dan tak benci dengan orang tuanya. Sudah meletakkannya di panti asuhan.


Bryan juga tak mengerti mengapa bisa jadi seperti itu. Dia ingin bertanya pada kakek sebelum kakek meninggal, tapi tak pernah jadi karena dia takut kakek akan murka.


Jika dipikir kembali. Sam diadopsi diumurnya yang ke dua belas tahun. Sedangkan Bryan pertama kali bertemu Sam itu saat Sam berumur dua puluh tahun. Saat ini Sam berumur dua puluh tujuh tahun.


Itu artinya Sam dan Bryan sudah bersama selama tujuh tahun lamanya.


Bukan waktu yang sebentar. Memang saat itu Sam dipersiapkan untuk menjadi penerus perusahaan kakeknya, tapi Sam tiba-tiba memutuskan untuk berhenti dan menjadi petugas pemadam kebakaran.


Bryan dan Sam sama-sama saling menerima satu sama lain, oleh karena itu mereka jadi mudah untuk akrab dan saling berbagi cerita.


Bryan sendiri saat ini berumur tiga puluh tahun. Hanya berbeda sekitar tiga tahun dari Sam.


Jadi Bryan sudah menganggap Sam seperti adiknya sendiri.


Kejadian yang membuat Sam terpukul lainnya adalah saat ternyata kekasihnya menghianatinya. Itu membuat Sam jadi patah hati. Begitu patah hati sampai hampir membuatnya hidup seperti Zombi.


Ah tidak bukan seperti Zombi tapi lebih seperti pepatah yang mengatakan hidup segan mati tak mau.


Kira-kira seperti itulah yang dialami Sam waktu itu.


Tapi syukurlah jika Sam saat ini sudah kembali seperti sedia kala. Mau sehancur apapun kehidupan kita tapi kita masih punya kesempatan untuk memulainya kembali.


Selagi masih hidup, terus memperbaiki diri.


Bryan mengusap wajah dengan air dingin sekali lagi lalu keluar dari kamar mandi dan berjalan ke dapur rumahnya.


Membuat secangkir kopi panas akan mengembalikan semangatnya.


Setelah kopinya selesai, dia duduk di ruang tamu sembari menyandarkan kepalanya disandaran sofa.


Dirinya ingin berhenti. Tapi kalau berhenti harus darimana lagi dia mendapatkan uang untuk memenuhi kehidupannya.


Ya sebenarnya Bryan tidak akan benar-benar bangkrut karena dia masih memiliki usaha sampingan.


Walaupun demikian, Bryan rasanya tak tega jika meninggalkan Sam sendiri menghadapi keluarga dari paman dan bibinya itu.


Mereka ini sudah terang-terangan melawan Sam yang padahal sudah diberikan amanah oleh kakek bahwa Sam yang akan meneruskan perusahaannya itu.


Saat ini yang memegang kendali atas urusan perusahaan adalah pamannya. Yaitu adik dari ayahnya yang merupakan anak kedua kakek Sam.


Hidup Sam benar-benar sulit. Mungkin karena dari kecil dia harus mengemban tanggung jawab besar.


Jika Sam terus menolak untuk meneruskan perusahaan maka Sam harus mencari pengganti yang paling bisa dia percayai. Namun sayang beribu sayang keluarga Sam tidak ada yang begitu, karena mereka semua gila akan uang, kekuasaan, jabatan dan lainnya.


Tapi dia saat ini tengah berada diluar negeri dan tak ingin kembali ke Jakarta. Malas juga dia mengurusi hal-hal berbau bisnis walaupun dia memiliki kemampuan untuk itu.


Bryan menggelengkan kepalanya, tak mengerti lagi bagaimana situasi dikeluarga Sam saat ini.


Bryan menyeduh kopinya dengan nikmat. Dia harus bertemu dengan Sam dulu untuk membicarakan masalah adopsi anak ini.


Apa dia serius melakukannya? Setelah bertemu gadis itu, Sam jadi kembali ke dirinya yang dulu.


Ya perubahan yang bagus bukan.


Bryan sekali lagi menyeduh kopinya, langsung dia habiskan karena dia harus mandi dan pergi menemui Sam sebelum waktunya pergi bekerja.


***


Satu jam kemudian


Bryan sampai di rumah mewah Sam yang merupakan peninggalan kakeknya ini.


Biasanya Bryan langsung masuk saja jika datang ke rumah Sam. Karena Bryan tau berapa kode sandi rumah Sam.


Pintu rumahnya sengaja didesain menggunakan sandi untuk masuk ke rumah. Karena Sam sering lupa meletakkan kunci rumahnya ada dimana.


Bryan pun memasukkan kode sandi itu dan hola, pintu seketika terbuka.


Bryan pun langsung masuk dan seperti biasanya langsung mencerocos panjang lebar padahal Bryan belum melihat tanda-tanda keberadaan Sam.


"Sam" panggil Bryan setelah dia celingak-celinguk, tapi tak kunjung menemukan Sam.


"Sam" panggil Bryan lagi, kali ini dengan lebih keras.


'Sial. Kemana perginya Sam?' batin Bryan bertanya pada keheningan rumah ini.


Ceklek.


Seketika pintu sebuah kamar terbuka dan memunculkan sesosok wanita.


Bryan sampai melongo bahkan mengucek matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya ini nyata atau tidak.


Wanita? Kenapa dia bisa ada ditempat Sam.


"Siapa kau?" kata wanita itu dengan wajahnya yang berubah menjadi takut juga cemas.


Bryan buru-buru menyadarkan dirinya dari keterkejutan sebelum dia membuat wanita ini semakin takut padanya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya lagi dengan raut wajah yang benar-benar takut, seperti melihat penjahat.


Bryan tersenyum dalam hati, ketika dia melihat wanita didepannya ini tengah memegang sebuah tongkat golf ditangannya.


"Aku tidak akan menyakitimu. Aku kemari untuk menemui Sam. Apa dia tak ada di rumah?" tanya Bryan lembut, berjalan selangkah menuju wanita itu namun wanita itu menyodorkan tongkat golf itu kearah Bryan memintanya untuk jangan mendekat.


Bryan pun menghentikan langkahnya.


Aneh sekali. Harusnya Bryan yang bertanya siapa wanita ini. Kenapa dia bisa ada disini.


Kenapa justru jadi dirinya yang terlihat seperti penjahat.


"Aku bertanya padamu, apa Sam tidak ada di rumah?"


Bryan bertanya lagi karena wanita itu tak kunjung menjawabnya.


"Aku bukan penjahat. Juga tak memiliki niat untuk menyakitimu. Jadi kau tak perlu takut. Bisakah kau turunkan tongkat golf itu, karena itu terlihat begitu menakutkan" pinta Bryan sambil mewanti-wanti jika wanita didepannya ini akan mengayunkan tongkat golf itu mengenai dirinya.


Wanita itu mendengarkan Bryan, menurunkan tongkat golf yang ada digenggaman tangannya, namun tidak melepaskannya.


"Sam sedang pergi berolahraga. Katanya dia ingin jogging. Mungkin sebentar lagi akan kembali"


Bryan tersenyum senang mendengar penjelasan dari wanita yang berani menyodorkan tongkat golf ini padanya.


"Baiklah kalau begitu. Aku tidak berkepentingan untuk mengetahui kau ada hubungan apa dengan Sam. Tapi kau bisa berhenti menatapku dengan pandangan intimidasi seperti itu, karena aku memang orang baik. Bukan penjahat" ujar Bryan setengah ketus menyindir wanita didepannya yang langsung merubah raut wajahnya.


Sedari tadi wanita itu tak melepaskan pandangannya dari Bryan. Benar-benar menguncinya ditatapan mata dengan bola mata yang begitu indah.


"Matamu begitu indah" lirih Bryan seperti tersihir dan tanpa sadar menyuarakan apa yang ada dipikirannya.


"Jangan percaya padanya, Via. Dia itu merupakan pemain wanita" celetuk Sam yang tiba-tiba muncul. Kedatangannya saja begitu misterius, hingga suara pintu terbuka dan tertutup pun tak terdengar.


"Sam" panggil wanita itu dengan suaranya yang terdengar begitu lega.