MY LIFESAVER & I

MY LIFESAVER & I
Kartu AS



"Dimana kau letakkan sopan santunmu. Berbicaralah santun pada pamanmu, Sam"


Dina, bibinya itu memarahi Sam karena berbicara tak sopan. Menggunakan kata ganti kau pada pamannya. Ya, memang tak sopan kan. Tapi pamannya yang membuat Sam begitu. Tapi tetap saja Sam keteralaluan.


 


Sam mengeluh dalam hati. Kupingnya jadi panas karena bibinya yang mengomel.


"Aku akan pertimbangkan untuk pindah dari sana. Tapi berikan aku alasan yang jelas dan kuat yang tidak akan bisa kubantah" tegas Sam.


 


Sam tak mau begitu saja meninggalkan kediaman kakeknya, apalagi diminta untuk pindah ke rumah kedua orang tuanya. Karena rumah itu sudah begitu nyaman Sam tinggali.


 


Scott meletakkan tangannya diatas meja lalu menautkannya. Matanya tertuju lurus pada Sam. Alis matanya bertaut, menandakan dia akan berbicara serius.


"Kau tidak memberikan kontribusi apapun pada perusahaan, Sam. Bukankah kau sudah diberikan amanah untuk menjadi penerus perusahaan? Tapi lihat yang kau lakukan sekarang. Kau tidak akan mendapatkan fasilitas apapun jika kau tidak ikut andil dalam mengurusi segala hal tentang perusahaan"


 


Sam membeku. Sial, pamannya ini menggunakan amanah kakek untuk mengancamnya. Pamannya tau jika Sam tak bisa memilih antara meninggalkan pekerjaannya sekarang atau kembali ke perusahaan. Karena Sam jujur saja tak bisa meninggalkan dia yang sebagai petugas pemadam kebakaran.


"Bukankah sangat licik begitu?" Sam tertawa getir


Menatap pamannya dengan pandangan yang sama. Tajam lurus, tidak ingin kalah dan tidak akan melepaskan apa yang ada digenggamannya.


"Seingatku kakek tak pernah mengatakan jika aku tak bisa berkontribusi pada perusahaan kakek tidak akan memberikan fasilitas apapun"


Itu adalah aturan yang dibuat-buat oleh pamannya saja. Kakeknya memang tak pernah membuat keputusan seperti itu.


 


"Sam, aku adalah kepala keluarga yang baru. Jika kau tidak mau menuruti apa yang aku perintahkan, lebih baik tinggalkan keluarga ini"


 


Sam menghela napas panjang. Sekarang terlihat jelas, mereka memang ingin menghancurkan Sam. Memang ingin menyingkirkan Sam. Karena mereka tau Sam tidak akan memilih untuk jadi penerus perusahaan, sehingga memudahkan mereka untuk mengambil alih semuanya.


Tapi Sam masih memiliki Kartu As-nya. Inilah saat yang tepat bagi Sam untuk menggunakannya. Yaitu Paman Sebastien. Sam harus pastikan jika pamannya itu mau untuk kembali ke Jakarta. Sam memang tidak bisa menjadi Presdir selanjutnya, tapi pamannya, Sebastien itu bisa melakukannya.


"Kalau begitu beri aku waktu. Aku akan membawa paman Sebastien kembali ke Indonesia. Aku memang tak ingin menjadi penerus perusahaan karena aku menyadari jika aku tak cocok. Tapi aku tau seseorang yang akan menggantikanku dengan lebih baik" balas Sam penuh dengan kemenangan.


Terlihat pamannya yang langsung syok, tak menyangka Sam akan menggunakan pamannya yang satu lagi itu.


 


"Kau jangan macam-macam, Sam. Dia tidak akan mau, aku menjamin itu" sela Dina berang. Dina begitu panik saat Sam menyebutkan nama Sebastien. Dia pasti langsung khawatir karena jika Sebastien kembali, maka Dina tidak akan mendapatkan fasilitas kemewahan ini.


 


Sam tersenyum simpul. "Kenapa kau terlihat panik, bibi. Toh yang akan menentukan tetap Dewan Direksi. Bisa saja paman Scott yang akan kembali memenangkan kursi Presdir"


 


Dina menahan amarahnya. Tangannya terkepal dibawah meja. Begitu juga dengan pamannya, Scott. Wajahnya tampak biasa saja, namun dia juga jadi gerah akibat ulah Sam yang rasanya sudah keterlaluan.


 


Tadinya Scott pikir, menyingkirkan Sam akan mudah untuknya tapi ternyata Scott terlalu menganggapnya remeh dan enteng.


 


Adik-adik kakek beserta keluarganya tak ada yang berani untuk berbicara saat ini. Daripada salah-salah kata lebih baik diam saja. Ini pertarungan antara Sam dan pamannya, Scott.


 


Dina menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Kau begitu percaya diri dia akan setuju untuk ikut denganmu. Apa yang membuatmu berpikir demikian?"


Dina masih belum berhenti bicara, dia masih tidak terima dengan kenyataan bahwa Sam akan membawa Sebastien pulang.


Sam tersenyum simpul. "Tenang saja, bibi. Aku sudah memikirkan baik-baik. Aku tentu tidak akan mengecewakanmu" lalu tertawa kecil, melihat wajah Dina yang semakin panik.


 


"Sudah, hentikan" sahut Scott yang dari tadi diam saja. Hal yang bisa dilakukannya saat ini adalah membiarkan Sam melakukan apa yang ingin dia lakukan. Tapi tentu saja tidak akan semudah itu, karena Scott akan melakukan berbagai cara untuk menggagalkannya.


 


Dengan kehadiran Sebastien, kemungkinan Dewan Direksi memilih Scott kembali akan kecil. Karena sebagian Dewan Direksi itu ada yang mengetahui bahwa Scott telah menggunakan uang perusahaan diam-diam. Tapi Scott telah mengancam mereka untuk tutup mulut.


 


"Bagaimana, paman? Permintaanku sederhana saja, bukan" cengir Sam. Ah rasanya begitu puas melihat wajah-wajah penuh ketegangan dimeja makan ini.


 


Scott menganggukkan kepalanya, "Baiklah. Silahkan kau lakukan apa yang kau katakan tadi. Tapi aku akan memberimu waktu seminggu ini untuk membawa Sebastien pulang dan setuju menjadi calon Presdir selanjutnya" tegas Scott.


 


Dina tiba-tiba menggelayut manja pada suaminya, "Sayang, seminggu itu terlalu lama. Bagaimana jika tiga hari saja" pintanya dengan memelas. Dia tidak akan membiarkan Sam dengan mudahnya.


 


Scott tampak berpikir, mempertimbangkan usul Dina. Sebastien adalah orang yang begitu keras kepala. Dia tidak akan menyetujui dengan mudah permintaan Sam, bahkan jika Scott memberikan waktu seminggu, itu tidak akan cukup untuk Sam.


 


"Biarkan dia melakukannya-"


"Kurasa tiga hari saja cukup paman" potong Sam cepat. Dengan nada sombong dan tatapannya yang angkuh.


 


Sam akan buktikan jika tiga hari saja cukup untuknya membuat Sebastien setuju.


 


Dina tersenyum dibalik sandaran mesranya pada suaminya. Kali ini dia menang. Dina yakin Sam tak akan bisa memenangkan hati Sebastien dalam wakt tiga hari saja.


 


"Berarti tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, benar kan? Aku akan pergi sekarang" kata Sam lalu berdiri dan senyuman diwajahnya.


"Kakak kenapa cepat sekali pulangnya? Aku ada banyak yang ingin diceritakan"


 


Sam tersenyum lembut. "Aku tidak bisa malam ini. Kapan-kapan saja. Jika kau tidak keberatan kau bisa mengirimiku surel tentang ceritamu itu"


Mengirim surel. Tidak terbayangkan dipikirannya jika anak pamannya ini benar-benar melakukannya.


"Aku pergi. Terima kasih makan malamnya. Sampai jumpa dimakan malam berikutnya, tentunya ditambah dengan kehadiran Paman Sebastien" ujar Sam dengan senyumnya yang penuh kemisteriusan. Lalu melengganggakan kakinya pergi tanpa menunggu persetujuan Scott, Sang Kepala Keluarga.


 


"Sialan. Berani sekali dia" umpat Dina setelah Sam benar-benar tak kelihatan lagi. Scott yang tadi menahan amarahnya segera memukul meja dengan kekuatan luar biasa hingga membuat semua yang masih ada dimeja makan terkejut akan ulahnya. Beruntung tidak sampai membalikkan meja.


"Dasar brengsek"


Makiannya ini dia tujukan untuk Sam. Ponakannya sangat luar biasa tingkahnya. Persis seperti ayahnya.


Sebenarnya ada tujuan lain mengapa Scott meminta Sam untuk pindah dari rumah ayahnya itu, karena ada sesuatu disana. Sesuatu yang ada hubungannya dengan alasan kematian orang tua Sam yang juga berhubungan dengan dirinya.


Sam sepertinya belum mengetahui itu. Ayahnya juga tak memberitahu Sam. Tapi kalau dengan alasan begitu, Sam pasti tidak akan pindah dan malah mencaritahunya sendiri. Itulah kenapa Scoot lebih memilih dengan mengatakan bahwa Sam tidak akan mendapat fasilitas apapun jika dia tidak memberikan kontribusi untuk perusahaan. Namun malah membuat masalahnya jadi semakin rumit, apalagi dengan kedatangan Sebastien.


Scott menyisir rambutnya kasar. Sam berhasil membuat tekanan darahnya naik saat ini.


"Apa yang harus kita lakukan, sayang?" tanya Dina yang juga panik.